Jagad Alit dan Jagad Gede (2)

JAGAD ALIT DAN JAGAD GEDE
(Bagian ke-2)

Oleh: Mas Gunggung
(Instruktur Olah Napas Kebugaran Purnawirawan TNI AL)


Part 1: https://www.wisatabugarofficial.com/2020/11/jagad-alit-dan-jagad-gede/

Pada bagian ke-1 diatas para ilmuwan kemudian bersepakat pada angka-angka frekwensi ionosphere bumi yang berada pada antara 3-60 Hz[1] dan dibagi menjadi 3 (tiga) kategori berdasarkan puncak frekwensi yang terlihat paling jelas antara[2]:

  1. 7-8 Hz
  2. 13-14 Hz
  3. 19-20 Hz

Puncak-puncak frekwensi tersebut kemudian mengerucut lagi menjadi 7.83 Hz (dikenal dengan frekwensi fundamental Schumann Resonance[3]), 14.3 Hz, 20.8 Hz, 27.3 Hz, dan 33.8 Hz.[4]

Nilai 7-8 Hz inilah kemudian dijadikan patokan fundamental Schumann Resonance[2]. Beberapa referensi menyebutkan antara 6-8 Hz[2]. Pada frekwensi tersebut, terjadi rambatan elektromagnetik pada struktur otak yang sama dengan rambatan kilatan cahaya di bumi.[5]

Terdapat keterhubungan antara aktivitas otak manusia dan Schumann Resonance. Ketika berbicara mengenai kata “otak” maka terdapat 3 (tiga) jenis otak pada manusia yakni Otak Kepala (head brain), Otak Jantung (heart brain), dan Otak Perut (gut brain). Otak Kepala disebut dengan Sistem Syaraf Otonom, Otak Jantung disebut dengan Sistem Syaraf Intrinsik, dan Otak Perut disebut dengan Sistem Syaraf Enterik.[6]

Jika dilihat berdasarkan frekwensi, maka ketiga otak tersebut diatas berada pada rentang 8 (delapan) jenis frekwensi saja. Saya istilahkan dengan ‘gerbang frekwensi manusia’. Kedelapan gerbang frekwensi terdiri dari (berturut-turut dari rendah ke tinggi):

  1. Very Low Frequency (VLF)
  2. Low Frequency (LF)
  3. High Frequency (HF)
  4. Delta
  5. Theta
  6. Alpha
  7. Beta
  8. Gamma

Pada setiap gerbang tersebut terdapat selalu 3 (tiga) jenis rentang frekwensi yakni Batas Bawah, Frekwensi Utama, dan Batas Atas. Kecuali pada yang paling rendah dan yang paling tinggi yakni Very Low Frequency dan Gamma. Inipun jika kemudian hari ditemukan temuan frekwensi baru maka gerbang tersebut bisa saja bergeser. Misalnya Very Low Frequency yang dibagi lagi menjadi Ultra Low Frequency pada frekwensi yang lebih rendah lagi.

Batas Bawah dan Batas Atas ini memungkinkan terjadinya resonansi yang berkesinambungan antara setiap gerbangnya. Misalnya, batas atas High Frequency merupakan batas bawah Delta. Batas atas Delta menjadi batas bawah Theta. Dan seterusnya.

Very Low Frequency (VLF), Low Frequency (LF), dan High Frequency (HF) dinisbatkan kepada Jantung melalui teori Heart Rate Variability dengan rentang VLF (<0.04 Hz), LF (0.04 Hz – 0.15 Hz) dan HF (0.15 Hz – 0.4 Hz).[7]

Sedangkan Delta (0-4 Hz), Theta (4-6 Hz), Alpha (6-13 Hz), Beta (14-30 Hz), dan Gamma (>30 Hz) dinisbatkan pada Otak Kepala.

Berdasarkan angka-angka frekwensi diatas dapat dilihat adanya keterhubungan antara Schumann Resonance dengan tubuh.

  • Apabila Schumann Resonance diambil pada frekwensi 6-8 Hz maka akan bersinggungan dengan Theta (4-6 Hz) hingga Alpha (6-13 Hz) pada Otak.
  • Apabila Schumann Resonance diambil pada frekwensi 7-8 Hz maka akan bersinggunggan dengan Alpha (6-13 Hz) pada Otak.

Terlihat resonansinya terjadi pada gelombang Theta dan/atau Alpha pada Otak.

Artinya, apabila dapat dikondisikan suatu metode atau teknik olah napas atau apapun yang mampu melahirkan frekwensi pada rentang 6-8 Hz pada tubuh maka intervensi tersebut akan dapat beresonansi dengan Schumann Resonance.

Oleh karena rentang frekwensi sudah diketahui maka dapat dengan ‘mudah’ kita dapat menuju kesana menggunakan pendekatan-pendekatan logis berbasis frekwensi.

Mudahkah?

Bisa ya, bisa tidak.

Saya pernah menulis mengenai “Resonansi HF-Delta” yakni bagaimana dengan menggunakan metode Napas Ritme kita dapat me-resonansi-kan antara Jantung dan Otak dengan cara yang ‘mudah’. Pengkondisian ini membuat tubuh dapat secara manual masuk pada frekwensi Parasimpatik (HF) dan Delta. Dapat diukur, memiliki landasan teori yang solid, dan menggunakan alat ukur sains atau medis.

Tentunya, melakukan resonansi pada Schumann Resonance dapat juga dilakukan menggunakan metode Napas Ritme. Namun kita perlu tahu bagaimana teorinya dan caranya. Insya Allah akan dibahas detail nanti di Workshop Chakra 2021 mendatang dengan pembukanya di kota Jogja awal Desember mendatang.

(bersambung)


Referensi:
[1]. Volland, Hans (1995). Handbook of atmospheric electrodynamics. 1. Boca Raton: CRC Press. p. 277. (https://www.worldcat.org/title/handbook-of-atmospheric-electrodynamics/oclc/31408654)

[2]. Quantitative Evidence for Direct Effects Between Earth-Ionosphere Schumann Resonances and Human Cerebral Cortical Activity. (http://yadda.icm.edu.pl/yadda/element/bwmeta1.element.baztech-5c33c1e5-853d-421c-b368-28f8b076240b)

[3]. Can Resonant Oscillations of the Earth Ionosphere Influence the Human Brain Biorhythm? (https://arxiv.org/abs/1208.4970)

[4]. Biophysical Device For The Treatment Of Neurodegenerative Diseases. (https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9780080446486500112)

[5]. Schumann Resonance, Psychophysical Regulation & Psi (Part I). (https://jcer.com/index.php/jcj/article/view/316/341)

[6]. Head, Heart, and Gut in Decision Making: Development of a Multiple Brain Preference Questionnaire. (https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/2158244019837439)

[7]. An Overview of Heart Rate Variability Metrics and Norms. Fred Shaffer, and J. P. Ginsberg. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5624990/)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →