Strategi Bongkar Muat Oksigen-Karbondioksida

UJI KLINIS TAHAP 1
STRATEGI BONGKAR MUAT OKSIGEN-KARBONDIOKSIDA
PERGESERAN ASAM BASA


LANDASAN UMUM TEORI

Secara umum, terdapat 11 sistem pada tubuh manusia yang satu sama lain saling terkait. Salah satu sistem yang akan dibahas terlebih dahulu adalah Sistem Sirkulasi. Secara garis besar sistem ini terdiri dari Darah, Jantung, Paru-paru, Pembuluh Darah (Vena dan Arteri), Pembuluh Kapiler, dan Limfatik. Jika disederhanakan dalam bahasa saya, sistem sirkulasi terdiri dari Sirkulasi Merah dan Sirkulasi Putih. Sirkulasi merah sering disebut dengan sistem kardiovaskular sedangkan sirkulasi putih sering disebut dengan sistem limfatik.

Terdapat hubungan yang sangat kuat antara pH dengan pola napas. Hal ini dikarenakan penentuan nilai pH didasarkan pada rumus Handerson-Hasselbalch yang memperhitungkan variabel Bikarbonat dan Karbondioksida. Artinya, perlakuan tertentu terhadap Karbondioksida akan mempengaruhi nilai pH sebesar tertentu pula. Oleh karena Karbondioksida merupakan antagonis dari Oksigen dari sisi jumlah dimana jika Oksigen tinggi artinya Karbondioksida rendah, namun kedua jenis gas ini tidak bisa dua-duanya tinggi dan tidak bisa dua-duanya rendah. Dengan demikian, kita dapat memprediksi naik turunnya nilai pH dengan melihat cara memperlakukan konsentrasi Karbondioksida.
Keterkaitan antara nilai pH dengan konsentrasi nilai Karbondioksida adalah apabila Karbondioksida rendah maka pH menjadi tinggi (Basa) sedangkan apabila nilai Karbondioksida tinggi maka pH menjadi rendah (Asam).

Secara matematis mengilustrasikan bagaimana pH dipengaruhi oleh rasio HCO3- (bikarbonat) dan H2CO3 (sistem buffer bikarbonat) dapat dilihat berdasarkan rumus Handerson-Hasselbalch (H-H) sebagai berikut:

pH = pK + log (HCO3- / H2CO3)

Nilai pK diturunkan dari konstanta diasosiasi dari Asam. Rasio pK adalah 6:1 dengan rasio HCO3- dan H2CO3 adalah 20:1 pada kondisi normal. Secara klinis, CO2 terlarut (pCO2 x 0.03) dapat digunakan sebagai denominator pada persamaan H-H. Hal ini dimungkinkan mengingat kesetimbangan CO2 terlarut dalam darah berbanding lurus dengan H2CO3. PaCO2 mudah diukur melalui analisa Arterial Blood Gasses (ABG) dan dapat dengan mudah dikonversi menjadi mmol/L (sama dengan mEq/L) sehingga rumus diatas akan menjadi sebagai berikut:

pH = 6.1 + log10 ( (HCO3- / (0.03xpCO2)) )

Penerapan persamaan Handerson-Hasselbalch pada kondisi Normal ketika nilai HCO3- adalah 24 mEq/L dan pCO2 = 40 mmHg akan menghasilkan rasio 20:1 dengan perincian persamaan sebagai berikut:

pH = pK + log (( (HCO3- / (0.03xpCO2)) )
= 6.1 + log ((24 / (0.03 x 40)) )
= 6.1 + log (24/1.2)
= 6.1 + log (20)
= 6.1 + 1.3
= 7.4

Inilah asal mula nilai normal pH pada angka 7.4.

Sedangkan penerapan persamaan H-H pada kondisi Tidak Normal terbagi menjadi 2 (dua) yakni ketika nilai HCO3- = 29 mEq/L dan pCO2 = 80 mmHg, maka rasio menurun menjadi 12:1 dan nilai pH menjadi 7.18 (semakin Asam). Demikian juga kebalikannya, ketika nilai HCO3- = 20 mEq/L dan pCO2 = 20 mmHg maka rasio meningkat menjadi 33:1 dan nilai pH menjadi 7.62 (semakin Basa).

pH = pK + log (( (HCO3- / (0.03xpCO2)) )
= 6.1 + log ((29 / (0.03 x 80)) )
= 6.1 + log (29/2.4)
= 6.1 + log (12)
= 6.1 + 1.08
= 7.18 (semakin Asam)

pH = pK + log (( (HCO3- / (0.03xpCO2)) )
= 6.1 + log ((20 / (0.03 x 20)) )
= 6.1 + log (20/0.6)
= 6.1 + log (33)
= 6.1 + 1.52
= 7.62 (semakin Basa)

Jadi, dapat dilihat bahwa nilai HCO3- (bikarbonat) dan CO2 (karbondioksida) adalah yang berperan dalam pengubahan pH. Hal ini memiliki implikasi bahwa konsentrasi gas merupakan yang paling berpengaruh pada perubahan pH sekaligus yang paling cepat mempengaruhi perubahannya.

Dengan kata lain, pernapasan adalah metode tercepat untuk mempengaruhi perubahan pH.

Terdapat juga hubungan antara pH dan sel bahwa ketika pH menjadi Basa maka fungsi sel akan menjadi sangat optimal. Kriteria sel yang sehat dikategorikan sebagai sel yang memiliki pH cenderung Basa dengan nilai 7.35 hingga 7.45. Perubahan nilai pH juga dapat dipengaruhi oleh eksitasi elektron pada sel namun hal itu cukup sulit diukur dengan alat yang sederhana. Pengukuran yang termudah untuk menunjukkan adanya perubahan pH adalah menggunakan kertas lakmus (non invasif) dan uji ABG (arterial blood gasses). Kertas Lakmus dapat digunakan sebagai penanda terjadinya perubahan pH pada setiap aktivitas yang menyebabkan terjadinya penurunan atau penaikan kadar Karbondioksida via olah napas. Sedangkan pada pengkuran yang lebih kompleks melibatkan berbagai variabel yang masuk pada CHEM-7 via ABG.

Manusia bernapas menggunakan pola tertentu. Pola ini dapat disengaja untuk dibentuk atau dapat terjadi karena suatu kondisi fisiologis atau patologis. Berdasarkan hubungannya dengan pH, ada yang disebut dengan pola napas pembentuk Basa atau Respiratory Alkalosis dan pola napas pembentuk asam atau Respiratory Acidosis.

Respiratory Alkalosis didefisinikan sebagai gangguan pada keseimbangan Asam-Basa yang disebabkan oleh terjadinya alveolar hiperventilasi. Alveolar hiperventilasi akan memicu penurunan tekanan Karbondioksida para arteri (PaCO2). Pada gilirannya, penurunan PaCO2 akan meningkatkan rasio konsentrasi ion Bikarbonat sehingga terjadi kenaikan pH. Penurunan PaCO2 (disebut dengan istilah hypocapnia) terjadi ketika sebuah stimulus pernapasan yang kuat akan menyebabkan sistem pernapasan membuang lebih banyak Karbondioksida dibandingkan yang mampu dihasilkan oleh hasil metabolisme jaringan. Jadi, berdasarkan definisi tersebut pola napas pada Respiratory Alkalosis umumnya disebut dengan Hiperventilasi.

Respiratory Acidosis didefinisikan sebagai gangguan pada keseimbangan Asam-Basa yang disebabkan oleh terjadinya alveolar hipoventilasi. Produksi Karbondioksida terjadi dengan cepat sehingga meningkatkan nilai PaCO2 (disebut dengan istilah hypercapnia). Peningkatan Karbondioksida para gilirannya akan menurunkan rasio ion Bikarbonat sehingga terjadi penurunan pH. Hal ini terjadi akibat dari adanya pembuangan Karbondioksida pada pernapasan lebih sedikit dibandingkan yang mampu diproduksi oleh jaringan. Jadi, berdasarkan definisi tersebut pola napas pada Respiratory Acidosis umumnya disebut dengan Hipoventilasi.

MEKANISME BUFFER

Untuk melakukan adjusment/penyesuaian dari setiap perubahan pH (terlalu Basa atau terlalu Asam) maka tubuh segera mengaktifkan mekanisme penyangga atau Buffer. Sistem Buffer memungkinkan tubuh untuk mengembalikan keseimbangan Asam-Basa pada titik homeostatis. Buffer terdiri dari Chemical Buffer, Respiratory Buffer, dan Renal Buffer.

Urutan penyangga/buffer ini dimulai dari chemical, kemudian respiratory, dan terakhir renal (ginjal). Ketika Chemical Buffer tidak mampu menjalankan fungsinya maka tubuh akan meningkatkan kemampuan penyangga menjadi Respiratory Buffer yakni memaksa paru-paru melakukan penyesuaian dengan cara membentuk Hiperventilasi atau Hipoventilasi. Lama waktu Buffer ini ada yang dalam hitungan detik, menit, jam, hingga hari. Jadi, berdasarkan definisi tersebut mekanisme Buffer adalah kondisi yang dilakukan oleh tubuh untuk mengembalikan keseimbangan Asam-Basa dimana Hiperventilasi dan Hipoventilasi merupakan salah satunya caranya.

Proses bernapas terdiri dari tiga macam pertukaran gas. Pertama, dari udara bebas (atmosfer) ke dalam paru-paru. Kedua, dari paru-paru kepada sel darah merah melalui Hemoglobin. Dan ketiga, dari Hemoglobin kepada jaringan tubuh. Hemoglobin merupakan salah satu bagian dari Buffer yakni Chemical Buffer.

Saat kita menghirup napas, maka Oksigen akan dihirup dan masuk ke dalam paru-paru. Kemudian Jantung akan memompa darah menuju paru-paru untuk ‘menjemput’ Oksigen dan memasukkannya ke dalam Darah. Pertukaran gas terjadi disini. Darah yang berisi Oksigen ini kemudian dialirkan lagi ke Jantung untuk disirkulasikan ke seluruh jaringan tubuh dan membentuk suatu proses kimiawi tertentu. Terjadi reaksi kimiawi Oksigen pada jaringan dalam bentuk Glycolysis dengan produk hasil berupa Karbondioksida, Air, sejumlah energi (ATP) dan panas. Karbondioksida yang dihasilkan oleh metabolisme jaringan tubuh ini kemudian dimuat lagi oleh darah dan dialirkan kembali ke paru-paru untuk dibuang melalui hembusan napas. Hal itu terus terjadi setiap saat.

Jadi, darah merupakan media transport untuk membawa Oksigen dan atau Karbondioksida. Atau jika disederhanakan, darah merupakan ‘media penyimpanan sementara’ atau ‘temporary storage’ bagi Oksigen dan Karbondioksida.

Elemen dari darah yang bertugas menjadi media penyimpanan Oksigen tersebut adalah sel darah merah (eritrosit) pada bagian Hemoglobin. Hemoglobin merupakan protein Heme yang memiliki zat besi (iron/Fe). Jika diibaratkan, Hemoglobin adalah ‘taksi’ yang melakukan bongkar muat ‘penumpang’ yang bernama Oksigen dan Karbondioksida. Melalui proses ini dikenal adanya Oksigen terlarut atau Oxyhemoglobin dan Karbondioksida terlarut atau Carboxyhemoglobin.

Proses bongkar muat Oksigen-Karbondioksida ini dapat dijelaskan dengan menggunakan pemahaman mengenai efek Haldane dan efek Bohr. Sederhananya, efek Bohr terjadi di jaringan tubuh dan membantu dalam proses pelepasan Oksigen dari Hemoglobin sedangkan efek Haldane terjadi di paru-paru dan membantu dalam proses pemuatan Oksigen ke dalam Hemoglobin. Hal-hal yang mempengaruhi afinitas atau ketertarikan Oksigen-Karbondioksida dengan Hemoglobin diantaranya adalah temperatur, pH, dan tekanan darah.

LAJU PERNAPASAN

Pola napas manusia dapat dihitung berdasarkan jumlah rata-rata tarik napas dan buang napas dalam satu menit. Ini disebut dengan Laju Pernapasan atau Respiration Rate. Laju pernapasan normal antara 10-20 kali per menit. Apabila terjadi kenaikan dalam laju pernapasan dalam satu menit dari biasanya maka disebut dengan Hiperventilasi. Sebaliknya, apabila dengan sengaja terjadi penurunan secara ekstrim rata-rata tarik napas dan buang napas misalnya hanya 1x dalam satu menit maka hal ini disebut dengan Hipoventilasi.

Hiperventilasi, yang merupakan bagian dari Respiratory Alkalosis, dapat dibagi lagi menjadi Hiperventilasi-Slow, Hiperventilasi-Power, dan Hiperventilasi-Fast. Oleh karena Respiratory Alkalosis disebut sebagai pola napas pembentuk Basa maka artinya pola olah napas yang menghasilkan kondisi pembentuk Basa adalah mencakup slow breath, power breath, dan fast breath.

Misalnya pada contoh seseorang yang melakukan aktivitas fisik cukup berat dan terjadi peningkatan keasaman pada darahnya maka secepat itu tubuhnya melakukan penyesuaian dengan cara membentuk Buffer yang dimulai dari chemical, respiratory, dan renal. Jika chemical buffer gagal mengembalikan keseimbangan Asam-Basa maka tubuh akan meningkatkan buffer menjadi Respiratory buffer. Lahirlah pola napas pembentuk Basa atau Hiperventilasi dalam bentuk ‘ngos-ngosan’. Dengan kata lain, ‘ngos-ngosan’ melakukan Hiperventilasi berjenis ‘fast breath’. Begitu tercapai keseimbangan Asam-Basa maka hiperventilasi sudah tidak diperlukan lagi dan Anda bernapas normal seperti biasa lagi. Ini artinya pH sudah kembali normal.

Masing-masing pola Hiperventilasi dan Hipoventilasi memiliki karakteristik tersendiri. Saya akan ambil contoh pada Hiperventilasi yang berjenis Slow, yang sering disebut dengan ‘deep breathing’ atau bernapas dalam atau bernapas perlahan dan panjang atau napas halus. Maka, semua jenis pola napas halus yang menghasilkan kondisi ‘deep breathing’ dapat dikategorikan sebagai Hiperventilasi-Slow.

Pola napas halus jenis ini sering dipakai pada teknik meditasi di banyak tradisi beladiri dengan nama-nama yang berbeda-beda. Maka, tidak heran misalnya orang yang menderita penyakit akibat lingkungan yang terlalu Asam (tumor, kista, miom, kanker) kemudian menjalani meditasi secara benar yang diiringi perubahan gaya hidup akan dapat membaik atau bahkan sembuh. Hal ini dikarenakan salah satu faktor penyebab sehat tercapai yakni terbentuknya lingkungan darah yang Basa akibat dari dilakukannya pola napas Hiperventilasi-Slow secara intens dan terus menerus. pH darahnya naik secara bertahap dan mencapai kondisi Basa pada satu waktu. Dan pada posisi tersebut, semua fungsionalistas enzim, protein, dan lain sebagainya membaik.

Berdasarkan efek Bohr, Hiperventilasi akan menggeser kurva disasosiasi Oksigen ke arah kiri. Hal ini menyebabkan terjadinya afinitas atau ketertarikan Oksigen menguat pada Hemoglobin dan mengakibatkan Oksigen cukup sukar dilepas dari Hemoglobin. pH darah akan meningkat menjadi lebih Basa pada kondisi ini akibat dari berkurangnya Karbondioksida dalam Hemoglobin sedangkan pH jaringan menjadi Asam karena sedikit Oksigen.

Namun sebaliknya, pada Hipoventilasi akan menggeser kurva diasosiasi Oksigen ke arah kanan. Hal ini menyebabkan afinitas Oksigen melemah pada Hemoglobin dan Oksigen akan mudah dilepas dari Hemoglobin. Pelepasan Oksigen pada jaringan akan memicu metabolisme Glycolysis yang tinggi pada jaringan. Ini berarti akan dihasilkan lebih banyak Karbondioksida. Afinitas Karbondioksida dengan Hemoglobin lebih tinggi sekitar 100-100.000 kali dibandingkan Oksigen dengan Hemoglobin. Artinya, jika ada Karbondioksida dan Oksigen pada suatu saat maka Karbondioksida akan lebih cepat tertarik pada Hemoglobin. Hal ini dikarenakan adanya molekul Fe (zat besi) pada Hemoglobin yang memiliki ketertarikan lebih kuat pada CO dibanding Oksigen. Sehingga pada saat terjadi Hipoventilasi, Oksigen akan turun drastis dan darah akan memuat lebih banyak Karbondioksida. pH darah akan menurun menjadi lebih Asam pada kondisi ini sedangkan pH jaringan menjadi lebih Basa karena kaya Oksigen.

HIPOTESA

Pada kondisi Hiperventilasi menyebabkan Hemoglobin akan mengikat kuat Oksigen dan mengurangi pelepasan Oksigen pada jaringan. Efeknya, nilai SpO2 akan mulai naik dan mencapai maksimum bertahan pada 99-100% selama jangka waktu tertentu selama Hiperventilasi masih terus dilakukan. Artinya, pada saat melakukan Hiperventilasi akan terjadi maksimum Oksigen pada darah dan defisit Oksigen pada jaringan. Bahasa sederhananya, terjadi Intermittent Hypoxia pada jaringan tubuh saat Hiperventilasi terjadi. Sebaliknya, pada kondisi Hipoventilasi menyebabkan Hemoglobin akan ramai-ramai melepas Oksigen pada jaringan sehingga nilai SpO2 akan menurun secara drastis. Artinya, pada saat melakukan Hipoventilasi akan menyebabkan defisit Oksigen pada darah dan maksimum Oksigen pada jaringan. Bahasa sederhananya, terjadi Intermittent Hypoxia pada darah.

Strategi Olah Napas yang menggunakan potensi Respiratory Alkalosis dan Respiratori Acidosis yang dikondisikan sedemikian rupa agar mampu mencapai kondisi Basa pada tubuh disebut dengan Teknik Optimalisasi pH (disingkat: Teknik oPH).

Teknik ini memandang tubuh sebagai 2 (dua) entitas saja yakni DARAH dan JARINGAN.

Teknik Optimalisasi pH didefinisikan sebagai strategi melakukan bongkar muat Oksigen-Karbondioksida dari darah ke jaringan dan dari jaringan ke darah dengan menjadikan Darah sebagai ‘penampungan’ sementara Oksigen atau Karbondioksida sampai penuh sebelum nanti dilepaskan dengan menggunakan pendekatan Respiratory Alkalosis dan Respiratory Acidosis secara tertentu. Dengan kata lain, ia merupakan teknik yang memaksimalkan penggunaan Hiperventilasi dan Hipoventilasi sedemikian rupa untuk menjadikan total volume Darah sebagai ‘kolam penampungan Oksigen’ yang dipenuhi terlebih dahulu sebelum kemudian Oksigen dilepaskan secara maksimal pada jaringan dan membentuk total volume Darah sebagai ‘kolam penampungan Karbondioksida’ hasil dari metabolisme jaringan.

Sederhananya, keseluruhan total darah yang memiliki volume antara 5-7 liter pada manusia difungsikan sebagai ‘kolam penampungan’ Oksigen terlebih dahulu sebelum dilepaskan ke jaringan secara besar-besaran. Proses ini tidak akan terjadi pada latihan olah raga biasa yang pertukaran oksigen dan karbondioksida pada darah terjadi langsung pada saat itu. Namun pada Teknik Optimalisasi pH ini Oksigen yang dihirup ditunda dulu pelepasannya dari Hemoglobin ke jaringan pada suatu waktu tertentu dan dengan maksud tujuan tertentu agar mendapatkan manfaat tertentu pula.

Jika disederhanakan, ini adalah yang terjadi saat seseorang melakukan Teknik Optimalisasi pH:

  1. Saat Hiperventilasi
    a. Darah ==> Maksimum Oksigen
    b. Jaringan ==> Intermittent Hypoxia
  2. Saat Hipoventilasi
    a. Darah ==> Intermittent Hypoxia
    b. Jaringan ==> Maksimum Oksigen

Para olahraga aerobik biasa, pertukaran gas antara Oksigen dan Karbondioksida terjadi langsung saat itu sedangkan pada Teknik oPH ini semua Oksigen dikumpulkan dulu dalam Hemoglobin sebelum kemudian dilepas secara besar-besaran ke jaringan.

Hiperventilasi pada Teknik oPH menyebabkan Oksigen tinggi pada Darah maka pH Darah akan berubah menjadi lebih Basa. Sedangkan pada Jaringan justru mendapat sedikit Oksigen sehingga mengalami Intermittent Hypoxia. Jika Oksigen sedikit maka kemungkinan yang terjadi hanya ada 2 (dua) saja yakni Anaerobik Glycolysis yang berujung pada pembentukan Lactate dan sedikit Aerobik Glycolysis yang berujung pada pembentukan Karbondioksida dalam jumlah kecil. Keduanya (Lactate dan Karbondioksida) merupakan penyumbang keasaman dengan Lactate terakumulasi pada jaringan lebih banyak dibanding Karbondioksida. Jika disederhanakan, konsekwensi dari Hiperventilasi pada Darah dan Jaringan yang berkaitan dengan pH menjadi sebagai berikut:

  • pH Darah menjadi Basa
  • pH Jaringan menjadi Asam

Maka, berkebalikan dengan pemahaman yang umum bahwa semakin cepat menghirup napas via hiperventilasi mengakibatkan jaringan semakin banyak mendapatkan Oksigen. Pemahaman ini kurang tepat. Yang lebih tepat adalah Darahnya yang lebih banyak mendapatkan Oksigen sedangkan Jaringan tubuh lainnya justru defisit Oksigen. Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan efek Bohr dimana Hiperventilasi akan menggeser kurva disasosiasi Oksigen ke arah kiri. Afinitas/ketertarikan Oksigen menguat pada Hemoglobin dan mengakibatkan Oksigen cukup sukar dilepas dari Hemoglobin. Jika Oksigen sukar lepas dari Hemoglobin maka sudah pasti Jaringan tubuh tidak cukup mendapatkan Oksigen.

Hipoventilasi pada Teknik oPH membuat Jaringan menjadi maksimum Oksigen yang berasal dari pembongkaran besar-besaran Oksigen dari Hemoglobin pada keseluruhan volume darah. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Balik lagi ke kaidah efek Bohr dimana Hipoventilasi akan menggeser kurva diasosiasi Oksigen ke arah kanan sehingga afinitas/ketertarikan Oksigen melemah pada Hemoglobin. Lemahnya afinitas ini menyebabkan Oksigen mudah dilepas ke jaringan tubuh. Maka, jaringan tubuh mendapatkan suplai oksigen besar-besaran pada proses ini.

Ketika Oksigen secara besar-besaran memasuki Jaringan maka akan membuat Jaringan menjadi Basa. Oksigen tinggi juga akan meningkatkan prosenstase proses Glycolysis. Apabila prosentase Glycolysis meningkat artinya ATP, CO2, dan H2O juga ikut meningkat. Maka pada kondisi ini terjadi akumulasi CO2 yang cukup besar dari Jaringan ke Hemoglobin. Oleh karena CO2 menjadi sangat tinggi pada Darah dan belum dibuang/dihembus, maka Darah menjadi semakin Asam akibat dari tingginya konsentrasi CO2 tersebut.

HIPOTESA DAMPAK KLINIS PADA TEKNIK OPTIMALISASI PH

Sudut pandang pada Teknik Optimalisasi pH ini selalu dilihat pada Darah dan Jaringan. Hanya dua itu saja. Maka akan terjadi implikasi dampak klinis yang dilihat dari sudut pandang Darah dan Jaringan.

HIPERVENTILASI

Pada saat Hiperventilasi dilakukan dimana Darah menjadi maksimum Oksigen akan didapati beberapa dampak sebagai berikut:

  • pH Darah berubah menjadi Basa
  • Semua fungsionalitas protein dan enzim pada Darah perlahan-lahan menjadi optimal
  • Proses Anaerobik Glycolysis akan terjadi pada Darah secara wajar meskipun Oksigen tinggi karena Darah merupakan sel yang tidak memiliki nukleus dan Mitokondria sehingga tidak begitu terpengaruh oleh konsentrasi Oksigen

Sedangkan beberapa dampak yang terjadi pada Jaringan sebagai berikut:

  • Jaringan mengalami Hypoxia dan mendapatkan manfaat atau kerugian dari Intermittent Hypoxia
  • Terjadi peningkatan keasaman via Lactate karena Glycolysis tidak menghasilkan Pyruvate melainkan Lactate. Ingat, Glycolysis terjadi di dua tempat yakni Cytoplasm dan Mitokondria. Proses Glycolysis yang terjadi pada Cytoplasm biasa disebut dengan Anaerobik Glycolysis sedangkan yang terjadi pada Mitokondria biasa disebut dengan Aerobik Glycolysis.
  • pH jaringan berubah menjadi Asam
  • Sedikit terjadi reaksi Aerobik Glycolysis sehingga menghasilkan sedikit Karbondioksida

HIPOVENTILASI

Sebaliknya, pada saat Hipoventilasi dilakukan dimana Darah menjadi defisit Oksigen akan didapati dampak sebagai berikut:

  • Konsentrasi Karbondioksida dalam darah meningkat
  • pH Darah berubah menjadi Asam
  • Semua fungsionalitas protein dan enzim pada Darah perlahan-lahan melambat
  • Terjadi peningkatan Fibroblast (sel yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka)
  • Dan lain-lain (kapan waktu saya bahas lebih detail)

Sedangkan beberapa dampak yang terjadi pada Jaringan sebagai berikut:

  • Jaringan mengalami maksimum Oksigen
  • Terjadi peningkatan sensitivitas Insulin
  • Terjadi peningkatan Aerobik Glycolysis akibat dari tingginya Oksigen, efeknya akan terjadi peningkatan Karbondioksida sebab CO2 adalah salah satu hasil produk dari Glycolysis
  • pH jaringan berubah menjadi Basa
  • Dan lain-lain (kapan waktu saya bahas lebih detail)

Ada banyak sekali dampak yang mungkin timbul dari perubahan konsentrasi Asam-Basa pada Darah dan Jaringan. Saya menyebutnya “Pergeseran” yakni pergeseran Asam-Basa pada Darah dan Jaringan. Darisanalah istilah “Pergeseran Asam-Basa” lahir.

Salah satu yang akan saya soroti adalah mengenai Fibroblast atau sel yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka. Menurut SWIM dan PARKER (1958) menyatakan bahwa Karbondioksida adalah nutrisi bagi Fibroblast. Sederhananya, apabila ada Karbondioksida dalam jumlah cukup banyak pada Darah maka ia akan mampu meningkatkan jumlah Fibroblast. Namun masalahnya, tubuh kita tidak didesain untuk menampung cukup banyak Karbondioksida. Kita akan menjadi sangat tidak nyaman pada jumlah CO2 yang cukup banyak. Mesti harus ada strategi yang membuat tubuh mampu menampung lebih banyak CO2 dari biasanya. Dan ini cukup sulit dilakukan dengan pendekatan olahraga aerobik biasa. Potensi Fibroblast ini dapat dipakai untuk melakukan PERCEPATAN proses penyembuhan dan penutupan pada luka sayat baik yang terjadi di dalam tubuh maupun diluar tubuh.

Demikianlah sekilas mengenai Teknik Optimalisasi pH yang merupakan Strategi Bongkar Muat Oksigen-Karbondioksida pada Darah dan Jaringan dijelaskan.

Klinik Medika OHC akan melihat pengaruh strategi ini pada pasien-pasien Tumor Thyroid 10 tahun dan Gagal Ginjal Kronis stadium akhir 5 tahun.

Referensi:
[1]. What does blood do? (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0072576/)
[2]. Metabolism and energy. (http://www.rsc.org/Education/Teachers/Resources/cfb/metabolism.htm)
[3]. Physiology, Alkalosis, Respiratory. Joshua E. Brinkman; Sandeep Sharma. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482117/)
[4]. The Bohr effect and the Haldane effect in human hemoglobin. Tyuma I. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/6433091)
[5]. Respiratory acidosis. Epstein SK, Singh N. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11262556)
[6]. Respiratory alkalosis. Foster GT, Vaziri ND, Sassoon CS. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11262557)
[7]. The Magic of Hyperventilation. G.M. Woerlee. (http://www.anesthesiaweb.org/hyperventilation.php)
[8]. Acid-Base Homeostasis. L. Lee Hamm, Nazih Nakhoul, and Kathleen S. Hering-Smith. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4670772/)
[9]. Whole Body Buffers in the Regulation of Acid-Base Equilibrium. J. Russell Elkinton. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2603866/)
[10]. On the pH-optimum of activity and stability of proteins. Kemper Talley and Emil Alexov. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2911520/)
[11]. List of systems of the human body. (https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_systems_of_the_human_body)
[12]. Why is the partial oxygen pressure of human tissues a crucial parameter? Small molecules and hypoxia. Aude Carreau, Bouchra El Hafny-Rahbi, Agata Matejuk, Catherine Grillon, Claudine Kieda. (http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1582-4934.2011.01258.x/pdf)
[13]. Interpretation of arterial blood gas. Pramod Sood, Gunchan Paul, and Sandeep Puri. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2936733/)
[14]. The energy-less red blood cell is lost: erythrocyte enzyme abnormalities of glycolysis. Richard van Wijk and Wouter W. van Solinge. (http://www.bloodjournal.org/content/106/13/4034)
[15]. The Role of Carbon Dioxide as an Essential Nutrient for Six Permanent Strains of Fibroblasts. H. E. Swim and R. F. Parker. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2224542/pdf/525.pdf)