Biofeedback – bagian 1

BIOFEEDBACK
(Bagian 1)

Oleh: Mas Gunggung
(Instruktur Olah Napas Kebugaran TNI AL)


Kemarin, setelah selesai melatih lansia purnawirawan TNI AL, saya diminta menyampaikan pandangan mengenai fenomena yang sedang ramai saat ini yakni virus Corona. Termasuk juga teman-teman Wisata Bugar banyak yang bertanya apakah ada pengkondisian tubuh untuk dapat melawan virus Corona?

Pandangan saya begini. Pahamilah bagaimana sistem imunitas tubuh kita bekerja. Darisanalah nanti kita akan dapat mengkondisikan tubuh agar menyiapkan semua mekanisme pertahanan diri terbaik di semua levelnya.

Apa yang akan saya sampaikan berikut ini adalah murni berdasarkan pandangan pribadi dengan sudut pandang pemahaman pribadi. Belum pernah diujicoba dengan virus Corona dalam bentuk apapun. Namun pemahaman ini dapat membuka wawasan kita bagaimana strategi untuk mencegah atau menangkalnya.

Sebagai seorang praktisi pernapasan tentu sudut pandangnya akan dilihat menggunakan terminologi pernapasan. Metode olah napas, apapun namanya, termasuk bagian dari sesuatu yang disebut dengan “Biofeedback”.

Apakah itu Biofeedback?

Sederhananya, “Biofeedback” merupakan istilah yang pertama kali dibuat pada tahun 1970 dan tercantum dalam Journal of Transpersonal Psychology yang berisi pemahaman mengenai pengaturan diri atau “self-regulation” melalui serangkaian latihan-latihan.[1]

Istilah tersebut kemudian populer dan diteruskan hingga sekarang.

“The Association for Applied Psychophysiology and Biofeedback” saat ini mendefinisikan latihan-latihan itu sebagai sebuah proses yang memungkinkan individu untuk belajar bagaimana cara mengubah aktivitas fisiologis dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kemampuan. Alat-alat kemudian digunakan untuk mengukur gelombang otak, fungsi jantung, olah napas, aktivitas otot, dan temperatur kulit. Alat-alat yang digunakan akan secara cepat dan akurat memberikan ‘feedback’ atau ‘jawaban’ informasi kepada pengguna. Penyajian informasi ini — seringkali bersamaan dengan perubahan dalam pemikiran, emosi, dan perilaku — akan mendukung perubahan fisiologis yang diinginkan. Seiring waktu, perubahan ini dapat bertahan tanpa terus menggunakan alat-alat.[2]

Misalnya, pada tahun 70-an, seorang doktor dari Universitas California Los Angeles bernama Barry Sterman, menemukan bahwa sangat mungkin untuk mengobati seseorang yang menderita epilepsi dengan cara memodulasi aktivitas gelombang otaknya untuk masuk pada frekwensi relaksasi (Pretor-Pinney 2010:60).

Artinya, jika ada pendekatan yang mampu untuk memodulasi aktivitas gelombang otak manusia menuju frekwensi relaksasi maka pendekatan itu dapat dipakai untuk mengobati penderita epilepsi.

Seiring perkembangan zaman, era ilmu pengetahuan berkembang sedemikian rupa dari konsep fisika Newtonian menuju fisika Kuantum. Hal ini membuat pemahaman mengenai “Biofeedback” menjadi demikian luas jangkauannya.

Misalnya, Fisika Kuantum mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada perbedaan antara energi dan materi. Semua sistem dalam suatu organisme, dari tingkat atom hingga tingkat molekul, senantiasa berada dalam resonansi yang menciptakan gerakan. Resonansi ini penting untuk memahami bagaimana elektromagnetisme (radiasi / cahaya) dapat memiliki efek yang berbeda pada tubuh. Sementara semua materi beresonansi, ada frekuensi resonansi khas, yang memancarkan sinyal karakteristik unik dari inti atom masing-masing. Pada konsep ini kemudian lahirlah kedokteran nuklir, radiologi, dan diagnosa pencitraan (imaging).[3]

Para peneliti dalam bidang biomedis setuju bahwa gelombang elektromagnetik mengalir dan melingkupi tubuh dalam bentuk listrik. Jantung merupakan organ yang paling memiliki aktivitas kelistrikan terbesar, memancarkan 2.5 W, menghasilkan 40-60 kali lebih banyak listrik dibandingkan otak.[1]

Aktivitas kelistrikan pada jantung dan sistem syaraf akan berinteraksi dan saling mempengaruhi satu sama lain dengan jantung sebagai pusat magnetik terbesarnya. Sebelas sistem tubuh yang ada, yang sudah ditemukan saat ini, berinteraksi satu sama lain melalui komunikasi yang tertentu.

Para peneliti juga menemukan bahwa aspek-aspek abstraksi seperti pikiran dan perasaan juga terbukti dapat mempengaruhi tubuh fisik. Komunikasi antara pikiran dan tubuh terjadi secara dua arah melalui Hormon, Neuropeptida, dan Cytokine[5]. Sama baiknya dengan komunikasi berbasis frekwensi[4].

Dalam sistem imun, protein Cytokine adalah mediator utama pada komunikasi antara sistem imun dan sistem Neuroendokrin yang berhubungan dengan inflamasi dan infeksi.

Sel Neuroendokrin bertindak seperti sel syaraf yang menerima pesan dari sistem syaraf dimana mereka juga dapat melepaskan molekul kecil yang beredar di seluruh tubuh dan bekerja seperti hormon.[6]

Cytokine memainkan peran yang sangat penting dalam keseimbangan tubuh melalui semua pengkondisian yang menyebabkan terjadinya tantangan terhadap imunitas.[7]

Terdapat kurang lebih 210 sel tubuh yang kesemuanya memancarkan sinyal kelistrikan dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Sel syaraf, sel kelenjar (endokrin), dan sel otot merupakan jenis sel yang mudah untuk dilakukan stimulasi. Ketiga jenis sel tersebut memproduksi arus listrik (melalui transfer elektron), medan magnet (melalui pergerakan kutub), frekwensi, pH, kadar oksigen, kadar karbondioksida, dan cahaya (melalui biophoton).[8]

Terkait dengan frekwensi, peneliti menunjukkan bahwa frekwensi ekstra rendah dapat dipergunakan untuk meningkatkan modulasi sistem imunitas tubuh[9], termasuk juga regenerasi jaringan[10].

Jadi, dapat disimpulkan bahwa banyak aspek yang berpengaruh terhadap imunitas tubuh. Tidak hanya satu faktor. Seseorang dapat melihat berdasarkan kimiawi darah, frekwensi, elektromagnetik, dan yang lainnya.

Sekarang mari dibahas ringan mengenai virus.

Terkait dengan virus Corona, berdasarkan informasi yang dapat kita baca dari sumber berikut ini:

https://www.who.int/…/who-china-joint-mission-on-covid-19-f…

Dikatakan bahwa:

“As of 20 February 2020 and based on 55924 laboratory confirmed cases…”

“Most people infected with COVID-19 virus have mild disease and recover. Approximately 80% of laboratory confirmed patients have had mild to moderate disease, which includes non-pneumonia and pneumonia cases, 13.8% have severe disease (dyspnea, respiratory frequency ≥30/minute, blood oxygen saturation ≤93%, PaO2/FiO2 ratio <300, and/or lung infiltrates >50% of the lung field within 24-48 hours) and 6.1% are critical (respiratory failure, septic shock, and/or multiple organ dysfunction/failure).”

Jika melihat data diatas, berdasarkan 55924 kasus, gejala bisa dilihat dari laju pernapasan ( ≥30 per menit ), SpO2 ( ≤93% ).

Jika Anda rutin membaca tulisan saya disini, maka Anda dapat membaca mengenai konsep Vital Signs yang melihat pada Respiration Rate (laju pernapasan) dan SpO2 (saturasi oksigen dalam darah). Dan itu dapat dicek dengan alat Oxymeter. Pengukuran SpO2, BPM, Respiration Rate, itu merupakan bagian dari Vital Signs termasuk dengan Gula Darah, Temperatur, dan kadar Karbondioksida.

Kemudian, juga diteliti mengenai pasien-pasien yang terpapar virus Corona ternyata juga memiliki masalah kesehatan pada dirinya. Pada sebuah studi yang diterbitkan oleh American College of Cardiology yang melibatkan 44.672 kasus Corona di China disebutkan bahwa masalah kesehatan lain yang menyertai untuk menjadi rentan terpapar virus adalah sebagai berikut[12]:

  1. Cardiovascular disease (10.5%)
  2. Diabetes (7.3%)
  3. Chronic respiratory disease (6.3%)
  4. Abnormally high blood pressure (6%)
  5. Cancer (5.6%)
  6. No existing conditions (0.9%)

Terlihat disana bahwa masalah jantung dan diabetes menempati potensi terbesar resiko mereka yang rentan untuk terpapar virus Corona.

Bagaimana karakter virus untuk dilihat berdasarkan kimiawi darah, pH, frekwensi, kelistrikan, dan sebagainya? Dan apa yang dapat dilakukan oleh olah napas untuk menjadi preventif dan paliatif sekaligus (hipotesa) kuratif? Nantinya pada tulisan berikutnya.

(Bersambung)

Referensi:

[1]. Potential Energy and the Body Electric Cardiac Waves, Brain Waves, and the Making of Quantities into Qualities. Stefan Helmreich. (https://www.journals.uchicago.edu/doi/pdfplus/10.1086/670968)

[2]. The Association for Applied Psychophysiology and Biofeedback. (https://www.aapb.org/i4a/pages/index.cfm?pageidp1)

[3]. Energy Medicine: Current Status and Future Perspectives. Christina L Ross, PhD, BCPP. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6396053)

[4]. McCraty R, Atkinson M, Tomasino D, Bradley R. The Coherent Heart: Heart-Brain Interactions, Psychophysiological Coherence, and the Emergence of System-Wide Order (Publication No. 06-022). Creek, CA: HeartMath Research Center, Institute of HeartMath; 2006.

[5]. Pert C. The Molecules of Emotion: The Science Behind Mind–Body Medicine. New York, NY: Simon & Schuster, Inc; 1997.

[6]. Trained immunity: A program of innate immune memory in health and disease. Mihai G. Netea, Leo A. B. Joosten, et all. (https://science.sciencemag.org/content/352/6284/aaf1098)

[7]. Cytokines and chemokines: At the crossroads of cell signalling and inflammatory disease. Turner MD, Nedjai B, Hurst T, Pennington DJ. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24892271)

[8]. Emission of mitochondrial biophotons and their effect on electrical activity of membrane via microtubules. Rahnama M, Tuszynski JA, Bókkon I, Cifra M, Sardar P, Salari V. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21425483)

[9]. Effect of pulsed electromagnetic field on inflammatory pathway markers in RAW 264.7 murine macrophages. Ross CL, Harrison BS. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23576877)

[10]. The effect of low-frequency electromagnetic field on human bone marrow stem/progenitor cell differentiation. Ross CL, Siriwardane M, Almeida-Porada G, Porada CD, Brink P, Christ GJ, Harrison BS. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26042793)

[11]. https://www.who.int/…/who-china-joint-mission-on-covid-19-f…

[12]. American College of Cardiology. ACC Clinical Bulletin COVID-19 Clinincal Guidance For the CV Care Team. 6 Maret 2020. (https://www.acc.org/~/…/665AFA1E710B4B3293138D14BE8D1213.pdf)

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →