Pelajaran dari Kelelawar – Program 21 Hari Metode Napas Ritme fase ke-3

PELAJARAN DARI KELELAWAR

Oleh: Mas Gunggung

Kelelawar biasanya dikenal dengan kemampuannya mengirimkan sinyal ultrasonik sehingga meski di dalam gelap sekalipun ia tidak akan bertabrakan dengan berbagai benda yang ada di depannya. Selain dari kemampuan memancarkan frekwensi yang melegenda sehingga sering dijadikan simbol atau tafsir kemampuan ‘melihat dalam gelap’ ternyata ada juga hikmah lain yang terkandung dari hewan ini.

Apa itu?

Yakni sesuatu yang disebut dengan MELATONIN.

Dan ini terkait dengan salah satu solusi pada Covid-19.

Lanjutkan membaca.

Terdapat studi kelelawar dilakukan untuk melihat sejauh mana produksi Melatonin dan pengaruhnya. Kelelawar adalah pembawa alamiah dari virus Corona namun ia tidak simptomatik. Hal ini karena kelelawar merupakan hewan yang memiliki kadar Melatonin tertinggi di muka bumi ini. Ketika Melatonin pada kelelawar dihalangi maka ia menjadi simptomatik (bergejala). Penelitian ini menjadi rasional dan mengilhami mengapa Melatonin diperlukan.[1]

Melatonin bukanlah sekedar hormon yang membuat kita mudah untuk tidur melainkan molekul yang memiliki manfaat luar biasa. Salah satu manfaat terkuat dari Melatonin adalah Anti Oksidan. Kehadirannya dapat menetralisir oksigen reaktif (ROS) dan nitrogen reaktif (NOS). Selain itu, Melatonin memiliki manfaat kuat sebagai Anti Inflamasi tinggi dan menjadi sangat penting dalam penanganan Covid-19.

Yang paling menarik dari Melatonin adalah bahwa ia secara spesifik merupakan Anti Oksidan pada Mitokondria. Terdapat reseptor khusus pada Mitokondria yang disebut dengan M1 dan M2. Adanya reseptor ini berarti bahwa Mitokondria dapat menangkap Melatonin dan menggunakannya untuk mengurangi dampak dari oksigen reaktif.

Bagian paling mengesankan dari Mitokondria dan Melatonin ini adalah bahwa Melatonin ternyata dapat diproduksi sendiri oleh Mitokondria. Sebagaimana kita ketahui bahwa Mitokondria merupakan generator energi pada sel yang menggunakan oksigen. Dan semua yang menggunakan oksigen umumnya menghasilkan oksigen reaktif yang bersifat merusak. Apabila terjadi kerusakan pada Mitokondria maka produksi energi pada sel menjadi terganggu.

Melatonin merupakan proteksi alami dan kuat bagi Mitokondria dimana ia secara signifikan dapat melindungi Mitokondria dari kerusakan oksidatif dan berperan signifikan pada tahap Rantai transport elektron (ETC, Electron Transport Chain).[2]

Jadi, selain terdapat reseptor M1 dan M2 pada Mitokondria untuk menangkap Melatonin juga secara internal Mitokondria dapat memproduksi Melatonin.

Salah satu masalah virus Covid-19 ini adalah ia mampu mengganggu siklus dari metabolisme Aerobic Glycolysis sehingga sebagian prosesnya tidak mampu memasuki jalur siklus Krebs dalam menghasilkan energi. Dampak dari gangguan ini adalah Mitokondria menjadi tidak mampu memproduksi Melatonin oleh karena ketidakcukupan siklus yang terjadi dalam prosesnya.

Maka, tambahan Melatonin diperkirakan dapat membantu dalam menyempurnakan ulang kelengkapan proses Mitokondria dapat berfungsi normal dalam menjalankan berbagai siklusnya.

Selain itu, Melatonin juga menghambat badai sitokin pada Covid-19 dengan membalik proses Aerobic Glycolysis di dalam sel imun.[3]

Pertanyaan lain adalah, adakah data dimana Melatonin memiliki dampak dan manfaat pada penanganan Covid-19?

Rupanya ada.

Terdapat penelitian yang dilakukan terhadap 11.672 pasien pada tahun 2019 lalu mengenai prediksi resiko Covid-19 yang dilakukan oleh Jehi L et all. Penelitian ini menunjukkan bahwa kecukupan Melatonin mampu menurunkan positivitas Covid-19. Artinya, jika Anda memiliki tingkat kecukupan Melatonin maka resiko dari positivitas Covid-19 akan semakin rendah.[4]

Terdapat juga studi klinis tahap Randomize, Double-blind untuk melihat sejauh mana efikasi dari dosis rendah Melatonin ketika diberikan pada pasien Covid-19 terhadap lama waktu menginap di kamar rumah sakit. Ini memang studi kecil namun hasilnya sangat signifikan. Pada studi ini terlihat data bahwa pemberian Melatonin terbukti dapat mengurangi lama waktu menginap di RS secara signifikan.[5]

Terdapat juga studi mengenai tingkat kematian pasien Covid-19 yang sudah mengalami intubasi dan diberikan Melatonin. Hasilnya, 90% resiko kematian berkurang drastis ketika pasien yang sudah diintubasi diberikan Melatonin.[6]

Apa dan bagaimana cara tubuh manusia memproduksi dan meningkatkan Melatonin melalui olah napas akan diberikan pada Program 21 Hari fase III Metode Napas Ritme. Tidak hanya Melatonin, akan dibahas juga solusi olah napas yang berhubungan dengan penurunan inflamasi.

Kenapa inflamasi?

Hal ini karena penanda tubuh ketika seseorang terkena Covid-19 adalah terjadinya peningkatan inflamasi dimana-mana. Maka, apabila kita tahu dan paham bagaimana cara menurunkan inflamasi itu maka kita akan dapat mengurangi dampak pemburukan dari Covid-19.

Akan dibahas nanti bagaimana strategi penurunan inflamasi via berbagai pendekatan olah napas. Harapannya, masyarakat dapat terbantukan dengan ini.

Saya ambil contoh sederhana, bagaimana banyak masyarakat belum tahu bagaimana cara meningkatkan nilai SpO2 menggunakan olah napas. Dan agar tidak menjadi paradox dimana praktisi pernapasan tapi tidak tahu cara meningkatan asupan oksigen di badannya secara terukur? Padahal caranya ada dan relatif ‘mudah’. Namun karena tidak tahu akhirnya mengandalkan Oksigen sedangkan saat ini pasokan berkurang dan harga yang selangit. Kalau saja mereka mau open minded dan belajar olah napas maka mereka dapat mengkondisikan tubuh untuk meningkatkan asupan oksigennya tanpa bantuan tabung oksigen. Memang, pada kasus-kasus tertentu yang berhubungan dengan kegawatdaruratan jelas tabung oksigen adalah pilihan utama. Namun pada kasus umum, solusi olah napas adalah yang paling masuk akal.

Latihan olah napas pada metode Napas Ritme ini selalu bersifat edukasi.

Sifat pelatihannya murni pembelajaran. Memberikan edukasi rasional mengenai berbagai potensi dan manfaat olah napas secara logis. Menggiring pesertanya untuk berlatih secara rasional, mau membuka wawasan, dan open minded. Adapun pemahaman dan materi yang diberikan di dalamnya silahkan jika ingin dipakai untuk keperluan pribadi.

Pelatihan Program 21 Hari fase ke-3 Metode Napas Ritme ini akan dilaksanakan tanggal 10 Juli 2021 mendatang pada setiap malam jam 20:00 WIB.

Dari kuota 250 orang yang disiapkan (dan ini meningkat 2x lipat dari fase ke-2), saat ini sudah nyaris terisi 90%. Bahkan ada peserta yang membawa 85 orang sekaligus untuk bergabung. Luar biasa semangat dan kepercayaannya. Semoga memberikan manfaat bagi semua yang ikut dan bergabung pada program ini.

Bagi yang ingin ikut silahkan kontak Intan (WA: 0896.5173.4140). Pelatihan olah napas 21 hari ini bersifat donasi bebas, tidak ada batas bawah. Peserta dapat bertanya dan berdiskusi pada group WA yang sudah disiapkan.

Bagi yang merasa berat dengan donasi bebas, tersedia versi gratisnya ada di Youtube dan dapat diikuti 7 hari dengan audio instruksi yang cukup banyak dan jelas. Hanya memang tidak mendapatkan penjelasan dan diskusi detail seperti halnya pada group WA. Mudah-mudahan dengan sifat donasi bebas ini dapat membantu menjangkau lebih banyak lagi masyarakat umum untuk berlatih dan mendapatkan manfaat.

Mari kita berlatih bersama tanggal 10 Juli mendatang dengan semangat dan istiqomah. Ajak serta keluarga, teman dan kerabat untuk ikut pada program latihan 21 hari ini dan rasakan manfaatnya bersama.

Jagalah selalu kesehatan Anda dan orang-orang yang Anda sayangi. Situasinya saat ini sedang “tidak baik-baik saja”. Mari berlatih secara rasional dan terukur.

Salam hangat,
MG


Referensi:
[1]. Melatonin rhythms and pineal structure in a tropical bat, Anoura geoffroyi, that does not use photoperiod to regulate seasonal reproduction. (https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/j.1600-079X.1996.tb00245.x)

[2]. Melatonin in Mitochondria: Mitigating Clear and Present Dangers. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32024428/)

[3]. Medicine in Drug Discovery 6 (2020) 100044

[4]. Individualizing Risk Prediction for Positive Coronavirus Disease 2019 Testing. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7286244)

[5]. Efficacy of a Low Dose of Melatonin as an Adjunctive Therapy in Hospitalized Patients with COVID-19: A Randomized, Double-blind Clinical Trial. (https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0188440921001417)

[6]. Melatonin is significantly associated with survival of intubated COVID-19 patients. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33083812)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →