Core Napas Ritme dan Applied Napas Ritme

“CORE NAPAS RITME” DAN “APPLIED NAPAS RITME”

Sejak beberapa tahun lalu, MG membuka kelas latihan harian non stop untuk pasien-pasien berat. Biasanya dibuat 21 hari atau hingga 90 hari non stop. Tujuannya adalah membangun neuroplasticity baik pada otak, jantung, maupun pada pencernaan. Melalui pendekatan ini ternyata terbukti sangat efektif dalam melakukan berbagai perubahan pada pasien yang sakit berat hingga dapat pulih seperti sedia kala.

Neuroplasticity, dalam pandangan Metode Napas Ritme, merupakan ‘support system’ yang wajib dimiliki tubuh. Tanpa kemampuan itu, niscaya perubahan apapun akan berat adanya. Itulah sebabnya dalam beberapa bulan terakhir ini nyaris semua program yang dibuat MG merupakan program yang membangun neuroplasticity. Termasuk pada sesi teori dan diskusi dengan instansi-instansi, komunitas, maupun perorangan yang sudah MG publikasikan pada channel Youtube.

Neuroplasticity ini berhubungan dengan syaraf. Dan dari 11 (sebelas) sistem pada tubuh manusia, Sistem Syaraf merupakan ‘master system’ pada tubuh manusia yang pengetahuannya wajib dipahami dan dipelajari lebih dulu secara runut.

Metode Napas Ritme yang pertama kali diperkenalkan untuk umum juga diawali dengan pembahasan mengenai frekwensi pada sistem syaraf beserta dengan beberapa napas terapannya. Bagaimana untuk belajar frekwensi pada Sistem Syaraf Otonom (SSO) kita mesti belajar dulu pada Jantung melalui konsep yang disebut dengan Heart Rate Variability atau HRV. Melalui pemahaman pada konsep inilah kita jadi dapat memahami frekwensi pada Syaraf Otonom manusia.

Metode Napas Ritme telah memetakan berbagai frekwensi yang dapat menstimulasi sebelas sistem pada tubuh manusia tersebut. Bagaimana cara mengukurnya, me-logika-kannya, menerapkannya untuk berbagai kasus kesehatan ringan maupun berat termasuk yang non kesehatan seperti kecerdasan, beauty care, dan peningkatan sensitivitas atau kepekaan, menggabungkan frekwensi-frekwensi tertentu, mengetahui frekwensi unik, mampu menghitung cara menurunkan frekwensi besar menjadi kecil atau sebaliknya, dan banyak lagi.

Misal begini, jika diketahui ada frekwensi sebesar (misalnya) 8000 Hz untuk menghancurkan sel kanker maka bagaimanakah cara mengubah besaran frekwensi tersebut agar dapat dilakukan oleh manusia? Sebab jika menggunakan angka 8000 Hz maka mustahil manusia biasa dapat menghasilkan frekwensi sebesar itu. Jadi, diperlukan pendekatan untuk mengubah angka tersebut menjadi angka-angka frekwensi yang dapat dilakukan oleh tubuh kita.

Hal ini wajar saja mengingat semesta besar (alam raya) itu terhubung dengan semesta kecil (tubuh manusia) maka mestilah ada semacam ‘sambungan’ frekwensi agar dapat menuju kesana. Ada semacam “frekwensi harmoni” antara angka besar dan angka kecil.
Saya ambil contoh seperti ketika dua orang sedang bermain piano, katakanlah namanya A dan R. Pemain pertama (A) bermain pada nada dasar C dan pemain kedua (R) bermain juga pada nada dasar C (satu oktaf lebih tinggi). Jika keduanya dimainkan secara bersamaan, oleh karena berada pada nada dasar yang sama, maka nada tetap terdengar enak dan nyaman. Hal ini terjadi karena antara nada C pada A dan C (satu oktaf tinggi) pada R memiliki sesuatu yang disebut dengan “frekwensi harmoni”. Pun seandainya ada pemain lain, misal X yang bermain pada nada dasar C (dua oktaf lebih tinggi) jika ketiganya memainkan piano secara bersamaan dengan kesepakatan lagu pada nada dasar yang sama maka tetap enak didengar.

Besara frekwensi A, R, dan X jelas berbeda. Namun karena ada “frekwensi harmoni” maka ketiganya sedang “saling sambung frekwensi”. Harmoni terjadi saat itu.

Menarik bukan? πŸ™‚

Dan ini dapat dihitung dan dipelajari loh. Susah kalau nyari di Google. Ga bakalan ketemu. Hanya ada di Metode Napas Ritme saja.

Dengan dasar teori Napas Ritme inilah maka wilayah eksplorasi menjadi nyaris tidak terbatas. Pengetahuan ini nyaris dapat membuka sekat-sekat pengetahuan lainnya.

Kembali pada pembahasan “Core Napas Ritme” dan “Applied Napas Ritme”. Kita ngobrol-ngobrol santai saja ya.

Metode Napas Ritme terbagi menjadi 2 (dua) bagian besar. Pertama, pengetahuan mengenai “Core Napas Ritme” atau “Inti Napas Ritme”. Kedua, pengetahuan mengenai “Applied Napas Ritme” atau “Napas Ritme Terapan”. Untuk dapat seseorang mengembangkan Napas Ritme maka ia wajib belajar terlebih dahulu kelas “Core Napas Ritme” dengan serangkaian alat ukur frekwensi yang wajib dimiliki. Setelah itu, baru belajar konsep Napas Ritme Terapan untuk mengetahui sejauh mana potensi Napas Ritme ini.

Setelah belajar keduanya, barulah seseorang dapat menjadi “chef” untuk merancang berbagai produk-produk teknik atau metode yang dapat diaplikasikan pada berbagai kasus kesehatan dan non kesehatan.

Dasar-dasar dari “Core Napas Ritme” dan “Applied Napas Ritme” untuk pertama kali akan dibuka pada kelas “WB Clinincal Update” bulan Desember mendatang. Sedangkan sebagian dari Napas Ritme Terapan sudah diperkenalkan untuk umum seperti misalnya Teknik oPH, Teknik Penurunan Kolesterol, Teknik Pergeseran Asam-Basa, Teknik Pergeseran Simpatik-Parasimpatik, Teknik Peningkatan Hemoglobin, MG Protocol for Cancer, dan sebagainya. Beberapa diantaranya saya upload di channel Youtube saya.

Sederhananya, “Core Napas Ritme” atau “Inti Napas Ritme” menggunakan pemahaman Mekanika Ventilasi dan Frekwensi. Tanpa memahami dua hal itu maka core Napas Ritme tidak akan didapatkan. Jika hanya menghafal angka, maka akan sulit dipahami kenapa ada 5:5, 3:3, 2:4, 2:8:4, 10:10, 15:15, 2:16:4, 3:6:9, dan seterusnya.

Namun ketika konsep Mekanika Ventilasi dan Frekwensi dipahami dengan baik, maka angka-angka itu akan “berbicara”. Berikutnya, kita dapat melihat pengaruhnya apa pada tubuh manusia ketika frekwensi tersebut terbentuk via ritme dan kemudian beresonansi pada apa.

Kemudian, ketika sudah dipahami frekwensi dan pengaruhnya maka berikutnya dapat disusun berbagai pendekatan solusi berbasis frekwensi tunggal atau rangkaian frekwensi tertentu atau frekwensi harmoni tunggal atau rangkaian frekwensi harmoni tertentu pada suatu kasus tertentu baik kesehatan maupun non kesehatan.

Inilah yang kemudian menjadi konsep Napas Ritme Terapan atau “Applied Napas Ritme”.

Pada konsep Napas Ritme Terapan, dimasukkan ‘bumbu’ tambahan berupa Intermittent Stress yang sudah didefinisikan. Beberapa Intermittent Stress diantaranya adalah menahan napas (low/buang-tahan dan high/tarik-tahan), postur (isometrik, dynamic, dan plyometric), gerakan (dinamis lembut, dinamis keras, dinamis lembut-keras), temperatur (dingin atau panas), beban (ringan atau berat), pain (rasa sakit), dan alam (unpredictable stress).

Sederhananya, Napas Ritme Terapan adalah kombinasi antara ‘Core Napas Ritme’ dengan serangkaian Intermittent Stress secara progresif dan rasional. Dapat ditulis sebagai “Mekanika Ventilasi + Intermittent Stress”.

Jadi, yang disebut “Core Napas Ritme” adalah Mekanika Ventilasi murni sedangkan “Applied Napas Ritme” adalah Mekanika Ventilasi + Intermittent Stress.

Agar dapat memahami Napas Ritme Terapan, maka saya berikan satu contoh Napas Ritme Terapan yang dikenal dengan Teknik oPH atau Optimalisasi pH. Teknik ini terdiri dari rangkaian Core Napas Ritme parasimpatik yang ditambahkan dengan Intermittent Stress (IS) berupa menahan napas berjenis Low Pulmonary Volume (LPV) atau yang dikenal dengan Buang-Tahan.

Teknik oPH = Ritme Parasimpatik + Intermittent Stress berjenis tahan napas LPV (buang-tahan).

Ritme parasimpatik berada pada frekwensi 0.15 Hz s/d 0.4 Hz dan dapat dicapai dengan Ritme 3:3, Ritme 2:2, atau Ritme 1:1. Ketika melakukan ritme ini, Respiration Rate (RR, laju pernapasan) akan meningkat. Peningkatan RR memiliki definisi lain yang disebut dengan Hiperventilasi. Sederhananya, Ritme Parasimpatik mirip dengan Hiperventilasi akibat dari peningkatan RR.

Salah satu metode yang terkenal di dunia adalah yang disebut dengan Wim Hof Method (WHM) yang ditemukan oleh Wim Hof. Beliau adalah pemegang rekor dunia ekstrim yang sangat terkenal dan mendunia. Nyaris sulit ditiru pemecahan rekornya oleh manusia sedunia. Wim Hof Method menggunakan kombinasi dari Hiperventilasi + Retention (tahan napas berjenis Buang-Tahan).

Retention (buang-tahan) kalau dalam terminologi MP disebut dengan “Napas Kering”. Dalam terminologi lain disebut dengan “Teknik Buteyko”. Dalam terminologi lain lagi disebut dengan “Rechaka pranayama”.

Hiperventilasi + Retention (buang-tahan) dalam terminologi pranayama masuk pada jenis Kapalabhati atau Bhastrika.

Maka, Teknik oPH Napas Ritme pada satu sisi memiliki kemiripan dengan Wim Hof Method (WHM) juga pada Kapalabhati atau Bhastrika pranayama.

Kalau ada kemiripan tentu ada perbedaan dong?

Tentu saja.

Wim Hof Method, termasuk Kapalabhati atau Bhastrika pranayama, tidak menggunakan teori frekwensi saat melakukan Hiperventilasi sementara Teknik oPH Napas Ritme menggunakan frekwensi. Jadi, pada Wim Hof Method seseorang melakukan Hiperventilasi secara “acak” pada detiknya. Anda lakukan hiperventilasi dengan cepat dan cukup kuat. Tidak ada pengukuran detik dan perhitungan frekwensi pada Hiperventilasi Wim Hof Method atau hiperventilasi Kapalabhati atau hiperventilasi Bhastrika.

Detik saat melakukan hiperventilasi (tarik-buang) pada Wim Hof Method itu bebas-bebas saja. Asal cepat dan fokus. Desain metodenya memang begitu.

Teknik oPH Napas Ritme memiliki keunggulan dibanding Wim Hof Method dari sisi penggunaan ritme parasimpatik berbasis frekwensi yang terukur dan terprediksi pada saat melakukan Hiperventilasi.

Artinya apa?

Pada Teknik oPH Napas Ritme dapat memiliki kombinasi yang jauh lebih banyak dibandingkan Wim Hof Method atau Kapalabhati atau Bhastrika pranayama.

Teknik oPH Napas Ritme dapat memiliki paling tidak 9 (sembilan) kombinasi yang berbeda dibanding Wim Hof Method seperti berikut ini:

  1. Hiperventilasi (Ritme 3:3) + Retention (buang-tahan)
  2. Hiperventilasi (Ritme 2:2) + Retention (buang-tahan)
  3. Hiperventilasi (Ritme 1:1) + Retention (buang-tahan)
  4. Hiperventilasi (Ritme 1:2) + Retention (buang-tahan)
  5. Hiperventilasi (Ritme 2:4) + Retention (buang-tahan)
  6. Hiperventilasi (Ritme 1:2:3, progresif menurun) + Retention (buang-tahan)
  7. Hiperventilasi (Ritme 3:2:1, progresif menaik) + Retention (buang-tahan)
  8. Hiperventilasi (Ritme 3:3 + 2:4) + Retention (buang-tahan)
  9. Hiperventilasi (Ritme 1.5:1.5 + 1:2) + Retention (buang-tahan)

Dan masing-masing kombinasi ini memiliki dampak yang berbeda-beda pada tubuh akibat dari penggunaan frekwensi dan penerapan frekwensi yang berbeda.

Misal antara Mekanika Ventilasi Rasio I:E pada 1:1 (detik tarik napas sama dengan detik buang napas) memiliki dampak yang berbeda dengan Mekanika Ventilasi Rasio I:E pada 1:2 (detik buang napas lebih panjang dibandingkan detik tarik napas).

Maksudnya bagaimana mas?

Maksudnya, Ritme 3:3 dengan Ritme 2:4 itu berbeda dari sisi pengaruh metabolisme di tubuh meskipun frekwensinya sama-sama 0.17 Hz. Karena Ritme 3:3 berada pada mekanika ventilasi Rasio I:E yang 1:1 (tarik 3 detik, buang 3 detik) yang disebut dengan istilah ritme simetris, sedangkan Ritme 2:4 berada pada mekanika ventilasi Rasio I:E pada 1:2 (tarik 2 detik, buang 4 detik) yang disebut dengan istilah prolonged expiration.

Lihatlah, beda pada perlakuan ritmenya saja, meski berada pada angka frekwensi yang sama, memiliki dampak yang berbeda pada tubuh.

Artinya, pada Teknik oPH Napas Ritme jangkauannya jauh lebih luas dibandingkan Wim Hof Method atau Kapalabhati dan Bhastrika.

Teknik oPH Napas Ritme dapat diukur dengan alat ukur frekwensi dan dapat lebih jauh memprediksi apa yang terjadi pada tubuh setelah tekniknya dilakukan.

Kombinasi diatas belum berbicara mengenai “frekwensi harmoni” seperti yang saya tulis di awal-awal.

Dan itu baru SATU TEKNIK saja yang disebut dengan Teknik oPH Napas Ritme menggunakan hanya 3 jenis frekwensi saja yakni 0.17 Hz (Ritme 3:3), 0.25 Hz (Ritme 2:2), dan 0.5 Hz (Ritme 1:1). Pengecualian pada Ritme 1.5:1.5.

Bagaimana jika frekwensi lain yang dipakai? Misal, frekwensinya Syaraf Simpatik yang memiliki rentang frekuensi lebih luas? Itu jelas akan menjadi teknik-teknik yang berbeda lagi.

Dan itu juga belum bicara mengenai Napas Ritme Terapan lainnya dengan berbagai Intermittent Stress yang diterapkan kepada Core Napas Ritme.

Maka, Wim Hof Method atau Kapalabhati atau Bhastrika dapat dipandang sebagai subset (sebagian kecil) saja dari Napas Ritme Terapan dalam Metode Napas Ritme MG.

Memahami Napas Ritme MG menjadi sangat mudah dalam memahami Wim Hof Method beserta dengan semua detailnya. Plus termasuk memahami Kapalabhati atau Bhastrika pranayama menjadi lebih mudah.

Namun tidak kebalikannya.

Kalau penjelasan diatas dijabarkan dan ditulis jadi buku, ini bisa berjilid-jilid. Dan itu belum berbicara mengenai frekwensi pada otak dan pada bagian tubuh lainnya serta pengaruhnya pada metabolisme dan sebelas sistem tubuh manusia.

Itulah yang juga paralel sedang saya lakukan.

Membuat BUKU.

Jadi, kalau Anda ingin memahami Metode Napas Ritme MG maka harus belajar dari pemahaman “Core Napas Ritme” dan “Applied Napas Ritme”.

Event “WB Clinical Update” bulan Desember mendatang akan membahas ini secara lebih detail lagi.

Seru?

Pastinya.

Ngomong-ngomong, apakah semua penjelasan saya diatas mengenai Metode Napas Ritme MG ada kemiripan dengan ilmu MP tertentu kah?

Silahkan dicari dimananya. πŸ˜€

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →