Sel Darah Merah dan Hipoksia

SEL DARAH MERAH DAN HYPOXIA

Oleh: Mas Gunggung

Beberapa hari ini banyak pertanyaan mengenai bagaimana olah napas menyebabkan kenaikan Hemoglobin? Ini sangat membantu dalam masalah kesehatan seperti Anemia, Leukemia, Gagal Ginjal, dan sebagainya dimana jumlah sel darah merah menjadi sangat rendah.

Cara meningkatkan Hemoglobin yang umum dipahami masyarakat adalah sebagai berikut:

1. Menambah asupan zat besi
2. Meningkatkan asupan folat
3. Memaksimalkan penyerapan zat besi
4. Mengkonsumsi suplemen zat besi
5. Menambah asupan vitamin B12

Namun, tahukah Anda bahwa Hemoglobin dapat dengan mudah ‘dinaikkan’ hanya dengan menahan napas?

Namun menahan napas yang bagaimana yang dapat meningkatkan Hemoglobin?

Perlu dipahami dulu bahwa kondisi menahan napas terdiri dari 2 (dua) jenis yakni:

– High Pulmonary Volume (HPV), teknisnya adalah Tarik-Tahan.
– Low Pulmonary Volume (LPV), teknisnya adalah Buang-Tahan.

Meski keduanya sama-sama menahan napas namun keduanya memiliki fisiologi yang berbeda. Artinya, kalau Anda memahami bahwa “yang penting saya sudah menahan napas” dan menganggap bahwa yang terjadi pada tubuh itu sama saja maka artinya Anda belum belajar dan belum memahami fisiologi pernapasan.

Tulisan saya kali ini akan membantu Anda untuk memahami itu dengan jernih agar tahu bedanya dan dapat menerapkannya dengan benar. Penerapan yang benar memerlukan dasar pengetahuan yang benar juga. Disitulah pentingnya ‘mersudi’ atau belajar atau mau belajar. Disitulah juga pentingnya ‘open minded’ atau berpikiran terbuka.

Saya lanjutkan.

Kenaikan Hemoglobin melalui proses menahan napas hanya bisa dicapai ketika tubuh jatuh pada kondisi Intermittent Hypoxic. Tanpa masuk pada kondisi tersebut, atau misalnya yang kecil saja maka Hemoglobin tidak akan terkoreksi secara signifikan.

Kondisi Tarik-Tahan (High Pulmonary Volume, HPV) secara umum hanya menyebabkan sedikit saja masuk pada hypoxia. Artinya, ia tidak cukup kuat untuk meningkatkan Hemoglobin secara signifikan. Ini mudah dipahami mengingat saat Anda melakukan Tarik-Tahan itu artinya paru-paru masih penuh berisi Oksigen dan memudahkan untuk mengirimkan Oksigen ke darah. Meski Anda kuat menahan napas hingga 1-3 menitpun nilai SpO2 via Oxymeter hanya akan terkoreksi sedikit.

Kadar Oksigen pada paru-paru saat dilakukan Tarik-Tahan umumnya masih mampu ditahan hingga 4 menit menahan napas. Namun saturasi oksigen tidak turun banyak.[10]

Sedangkan kondisi Buang-Tahan (Low Pulmonary Volume, LPV) menyebabkan paru-paru hanya menggunakan Functional Residual Capacity. ‘Kekosongan’ oksigen ini membuat nilai SpO2 akan lebih cepat turun dan lebih cepat masuk pada efek Hipoksia. Terjadi kenaikan Karbondioksida dalam jumlah besar pada kondisi ini. Pasokan Oksigen ke jaringan lain menjadi lebih rendah. Dampaknya, ion Hidrogen yang menuju sel tidak dapat dioksidasi akibat ketidakcukupan Oksigen. Ion Hidrogen itu akan berasosiasi dengan Pyruvate untuk membentuk Asam Laktat. Dan Asam Laktat ini nanti akan terdisosiasi menjadi ion Hidrogen dan Laktat. Jadi, terjadi kenaikan ion Hidrogen pada efek Hipoksia ini.

Kemudian, saat masih melakukan Buang-Tahan terjadi juga akumulasi Karbondioksida (CO2) dalam jumlah. CO2 ini kemudian akan bergabung dengan plasma dan membentuk Asam Bikarbonat. Ia kemudian terdisosiasi dan salah satu produknya adalah ion Hidrogen. Akumulasi CO2 yang tinggi inilah yang kemudian memicu hasrat untuk tarik napas. Hasrat tarik napas Anda itu lahir dari respon tubuh terhadap CO2. Jika CO2 rendah maka hasrat tarik napas juga rendah. CO2 adalah alarm Anda untuk tarik napas.

Jadi, kondisi Buang-Tahan akan membuat terjadinya 2x kenaikan ion Hidrogen. Pertama dari reaksi Asam Laktat dan kedua dari reaksi CO2.

Kenaikan ion Hidrogen akan mengganggu keseimbangan Asam-Basa dalam tubuh.

Inilah kenapa beberapa tahun lalu saya pernah menulis agar Anda berhati-hati terhadap semua latihan olah napas yang memiliki teknis Buang-Tahan yang dilakukan secara ekstrim. Sebab keseimbangan Asam-Basa dalam tubuh Anda akan terganggu akibat adanya 2x kenaikan akumulasi ion Hidrogen.

Dalam konsep Asam-Basa, ion Hidrogen merupakan penyumbang Asam. Maka, latihan Buang-Tahan membuat kondisi Asam dalam tubuh hingga 2x lipat dibanding biasanya. Jika tidak disikapi dengan hati-hati maka dampaknya bisa berbahaya (mandul, sulit punya keturunan, gangguan reproduksi, tumor, kista, miom, kanker, dsb). Sudah banyak contohnya, dan Anda tidak perlu menjadi salah satunya. Ini bukan perkara main-main apabila tidak dipahami pada ‘dosis’ atau takaran latihannya yang baik.

Saya lanjutkan ya.

Kondisi gangguan terhadap Asam-Basa tubuh menyebabkan Buffer akan bereaksi. Buffer terdiri dari 3 (tiga) jenis sesuai urutan reaksinya yakni Chemical Buffer, Respiratory Buffer, dan Renal Buffer.

Pada hipoksia yang ter-manage (terkondisikan) dengan mengatur dosis/takaran pada durasi dan frekwensi yang tepat maka terjadi kondisi peningkatan fungsi Buffer secara progresif.

Buffer ini dioptimalkan.

Istilah yang sering saya gaungkan adalah “OPH” yang merupakan singkatan dari “Optimalisasi Progresif Hipoksia”. Disitulah dasar dari istilah “Napas OPH” yang sering Anda dengar dan baca di group ini.

Dengan mengajari Buffer untuk optimal dan meningkat secara signifikan pada fungsi maka tubuh memiliki kemampuan toleransi lebih tinggi terhadap perubahan Asam-Basa dan mampu melakukan netralisasi dengan cepat. Buffer menjadi responsif, reaktif, dan dengan endurance tinggi.

Pada tubuh kita, ada sebuah organ yang bernama LIMPA dan berfungsi sebagai “bank darah”. Limpa inilah yang nanti mengatur kelebihan atau kekurangan darah pada tubuh saat ketersediaan oksigen meningkat atau menurun.[1]

Sederhananya begini, jika terjadi kenaikkan jumlah darah maka Limpa akan mengambil alih kelebihan itu dan disimpan kedalamnya. Sedangkan jika terjadi permintaan kenaikan darah akibat kondisi Oksigen rendah maka Limpa akan melepaskan cadangan darah miliknya.

Limpa mampu menyimpan volume darah sebanyak 200-300 ml dimana 80%-nya adalah Hematocrit[2,3]. Volume Hematocrit pada laki-laki umumnya antara 40-50% sedangkan pada perempuan 36-40%.[4]

Bisa dilihat bagaimana kualitas volume darah merah pada Limpa yang 80%-nya Hematocrit. Ini artinya, darah yang ada di dalam Limpa itu kualitasnya sangat tinggi. Istilah saya, “darah yang siap pakai dengan kualitas terbaik”.

Pada saat menahan napas dan mengalami efek hipoksia, Limpa akan mengalami kontraksi dengan intensitas yang sama. Tidak peduli Anda diatas air ataupun di dalam air. Pada kondisi ini Limpa akan segera memompa darah ke sirkulasi sistem peredaran darah.[2,5]

Stop dulu membaca. Silahkan tarik napas santai 1x, lalu buang sampai habis dan tahan. Tahan napas kosong secukupnya hingga berasa ada kedutan di perut. Itulah kontraksi Limpa Anda. πŸ™‚

Berapa lama Limpa akan kontraksi dan melepaskan sel darah merahnya? Cukup perlu 1x hingga 5x melakukan Buang-Tahan yang masing-masingnya 30 detik menahan napas maka Limpa sudah mampu melepaskan sel darah merahnya. Intensitas kontraksi Limpa ini terjadi terus menerus antara 20-46% dan bergantung pada seberapa hipoksia Anda saat melakukannya.[2,6]

Semakin lama menahan napas, kontraksi akan menjadi semakin sering. Dan para praktisi olah napas semestinya pernah merasakan ‘kedutan’ ini.

Nilai kenaikan Hemoglobin bervariasi antara 2-9%.

Pada kondisi Buang-Tahan sebanyak 5x repetisi yang masing-masingnya 30 detik mampu menaikkan nilai Hematocrit sebesar 6.4% dan Hemoglobin sebesar 3.3%.[7,8]

Bahkan melakukan olah napas Buang-Tahan disarankan sebelum bertanding karena dapat meningkatkan Hematocrit yang dapat meningkatkan kemampuan atlet. Hematocrit ini kembali normal setelah 10 menit.[9]

Mesti diingat bahwa setiap repetisi Buang-Tahan akan menyebabkan terjadinya akumulasi CO2. Anda perlu waktu untuk recovery pada fase ini. Jika Buffer pada tubuh Anda tidak cukup kuat untuk menahan itu atau tubuh Anda tidak cukup baik dalam membersihkan CO2 maka Anda perlu waktu lebih lama untuk masuk pada repetisi berikutnya. Saran saya, jangan pakai ‘hajar bleh!’. Baru 3-5 detik setelah selesai satu repetisi langsung masuk ke repetisi berikutnya. Dilakukan sampai puluhan kali pula. Bahkan ada yang tidak pakai fase recovery antar repetisi dalam arti latihan olah napasnya sambung menyambung tanpa henti. Amsyong itu nanti kalau tidak paham benar metabolisme yang terjadi pada tubuhnya seperti apa. Sayangilah tubuh Anda yang tidak ada gantinya.

Ada dua hal yang terjadi pada saat menahan napas. Pertama, kontraksi Limpa untuk melepaskan oksigen. Kontraksi ini terjadi kurang lebih 10 menitan sejak awal hipoksia terdeteksi pada tubuh dan Limpa melepaskan cadangan sel darah merahnya ke sirkulasi. Kedua, pelepasan protein EPO (erythropoietin) terjadi hingga 3 jam setelah terakhir Anda melakukan itu.

Jika jumlah sel darah merah meningkat pada kondisi normal, maka darah Anda akan berisi lebih banyak Oksigen untuk diberikan ke jaringan. Tubuh Anda lebih kaya akan Oksigen.

Kalau Anda perhatikan penjelasan saya diatas, maka ada solusi ‘mudah’ bagi penderita yang kekurangan sel darah merah (misal: Anemia, Leukemia) untuk dibantu dengan teknik olah napas Buang-Tahan (low pulmonary volume) dengan cukup maksimal 5x repetisi saja dimana masing-masingnya hanya perlu menahan napas 30 detik. Bisa diulangi dengan frekwensi 3x hingga 5x sehari.

Ini pola latihan olah napas yang saya berikan kepada pasien Anemia:

– Jam 6-7 pagi: 5x repetisi @30 detik, jeda 30-60 detik antar repetisi

– Jam 11-12 siang: 5x repetisi @30 detik, jeda 30-60 detik antar repetisi

– Jam 15-16 sore: 5x repetisi @30 detik, jeda 30-60 detik antar repetisi

– Jam 18-19 malam: 5x repetisi @30 detik, jeda 30-60 detik antar repetisi

Silahkan Anda bisa memodifikasi jamnya sesuai kebutuhan.

Dampak kenaikan Hemoglobin pada 10 menit hingga 3 jam ini dapat disiasati dengan mengatur waktu latihan. Akan ada dampak jangka panjang kenaikan Hb dari teknik ini. Dan sudah saya buktikan pada pasien-pasien Anemia dan Leukemia yang membaik drastis pada kualitas Hemoglobinnya. Saya angkat beberapa testimoninya di group ini menggunakan uji laboratorium.

Ok, sementara itu dulu.

Pelajari ilmu pengetahuannya. Latihanlah yang rasional agar mendapat manfaat maksimal. Waspadai gangguan Asam-Basa pada olah napas. Jangan Anda sepelekan sebab ketika sakit berat melanda maka penyesalannya seumur hidup.

Usia saya dan Anda kelak makin menua, tenaga juga makin melemah, dan tidak tahu harus melakukan apa. Ingin belajar lagi juga mungkin gengsi, malu atau sudah tidak ada tenaga.

Pada akhirnya, kita memilih jalan hidup yang dirasa paling ‘masuk akal’ untuk dijalani dan mempersiapkan ‘bekal’ untuk melewati hari-hari yang degeneratif.

Kesehatan itu unik. Jika kita tidak sadar atau tidak tahu ilmunya, maka kelak ia yang akan mengejar-ngejar kita dengan agresif. Dan ketika masa itu terjadi, usia sudah tidak muda lagi, fisik sudah tidak kuat lagi, semangat tidak besar lagi.

Maka benarlah ucapan Imam Syafi’i, “Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan”.

“Barangsiapa mengamalkan apa-apa yang ia ketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya” (HR. Imam Ahmad)

Semoga tulisan ini menggugah dan bermanfaat.

Salam hangat,

MG

REFERENSI:

[1]. Isbister JP. Physiology and pathophysiology of blood volume regulation. Transfus Sci. 1997 (Sep, 18(3));p409-423.

[2]. Journal of Human Kinetics volume 32/2012, p197-210.

[3]. Spleen emptying and venous hematocrit in humans during exercise. (DOI: 10.1152/jappl.1993.74.3.1024)

[4]. Hematocrit. (https://en.wikipedia.org/wiki/Hematocrit)

[5]. Bakovic, et al., 2005., Schagatay et al., 2007

[6]. Hurford et al., 1990, Schagatay et al., 2001, 2005, Espersen et al., 2002, Bakovic et al., 2005, Balestra et al., 2006, Prommer et al., 2007)

[7]. Selected contribution: role of spleen emptying in prolonging apneas in humans. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11247970/)

[8]. The human spleen as an erythrocyte reservoir in diving-related interventions. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11960959/)

[9]. Altitude Training and its Influence on Physical Endurance in Swimmers. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3592103/)

[10]. Parkes, Scientific American, April 2012.

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →