Melihat Tanpa Mata (2)

MELIHAT TANPA MATA
(Bagian 2)

Oleh: Mas Gunggung
(Instruktur Olah Napas Kebugaran TNI AL)


Kita lanjutkan ya pembahasan ‘ringan’ mengenai “Melihat Tanpa Mata”.

Pada tulisan sebelumnya saya mengutip beberapa baris paragraf dari buku Dr. Ulrich Warnke yang berjudul “Quantenphilosophie und Interwelt: Der Zugang zur verborgenen Essenz des menschlichen Wesens” atau kalau diterjemahkan menjadi “Filsafat Kuantum dan Antar Dunia: Akses ke Esensi Tersembunyi Manusia”. Dr. Warnke mengutip penelitian yang dilakukan ilmuwan bernama Louis Farigoule mengenai konsep yang disebut dengan “Paroptic Vision”.

Anda dapat membaca tulisan saya sebelumnya disini:

‘Paroptic’ terdiri dari dua kata yakni ‘par’ dan ‘optic’. Istilah ‘par’ kurang lebih artinya sama dengan ‘melalui’ dan ‘optic’ mengacu pada ‘mata’. Sehingga istilah Paroptic Vision sederhananya dipahami sebagai “Penglihatan Melalui Mata”.

Namun mata yang dimaksud oleh ilmuwan Louis Farigoule bukanlah dua mata yang biasa kita kenal yang ada di wajah. Rupanya, ada ‘mata’ lain pada manusia yang memiliki fungsi cukup mirip dengan mata optik.

Dalam thesis Louis Farigoule setebal 232 halaman disebutkan bahwa yang memberikan kemampuan “Melihat Tanpa Mata” pada manusia adalah sebuah organ kecil yang disebut dengan “Ocelli”. Ini adalah hipotesa dari Louis Farigoule.

Apakah itu Ocelli?

Ocelli dalam bahasa Latin berarti “mata kecil”. Ia dikenal sebagai sistem visual kedua setelah mata.[2]

Kulit manusia terdiri dari bagian mikroskopis visual yang disebut dengan “Ocelli” dan tersebar pada keseluruhan bagian epidermis kulit. Konsentrasi Ocelli ini paling banyak ada di ujung-ujung jari. Ocelli memiliki bagian untuk membiaskan cahaya, bagian yang mirip seperti lensa retina, dan bahkan serat optik.

Ocelli merupakan reseptor cahaya sekaligus organ yang berfungsi sebagai detektor cahaya. Ia terdiri dari lensa tunggal dan beberapa sel yang berfungsi sebagai sensor. Tidak seperti mata, Ocelli tidak dapat membentuk gambaran kompleks dari lingkungan namun umumnya digunakan untuk mendeteksi pergerakan.[3]

Nah, Ocelli ini, menurut Louis Farigoule, dikatakan dapat aktif sewaktu-waktu atau berdasarkan latihan kepekaan tertentu. Ia kemudian menyusun satu set latihan yang disebut dengan “Series O” dan “Series S” untuk membuktikan hipotesanya. Metodenya kemudian disertifikasi oleh belasan dokter dan doktor dengan hasil yang sangat baik. Bahkan, dokter-dokter dapat menduplikasi metodenya tanpa ada kehadiran dari Louis Farigoule.

Ada sebuah buku karangan Earlyne Chaney yang berjudul “The Eyes Have It: A Self-Help Manual for Better Vision” terbitan tahun 1987 yang juga ikut membahas karya Louis Farigoule. Anda dapat membeli buku itu secara bebas di Amazon.[1]

Pada buku tersebut, Chaney mengatakan kalau “Melihat sesungguhnya memiliki dua organ yakni Mata dan Kulit” (Chaney, 1987: 5). Lebih lanjut dikatakan kalau “organ kedua untuk melihat, yakni Kulit, telah didesain untuk dapat digunakan dalam kegelapan. Sedangkan Mata didesain untuk digunakan pada adanya cahaya terang.” (Chaney, 1987: 5-6).

Chaney nampaknya telah membaca karya Louis Farigoule sehingga beberapa dari pendapat-pendapatnya nampak sejalan dengan hipotesis Louis Farigoule. Kemampuan “Melihat Tanpa Mata” yang diistilahkan Louis Farigoule dengan “Paroptic Vision” dianggap oleh Chaney sebagai fenomena fisik dan psikis.

Kemampuan-kemampuan melihat dengan ujung jari, sikut, dahi, leher, dan sebagainya (termasuk balik badan, melihat dibalik tembok, atau melihat jarak jauh) yang masuk kategori “Paroptic Vision” yakni penggunaan Ocelli yang telah berfungsi sedemikian rupa (mungkin mengalami peningkatan berkali-kali lipat). Bisa saja menjadi sangat aktif oleh karena suatu peristiwa atau suatu latihan tertentu.

Saat ini Paroptic Vision juga sering diistilahkan dengan Dermo-optical Perception (DOP).[6]

Karena Ocelli adalah receptor pada kulit yang salah satu fungsinya adalah menerima frekwensi maka ketika Ocelli dilatih sedemikian rupa ia akan meningkat kepekaan dalam menerima frekwensi.

Paroptic Vision dianggap merupakan jembatan antara pandangan Fisik dan Psikis.

Bahkan Chaney mengatakan lebih jauh, “penglihatan kulit tepi yang menyebar dapat diperluas sebagai penglihatan laksana langit, seperti teleskop yang berfokus pada satu ruang kecil. Akhirnya bisa memproyeksikan dirinya di ruang yang lebih besar dan bahkan melampaui ruang.”

Chaney menyebut dengan istilah “Receptive and Reflective”. Receptive artinya “menerima”, yakni kemampuan menerima sesuatu yang berhubungan dengan sinyal atau stimuli. Sedangkan Reflective artinya ‘pantulan’, yakni kemampuan untuk memantulkan sesuatu atau menerima pantulan dari sinar atau stimuli. 🙂

Membaca karya Dr. Warnke dan Chaney tidaklah lengkap tanpa membaca karya Louis Farigoule. Darisanalah kemudian nanti kita akan mengerti apa yang dimaksud oleh ketiganya. Kapan waktu nanti saya bahas mengenai karya Louis Farigoule yang setebal 232 halaman itu. 🙂

Saya lanjutkan ya.

Terdapat studi pada tahun 2005 terhadap 216 anak-anak mengenai suatu kemampuan yang disebut dengan “Membaca Dengan Jari” atau “finger-reading effect’. Efek ini mengacu pada keberhasilan identifikasi obyek pada kertas datar dimana subyek tidak dapat melihatnya atau menyentuhnya. Studi ini sudah dilakukan selama 10 (sepuluh) tahun di Taiwan. Disana dijelaskan juga langkah demi langkah bagaimana menduplikasi kemampuan tersebut.[5]

Prosedur latihan pada studi tersebut akan saya tulis disini:

“… The training procedures can be illustrated briefly as follows: First, the children were given imagery exercises. The children were trained by letting them touch a paper directly which bore a two-digit number or a complex character printed in four different colours from an ink printer. This training included a “dark” condition in which the paper with its character was put into a dark bag where it could not be seen. Then they were asked to imagine that they could see the numbers, characters or words while touching them. The children were encouraged to practise touching and visual imagery during this training process …”

(“…Prosedur pelatihan dapat diilustrasikan secara singkat sebagai berikut: Pertama, anak-anak diberi latihan imajiner (khayalan). Anak-anak dilatih dengan membiarkan mereka menyentuh kertas secara langsung yang mengandung angka dua digit atau bentuk karakter kompleks tertentu yang dicetak dalam empat warna berbeda dari printer tinta. Pelatihan ini menyertakan kondisi “gelap” di mana kertas yang memiliki cetakan karakter dimasukkan ke dalam kantong gelap yang sama sekali tidak bisa dilihat. Kemudian mereka diminta membayangkan bahwa mereka dapat melihat angka, karakter atau kata-kata sambil menyentuhnya. Subyek didorong untuk berlatih sentuhan dan pencitraan visual selama proses pelatihan ini…”

Terasa familiar penjelasan latihan tersebut? 🙂

Mari saya lanjutkan.

“… Finger-reading training procedures: The stimuli consisted of 5cm × 8 cm rectangular pieces of paper. In the middle of each paper was a two-digit number in one of four different colours (black, green, blue and red) printed by an ink printer. There were twodigit numbers from 10 to 99. Confounding numbers, or “double chance numbers,” such as 16 and 91, 19 and 61, 18 and 81, 66 and 99, 69 and 96, 68 and 89, 86 and 98, were excluded, so there were 76 numbers used in all.

… First of all, participants were required to sit and close their eyes and breathe deeply with a calm and peaceful mind for at least ten minutes. Then participants were required to practise image-making. The experimenter showed an object, such as a red apple, to the participants who were asked to look at the apple very carefully and remember every detail of it. Then they closed their eyes to visualise the apple exactly as they perceived it. Next, they visualise the apple changing its colour three or four different times i.e., through green, blue and black…”

(“… Prosedur latihan “membaca dengan jari”: Stimuli terbuat dari 5cm x 8cm kertas persegi. Pada tengah-tengah kertas persegi terdapat angka dua digit yang dicetak dengan satu hingga empat jenis warna yang berbeda (hitam, hijau, biru, dan merah). Terdapat angka dua digit dari 10 hingga 99. Angka-angka yang berkebalikan seperti 16 dan 91, 19 dan 61, 18 dan 81, 66 dan 99, 69 dan 96, 68 dan 89, 86 dan 98, tidak disertakan, sehingga hanya ada totalnya 76 angka saja yang digunakan.

… Pertama, peserta diminta untuk duduk santai dan menutup matanya, bernapas dalam dengan, dan menenangkan pikiran selama kurang lebih sepuluh menit. Kemudian akan ditunjukkan sebuah obyek misalnya buah apel merah kepada peserta. Peserta diminta untuk melihat dengan detail buah apel tersebut secara serius dan mengingat semua detail yang ada pada buah tersebut. Kemudian peserta diminta menutup matanya dan membayangkan buah apel sesuai yang mereka saksikan. Berikutnya, peserta diminta memvisualkan apel tersebut berubah warna tiga hingga empat kali dengan warna berbeda misalnya hijau, biru, dan hitam…”)

Hasilnya adalah sebagai berikut:

“… The children for whom the techniques seemed to be successful reported that visual experiences had accompanied their successful trials. They reported visual images appearing as if from the real world. They reported seeing a “transparent screen” like a mist, with a floating patch or pattern overlaying their field of vision. Some of the children experienced the coloured targets as a distinct form of imagery like an “opaque screen” masking the normal visual image….”

(“… Anak-anak yang setelah belajar tekniknya dianggap berhasil melaporkan adanya pengalaman visual yang terjadi. Mereka melaporkan gambaran visual yang muncul seolah-olah dari dunia nyata (dalam pikiran mereka). Mereka melaporkan melihat “layar transparan” seperti kabut dengan bentuk-bentuk mengambang atau pola tertentu yang melingkupi pandangan mereka (saat terpejam). Beberapa dari anak-anak bahkan mengalami penglihatan target berwarna sebagai bentuk pencitraan yang berbeda seperti adanya sebuah “layar buram” yang menutupi gambar visual normal…”

Menarik bukan?

Meski demikian, kajian-kajian diatas juga menyebutkan banyak permasalahan mendasar apabila ingin disebut sebagai “sains”.

Tentunya diantara yang mendukung kemampuan “Melihat Tanpa Mata” juga terdapat mereka yang membantah mengenai kemampuan itu. Dalam dunia sains hal itu biasa. Anda menemukan jurnal yang mendukung penelitian Anda sekaligus Anda akan menemukan jurnal yang membantah penemuan Anda. Biasa saja.

Hal ini menunjukkan masih adanya ruang untuk melakukan penelitian baru dari berbagai penelitian-penelitian yang sudah ada.

Misalnya, dikatakan oleh Arnheiter (1998) bahwa evolusi pigmen sel kulit bisa saja terjadi dan menjadi semacam ‘precursor’ dari photoreceptor di mata. Artinya, mungkin saja kulit bisa menjadi semacam pemicu sekaligus penghubung lahirnya kemampuan meneruskan cahaya tampak pada mata. Namun demikian, kulit manusia hanya dapat merespon pada cahaya Ultraviolet-B (290-320nm) dan Ultraviolet-A (320-400nm). Pada kemampuan ini manusia dapat memproduksi Vitamin D dan mempengaruhi pigmentasi kulit. Penyerapan kulit terhadap cahaya tampak, panjang gelombang 400-700nm, belum ditemukan pada manusia. Bukti ini menunjukkan bahwa kulit manusia sesungguhnya tidak dapat “melihat”.

Misalnya juga, dari sekian banyak metode untuk menghasilkan kemampuan “Melihat Tanpa Mata” di dunia ini juga ada teknik yang dikembangkan oleh Merpati Putih. Apakah Merpati Putih berada pada salah satu dari metode diatas yang mirip ataukah memang sedemikian berbeda. Ini lain bahasan. Tentu saja harus dikonfirmasi setelah melalui serangkaian uji penelitian sains yang baik.

Namun dalam umumnya sebuah karya ilmiah, apabila ingin dibuat, haruslah ada daftar pustaka. Kita tidak boleh menafikan bahwa sudah ada publikasi riset mengenai kemampuan “Melihat Tanpa Mata” sejak tahun 1919. Ini bisa dipakai sebagai pijakan pelengkap atau pijakan pembanding. Seseorang dapat menggunakan metode yang sudah ada atau merumuskan metodenya sendiri.

Masalah utama yang timbul dari berbagai eksperimen diatas adalah sesuatu yang disebut dengan “Randomization” atau biasa disebut dengan “fluktuatif”. Tidak ajeg. Keberhasilan yang kecil. Prosentase keberhasilan yang rendah. Kapan waktu nanti saya bahas terpisah dalam tulisan tersendiri.

Semoga menyemangati dan membuka wawasan.

Salam hangat,

MG

Referensi:

[1]. Eyes Have It: A Self-Help Manual for Better Vision. Earlyne Chaney. 1987. (https://www.amazon.com/Eyes-Have-Self-Help-Man…/…/0877286213)

[2]. Ocelli. Holger G Krapp. (https://www.cell.com/current-bi…/…/S0960-9822(09)00884-7.pdf)

[3]. Ocelli. Amateur Entomologist Society. (https://www.amentsoc.org/insects/glossary/terms/ocelli)

[4]. Cotzin, Milton. “The Perception of Obstacles by the Blind.” In Empirical Foundations of Psychology, edited by N.H. Pronko and J.W. Bowles. New York: Routledge. (https://psycnet.apa.org/record/1951-04806-001)

[5]. Shiah, Yung-Jong and Wai-Cheong Carl Tam. 2005. “Do Human Fingers “See”? — “Finger-Reading” Studies in the East and West.” European Journal of Parapsychology 20(2): 117-134. (https://sclee.ee.ntu.edu.tw/…/do%20human%20%20fingers%20see…

[6]. Dermo-optical perception. Wikipedia. (https://en.wikipedia.org/wiki/Dermo-optical_perception)

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →