Intervensi Detak Jantung via Olah Napas

HEART RATE INTERVENTION
Intermittent Extreme Bradycardia

Oleh: Mas Gunggung

Pada Oxymeter, selain SpO2 (Oksigen dalam darah) juga ada PR (Pulse rate/heart rate/detak jantung).

Beberapa tahun lalu, saya mendemonstrasikan bagaimana olah napas mampu menurunkan SpO2 hingga dibawah 50%. Artinya, tubuh masuk pada kondisi Intermittent Hypoxia. Pendekatan ini memungkinkan untuk melakukan strategi bongkar muat Oksigen-Karbondioksida dari darah ke jaringan dan kebalikannya. Banyak masalah kesehatan yang terbantukan dengan ini. Bagaimana pH berubah, dan sebagainya. Pada era inilah pH dan kertas Lakmus mulai ramai digunakan. πŸ™‚

Metode ini saya buatkan workshop di lebih dari 20 kota besar. Diseminarkan dihadapan profesor, doktor, dan puluhan dokter. Diuji di klinik. Diajarkan ke masyarakat dengan hasil yang sangat baik. Metode yang kemudian diadopsi oleh banyak pihak selama kurang lebih lima tahunan terakhir. Baik terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Alhamdulillah.

Metode yang mampu melakukan intervensi terhadap SpO2 ini rupanya tidak mampu melakukan intervensi detak jantung secara ekstrim. Ia hanya mampu menaikkan atau menurunkan SpO2 secara ekstrim namun bukan detak jantungnya. Ada kelebihan dan kekurangan pada masing-masing metodenya.

Dari analisa terhadap cara kerja jantung, pembuluh darah, otot, dan kimiawi darah lainnya, rupanya bisa dilakukan teknik intervensi detak jantung untuk membuat jadi lebih cepat atau lebih lambat.

Apa dampaknya?

Jika jantung mampu dibuat bekerja lebih cepat maka kita masuk pada kondisi Aerobik. Tinggal disesuaikan saja ingin ambil ambang batas berapa persen? Karena ada rumusnya yakni 220-usia dikalikan ambang batasnya. Misal ambang batas 40-60%, atau 60-80%, atau 80-90%, atau 90-100%. Pada kondisi ini jantung dipacu pada kondisi Aerobik dengan relatif mudah hanya sambil duduk saja. Perubahan metabolismenya akan sama dengan saat Anda berlari atau bersepeda. Istilahnya “Intermittent Tachycardia”.

Kemudian, jika jantung mampu dibuat bekerja lebih lambat maka kita masuk pada kondisi relaksasi. Pada kondisi ini syaraf parasimpatik akan naik. Tubuh masuk pada fase recovery dan regenerasi. Umumnya antara 50-70 BPM. Istilahnya “Intermittent Bradycardia”.

Jika jantung mampu dibuat bekerja lebih rileks lagi hingga mampu mencapai nilai 10-40 BPM maka kita sedang masuk pada kondisi jantung yang efisien atau sebut saja “hibernasi”. Metabolisme melambat. Makin irit dan efisien. Sebut saja dengan istilah “Intermittent Extreme Bradycardia”.

Itu sekilas dampaknya. Tentu saja ada dampak lain yang lebih banyak lagi seperti misalnya melalukan perubahan metabolisme secara spesifik. Kapan waktu nanti saya share mengenai ini.

Metode ini belum rilis publik. Insya Allah 2020 akhir atau 2021 baru rilis publik mengingat semua dampaknya perlu diperhatikan dan tekniknya harus bisa diuji dengan hasil yang sama.

Pada salah satu sesi Zoom yang saya adakan tanggal 08 bulan 08 jam 08 malam (percayalah ini bukan disengaja, benar-benar angka yang kebetulan) saya mendemonstrasikan untuk yang pertama kali kepada peserta kelas meditasi yang juga dihadiri oleh perwakilan reseller resmi Muse 2 EEG mengenai kemampuan ini.

Silahkan menikmati sedikit potongan video Zoom saya.

– Percepatan detak jantung, menit ke 00:00 s/d 01:20

– Perlambatan detak jantung, menit ke 05:15 s/d 07:07

Semoga menyemangati.

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →