FREQUENTLY ASKED QUESTION (1)

FREQUENTLY ASKED QUESTION (FAQ)
Bagian ke-1

Oleh: Mas Gunggung

Beberapa hari lalu mendapat pertanyaan dari peserta, yang kebetulan bertanya kepada seniornya, kurang lebih seperti ini:

“Untuk apa belajar sama kayak gitu? Manfaatnya apa? Latihan ya latihan saja yang rajin, nanti juga kamu dapat manfaatnya. Ilmu itu bukan untuk diperjualbelikan. Masa iya latihan napas aja bayar gitu?”

Jawaban saya:

Well, ini memang pembahasan topik yang menarik sekaligus sensitif. Beberapa pertanyaan diatas saya jadikan sub pembahasan terpisah untuk dapat didiskusikan dengan pikiran terbuka.

Ya, memang harus dengan pikiran terbuka dan hati yang lapang.

Belajar itu bisa dengan siapa saja dan dimana saja. Hamparan bumi dan langit beserta isinya ini merupakan pembelajaran bagi mereka yang ingin belajar. Manusia dikaruniai akal untuk berpikir dan hati untuk menentukan. Tidak mungkin kita “belajar tiba-tiba” tanpa ada sebab keyakinan atau rasa ingin tahu. Kadar ketertarikan kita terhadap suatu pembahasan ditentukan dari sejauh mana rasa ingin tahu dan keyakinan itu.

Saya ambil contoh begini, misalnya memahami gelombang otak. Tentu banyak dari kita yang pernah posting mengenai gelombang otak. Berusaha menjelaskan mengenai Alpha, Beta, Delta, Theta, Gamma dalam pemahaman tertentu yang diambil dari sumber tertentu. Sumber ini bisa saja dari social media, dari website orang, atau dari potongan chat yang pernah kita baca dan kita merasa cocok dengan itu.

Namun apakah ketika kita membaca mengenai gelombang otak itu kemudian kita mengerti seluk beluknya?

Belum tentu.

Meski demikian, ada ketertarikan kita kepadanya oleh karena suatu hal yang hanya diri kita sendiri yang tahu.

Demikian juga Metode Napas Ritme dan pengaruhnya terhadap gelombang otak.

Pada awalnya saya jelas membaca dulu penjelasan umum mengenai gelombang otak. Kemudian mulai masuk pada penjelasan yang lebih rinci hingga pada karakteristik masing-masing gelombangnya. Misalnya, jika gelombang otak kita ada pada Alpha maka artinya kita sedang masuk pada relaksasi otak. Jika gelombang otak kita masuk pada Theta maka artinya kita sedang masuk pada meditatif. Dan seterusnya.

Setelah dibaca dan dipahami, apakah kemudian kita sudah bisa memasuki gelombang itu dengan mudah dan pasti benar?

Belum tentu.

Kita harus gunakan alat ukur gelombang otak dulu untuk memastikan bahwa pada saat itu benar gelombang otaknya sesuai dengan yang kita harapkan atau inginkan. Tanpa adanya pengukuran untuk menunjukkan kebenaran gelombang otaknya maka yang kita lakukan belum teruji.


Sudah pasti Anda mesti siapkan dana untuk membeli alat ukur gelombang otak. Dan agar diketahui bahwa alat ukur EEG itu harganya nyaris tidak ada yang murah. Apalagi jika alat EEG tersebut merupakan alat-alat yang diakui keabsahannya dalam berbagai penelitian gelombang otak.

Ini kalau memang ingin terukur.

Tujuan adanya alat adalah memastikan bahwa teknik yang Anda lakukan benar menuju pada gelombang otak yang diinginkan. Dengan demikian kita akan dapat memprediksi apa-apa yang dapat terjadi disana setelahnya.

Setelah sudah benar berada gelombang otak yang diinginkan, lalu apa?

Tentu saja setelah itu kita jadi relatif mudah memprediksi apa yang akan terjadi dan potensi apa yang lahir dari situ KETIKA layer abstraksi ditambahkan. Layer abstraksi adalah bahasa saya yang merujuk pada aspek-aspek abstrak pada manusia seperti Niat, Keinginan, Motivasi, Fokus, Visualisasi, dan sebagainya.

Baik salah satunya maupun kombinasi diantaranya.

Kemudian, dilakukanlah pemetaan berbagai potensi-potensi ini beserta dengan kemungkinan hasilnya.

Saya berikan gambaran sederhana, dan semoga memang “sederhana”.

Pada Jantung paling tidak terdapat 3 (tiga) jenis gelombang:
1. High Frequency (HF)
2. Low Frequency (LF)
3. Very Low Frequency (VLF)

Pada Otak terdapat 5 (lima) jenis gelombang:
1. Delta
2. Theta
3. Alpha
4. Beta
5. Gamma

Antara Jantung dan Otak dapat dibuatkan permutasi dan kombinasi seperti misalnya:
1. HF – Delta
2. HF – Theta
3. HF – Alpha
4. HF – Beta
5. HF – Gamma
6. LF – Delta
7. LF – Theta
8. LF – Alpha
9. LF – Beta
10. LF – Gamma
11. Alpha dominan
12. Theta dominan
13. Delta dominan
14. Beta dominan
15. Gamma dominan
16. Delta – Gamma
17. Alpha – Delta – Theta
18. Aplha – Gamma
19. dan seterusnya (ini akan panjang sekali daftarnya)

Dan itu belum termasuk memasukkan layer abstraksi kepadanya. Misalnya begini, NIAT itu dipasangkan pada gelombang yang mana agar kecenderungan kemungkinannya lebih cepat terjadi? Visualisasi mesti dipasangkan pada gelombang yang mana agar kecenderungannya lebih mudah terjadi pada tubuh? Dan seterusnya.

Jika pemetaan kombinasi diatas dimasukkan layer abstraksi tentu saja akan menjadi lebih panjang lagi daftarnya. πŸ˜€

Kok kelihatannya rumit?

Ya karena memang ini wilayah penelitian.

Kalau Anda tidak masuk pada wilayah penelitian tentu saja tidak perlu dipusingkan dengan semua pemetaan-pemetaan diatas. Latihan ya latihan saja sesuai materi yang diberikan. Tidak perlu pusing membangun teori-teori baru, atau terobosan-terobosan baru.

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk meningkatkan probabilitas (kemungkinan) proses materialisasi pada diri kita baik di dalam tubuh maupun diluar tubuh.

Dengan menempatkan layer abstraksi pada gelombang yang pas maka kecenderungan kemungkinan proses materialisasi dapat meningkat hingga tahap “titis” atau “tepat”. Pada tahap itu, materialisasinya tentu terjadi dan sesuai dengan yang diharapkan.

Maka, peserta belajar bertahap dengan menggunakan alat ukur EEG untuk memasuki gelombang otak yang sedang dilatihkan. Benar atau tidak? Bersesuaian atau tidak? Jika belum tepat, kendalanya apa? Dan seterusnya dilakukan analisa untuk perbaikan demi perbaikan hingga nanti peserta ini dapat titis/tepat masuk pada gelombang otak yang diinginkan dengan tekniknya. Barulah setelah itu peserta diajari kapan dan dimana meletakkan layer abstraksi.

Selesaikah pembelajarannya?

Belum.

Peserta berikutnya mulai belajar cara menyatukan layer abstraksi dan frekwensi untuk mendapatkan feedback resonansi. Ingat, prinsip gelombang adalah resonansi. Jika ada dua atau lebih frekwensi yang sama maka akan saling beresonansi. Ini yang juga mulai belajar dikenali oleh peserta. Namun karena penyusunannya sudah berada pada frekwensi atau gelombang yang “benar” maka kecenderungan berhasil ketika layer abstraksi dimasukkan itu akan lebih besar dibanding yang tidak mengatur terlebih dahulu gelombangnya.

Jadi, dalam penelitian dan pemahaman Metode Napas Ritme ini, ada jenis niat-niat tertentu yang kecenderungannya terjadi pada saat otak kita berada pada Alpha. Ada juga jenis yang kecenderungannya terjadi pada Delta, pada Theta, atau pada Gamma. Dan ini belum berbicara mengenai Visualisasi. Mesti diletakkan dimana visualisasi agar tubuh menganggap itu sebagai sebuah kebenaran sehingga materialisasi dapat terjadi?

Nah, dengan dilakukan berbagai pemetaan demi pemetaan ini menjadi lebih mudah bagi Metode Napas Ritme untuk menuju keberhasilan materialisasi. Ketika pemetaan ini ditemukan maka potensi dan peluang terjadinya keberhasilan menjadi lebih tinggi. Bukankah seperti ini juga yang dilakukan sains dan medis selama ini, yakni memperbesar peluang keberhasilan? Seperti itulah yang Metode Napas Ritme MG lakukan.

Tunggu dulu mas, tadi khan dibilang materialisasi terjadi juga diluar tubuh? Itu bagaimana?

Tentu saja itu juga sedang dan sudah dimulai penelitiannya. Dalam skala kecil. Seperti misalnya bagaimana meningkatkan kepekaan dengan resonansi frekwensi manusia dan frekwensi bumi. Kita juga pernah uji pada orang normal dan pada tunanetra dalam meningkatkan kepekaan mereka. Bahkan, bagaimana “menyentuh benda” dengan Napas Ritme sehingga proses semacam Telekinesis atau menggerakkan benda tanpa menyentuh itu dapat secara logis dipahami dan dilakukan serta diulang dengan ajeg oleh siapapun.

Dan banyak lagi.

Wilayahnya nyaris tidak terbatas.

Namun memang wilayah penelitian yang seperti itu belum saatnya dipublikasikan atau dibuka untuk umum. Hal ini dikarenakan memang wilayah sensitif dan memerlukan lebih banyak alat ukur obyektif serta statistik subyek yang lebih banyak.

(bersambung)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →