COVID-19 SURVIVOR (10)

COVID-19 SURVIVOR (10)

Pasien adalah teman salah satu peserta latihan mingguan. Divonis positif COVID-19 tanggal 22 Juli 2020 dari rumah sakit Mataram. Saya kira hanya sendirian, ternyata satu keluarga (3 orang) semuanya positif.

Pasien semuanya tidak ada gejala dan wajib isolasi sesuai protokol kesehatan rumah sakit. Pasien kemudian paralel dengan olah napas selama masa isolasi.

Rupanya penanganan pasien ini sekeluarga mengikuti aturan baru dimana kalau selama 10 hari berturut-turut tidak ada gejala maka tidak perlu test RT-PCR lagi.

Dalam pandangan saya, jujur ini agak mengkhawatirkan. Bisa saja saat itu imunitasnya masih berjuang untuk membentuk antibodi namun sudah dipulangkan oleh RS karena tidak bergejala dan dibentuk asumsi kalau pasien “sudah sehat dan sembuh”. Tapi itulah pilihan yang dibuat oleh pemerintah kita yang mesti diterima dan dikondisikan.

Saya mengingatkan agar tetap hati-hati karena potensi penularan masih ada sebelum test RT-PCR menyatakan sebaliknya.

Namun karena protokol rumah sakit seperti itu (suspek tanpa gejala tidak perlu RT-PCR) maka pasien dibolehkan pulang setelah 10 harian tanpa gejala apapun.

Lama waktu intervensi: 10 hari.

Kondisi ini bisa saja terjadi pada Anda dan saya. Maka tetap waspada dan berhati-hatilah. Dan ketahuilah bahwa panduan Protokol penanganan Covid-19 saat ini sudah berubah.

Jagalah selalu kesehatan Anda dan orang-orang yang Anda sayangi.


Tambahan:

Penanganan Covid-19 berdasarkan panduan baru yg dikeluarkan kemenkes tgl 13 juli 2020 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/413/2020 TENTANG PEDOMAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN CORONAVIRUS DISEASE 2019 (COVID-19):

https://covid19.go.id/…/KMK%20No.%20HK.01.07-MENKES-413-202…

Menetapkan:

  1. Istilah OTG, ODP dan PDP diganti dengan Suspek, kontak erat, probable dan terkonfirmasi. Akan tetapi untuk kasus Suspek dan Kontak Erat TIDAK ADA LAGI TINDAKAN ISOLASI atau KARANTINA yang disediakan pemerintah, saat ini HANYA DIANJURKAN isolasi mandiri. Pun bagi suspek dan kontak erat tapi tidak bergejala juga TIDAK DISEDIAKAN TES RT-PCR, kecuali tenaga kesehatan.

Semoga masyarakat yang tanpa gejala / gejala ringan tidak makin abai pada isolasi mandiri mereka biar kata positif.

  1. Tidak ada follow-up kesembuhan dengan RT-PCR ulang untuk mereka yang terkonfirmasi positif tanpa gejala, atau gejala ringan hingga sedang. Hanya diminta isolasi mandiri setelah itu dianggap SUDAH PASTI negatif tanpa tes, dianggap tidak akan menularkan.

Apa risiko dari kedua kebijakan diatas?

Masyarakat yang kurang edukasi bisa saja makin abai, transmisi tidak benar-benar diputus, grafik kenaikan kasus dan angka kematian akan terus meningkat menuju puncak yang bahkan belum kelihatan “hilalnya”.

So, ya sudah selamatkan diri masing-masing. Kewaspadaan justru harus makin ditingkatkan dan cari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya untuk diri Anda.

Banyaklah berbuat kebaikan, jauhi kebencian dan masalah. Jangan sampai kita mati dalam menimbun dosa dan kebencian atau menjadi sumber orang lain ikut membenci atas sesuatu yang belum tentu benar.

Mati itu pasti, namun menjadi baik itu pilihan.

Semua tulisan di group ini adalah sebagai pengingat diri sendiri dan mungkin saja Anda yang membacanya dengan pikiran terbuka. Insya Allah.

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →