BreathCardial Synchronization

UJI KLINIS TAHAP 2
BREATHCARDIAL SYNCHRONIZATION

PERGESERAN SIMPATIK-PARASIMPATIK


Setelah keberhasilan melakukan Uji Klinis tahap I dimana terjadi perubahan hasil yang sangat signifikan terhadap pasien tumor Thyroid 10 tahun dan pasien Gagal Ginjal Kronis stadium akhir maka Klinik Medika OHC Jakarta Timur dibawah supervisi dr. Arief Wahyu Mulyana, MKK, memutuskan untuk melakukan uji klinis tahap 2.

Uji Klinis tahap 2 ini akan menguji sejauh mana efektivitas pengembangan teknik olah napas yang oleh Mas Gunggung disebut dengan “BreathCardial Synchronization“.

Teknik BreathCardial Synchronization memungkinkan seseorang mengatur getaran/frekwensi pada salah satu bagian tubuh dan melakukan resonansi dengan yang lain. Ketika resonansi ini terjadi maka organ atau sel yang terpengaruh dengannya akan mengalami perubahan frekwensi.

Sederhananya teknik BreathCardial Synchronization dapat dibayangkan seperti satu Garputala yang diatur pada frekwensi tertentu dan kemudian frekwensi ini akan menggetarkan Garputala-Garputala lainnya pada frekwensi sejenis. Ketika resonansi terjadi, maka disanalah aspek bioenergi level sel mengalami perbaikan. Yakni dengan cara mengembalikan pada keseimbangan frekwensi asalnya.

Ini logikanya mirip dengan pemusik (misal gitar) yang melakukan “stem nada” pada senar dengan Garputala untuk mendapatkan frekwensi Do, Re, Mi, Fa, So, La, Si, Do’. Ketika gitar sering dipakai maka daya regang senar berubah. Perubahan pada daya regang senar akan menyebabkan frekwensi senar yang dibentuknya terlalu rendah atau terlalu tinggi. Maka si pemusik ini harus “stem” ulang atau atur ulang nada-nada dari tiap senar agar frekwensi kembali seperti yang diharapkan.

Dan yang dilakukan “stem” cukup nada-nada dasar saja. Nada-nada dasar inilah yang nanti akan menentukan berbagai macam suara setelahnya. Musik, tersusun atas nada-nada dasar ini. Harmonisasinya bergantung kepiawaian sang pemusik.

Ketika nada dasar pada tiap senar berhasil dipulihkan, maka nada menjadi enak didengar karena frekwensi nada yang dimaksud sudah benar. Musik menjadi enak untuk dinikmati.

Untuk memperjelas konsep BreathCardial Synchronization ini dapat menggunakan kaidah prinsip Garputala sebagai berikut:

  1. Terdapat sebuah Garputala-A dengan frekwensi misalnya 10 Hz
  2. Terdapat juga beberapa Garputala lain yang masing-masing memiliki frekwensi Garputala-B: 5 Hz, Garputala-C: 10 Hz, Garputala-D: 20 Hz, dan Garputala-E: 100Hz
  3. Apabila Garputala-A digetarkan maka frekwensi tersebut akan menyebar
  4. Sebaran frekwensi ini akan menyentuh Garputala lain dan menyebabkan resonansi HANYA pada Garputala dengan frekwensi 10 Hz yakni Garputala-C
  5. Garputala dengan frekwensi lain tidak akan terpengaruh

Menggunakan pemahaman pada konsep tersebut maka dapat disusun suatu teknik olah napas yang dapat menghasilkan frekwensi tertentu dan frekwensi ini dapat digunakan untuk menggetarkan sel-sel tubuh tertentu secara spesifik.

Untuk mengetahui besaran frekwensi hasil latihan pasien, diperlukan alat ukur berupa alat khusus. Kemudian raw data dari alat tersebut dapat dilihat dengan software analisa khusus untuk mengetahui peserta sudah benar masuk pada frekwensi yang diharapkan atau tidak. Peserta akan dibimbing untuk dapat memasuki frekwensi yang diharapkan.

Saat berada pada frekwensi tersebut, hipotesa yang dibangun adalah akan terjadi kondisi ‘reset‘ dan mengembalikan sel pada frekwensi awalnya. Frekwensi awal tentu merupakan frekwensi yang belum terpengaruh oleh manipulasi dari suatu kegiatan (pikiran, perasaan, aktivitas, tidur, makan, dan lain sebagainya).

Hipotesa inilah yang akan diuji oleh klinik. Yakni untuk membuktikan apakah hipotesa tersebut menghasilkan dampak klinis seperti yang diperkirakan.

Ini pertama kalinya terapi olah napas berbasis frekwensi yang terukur hadir dan diuji dengan uji klinis. Semua data dicatat dengan teliti. Memastikan perkembangan peserta sesuai yang diharapkan.

Informasi mengenai apa dan bagaiamana Terapi BreathCardial Synchronization dapat dilihat pada video dibawah ini: