Muse 2 dan Muse S

Beberapa waktu lalu ada yang bertanya mengenai berapa investasi alat ukur gelombang otak (EEG) yang saya pakai untuk meneliti.

Ada kurang lebih 14 alat ukur EEG yang dapat dipilih. Masing-masing dengan kekurangan dan kelebihannya. Utamanya pertimbangan harga dan kemudahan masuk ke Indonesia.

Keempatbelas alat ukur EEG tersebut adalah:

  1. Neuroscan (12300 publikasi)
  2. Brainproducts (6690 publikasi)
  3. Biosemi (5750 publikasi)
  4. EGI (5000 publikasi)
  5. Emotiv (3390 publikasi)
  6. NeuroSky (2290 publikasi)
  7. Advance Brain Monitoring (790 publikasi)
  8. G Tec (430 publikasi)
  9. ANT Neuro (340 publikasi)
  10. Neuroelectrics (317 publikasi)
  11. Muse (207 publikasi)
  12. Open BCI (201 publikasi)
  13. Cognionics (128 publikasi)
  14. mBrainTrain (38 publikasi)

Dengan melihat pertimbangan harga, ketersediaan aplikasi pendukungnya, dan kemudahan masuk ke Indonesia serta ketersediaan untuk dapat dibeli dalam jumlah yang cukup banyak maka saya memilih untuk membeli dan menggunakan MUSE dan Open BCI.

Muse memang terbatas hanya 4 channel namun itu cukup untuk melakukan pembelajaran gelombang otak dengan baik. Dukungan aplikasi yang baik dan ketersediaan melihat raw data (data mentah) gelombang otak yang dipancarkan menjadi data tarik tersendiri.

Sedangkan Open BCI menjangkau lebih banyak channel hingga 128 channel. Ini bagus sekali untuk pembelajaran detail meski harganya tentu saja tidak murah. Namun ia fleksibel, dapat di print 3D untuk bagian yang menempel di kepala. Sedangkan alat utamanya tetap mesti beli beserta kelengkapan lainnya.

Muse 2 dan Muse S sebagai alat EEG 4 channel, ini yang saya rekomendasikan kepada peserta yang tertarik mendalami latihan Metode Napas Ritme dengan serius.

Mari kita coba lihat berapa investasinya:

  • Harga Muse 2 sekitar 5 juta
  • Harga Muse S sekitar 7 juta
  • Aplikasi Mind Monitor sekitar 400 ribu

Paling tidak, untuk alat dan aplikasinya saja sekitar 12 jutaan.

Itu belum menghitung jurnal berbayar yang dibeli. Per hari ini paling tidak ada sekitar 18 jutaan saya keluarkan untuk membeli berbagai jurnal berbayar khusus mengenai gelombang otak.

Jadi, total investasinya 12 juta + 18 juta = 30 jutaan.

Itulah yang saya keluarkan untuk belajar teori gelombang otak secara terukur. Belum termasuk waktu yang dikeluarkan untuk ukur, uji coba, mencatat, analisa, trial and error, dan sebagainya. Itu sulit dinilai dengan angka.

Dari sisi peserta bagaimana?

Tentu saja peserta tidak perlu membeli kedua alat itu sekaligus (Muse 2 dan Muse S). Cukup pilih salah satu saja.
Jika peserta memilih Muse 2, maka investasi yang dikeluarkan adalah 5.4 juta. Sedangkan jika memilih Muse S investasinya 7.4 juta.

Jadi, ketika peserta “diberikan” sebuah ritme yang hasilnya bisa langsung TEPAT / TITIS pada salah satu gelombang otak tertentu yang dikehendaki, maka ritme yang diberikan sehingga dapat tepat hasilnya itu sudah melalui proses panjang perjalanan.

Bukan “ajaib” dan “kebetulan” bisa begitu.

Sudah melewati sekian banyak uji coba sedemikian rupa sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Terlihat ribet dan mahal?

Ya iya.

Namanya riset berbasis alat ukur.

Adakah cara lebih murah?

Ada.

Riset berbasis pengamatan saja. Ga perlu pakai alat ukur. Beban pengukuran diberikan ke pasien/peserta.

Misalnya, silahkan terapkan teknik napas apapun pada pasien diabetes lalu uji laboratorium pasien itu secara berkala. Biaya uji laboratoriumnya dibebankan ke pasien atau peserta. Lihatlah hasilnya. Membaik atau memburuk? Kemudian lakukan lagi pada berbagai karakteristik pasien pada usia, jenis kelamin, dan sebagainya.

Tetap saja ini perjalanan panjang. πŸ™‚

Memang, wilayah abstrak pada tradisional lebih “ringan”. Karena tidak ada pengukuran dan standar ukur pada angka dan data. Istilah salah satu senior saya, “modal ngemeng doang, asal meyakinkan maka ya udah”.

Beda kalau palai alat ukur. Susah jika harus asal ngomong saja. Apalagi berbohong. Atau “ngeles”.

Meski demikian, tidak lantas semua pendekatan tradisional itu buruk dan pendekatan modern lebih baik. Tidak semua. Yang bener ya ada. Masing-masing ada porsinya.

Maka lebih baik berjalan beriringan saja. Ambil manfaatnya dan jujur pada diri sendiri. Serta teruslah menjadi pembelajar. Itu saja.

Sekedar informasi, tahun 2022 mendatang Metode Napas Ritme akan mulai melakukan publikasi olah napas pada gelombang otak. Tunggu tanggal mainnya.

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →