COVID-19 SURVIVOR (12)

COVID-19 SURVIVOR (12)

Pasien suami istri, keduanya positif Covid-19, namun istrinya sudah lebih dulu dirawat di RS karena gejala memburuk dan masuk ICU. Suaminya juga diagnosa positif Covid-19 baik dari gejala maupun uji RT-PCR.

Tanggal 19 Agustus 2020 istrinya masuk ICU di salah satu RS. Sudah dipasangi infus dan pakai tabung oksigen karena napas sangat sesak dan saturasi SpO2 rendah. Paru-paru juga pneumonia dan berkabut.

Suaminya kebetulan kenal dan pernah ikut workshop Wisata Bugar. Langsung kontak dan meminta saran untuk pemulihan.

Saya berikan protokol olah napas metode MG untuk COVID-19 yang harus dilatih rutin keduanya. Khusus untuk istrinya, harus dilatih sehari 3x dengan pedoman nilai tertentu. Pasien paralel antara penanganan medis dengan intervensi olah napas.
Alhamdulillah, latihan sehari kemudian tabung oksigen bisa dilepas. Nilai SpO2 semakin membaik dan tinggi. Laporan berbasis Oxymeter terus diberikan untuk melihat perubahan nilai pada Oximetri.

Semangat makin bertambah.

Penambahan semangat ini menguatkan mental dan menambahkan keyakinan untuk sembuh.
Berturut-turut kemudian dari mulai ruang ICU, kemudian kamar biasa, dan dibolehkan pulang karena dinyatakan sembuh.

Swab ke-1
Ada intervensi olah napas: Tidak
19 Agustus 2020: Positif COVID-19
Gejala: berat

Swab ke-2
Ada intervensi olah napas: Ya
22 Agustus 2020: Positif COVID-19
Gejala: ringan

Swab ke-3
Ada intervensi olah napas: Ya
27 Agustus 2020: NEGATIF COVID-19
Gejala: tidak ada

Swab ke-4
Ada intervensi olah napas: Ya
30 Agustus 2020: NEGATIF COVID-19
Gejala: tidak ada

Lama waktu intervensi olah napas dari Positif hingga Negatif: 8 hari.

Setelah dinyatakan 2x swab PCR dengan hasil negatif maka pasien diperbolehkan pulang. Alhamdulillah.

Saya tahu, kebanyakan dari kita mungkin sudah jenuh dan ‘masa bodo’ dengan COVID-19 ini. Namun percayalah, ancaman itu masih nyata ada diluar sana.

Bagi Anda yang memiliki komorbid dan ‘masa bodo’ itu setiap kali keluar rumah ibarat ingin perang tanpa senjata dan pertahanan. Apalagi kesadaran rendah. Jika viral load semakin tinggi pada tubuh dibandingkan titer antibodinya, maka hanya tinggal menunggu waktu saja akan tumbang.

Jika mereka yang memiliki resiko komorbid kemudian semakin masa bodo dan merasa ‘baik-baik saja’ maka potensinya menjadi berlipat ganda yakni diri Anda sendiri dan keluarga yang Anda temui. Semakin abai dengan protokol kesehatan (Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan), semakin nekat, semakin abai, maka semakin menumpuk resikonya.

Semakin tidak tahu tindakan pencegahan dan ‘pembersihan’ harian pada metabolisme, maka semakin berpotensi terpapar dan memburuk. Semakin tidak memiliki penilaian kesehatan diri yang terukur maka semakin berbahaya. Contohnya adalah ‘happy hypoxia’. Kondisi yang hanya bisa dilihat menggunakan Oxymeter. Jika tidak punya, maka tidak akan tahu tubuh mengalami happy hypoxia atau tidak.

Jagalah kesehatan Anda dan orang-orang yang Anda sayangi.

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →