THERMAL IR dalam Olah Napas (bagian 2)

Thermal IR
(Bagian ke-2)

Oleh: Mas Gunggung

Banyak yang bertanya, untuk apa melakukan semua ini? Pembuktian-pembuktian ini untuk siapa? Untuk apa?

Well, jawabannya simple sih yakni bahwa saya ingin membuktikan kepada diri sendiri. Itu saja.

Diluar itu, sekaligus juga mencari tahu dengan penuh rasa keingintahuan mengenai pengaruh napas ini dan itu, gerakan ini dan itu, dari apa-apa yang pernah diberikan oleh guru-guru saya.

Apakah ini sekedar placebo semata, ataukah memang real? Kalau ini real, jika tidak terjadi pada diri saya apakah “ilmunya Hoax?” atau “saya yang bodoh dalam berlatih dan belajar”. Atau sebab lain yang tidak diketahui?

Intinya, memuaskan rasa keingintahuan sambil belajar dan melakukan pengamatan fenomena-fenomena menggunakan berbagai alat ukur.

Tidak ada yang menyuruh saya melakukan semua ini.

Tidak ada juga yang membiayai secara khusus.

Semua alat-alat yang dibeli beserta berbagai jurnal, waktu yang dihabiskan untuk belajar, analisa, trial and error, menyusun hipotesa, dan sebagainya ya dilakukan sendiri.

Mandiri.

Bukan BCA, atau BNI, atau BRI. Hahahha…

Begitulah perjalanannya.

Misal, pernah diajari mengenai teknik “PHP” alias “pembentukan hawa panas”. Apakah memang panasnya ini nyata atau placebo saja? Tentu saja saat itu, karena tidak ada alat, maka tidak dapat dibuktikan apapun.

Juga saat misalnya latihan “Pasir Besi”. Ketika memunculkan kembali memori panas dan disalurkan pada telapak tangan, sudah benar-benar menjadi panas atau tidak sih telapak tangan saya? Atau benda yang saya sentuh itu? Dan sebagainya.

Semua pembuktian seperti yang ini bukanlah untuk merendahkan kualitas guru-guru saya saat itu. Saya sangat menghormati semua guru-guru saya. Semoga berkah dan rahmat Allah tercurah kepada beliau-beliau baik yang masih ada maupun sudah tiada.

Saya, membuktikan untuk diri saya sendiri dulu.

“Ini elmu mestinya bisa dilihat pakai alat modern. Jika memang elmu-nya bener dan nyata”.

Paling tidak seperti itulah yang selama ini saya lakukan.

Misalnya pada video dibawah ini, yang direkam sekedarnya dan ya tidak menunjukkan ilmu apa-apa selain dari adanya pencatatan peningkatan temperatur telapak tangan saya dari 35 derajat menjadi 36.9 derajat.

Ada kenaikan 1.9 derajat Celcius.

Pada salah satu video lain, kenaikannya dapat lebih dari itu.

Ya bukan apa-apalah. Hanya sekedar ingin menunjukkan kalau iya peningkatan temperatur itu dapat dilakukan dan dapat terlihat oleh alat. Itu saja.

Kenaikan temperatur ini tentu saja nantinya akan punya maksud. Jangan salah, ada hubungannya dengan imunitas juga ketika terjadi kenaikan satu derajat saja maka imunitas dapat naik >100 persen.

Dan kenaikan temperatur itu tanpa khayalan, hanya pakai ritme-ritme tertentu saja yang ditambahkan sedikit “bumbu” fokus pada area mana yang kita mau. Dan terjadilah.

Memang ada cara lain meningkatkan temperatur, misal dengan latihan aerobik atau latihan sekian banyak olah napas. Tapi yang dilakukan ini cuma duduk, atur napas dengan pola ritme tertentu, dan temperatur naik dengan sendirinya. Ketika sudah berasa temperatur naik di badan, lalu arahkan saja melalui layer abstraksi fokus pada bagian yang diinginkan. Selesai. Nyaris tidak ada keringat dan tidak ada hal berat yang dilakukan.

Tentu saja kalau tanpa alat Thermal IR, akan sulit bagi kita melihat perubahan live temperatur itu langsung.

Memang, jadinya lebih mahal karena mesti beli alat. Tapi sekali lagi, ya begitulah riset itu. Mahal.

Maka, saya tidak tertarik untuk memperbandingkan dengan orang lain. Karena memang bukan untuk diperbandingkan atau dibentur-benturkan ini lebih hebat dari yang itu.

Saya hanya takut, ketika nanti mengajar pada sesuatu yang saya tidak mampu lakukan, pada sesuatu yang saya tidak mengerti, namun saya menjadi seakan paling mengerti.

Ini bahaya.

Sebab, masalah baru yang pertama kali muncul ketika seseorang “naik derajatnya” menjadi pengajar adalah masalah kesombongan.

Jika sekali saja tiba-tiba kita bicara mengenai “adab guru-murid” lalu seakan kalau orang tidak menghormati kita mendadak kita langsung bicara “adab murid terhadap guru” maka percayalah pada detik itu kita sudah jatuh pada kesombongan. Seakan-akan kita ini menjadi “sangat tinggi kedudukannya” dibanding orang lain sehingga orang lain harus menerapkan adab kepada kita.

Maka dari itu, saya pernah menulis di group ini beberapa tahun lalu mengenai pentingnya istighfar bagi para pengajar setelah selesai mengajar. Wajib, dan harus melakukan itu.

Dengan demikian semoga kita semua selalu terjaga dari kesan untuk ditinggikan.

Lebih baik dianggap rendah dan kita menerima itu sebagai koreksi diri untuk jadi lebih baik. Belajar mensikapi ‘stresfull situation’ menjadi sesuatu yang baik pada diri kita.

Toh kehidupan khan terus berjalan.

Dianggap tinggi ya tidak terbang. Direndahkan, ya tidak tumbang. Biasa saja.

Dibawa enjoy saja.

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →