Progres Peserta Zoom Setahun Terakhir

Barusan Zoom perkenalan dan perdana dengan salah satu keluarga dari purnawirawan TNI AL. Beberapa anggota keluarganya adalah dokter dan menanyakan banyak hal mengenai teori olah napas yang nanti akan diajarkan.

Alhamdulillah, teori Napas Ritme dapat diterima secara logis dan diminta diajarkan kepada seluruh anggota keluarganya yang tersebar di beberapa kota.

Diluar sesi teknis, ada satu pertanyaan dari mereka yakni mengenai pengalaman dalam membawakan sesi Zoom sudah berapa lama dan berapa banyak.

Saya jawab, sesi Zoom ini hanya dibuat selama pandemi saja. Sebelumnya tidak pernah dilakukan sesi online dan semua kelas pembelajaran menggunakan tatap muka bertempat di Villa atau meeting room hotel secara profesional. Atau jika peserta mengambil kelas Terapi maka dilakukan tatap muka pada tempat yang disepakati pasien (bisa kantor atau rumah).

Sudah dilaksanakan lebih dari 20 kota dengan belasan instansi (swasta maupun pemerintah) yang belajar.

Pada workshop tatap muka ini, setiap peserta akan mendapatkan diktat workshop, alat ukur, alat tulis, coffee break, lunch, penjelasan detail selama 8-9 jam (jika sehari, atau 16-18 jam jika dua hari), dan latihan full praktek berbasis alat ukur untuk dibuktikan ditempat perubahannya.

Tidak mengarang bebas dan sulit mengarang bebas karena setiap peserta mendapat alat ukur masing-masing. Jadi, kalau mengarang bebas tentu akan ketahuan pada alat ukurnya. Jika misalnya latihan ritme napasnya akan menghasilkan frekwensi 0.1 Hz maka peserta yang sudah memiliki alat ukur frekwensi akan membuktikan pada dirinya sendiri benar atau tidak frekwensinya yang terbentuk saat itu adalah 0.1 Hz. Dan seterusnya.

Seperti itulah dulu kelas olah napas ini saya bawakan.

Kemudian datanglah pandemi Covid-19. Pemerintah melarang berkumpulnya orang dalam jumlah banyak untuk menghindari resiko. Hotel-hotel mulai menghentikan sementara pertemuan. Jadwal yang sudah dibuat dibeberapa hotel, kemudian dibatalkan dengan alasan yang dapat diterima.

Pada era ini, kita saksikan bersama, banyak teman-teman, sanak saudara dan kerabat, tokoh masyarakat, pemuka agama, pejabat, dan banyak lagi yang meninggal. Ini era yang sungguh sangat menguras emosi. Hari ini kita masih bisa berbincang dengan seseorang, tidak berapa lama kita mendapat kabar orang itu sudah berpulang. Nyaris setiap hari kita dengar ucapan belasungkawa atas berpulangnya seseorang yang mungkin kita kenal atau bahkan dekat dengan kita.

Dengan melihat potensi Napas Ritme yang sedemikian luas maka saya menyusun protokol latihan olah napas untuk preventif, paliatif, rehabilitatif, dan kuratif Covid-19. Tentu saja dalam batas-batas rasional dan terukur. Perlahan, mulailah Napas Ritme bertemu dengan Covid-19. Berbagai kondisi pasien dengan rentang usia dan komorbid yang berbeda-beda menjadi ujian Napas Ritme ini. Dari yang dikenal dengan istilah OTG (orang tanpa gejala) hingga yang sudah menggunakan ventilator.

Bekerja senyap, ‘getok tular’ atau dari WA ke WA, akhirnya meluas sedemikian rupa. Dengan izin Allah, total per hari ini sudah lebih dari 380 orang yang terbantukan. Ini adalah jumlah yang cukup banyak untuk sebuah aplikasi olah napas untuk Covid-19. Bahkan salah satu rumah sakit besar di Palembang sudah menggunakan pendekatan Napas Ritme untuk membantu percepatan pemulihan pasien-pasiennya yang sakit berat. Referensi langsung dari Profesor yang sekaligus dokter disana.

Kalau untuk perkembangan di Angkatan Laut sendiri, dengan izin Allah, sudah di beberapa instansi diantaranya:

  1. Graha Jala Bhakti TNI AL Pondok Labu Jakarta Selatan, kelas khusus untuk purnawirawan PLUS ibu-ibu.
  2. Mabes TNI AL Cilangkap, kelas khusus Perwira Menengah dan Perwira Tinggi.
  3. Dislitbangal TNI AL Pondok Labu.
  4. RSAL Marinir Cilandak.
  5. RSAL Mintohardjo.
  6. Keluarga para purnawirawan.
  7. Legiun Veteran RI DKI Jakarta.

Era ini merupakan era dimana sesi tatap muka online menjadi booming. Berbagai perangkat lunak tatap muka online dipilih. Beberapa diantaranya Zoom, Webex, Microsoft Teams, Skype, hingga WhatsApp meeting. Dari yang hanya bisa beberapa orang saja hingga ribuan orang dalam satu saat. Keputusan saya kemudian menggunakan Zoom sebagai platform tatap muka online setelah dipertimbangkan beberapa hal.

Dari situlah kemudian kelas Zoom latihan olah napas ini pertama kali muncul.

Jika melihat detail report sudah berapa banyak sesi Zoom, jumlah peserta, dan total menit webinar selama setahun terakhir terlihat sebagai berikut:

1. Tahun 2020

  • Start: Mei 2020
  • Total Webinar: 214 kali
  • Total peserta: 4437 orang
  • Durasi total: 36338,557 menit (± 606 jam)

2. Tahun 2021

  • Bulan terhitung: Mei 2021
  • Total Webinar: 149 kali
  • Total peserta: 4475 orang
  • Durasi total: 24018,923 menit (± 400 jam)

Jika dihitung setahun total sejak Mei 2020 hingga Mei 2021 ini berarti telah terlaksana total:

  • 363 sesi Webinar
  • 8912 peserta
  • 60357,480 menit (± 1006 jam)

Alhamdulillah, dengan izin Allah, sudah terlaksana sebanyak itu baik pada sesi Zoom ataupun jumlah peserta.

Dokter tersebut langsung booking waktu untuk meminta saya melatih seluruh keluarga besarnya. Alhamdulillah.

Semoga tulisan ini sebagai penyemangat kita semua untuk senantiasa menjaga kesehatan (badan, pikiran, dan perasaan) dari masalah apapun yang mungkin timbul daripadanya. Sebab ada yang badannya dirasa sehat, tapi hatinya penuh iri dengki benci terhadap orang lain. Ini tidak sehat. Ada juga kebalikannya, pikiran dan hatinya sehat tapi badannya tidak. Ini juga mesti dilihat apakah benar pikiran dan perasaannya benar-benar sehat? Ataukah hanya sekedar berusaha menutupi dengan ‘terlihat baik-baik’ saja?

Mudah-mudahan menyemangati mereka yang sedang mersudi untuk kebaikan, menguatkan hati, mencerdaskan pikiran, meluaskan wawasan, dan menghasilkan kebijaksanaan. Insya Allah.

Yang mesti dipahami bahwa tidak semua yang terlihat ‘hebat’ seperti diatas itu demikianlah adanya. Barangkali saja Allah berkenan meluaskan itu semua dengan suatu maksud yang saya sendiri tidak tahu. Tidak juga lantas yang berkiprah ‘sedikit’ itu terkesan kalah atau ‘tidak keren’.

Anda yang mungkin hanya punya sedikit peserta bisa saja jauh lebih hebat dalam penilaian Allah SWT apabila ikhlasnya lebih besar dibanding yang ‘terlihat besar’ seperti diatas. Allah Maha Tahu dan kita tidak.

Tetaplah bersemangat bagi yang sedang mersudi. Bersyukurlah karena hati Anda sedang Allah gerakkan untuk mendapat kepantasan peningkatan pemahaman. Selalu bersemangatlah. Yakinlah, jika yang sedang mersudi ini merendahkan dirinya, bersujud memohon ampun, meminta dibukakan pintu-pintu ilmu yang terbaik menurutNya, melakukan apa-apa yang disukaiNya hingga pada suatu titik Allahnya ridho kepadanya maka orang-orang ini akan dipantaskan dan ditinggikan dengan sendirinya.

Maka, secara pribadi, saya selalu berusaha menjaga lisan dan perasaan ketika melihat teman-teman yang sedang mersudi apapun. Walaupun mersudinya terkesan ‘lucu’, ‘aneh’, ‘sederhana’, dan terlihat ‘seakan tidak berguna’ dan ‘seakan tidak dapat dimengerti’. Sebab bisa jadi suatu saat nanti kita akan butuh pengetahuannya karena belum datangnya takdir kita untuk mendapatkan pengetahuan sedangkan dia sudah diizinkanNya untuk dapat lebih dulu.

Hikmah itu berserakan, tugas kitalah mengumpulkannya. Resonansi frekwensi dari diri inilah yang akan mengarahkan kita ketemu dengan siapa dan berkumpul dengan siapa-siapa saja.

Bagi yang sakit, semoga disegerakan Allah untuk disembuhkanNya. Diberikan hati yang ‘bergerak’ untuk menuju kesembuhan. Dan bagi yang mengalami ‘second life’ atau ‘hidup kembali setelah nyaris mati’ maka banyak-banyak bersyukur bahwa takdirnya belum sampai dan ada maksud tersendiri masih diberikannya ‘second life’ seperti itu. Terakhir, bagi yang masih sehat selalu jagalah kesehatan Anda dan orang-orang yang Anda sayangi.

Kesehatan bukanlah segala-galanya namun tanpa kesehatan segalanya jadi tidak ada apa-apanya.

Salam hangat,
MG

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →