Jagad Alit dan Jagad Gede

JAGAD ALIT DAN JAGAD GEDE
(Bagian ke-1)

Oleh: Mas Gunggung
(Instruktur Olah Napas Kebugaran Purnawirawan TNI AL)


Dunia ini dapat dilihat dalam banyak sekali sudut pandang. Dari mulai sudut pandang fisik hingga non fisik. Kita juga dapat memandang dunia sebagai sudut pandang frekwensi. Bahwa dunia ini sesungguhnya berinteraksi menggunakan kaidah frekwensi secara fungsional dan definisi.

Khasanah Jawa mengenal istilah “Jagad Alit” dan “Jagad Gede” atau yang sering diistilahkan dengan “Mikrokosmos” dan “Makrokosmos”. Definisi ini tentu punya maksud. Kita juga dapat melihat definisi tersebut dari sudut pandang frekwensi.

Di Bumi, terdapat banyak sekali frekwensi. Salah satu frekwensi Bumi itu diantaranya adalah frekwensi yang disebut dengan “Schumann Resonance”.

Pada tahun 1952, fisikawan Winfried Otto Schumann mengamati fenomena resonansi elektromagnetik alam. Kemudian ia melakukan perhitungan kalkulasi matematik hingga lahirlah prediksi matematik pada ruang antara permukaan bumi dan lapisan Ionosphere. Tahun 1954, bersama dengan fisikawan Koenig dirumuskan besaran angka frekwensi resonansi ini. Hal ini kemudian dikenal dengan istilah “Schumann Resonance”.[1,2]

Pada tahun 1954 dan 1960 Koenig dan rekan-rekannya menggambarkan kemiripan yang luar biasa dari profil dan pola kepadatan daya spektral antara resonansi ionosfer bumi dan aktivitas otak manusia yang juga memiliki besaran yang sama untuk komponen medan listrik (mV/m) dan medan magnet (pT). Pada tahun 2006 Pobachenko dan rekan-rekannya melakukan penelitian pada subyek kecil dan melaporkan koherensi yang nyata antara frekwensi Schumann dan aktivitas otak manusia pada penelitian kecil. Koherensi ini berada pada frekwensi antara 6-16 Hertz.[3]

Berturut-turut penelitian mengenai ini semakin banyak dilakukan oleh para ahli baik dalam bentuk pemodelan matematika hingga yang menggunakan alat ukur frekwensi. Misalnya, pemodelan yang dilakukan oleh Nunez yang memperkirakan resonansi antara otak dan bumi berada pada 10 Hertz dan bergantung pada ukuran tengkorak kepala.[4,5]

Ilmuwan lain seperti misalnya Babyayev and Allahverdiyeva[6], Mulligan dan rekan [7] menggambarkan bahwa aktivitas otak pada gelombang Theta (4-7 Hz) memiliki korelasi dengan atmosfir Bumi. Ilmuwan lain, Saroka dan rekan[8] melaporkan koherensi terkuat antara otak dan Bumi terjadi pada frekwensi 7.81 Hz hingga 20 Hz.

Saroka dan Persinger kemudian melakukan pengujian lebih lanjut untuk melihat korelasi aktivitas koherensi frekwensi otak manusia dan frekwensi Bumi yang terjadi secara simultan berada pada 7-8 Hz, 13-14 Hz, dan 19-20 Hz.[9]

Frekwensi inilah yang kemudian disepakati sebagai diagram Schumann Resonance hingga saat ini. [1]

Anda juga dapat melihat bagaimana frekwensi Bumi saat ini setiap harinya menggunakan data dari GCMS Magnetometer Schumann Resonance Power. Data grafis ini merangkum informasi frekwensi Bumi dari 0.32 hingga 39 Hertz yang dihitung tiap jamnya. Schumann Resonance dilihat dengan karakteristik frekwensi yang berada pada 7.8 Hz, 14 Hz, 20 Hz, 26 Hz, 33 Hz dan 39 Hz. [10]

Bagaimanakah pengaruh ini terhadap tubuh manusia dan bisakah manusia bersinergi dengan frekwensi alam ini secara logis? Bisakah manusia hanya dengan menggunakan napasnya memasuki frekwensi-frekwensi tersebut?

Bagaimana juga potensi Napas Ritme sebagai pendekatan yang paling logis dan terukur untuk secara mudah masuk pada frekwensi yang diinginkan secara logis dan melakukan resonansi?

Nantikan pada tulisan berikutnya.

(bersambung)


Part 2: https://www.wisatabugarofficial.com/2020/11/jagad-alit-dan-jagad-gede-2/


Referensi:
[1]. Schumann Resonance. Wikipedia. (https://en.wikipedia.org/wiki/Schumann_resonances)

[2]. Über die Beobachtung von “atmospherics” bei geringsten Frequenzen
W. O. Schumann & H. König. (https://link.springer.com/article/10.1007/BF00638174)

[3]. Similar Spectral Power Densities Within the Schumann Resonance and a Large Population of Quantitative Electroencephalographic Profiles: Supportive Evidence for Koenig and Pobachenko. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4718669/)

[4]. The relationship of head size to alpha frequency with implications to a brain wave model. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/76540/)

[5]. Nunez PL (1995). Towards a physics of neocortex In: Nunez PL (ed) Neocortical dynamics and human EEG rhythms. Oxford University: N.Y; 1995, pp 68–130.

[6]. Babayev ES, Allahverdiyeva AA. Effects of geomagnetic activity variations on the physiological and psychological state of functionally healthy humans: some results of Azerbaijani studies. Adv. Space. Res 2007, 40; 1941–1951.

[7]. Mulligan BP, Hunter MD, Persinger MA. Effects of geomagnetic activity and atmospheric power variations on quantitative measures of brain activity: replication of the Azerbaijani studies. Adv Space Res 2010; 45:940–948.

[8]. Greater electroencephalographic coherence between left and right temporal lobe structures during increased geomagnetic activity. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24287380/)

[9]. Quantitative Evidence for Direct Effects Between Earth-Ionosphere Schumann Resonances and Human Cerebral Cortical Activity. (http://yadda.icm.edu.pl/yadda/element/bwmeta1.element.baztech-5c33c1e5-853d-421c-b368-28f8b076240b)

[10]. Global Coherence Initiative. HeartMath. (https://www.heartmath.org/gci/gcms/live-data/gcms-magnetometer)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →