[IN MEMORY] Pemikir Visioner. Teman, Sahabat, dan Guru dalam Pena

PEMIKIR VISIONER
TEMAN, SAHABAT, DAN GURU DALAM PENA

Oleh: Mas Gunggung

Pertama kali saya mengenal sosok senior ini adalah melalui diskusi online di website SahabatSilat.com. Ini terjadi kurang lebih sekitar tahun 2009 yang lalu sebelum booming era social media seperti Facebook. Kurang lebih 11 tahun yang lalu.

Tidak banyak senior yang bisa menerima anak muda dari ‘dunia lain’ dengan karakteristik dinamis, ‘ndregil’ (istilah beliau kepada saya), dan apa adanya. Bahasa tulisan itu lebih mudah untuk salah tafsir dibanding bahasa lisan. Beda maksud sedikit saja akan lebih mudah jatuh vonis dibandingkan kata-kata. Dan beliau mampu menjembatani semua rasa kalimat saya yang terkadang berputar, ‘menari’, keras, lugas, ‘sok tahu’, ‘nakal’, dan mungkin ‘menyebalkan’.

Meskipun terkadang tulisan saya terkesan ‘nyeleneh’, ‘tengil’, namun tetap beliau arahkan dan fasilitasi untuk membuka sekat-sekat pengetahuan baru yang selama ini nyaris tidak pernah saya dapatkan. Luasnya pengetahuan dan pengaturan alur logika dalam menata solusi sangat menginspirasi saya. Beliau selalu menjawab semua pertanyaan dan pandangan saya dengan lugas, runut, dan logis.

Thread khusus mengenai Merpati Putih pada website SahabatSilat.com merupakan satu-satunya thread yang paling banyak dilihat oleh pembaca dengan diskusi mengenai Merpati Putih yang cakupannya luas. Banyak informasi yang diberikan oleh beliau disana yang mungkin tidak diketahui oleh kebanyakan dari anggota MP.

Duet antara beliau dan saya pada thread Merpati Putih terbukti mampu menarik banyak pembaca dan diskusi yang lebih jauh. Pun menambah minat mereka yang ingin ikut MP pada akhirnya. Beliau menyumbang 418 tulisan dengan 137 penilaian ‘reputasi’ pada thread tersebut sedangkan saya menyumbang 759 tulisan dengan 266 penilaian ‘reputasi’. Istilah ‘reputasi’ merupakan penghargaan dari pembaca lainnya dalam bentuk klik ‘Beri Reputasi pada tulisan ini’. Tentu saja kualitas reputasi beliau jauh diatas saya meskipun jumlah reputasi lebih banyak saya. Hal ini karena memang wilayah kualitas tulisan pada saat itu berbeda jauh.

Saya belajar banyak dari cara beliau menjawab, menulis kerangka logika, merunutkan sebuah permasalahan dan mengurainya, serta berargumen yang logis. Masih tertanam kuat jawaban-jawaban beliau disana.

Pertama kali juga novel saya “Tembang Tanpa Syair” dipublikasikan disana dan menjadi nomor 2 favorit dibaca oleh pembaca meskipun usia kemunculannya baru ‘seumur jagung’.

Diskusi yang bisa hangat dan sesekali ‘panas’ tetap disikapi bijaksana. Solusi demi solusi dari pembahasan diskusi yang beragam dan mengalir apa adanya dituliskan dengan tutur kata yang rapi, runut, terstruktur, sesuai dengan apa yang dialami, dilihat, dan dianalisa oleh beliau dalam perjalanan panjang hidupnya di Merpati Putih.

Tulisannya yang matang, jelas, mudah dipahami, menjadi favorit tidak hanya bagi diri saya pribadi melainkan juga pembaca lainnya. Rasa tulisan yang hangat, penuh keakraban, rendah hati, juga terbaca dan teraba dengan jelas. Anda dijamin tidak akan bosan membaca tulisan beliau.

Itulah kesan pertama yang saya dapatkan dari senior tersebut. Yakni hanya dari takdir tulisan dan nalar.

Beliau adalah mas Suprapto Purwijayanto, biasa saya panggil ‘Mas Tok’.

Nickname beliau pada SahabatSilat.com adalah “Suprapto” sedangkan Nickname saya adalah “mpcrb”. Dua nickname ini merupakan ‘duet legendaris’ pada website SahabatSilat.com thread “PPS BETAKO MERPATI PUTIH”.

Setelah sering bertukar pikiran lewat tulisan, perlahan kami sering mulai saling ‘japri’. Kemudian, takdir mempertemukan pertama kali saat event Pencak Malioboro Festival ke-1 di Yogyakarta. Kesan saya, apa yang ditulis tidak berbeda dengan apa yang diucapkan. Dari pertemuan pertama ini kemudian berlanjut ke pertemuan berikutnya setiap kali saya ada kesempatan ke Yogyakarta atau ketika beliau ke Jakarta.

Dalam satu kesempatan, beliau meminta saya menemui mas Warih Prabowo (saat ini beliau sudah almarhum, semoga Allah melapangkan kuburnya dan menerima amal ibadahnya serta ilmu yang bermanfaat semoga menjadi pemberat pahala). Saya bertemu dengan alm mas Warih Prabowo di hotel Kartika Chandra Jakarta Selatan. Beliau saat itu menjadi perwakilan resmi dari Jawa Timur untuk menangani atlet yang cedera. Saya disana selama 3 hari melihat bagaimana beliau melakukan terapi atlet-atlet yang cedera. Disanalah pertama kali saya belajar metode pijat naluri, teknik menemukan titik-titik yang bermasalah, dan banyak lagi. Konsep seperti ‘pemampatan energi’ yang kemudian disalurkan ke area yang bermasalah lalu ‘dibuka’ disana dapat dilihat secara langsung pada respon pasien beliau. Semua atlet dari semua cabang olahraga mampir kesana untuk ‘diberesi’ jalur-jalur meridiannya, dikuatkan, atau diselaraskan. Tiap atlet, beda jalur yang ‘diberesi’ sesuai dengan olahraga yang digelutinya.

Ini pertama kali saya melihat langsung dengan sangat keren sekali.

Mas Warih juga memberikan latihan yang disebut dengan ‘senam meridian’ yang diinspirasi dari pemakaian ‘jarit’/kain berdasarkan gerakan-gerakan yang beliau katakan mampu membuka jalur meridian dengan lebih cepat dibanding totok atau meditasi energi sekalipun. Saya latihan sebentar saja sudah ‘gobyos’ dan badan enteng. Istilah ‘meridian’ tidak dikenal pada khasanah MP namun sekedar memudahkan komunikasi secara umum.

Ketika saya tanya kepada mas Tok, ini bagaimana mas penjelasan mengenai ‘senam meridian ala mas Warih?’. Dijawab enteng saja saat itu “nanti mas akan ketemu jawabannya ketika ‘titi wancine’ atau ‘sudah saatnya'”. Dan memang benar. Setelah mempelajari biokimia dan biomekanika pada olah napas, saya mulai memahami apa yang dulu dimaksud oleh mas Tok.

Pada satu titik, mas Tok banyak membuka informasi mengenai hal-hal yang kalau dicermati dapat meluaskan wawasan pada pengetahuan keilmuan lama. Asalkan kita mampu menangkap maksud dibalik itu. Beliau dapat berterus terang ketika misalnya menceritakan latar belakang suatu materi keilmuan tertentu namun juga dapat menyamarkan maksud. Hal-hal yang sensitif mampu dibungkus dengan bahasa yang halus sehingga kalau tidak jeli dalam menangkap getaran maksudnya, akan terlewat begitu saja.

Pada suatu hari beliau pernah mengatakan bagaimana rumusan untuk mempelajari keilmuan pengobatan yang ‘konon belum ditemukan’ namun bisa ditelusuri dan dipelajari dengan naluri. Bisa dicari, asal mau tekun, dan mau terus berjalan di jalan itu. Sayangnya, tidak banyak yang mau mersudi mengenai ilmu kesehatan. Yang diharapkan tidak sekedar ‘pasien sembuh’ melainkan bisa dijelaskan ‘mengapa bisa sembuh?’. Yang diharapkan juga bisa terukur kesembuhannya karena sejauh ini ketika kesembuhan terjadi umumnya terapis tidak mampu menjelaskan aspek kesembuhannya. Disinilah perlunya ‘bedah keilmuan’ dalam bentuk yang berbeda.

Dan entah bagaimana, kami menjadi begitu cocok satu sama lain pada pemikiran. Saya bisa memahami dan mengerti maksud pemikiran beliau (dalam batas-batas tertentu), dan beliau juga memahami maksud pemikiran saya. Kami banyak membicarakan mengenai konsep, visi, dan pandangan ke depan. Beliau adalah seorang visioner pada pemikiran.

Kita bisa ketemu ‘begitu saja’. Alamiah. Akrab (dalam batas tertentu) dan saling berbagi (dalam batas tertentu). Wajar saja. Lebih dari lima tahunan kami bertemu di alam pemikiran dan nalar. Nyaris setiap hari. Tentu frekwensinya saling terhubung.

Jika Anda berdiskusi dengan orang yang sama nyaris setiap hari selama kurang lebih lima tahunan maka mustahil Anda tidak memahami jalan pikiran lawan bicara.

Qadarullah, saat ini beliau sudah berpulang ke rahmatullah. Namun bagi saya, pemikirannya abadi, tulisannya masih tetap ‘bernas’ hingga 10, 20, atau 100 tahun ke depan. Atau mungkin lebih dari itu. Sungguh, tidak banyak senior yang punya visi keilmuan yang jauh kedepan namun memiliki kemampuan memetakan permasalahan dan merunutkan solusinya lalu menuliskannya.

Tidak banyak yang seperti ini.

Kemampuan beliau menjembatani orang-orang seperti saya yang ‘ndregil’ itu juga tidak banyak dimiliki. Ini balik kepada karakter yang sudah terbangun dalam perjalanan hidupnya.

Hingga saat ini, kalau saya merasa ‘mentok’ maka saya membaca ulang tulisan-tulisan beliau di SahabatSilat.com yang sudah saya pindahkan ke Microsoft Word. Dan setiap kali dibaca baru, saya selalu seperti menemukan ‘AHA’ yang baru. Selalu saja nalar saya seperti menemukan visi yang baru. Saya mulai paham apa yang beliau maksudkan pada tulisannya tersebut. Meskipun seringkali beliau disebut dan dianggap ‘cuma bisa ngomong doang, ngga punya ilmu’. Namun dalam hemat saya justru karakter PEMIKIR VISIONER inilah yang nyaris tidak ada atau belum saya temukan.

Orang yang memiliki karakter Pemikir, ketika ketemu dengan orang yang mampu mewujudkan maka akan menjadi suatu inovasi tingkat tinggi dengan lompatan-lompatan maju untuk masa depan. Barangkali, takdir resonansinya ketemu. Pemikir ketemu dengan pemikir. Penulis ketemu dengan penulis. Meski level saya masih jauh. Tapi frekwensinya sama sehingga kami jadi sering saling bertukar pikiran.

Pada suatu kesempatan pertemuan di Yogyakarta, beliau selalu mengingatkan saya agar ‘menulislah’. Karena suatu saat keilmuan bisa ‘hilang’ seiring berpulangnya yang menguasai keilmuan tersebut. Maka, tulisan paling tidak mampu menjadi jembatan abadi transmisi keilmuan. Tentu tidak akan sesempurna apabila dilatih langsung. Namun paling tidak akan menjadi referensi di masa yang akan datang bagi ‘anak cucu’. Kumpulkan banyak referensi, prestasi, teknik, teori, dan pencapaian lalu buatkan jadi satu ‘buku besar keilmuan’. Itu yang sering beliau gaungkan.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Itulah visinya pada saat itu. Dan saya setuju.

Karya pemikiran beliau di SahabatSilat.com semoga menjadi salah satu jalan amal jariyah atas semua yang dituliskan disana dan menginspirasi saya serta pembaca lainnya dalam menambah pengetahuan, kebijaksanaan, dan kebaikan dalam hidup kita masing-masing.

Saya kutip beberapa tulisan beliau. Silahkan simak bagaimana halusnya beliau bertutur.

_________________

mantrijeron:

Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #151 on: 13/10/2010 08:32 »

Pak Prapto, Mas mpcrb… ane numpang ngadem di marih….

Sik ane setel dulu language mode saya… beeeep… click!

Nah… sekarang lebih enak.

Sodara-sodara sekalian mengikuti perbincangan sampeyan-sampeyan ini rasanya kok sayang kalo dilewatkan. karena masalah yang disentuh pada dasarnya ya hal yang sama yg menjangkiti perguruan tradisional bukan hanya MP, utk hal ini saya mohon ijin nyimak dan mengambil kesimpulan dari pembicaraan sampeyan semua, dus kalo dilain hari jangan sampe ada tuntutan hak cipta ;D

Belom lagi nilai-nilai yang diwedar oleh pak Prapto…. [top]

Saya boleh atur pertanyaan kan …pak, mas:

Tujuan olah nafas bermuara ke terbukanya mata hati, banyak banget nih kalau saya ikuti muara hampir bbrp aliran silat utama yang mendefinisikan demikian. beberapa sub aliran bahkan menjadikan nama perguruan: Setia Hati, Persatuan Hati, Hati-hati komplek militer… hehehe yg terkahir papan peringatan ding bukan papan perguruan. [lucu]. Jikalau beladiri berhenti di tataran gerak, kenapa harus melibatkan hati?? Di manakah fungsi hati/ roso sakjroning roso dalam menuntun gerak pembelaan diri? Atau memang prosesnya adalah melalui gerak dahulu, baru ketemu “obahing ati”…..

secondly, ketidakseragaman gerak. nah ini juga jadi polemik di lingkungan saya. Pelatih ini bilang A, pelatih itu bilang A+, dsb. Menurut saya/ IMHO beladiri adalah kepribadian. gerakan detil tentu tidak akan sama dari setiap individu. Hal itu tergantung pemahaman, pengolahan pribadi dan tentu saja kesenangan/ preference.. tugas pelatih/ guru ya memberikan substance yang benar, dus melenceng dikit ya ndak papa… asal jgn substancenya yg beda.

Fighting style MP?? Saya sangat menyayangkan kalau masih ada yg beranggapan tidak bisa buat fight dan terpaksa mencari diluar. Saya kenal pesilat MP mas Gatot, waktu itu si mas di fakultas Fisipol Bulaksumur State Univ (ssst….biar kayak LN), saya di FE jurusan ekonomi lemah… kami lumayan sering bertanding mewakili tempat nongkrong kami, bedanya mas Gatot di kelas H, saya kelas gurem :'(, yang saya amati walopun badan segede gaban tapi gerakan secepat pesilat kelas D!! Amazing saya dan bahkan praktisi yang lain dibuatnya. Menurut saya lagi… pencarian di luar tak lebih dari proses pendewasaan, proses menemukan jati diri….. kata uda SK, dimano juo dicari, di rumah ambo temukan (bener ra ki nulise’ dab??). Hanya saja senior perlu memberikan hook/ kaitan supaya si petualang ini bisa mengerti keluhuran perguruan yang bersangkutan jadi kalopun nemu metode…. sekali lagi metode, bukan basic concept yang dirasa lebih pas, ya pasti dia cuma memakai metode bukan prinsip dasar. Bahkan tidak mustahil, jika dengan pemahaman diluar, si murid makin yakin dengan keluhuran perguruan dan balik maning mersudi di muasalnya kembali.

sumonggo warga MP yg laen mbok yao nderek… ikut berbagi disini.

wassalam

_______________

Suprapto:

Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #155 on: 13/10/2010 12:24 »

kangmas Mantri.

Sumangga, falsafah keilmuan kan nilai2 umum dari kearifan lokal, sudah milik umum.

Agak capek ngurusi masalah itu2 aja , pelatih atau “senior” yg baru lucu2nya, saya memang tanya/mempermasalahkan ke mas Poeng, ada apa dengan penanaman nilai luhur/falsafah keilmuan. Pemberian materi falsafah di penataran pelatih, hanya ditanggapi dgn bagaimana cara menulis/mengucapkan yang benar, nyaris tidak nyambung.

Mas Poeng bilang, memang perlu “sangat/saat”, atau sengaja diciptakan agar situasinya nyambung, nanti tinggal diwedar, lebih mudah masuk. Mas Poeng terbiasa medar kalau pas santai wedangan. Perlu momentum.

Baru saja kita alami sendiri di forum SS.

Sepertinya sudah lama akang Taufan mengungkapkan tentang GG, “tata gerak dilatih sampai masuk dalam lahir batin pesilat” ; kangmas Ajigineng tentang ” dibolan- baleni nganti nyawiji karo badaniro”.

Ketika uda Suporter melontarkan “aplikasi jurus dalam bertarung” yang memancing penghayatan tata gerak/jurus dengan rasa, kemudian bang Antara dengan “Olah Jemparing”, dan terakhir mas mpcrb dengan SP dan TT, maka filosofi keilmuan menemui momentum untuk dibahas.

Nilai2 “ngelmu kelakone kanti laku” dan “sopo temen bakal tinemu”, sebenarnya sudah masuk sejak awal melalui program latihan.

Bahwa kalau tidak MELAKUKAN latihan dengan niat dan cara yang benar, maka dalam ujicoba nanti akan kelihatan, sasaran patah atau malah tangannya yang memar. Postur preman bisa kalah dengan putri yang lembut.

Sifat premanisme, tdk mau kerja, minta hasil seketika, akan tereliminasi disini.

Waktu mas SOLIHIN GP, terpilih menjadi Ketum MP, beliau minta penjelasan selengkap mungkin mengenai falsafah keilmuan, agar tidak salah dalam melakukan gemblengan ke anggota. Karena tingkatnya sudah cukup (kombinasi II reguler, bukan kehormatan, kolat Bina Graha), maka mulai latihan getaran dan dasar gerak naluri, untuk persiapan ujian ke Khusus I di Yogya.

Beliau telpon :

“mas, kalau tata gerak dan pematahan benda keras saya beres, tapi latihan getaran nggak bisa2. Emang yang bisa hanya orang Jawa ya, abis pakai filosofi Jawa.”

Beliau berani ngeluh ke saya krn saya ketua harian, bukan pelatih, apalagi guru.

Saya menjawab sekenanya: ” coba pa, sholat yang khusuk. Selesai sholat, dengan sikap khusuk tadi, langsung latihan getaran”. Besoknya beliau telpon dengan ceria : ” wah mas , udah bisa, getaran terasa kuat. Bener juga nih elmu. Hahaha”.

Kejadian tadi saya sampaikan ke mas Poeng, yang kemudian menyimpulkan, harus dicari cara yang pas. Kalau memasukkan falsafah Jawa secara “letterlijk”, lawaran, tulisan singkat, mudah terjadi salah paham. Kemudian mas Solihin GP dalam melakukan pidato gemblengan ke anggota, dipersilahkan kalau lebih sreg dengan memakai ungkapan2 luhur prabu Siliwangi.

Sama saja.

Salam.”

_____________

mpcrb:

Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #160 on: 14/10/2010 09:16 »

Terima kasih mas atas kesediaan untuk sharingnya. Ini sungguh sangat berharga. Tidak hanya bagi diri saya pribadi, juga saya yakin akan manfaat bagi perguruan lain yang membacanya. Tidak musti harus mengikuti, tetapi minimal sebagai bahan masukan dan perbandingan.

Ada yang sedikit menjadi pertanyaan saya mas. Kalau melihat paparannya, semua hampir didasarkan pada keilmuan dan implementasi keilmuan. Porsi dimana penanaman filosofi dan nilai-nilai perguruan sepertinya belum ada. Atau memang bukan bagian dari paparan tersebut? Maksudnya, mungkin itu ada pada divisi Bintal tersendiri dengan SWOT-nya. Sebab kalau melihat 2 paparan tadi, sepertinya merupakan sebagian garis-garis besar haluan MP (saya istilahkan saja demikian) yang berarti mencakup semua hal. Tidak mencantumkan penanaman nilai-nilai filosofis perguruan berarti memang tidak (atau belum saatnya) dimasukkan. Apakah ini sengaja atau memang belum mendapat perhatian?

salam.

_____________

Suprapto:

Re: PPS Betako Merpati Putih
« Reply #161 on: 14/10/2010 13:01 »

@ mas mpcrb

Urutannya, Untuk memberi masukan PPMP menyusun analisa SWOT, adalah mengumpulkan kelemahan-kekuatan-tantangan-peluang, makanya kita brainstorming mengevaluasi filosofi, visi/misi, garis besar haluan kerja, program umum, fakta lapangan dan anev nya (analisa dan evaluasi) baru ke usulan/rekomendasi program kerja.

Kalau menyusun program kerja terkait anggaran, diluar kompetensi diskusi.

(sambungan):

perihal “pengabdian masyarakat”

MP ada peluang untuk memanfatkan ilmunya. Ada batas moral, antara kita mengabdikan/mempersembahkan sesuatu, sementara dilain pihak perguruan memang butuh dana untuk program lain. Misal tentang tunanetra. Kita menolong mereka, atau justru lebih memanfaatkan mereka untuk cari duit untuk kita sendiri? Harus proporsional, menjaga kepatutan dan batas moral.

Hal ini berlaku apabila kita mendapat bantuan dana dari luar, apakah sumbangan pribadi atau lembaga donor.

Kita masih bisa memasukkan penataran pelatih, honor pelatih dilapangan dan SEDIKIT manajemen fee untuk perguruan.

Pada SKALA yg terjadi/dicapai sampai saat ini, MP perlu badan usaha yang memang bisnis oriented, profesional, akuntabel, modal dikumpulkan dari gotong royong. Sehingga ada dana tetap yang patut untuk menfasilitasi dewan guru dan perguruan, mengurangi beban dan fluktuasi perolehan dana oleh PPMP dan berdampak pada subsidi anggaran kegiatan pada cabang cabang.

Barangkali para senior sudah terikat pada rutinitas, seolah olah atas nama pakem, padahal nggak juga.

Generasi penerus berpeluang melakukan terobosan, tanpa mengorbankan JATI DIRI nya.

Terbukti pada kasus MP, setelah sekian lama terbatas untuk keluarga, th 1963 terbuka/diabdikan untuk BANGSA dan negara Republik Indonesia, th1985 Munas MP merubah ayat di AD/ART, yang memungkinkan warganegara asing belajar dan menjadi anggota MP.

Bagaimana kalau kedepan, semua bertekad pada target yang “ambisius”, tapi tidak utopis? Mandiri dan cukup, hidup dan menghidupi?

Saat ini, aturan di MP, ada pemasukan dari sertifikat tingkat anggota untuk dewan guru dan kegiatan keilmuan, relatip lancar. Ada prosentase iuran ke pusat, 2 ribu dari rata2 10 ribu rp iuran bulanan anggota. Tidak lancar/macet karena dana sudah habis di kolat/cabang. Setoran ke pusat tsb sangat berharga di kolat/cabang, sementara bagi PPMP dianggap duit kecil, relatip dibanding kebutuhan anggaran. Dilain pihak bidang dana usaha juga fluktuatip, sehingga pelaksanaan kerja menjadi berbasis dana yg tersedia/fluktuatip, bukan pada program yg sudah ditetapkan.

Kenapa? Karena skala ekonomi iuran kecil. Padahal rentang kendalinya luas.

Bagaimana kalau semua sepakat, dengan segala konsekwensinya, mentarget skala menengah sampai besar? Target jumlah besar yg pasti harus didukung oleh jaminan mutu, promosi, humas dst ?

Kalau pelayanan baik, dan MP bisa mengusahakan satu juta anggota menjadi AKTIP (di data base ada 2,5 juta orang tercatat sbg anggota/pernah jadi anggota, sy yakin kalau lebih), atau dengan ekspansi anggota baru, maka setoran ke pusat menjadi 2 milyar rp perbulan.Kalaupun tercapai separuh, ada 1 milyar rp perbulan. Itu kalau iuran 10 rb perbulan. Padahal dibanyak cabang, sudah 25 rb per bulan.

Dengan skala makin besar, setoran bisa dikurangi, ditetapkan bersama, akuntabel.

Para pelatih, guru, gurubesar, pewaris bisa terpikirkan, segala sesuatunya bisa bergulir lebih ideal.

Kalau semua perguruan tradisional mentarget dengan skala masing2, sy yakin, uda Suporter harus meninjau ulang skala produksinya.

Salam.

SING SOPO OBAH, MAMAH. (letterlijk: barang siapa bergerak, mengunyah).

_________________

Seru bukan? 🙂

Bayangkan, diskusi semacam itu terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Usia saya pada saat itu ‘baru’ menginjak 29 tahun dan sudah menyumbangkan 759 tulisan dengan banyak topik bahasan yang seperti itu.

Jumlah itu belum termasuk tulisan saya pada thread MP di forum Kaskus dan di Facebook serta tulisan lepas mengenai silat di Kompasiana. Mungkin lebih dari 4000 tulisan sudah saya buat pada rentang waktu tersebut. Tulisan saya pada Facebook ini saja kalau dibukukan sudah lebih dari 1800 halaman.

Dan ada banyak sekali percakapan yang ‘hangat’ bahkan ‘panas’ seperti diatas yang kalau tidak dibaca dengan hati yang tenang niscaya penulisnya akan banyak ‘dibenci’ karena dianggap ‘sok tahu’, ‘menantang’, atau sejenis itu. Padahal maksudnya tidak demikian.

Beliau paham karakteristik penanya dan dapat mengarahkan bagaimana semestinya jawaban itu dibuat. Tidak membawa tingkatan, jabatan, atau posisi apapun dalam menjawab komentar. Hal ini menyebabkan penanya menjadi lebih lepas dan nyaman dalam mengemukakan pendapatnya.

Pemikiran dijawab dengan pemikiran. Bukan dengan ancaman atau tekanan. Itulah kebijaksanaan.

Selamat jalan mas Tok.

Teman, sahabat, dan sekaligus guru dalam pena.

Meski kita sudah tidak bisa bercakap-cakap lagi, namun pemikiran mas Tok banyak melekat pada pikiran saya. Semua pencapaian saya yang didapat saat ini sedikit banyak diwarnai oleh banyak pemikiran mas Tok. Semoga itu menjadi amal jariyah mas Tok. Insya Allah.

Saya bersaksi beliau adalah orang baik. Semoga Allah SWT melapangkan kuburnya dan menempatkan di tempat yang terbaik. Insya Allah.

Kita semua pasti akan mati dengan takdir kita masing-masing. Semoga kematian yang husnul khatimah dan dengan warisan pemikiran lintas zaman yang baik-baik. Insya Allah.

Saya posting nama-nama akun di website SahabatSilat.com yakni mereka yang ikut terlibat dalam diskusi pada thread “PPS BETAKO MERPATI PUTIH’. Banyak yang diantaranya juga ada di group ini. Semoga Anda semua sehat selalu.

MG. JAKARTA. 13/08/2020

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →