Program Transformasi 21 Hari

TRANSFORMASI 21 HARI

Oleh: Mas Gunggung

Jalaludin Rumi pernah berkata pada sebuah puisinya mengenai puasa sebagai berikut:


“Ada rahasia tersimpan dalam perut kosong.
Kita ini cuma alat musik petik,
tak lebih dan tak kurang.
Jika kotak suara penuh, musik pun hilang.

Bakarlah habis segala
yang mengisi kepala dan perut
dengan menahan lapar, maka
setiap saat irama baru akan muncul
dari api kelaparan yang nyala berkobar.

Ketika hijab-hijab habis terbakar,
keperkasaan baru akan membuatmu melejit
berlari mendaki setiap anak tangga
di depanmu yang digelar.

Jadilah kosong,
lalu merataplah
seperti indahnya ratapan bambu seruling
yang ditiup pembuatnya.

Lebih kosong,
jadilah bambu yang menjadi kalam,
tulislah banyak rahasia-Nya.

Ketika makan dan minum memenuhimu,
iblis duduk di singgasana
tempat jiwamu semestinya duduk:
sebuah berhala buruk dari logam
yang duduk di Ka’bah.

Ketika kau berpuasa menahan lapar,
sifat-sifat baik mengerumunimu
bagai para sahabat yang ingin membantu.

Puasa adalah cincin Sulaiman.
Jangan melepasnya demi segelintir kepalsuan,
hingga kau hilang kekuasaan.

Namun andai pun kau telah melakukannya,
hingga seluruh kemampuan dan kekuatan hilang darimu,
berpuasalah: mereka akan datang lagi padamu,
bagai pasukan yang muncul begitu saja dari tanah,
dengan bendera dan panji-panji yang berkibaran megah.

Sebuah meja akan diturunkan dari langit
ke dalam tenda puasamu,
meja makan Isa.

Berharaplah memperolehnya,
karena meja ini dipenuhi hidangan lain,
yang jauh, jauh lebih baik
dari sekedar sup kaldu sayuran.”


Bagi saya, syair Rumi ini luar biasa. Disitu dijelaskan banyak hakekat yang kalau dibedah dengan sungguh-sungguh akan membuka banyak sekali pengetahuan baru mengenai konsep puasa.

Jika diluaskan lagi, puasa dapat masuk pada berbagai dimensi karena hakekatnya adalah “menahan diri” dan “mengosongkan”.

Puasa pada hakikatnya adalah salah satu bentuk pengosongan diri. Insan, dalam berpuasa, sebenarnya sedang menafikan kehendak syahwat dan hawa nafsunya. Lapar dan haus diabaikan. Syahwat, tak dipedulikan. Ia singkirkan bangga diri, amarah, dan tidak melawan jika harga diri direndahkan.

Jika Anda direndahkan orang atau dicaci orang, ingat-ingat saja hadits riwayat Bukhari, “jika kau dicaci, katakan bahwa engkau sedang berpuasa”. Dan terus saja melakukan kebaikan. Mudah-mudahan Allah ridho dan berkenan membuka sedikit saja pengetahuanNya kepada Anda.

Terdapat hukum alam tertentu di dunia ini. Misalnya, hukum alam keberpasangan. Gelap berpasangan dengan terang. Siang dan malam akan saling mengisi. Dingin akan menarik panas, dan sebaliknya. Pria berjodoh dengan wanita. Positif dan negatif akan saling mengunci. Semua berpasangan.

Hidup dan mati, lapang dan sempit. Ada dan tiada. Sama.

Allah itu Maha Wujud. Maha Ada. Sesuai hukum alam keberpasangan tadi, pasangan sifat Wujud justru adalah ‘ketiadaan’. Fana.
Itulah sebabnya, hamba-hamba yang ‘kosong’ dan telah ‘tiada’ tadi, yang telah lenyap dari dirinya sendiri dan hawa nafsunya, jadi sangat berharga di mataNya.

Maka, jangan pernah merendahkan orang atas dasar apapun. Sebab bisa jadi, ketika yang Anda rendahkan kemudian bersujud dihadapan Tuhannya dengan mengosongkan diri, lalu Tuhannya ridho, maka Dia ‘diisi’ oleh Yang Maha Wujud sebab sebagaimana hukum berpasangan, Wujud akan ketemu dengan Fana. Apapun ‘isi’ yang berkenan diberikanNya. Bisa saja ilmu, bisa saja harta, dan sebagainya.

Puasa, adalah sebentuk upaya mengosongkan diri, meniadakan diri. Itulah sebabnya Dia akan memperlakukan upaya-upaya pengosongan diri dan peniadaan diri si hamba tersebut jadi hal yang personal bagi-Nya. Yang Maha Wujud tentu akan mencari kekosongan.

Karena “kosong”, maka puasa adalah ibadah yang tidak ada wujudnya, tidak ada bentuknya. Ia tidak kelihatan dari luar. Puasa, atau shaum/shiyam (dari kata shama yang berarti menahan atau berpantang) bentuknya lebih kepada sebuah sikap batin. Istilah ‘laku’ dalam bahasa Jawa mungkin cukup pas. Dalam bahasa Sanskrit, laku ini disebut ‘upvasa’, yang berarti menarik indra-indranya dari keduniawian, untuk diam dan mendekat kepada Tuhan. Kata ‘upvasa’ ini yang kemudian diadopsi di Indonesia menjadi ‘puasa’.

Misalnya, ketika puasa dari sisi makanan (diistilahkan dengan ‘Intermittent Fasting’ atau IF) dibedah secara metabolisme dapat Anda lihat banyak sekali manfaat puasa yang sudah pernah diteliti oleh sains dan medis.

Ketika jenis puasa lain misalnya puasa oksigen (diistilahkan dengan ‘Intermittent Hypoxia’ atau IH) dibedah dari metabolisme maka dapat juga dilihat banyak sekali manfaat puasa jenis ini yang sudah diteliti oleh sains dan medis.

Saya membuat tabel kecil perbandingan manfaat antara Intermittent Fasting (IF) dan Intermittent Hypoxia (IH) pada gambar yang saya sertakan dibawah. Terdapat lebih dari 50 macam kesamaan manfaat antara IF dan IH. Saya sertakan beberapa pada tabel. Itu semua ada rujukan jurnalnya yang saya kumpulkan dan baca satu persatu.

Terlihat bahwa keduanya nyaris memiliki manfaat yang sama atau mendekati. Berbeda dari sisi durasi waktu saja.

IF dilakukan dalam hitungan belasan jam atau hari, baru kemudian Anda mendapatkan manfaat. Sedangkan IH dilakukan dalam hitungan detik atau menit dan Anda nyaris mendapatkan manfaat yang sama.

Maka ketika keduanya digabungkan, IF + IH, akan menghasilkan manfaat yang dua kali lipat atau berkali-kali lipat. Belum lagi kalau Allah SWT ridho dengan ‘pengosongan diri’ Anda, maka limpahan rahmat dan manfaat akan menjadi ratusan kali lipat. Wallahualam.

Itulah yang kemudian menjadi dasar saya membuat Program 21 Hari Latihan Olah Napas bulan Ramadhan ini.

Program yang sudah dilakukan sejak 4 (empat) tahun lalu.

Dibandingkan bulan-bulan non Ramadhan, latihan olah napas yang dilakukan pada bulan Ramadhan memiliki dampak paling besar. Barangkali selain dari berkah Ramadhan juga terkait dengan penyikapan hati saat puasa di bulan Ramadhan ini berbeda dengan jika Anda berpuasa diluar Ramadhan.

Namun sekali lagi, ini adalah analisa dan pengukuran subyektif saya dan kelompok kecil yang saya bimbing. Bisa saja berbeda pada Anda.

Salah satu yang juga tidak kalah istimewa dari program 21 hari ini adalah mengenai konsep Neuroplasticity atau kemampuan syaraf untuk membentuk jaringan syaraf yang baru. Jika terjadi di otak disebut dengan Brainplasticity. Ini adalah konsep luar biasa yang terjadi saat seseorang berpuasa (meski tidak mesti dilakukan 21 hari).

Konsep Neuroplasticity ini memungkinkan terbentuknya jaringan syaraf yang baru dan saling terhubung satu sama lain (sinaptogenesis) atau “neuronal cell adhesion molecule’ (NCAM).

Manusia biar bisa mikir dan bereaksi dengan tepat dengan lingkungan sekitar itu sel-sel otaknya harus nyambung dulu. Sinaptogenesis mesti terjadi dulu. Nah, kalau udah nyambung maka kecepatan informasi yang diproses ya harus cepat. Supaya cepat, maka ujung-ujung syaraf dan lapisan syarafnya mesti dilapisi oleh lemak agar transmisi impuls antar sambungan berjalan sangat cepat. Ketika sudah cepat, maka otak akan siap melakukan fungsinya secara lebih lanjut. Proses pelapisan syaraf oleh lemak ini disebut dengan Myelinisasi.

Ketika sinaptogenesis terjadi dengan baik dan meluas maka otak akan melakukan proses yang disebut dengan Synaptic Pruning. Ini adalah proses ketika sambungan-sambungan antar sel yang tidak perlu akan ‘dibabat’ dan ‘dihabisi’ oleh otak. Lha kok yang sudah nyambung malah ‘dibabat’? Ya karena ngga perlu. Sudah akan diganti dengan jaringan yang baru. Maka jaringan lama yang ‘lemot’ ini akan dibuang. Biar otak bisa makin efisien untuk belajar, berpikir, dan beraksi.

Saat Anda sakit, apalagi menahun, maka Neuroplasticity ini juga terbentuk loh. Termasuk saat Anda nyinyir dan rajin merendahkan orang lain. Juga saat Anda bersemangat untuk menjemput sehat atau bersemangat untuk menjemput rezeki halal.

Anda membangun jaringan otak yang bagaimana ditentukan oleh apa yang Anda kerjakan pada semua aspek kehidupan (sadar maupun tidak sadar), ‘baik’ ataupun ‘buruk’, selama masa periode waktu tertentu.

Jadi, kalau Anda merasa menjadi semakin lemah itu Neuroplasticity yang ingin dibangunnya ya begitu. Sebab jaringan syaraf lama yang kuat kemudian ‘dibabat’ oleh otak digantikan dengan jaringan syaraf yang berisi penuh ketakutan, kekhawatiran, kebencian, dan sebagainya. Kalau bisa diganti, maka tentu Anda akan mendapatkan bonus jaringan syaraf yang baru yang berisi semua ‘kebaikan’ yang sedang Anda bangun.

Program 21 Hari Ramadhan ini akan berusaha untuk melakukan proses Neuroplasticity (otomatis via IF, dan manual via IH), mengisinya dengan hal-hal positif, ‘membabat’ jaringan syaraf lama yang berisi kebiasaan lama (synaptic pruning), meningkatkan proses Myelinisasi (berdasarkan data rujukan jurnal yang sudah terbukti), dan melakukan percepatan perbaikan via olah napas (IH).

Ini hanya jenis ikhtiar untuk “mengosongkan diri”. Agar yang Maha Wujud berkenan ‘mengisi’ yang terbaik menurutNya. Insya Allah akan terjadi perbaikan seiring proses dan seiring meningkatnya kemampuan “mengosongkan diri” dan mendapatkan ‘isi’ yang terbaik menurutNya.

Selamat menyambut bulan suci Ramadhan.

Semoga Allah SWT menerima amal baik kita semua, baik yang terlihat maupun tidak terlihat, yang terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Insya Allah.

Dan sampai jumpa teman-teman di Program 21 Hari Olah Napas selama Ramadhan yang akan dilaksanakan tanggal 16 April 2021 hingga 06 Mei 2021 setiap jam 20:45 WIB malam hari selepas Tarawih. Semoga program ini membawa manfaat nyata bagi diri dan melakukan perbaikan diri bagi yang melakukannya. Insya Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q. S. Al-Baqarah [2] : 183)

“Seluruh amal adalah kaffaroh (pengganti/penutup baginya) kecuali puasa. Puasa adalah untuk Aku, dan Aku yang akan membalasnya.” (H.R. Ahmad)

“Dari Abu Umamah beliau berkata: Aku berkata: “Ya Rasulullah, perintahkan kepadaku suatu amalan.” Rasul bersabda: “Untukmu, puasa. Karena sesungguhnya dia tidak ada bandingannya.” Aku berkata (lagi): “Ya Rasulullah, perintahkan kepadaku suatu amalan.” Rasul bersabda: “Untukmu, puasa. Karena sesungguhnya dia tidak ada bandingannya.” (H.R. an-Nasa’i).

“Semua amal anak Adam dilipatgandakan kebaikannya sepuluh kali hingga tujuh ratus kali. Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa. Karena sesungguhnya puasa adalah untuk Aku, dan Aku pula yang akan membalasnya (sekehendak-Ku). Ia meninggalkan syahwat dan makan karena Aku.” (H.R Muslim)

Salam hangat,
MG


Kontak mba Intan (WA 0896.5173.4140) untuk gabung dengan program ini.

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →