Program 21 Hari Meditasi Napas Ritme

PROGRAM 21 HARI MEDITASI NAPAS RITME

Manusia normal bernapas berada pada antara 10-20x per menit. Umumnya disepakati pada 15x per menit. Dengan pengetahuan dasar ini maka kita dapat menghitung berapa napas yang “dihabiskan” selama 1 jam (60 menit).

Caranya cukup kalikan saja 15 dengan 60 menit yakni 900 kali.

Maka, saya dan Anda pada umumnya dalam satu jam menggunakan napasnya sebanyak 900x. Pada angka inilah normalnya metabolisme bekerja berdasarkan asupan Oksigen yang masuk ke paru-paru. Pertukaran gas pada darah terjadi secara normal disana antara Oksigen dan Karbondioksida.

Meski demikian, dari normalnya udara yang dihirup ada yang berperan dalam proses pertukaran gas dan ada yang tidak. Udara yang tidak berperan dalam proses pertukaran gas disebut dengan ‘Dead Space’. Dead space ini semakin besar pada mereka yang memiliki kebiasaan tertentu (perokok, pasif maupun aktif) atau pada yang berada pada lingkungan tertentu (lingkungan dengan konsentrasi asap cukup tinggi) atau yang memiliki masalah kesehatan pada paru-paru berjenis ARDS (accute respiratory distress syndrome). Peningkatan ‘dead space’ dapat dilihat pada Emphysema, Pneumonia, dan ARDS tersebut[1].

Pada normalnya kita menghirup udara sekitar 500 ml dengan dead space sekitar 150 ml. Semakin tinggi tingkat ‘dead space’ maka semakin sedikit udara yang berperan dalam proses pertukaran gas. Dampaknya jelas, napas menjadi semakin pendek dan konsentrasi oksigen makin lama semakin rendah. Jaringan menjadi semakin sedikit mendapatkan pasokan oksigen.

Terdapat beberapa cara untuk menurunkan volume ‘dead space’. Cara yang paling mudah adalah dengan mengubah ritme napas.

Pelajaran ini akan diberikan pada materi 21 hari meditasi Napas Ritme.

Pada kelas tersebut, yang akan dilaksanakan 21 hari non stop, akan dijelaskan bagaimana strategi Napas Ritme untuk melakukan perbaikan pada paru-paru dan metabolisme dengan cara yang relatif mudah. Ini adalah kelas lanjutan dari program charity bulan Ramadhan kemarin yakni “Program 21 Hari Napas Ramadhan”. Program yang, dengan izin Allah, diikuti oleh 115 orang peserta dan bertahan hingga hari ke-21. Kelas yang awalnya diberikan pada pasien-pasien berat dengan kualitas materi yang insya Allah sangat proven untuk melakukan perubahan.

Jika kita menghitung jumlah napas yang dihabiskan dalam satu periode waktu tertentu berdasarkan ritme napas yang digunakan maka akan terlihat hitungan sebagai berikut:

1. Napas Normal

  • Respiration Rate (laju pernapasan): 15x / menit
  • Respiration Rate (laju pernapasan) 1 jam = 15 x 60 = 900 kali
  • Utilisasi: 100%

Apabila peserta mengubah ritme napasnya menjadi Ritme 5:5 saja dan diperbandingkan dengan napas normal maka akan didapatkan hitungan sebagai berikut:

2. Napas Ritme 5-5

  • Respiration Rate (laju pernapasan): 6x / menit
  • Respiration Rate (laju pernapasan) 1 jam: 6 x 60 = 360 kali
  • Utilisasi: (360 / 900) * 100% = 40%

Bagaimana jika misalnya peserta pengubah ritme napasnya menjadi Ritme 10:10 dan diperbandingkan dengan napas normal juga, maka akan didapatkan hitungan sebagai berikut:

3. Napas Ritme 10:10

  • Respiration Rate (laju pernapasan): 3x / menit
  • Respiration Rate (laju pernapasan) 1 jam: 3 x 60 = 180 kali
  • Utilisasi: (180 / 900) * 100% = 20%

Bagaimana jika misalnya peserta mengubah ritme napasnya menjadi Ritme 15:15 dan diperbandingkan dengan napas normal, maka akan didapatkan hitungan sebagai berikut:

4. Napas Ritme 15:15

  • Respiration Rate (laju pernapasan): 2x / menit
  • Respiration Rate (laju pernapasan) 1 jam: 2 x 60 = 120 kali
  • Utilisasi: (120 / 900) * 100% = 13.3%

Terlihat bagaimana utilisasi napas pada perubahan ritme nomor 2, 3, dan 4 menjadi lebih efisien dibandingkan napas normal.

Tentu saja utilisasi ini terkait dengan sejumlah energi yang digunakan untuk melakukan perubahan pada metabolisme. Tidak hanya perbaikan ‘dead space’.

Apa dan bagaimana perubahan metabolisme pada setiap perubahan ritme napas akan dijelaskan pada kelas mendatang. Seperti misalnya frekwensi apa yang dihasilkan dari perubahan ritme napas diatas dan mempengaruhi apa. Jangan lupa, dalam pemahaman Napas Ritme itu setiap perubahan ritme napas akan menghasilkan frekwensi tertentu. Ini mesti dilihat dampaknya apa terhadap metabolisme.

Well, Anda tidak mungkin bernapas seharian dengan ritme 10:10. Akan ada kondisi dimana Anda kembali bernapas normal.

Meski demikian, jika Anda mau berlatih Napas Ritme 1 jam saja maka Anda sudah ‘berhemat napas’ sebanyak:

  • Ritme 5:5 ==> 900 – 360 = 540x
  • Ritme 10:10 ==> 900 – 180 = 720x

Itu adalah jumlah yang besar sodara-sodara.

Mari saya bantu hitungkan.

Jika misalnya sehari Anda berlatih Napas Ritme 5:5 selama 1 (satu) jam saja maka Anda sudah ‘berhemat napas’ sebanyak 540 kali. Dan dalam hitungan waktu yang lain akan terlihat sebagai berikut:

  • seminggu: 7 x 540 = 3.750 napas
  • sebulan: 30 x 540 = 16.200 napas
  • setahun: 365 x 540 = 197.100 napas

Dan penghematan napas itu didapat hanya dengan 1 jam saja berlatih tiap harinya.

Kalau kita konversi ulang jumlah ‘penghematan napas’ diatas ke dalam satuan waktu maka akan didapat hitungan sebagai berikut:

  • seminggu: 3.750 / 60 = 62.5 menit ~ 1.05 jam
  • sebulan: 16.200 / 60 = 270 menit ~ 4.5 jam
  • setahun: 197.100 / 60 = 3.285 menit ~ 54.75 jam

Pertanyaanya adalah, apa yang dapat Anda lakukan dengan ‘tabungan napas’ sebanyak 1.05 jam seminggu, 4.5 jam sebulan, atau 54.75 jam setahun?

Baaaaaaanyaaaaak…

Meski demikian, hidup mati seseorang tidak diukur dari hitung-hitungan napas diatas. Namun kalau misalnya manusia sudah ‘dijatah’ napas sejak lahir hingga mati sebanyak sekian juta kali dan kita gunakan dengan ‘boros’ maka tentu ‘masa pakai’ akan lebih pendek dibanding mereka yang sadar dan berhemat pada penggunaan napasnya.

Anggaplah seperti analogi (meski tidak persis sama) bagaikan ‘mobil baru yang keluar dari pabrik’ yang sudah dibekali dengan batas sekian puluh ribu kilometer sebelum masuk bengkel. Jika mobil itu dipakai dengan ugal-ugalan maka tentu akan masuk bengkel lebih cepat dibanding mereka yang menggunakan dengan bijak dan baik.

Diberi tambahan ‘jatah’ napas 1 jam seminggu saja bisa dipakai untuk hal-hal yang baik-baik pada lisan, pikiran, perasaan, dan tindakan. Karena sungguh akan banyak orang yang nanti ketika kesadarannya datang akan berandai-andai untuk meminta dikembalikan ke dunia agar dapat berbuat baik.

Angan-angan mereka yang telah mati ialah kembali ke dunia meski sejenak untuk menjadi orang baik. Mereka ingin taat kepada Allah, dan memperbaiki segala kerusakan yang dahulu mereka perbuat. Mereka ingin berdzikir kepada Allah, bertasbih, atau bertahlil walau sekali saja. Tentu saja hal itu tidak mungkin karena jatah napasnya ‘sudah habis’ dan ia sedang mempertanggungjawabkan dirinya beserta perbuatannya.

Dari napasnya inilah tindakannya bisa dilakukan. Kalau napasnya sudah tidak ada, maka hilanglah sudah tindakannya. Dzikirpun sudah tidak akan bisa lagi.

Maka, metode Napas Ritme ini berusaha memberikan pemahaman logis agar mau ‘merawat napas’ hingga pada tahap ‘memahami ada apa dibalik merawat napas’ itu.

Sampai ketemu pada “Program 21 Hari Meditasi Napas Ritme” yang akan dilaksanakan tanggal 16 Juni 2021 mendatang. Kita semua akan belajar memahami caranya ‘merawat napas’ dan apa-apa yang dihasilkan dari perubahan ritme napasnya itu.

Jagalah selalu kesehatan Anda dan orang-orang yang Anda sayangi.

Salam hangat,
MG

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →