Prolonged Expiratory

PROLONGED EXPIRATORY

Oleh: Mas Gunggung


Terdapat tiga studi menarik yang dilakukan oleh ilmuwan Jepang bernama Teruhisa Tomori mengenai pengaruh kecepatan olah napas terhadap fisiologi dan psikologi serta syaraf otonom.

Studi pertama dibuat untuk mengkonfirmasi bahwa aktivitas syaraf otonom terpengaruh oleh kecepatan bernapas[1]. Studi kedua dilakukan untuk mengklarifikasi efek fisiologi dan psikologi dari aktivitas ‘deep breathing’ menggunakan EEG (electroenchepalogram) dan ECG (electrocardiogram) dengan pendekatan buang napas lebih lama dari tarik napasnya[2]. Studi ketiga dilakukan untuk melihat efek dari suatu pola napas yang buang napasnya lebih panjang dari tarik napasnya pada respon cardiopulmonary.[3]

Saya akan jelaskan ketiga studi tersebut untuk menambah pengetahuan kita semua.

Pada studi pertama, 10 orang laki-laki sehat berusia 21-28 tahun diberikan instruksi untuk melakukan 2 (dua) jenis teknik olah napas yakni ‘rapid breathing’ dengan pola 1:1 (1 detik tarik napas, 1 detik buang napas) dan pola kedua yakni ‘prolonged expiratory’ dengan pola 6:4 (6 detik buang napas, 4 detik tarik napas).

Aktivitas syaraf Simpatik dan Parasimpatik diukur dengan pendekatan HRV (heart rate variability) pada tiap jenis pola napasnya.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa pada saat buang napas panjang (prolonged expiration) terlihat syaraf Parasimpatik (HF, high frequency) teraktivasi. Sebaliknya, saat napas cepat terlihat Syaraf Parasimpatik tertekan. Sedangkan saat ritme napas cepat dan pendek (rapid breathing) terlihat aktivitas Syaraf Parasimpatik menurun.

Hipotesa studi yang dilakukan oleh ilmuwan bernama Teruhisa Komori dengan pendekatan HRV diatas menyebutkan bahwa buang napas yang lebih panjang dari tarik napas akan meningkatkan dominasi syaraf Parasimpatik (HF) sedangkan bernapas cepat akan meningkatkan dominasi syaraf Simpatik (LF).

Pada studi kedua, melibatkan 5 praktisi Okinaga dengan usia antara 50-60 tahun. Sebagai informasi, Okinaga merupakan salah satu teknik olah napas dari Jepang yang biasa dilatihkan kepada Ninja.

Hah? Ninja?

Iya benar. Ninja… 😀

Jadi, teknik olah napas dimana buang napas lebih panjang dibanding tarik napasnya kalau di Jepang itu menjadi teknik rahasia olah napas para Ninja.

Bahkan di Jepang ada studi mengenai bagaimana pengaruh bentuk jari ‘mudra’ tertentu ala Jepang yang biasa dipakai oleh Ninja saat berlatih untuk menghilangkan kecemasan dan memperkuat tubuh terhadap stres. Ketika seseorang membentuk suatu posisi ‘jari mudra’ tertentu terlihat ada pengaruh pada gelombang otak beta dan theta. Posisi tertentu dapat meningkatkan gelombang Alfa dan menyebabkan aktivitas syaraf Parasimpatik menjadi dominan.[4]

Studi ini juga dilakukan oleh ilmuwan yang sama seperti diatas yakni Teruhisa Tomori.

Jadi, kalau Anda melihat film Naruto dan salah satu karakter disana membentuk posisi jari tertentu untuk mengerahkan kekuatannya maka itulah ‘jari mudra’ ala Jepang. Jangan ditertawakan. Itulah semacam ‘local genius’ disana. Dan itu sudah diteliti. 🙂

Kembali kepada pembahasan.

Teknik Okinaga, melibatkan tarik napas terkontrol melalui hidung yang diikuti dengan buang napas panjang melalui mulut. Teknik Okinaga yang dilakukan menggunakan pendekatan yang sama dengan studi pertama yakni buang napas lebih panjang dibandingkan tarik napasnya. Pola detiknya adalah 6 detik buang napas dan 4 detik tarik napas.

Para praktisi Okinaga melakukan teknik olah napas selama 31 menit sambil diukur menggunakan EEG dan EKG. EEG diukur di bagian depan kepala. Terlihat persentase gelombang Theta dan Alfa 2 lebih tinggi dari sebelumnya dengan gelombang Beta menurun.

Pada studi ketiga, melibatkan 11 laki-laki yang melakukan teknik olah napas dengan 2 detik tarik napas dan 4 detik buang napas menunjukkan hasil bahwa dominasi syaraf parasimpatik meningkat pada pola ‘prolonged breathing’.

Jadi, terlihat jelas pada ketiga studi diatas bahwa buang napas panjang mampu mendominankan syaraf parasimpatik.

Itulah sebabnya kenapa pada tulisan saya sebelumnya yang membahas mengenai pengaruh Syaraf Otonom pada pola napas Merpati Putih saya katakan bahwa konsep buang desis di MP yang lebih panjang dibandingkan tarik napasnya akan mendominankan syaraf parasimpatik.

https://www.facebook.com/groups/KebugaranMP/permalink/2165733196801637/

Setelah syaraf parasimpatik teraktivasi kemudian akan ‘ditantang’ dengan aktivitas syaraf simpatik melalui intermittent stress (menahan napas: hipoventilasi, pengejangan statis atau dinamis, beban, maupun alam). Itulah yang kemudian melandasi lahirnya metode Kebugaran ala MG yang memiliki level Diam, level Gerak, level Beban, dan level Alam. Semua ada landasannya.

Tentu saja semua pemikiran mesti diuji dengan para pemikir juga. Maka dari itu MG berusaha mencari komunitas medis yang tertarik dengan pemikiran ini untuk menguji landasan teori, menguji hipotesa, dan membuktikan benar atau tidak teori yang dibangun ini. Pengujinya mesti seorang yang bergelut dibidang medis seperti dokter, spesialis, atau profesor. Teori dan prakteknya berani diseminarkan dihadapan mereka. Disanalah nanti teorinya akan ‘dibantai’ atau diterima.

Pada perjalannya, pendekatan berbasis Syaraf Otonom ini kemudian bisa dipilah menjadi 2 (dua) jenis teknik yang sedemikian berbeda. Teknik yang satu bersifat Keras dan teknik satunya lagi bersifat Lembut. Tujuannya sama yakni meningkatkan dominasi syaraf Parasimpatik pada tubuh hanya penerapannya saja yang berbeda.

Kenapa harus Parasimpatik?

Karena jenis syaraf inilah yang berperan dalam proses recovery dan regenerasi. Jika syaraf parasimpatik pada tubuh bersifat adaptif, reaktif, dan responsif maka tubuh manusia akan memiliki pertahanan diri terhadap berbagai penyakit ringan maupun berat.

Melalui perjalanan Wisata Bugar yang ‘melanglang buana’ selama ini dan berkat bantuan dari teman-teman peserta Wisata Bugar (salam hormat saya untuk Anda semua) yang melaporkan perkembangannya maka teori olah napas dapat mencapai bentuknya yang Hard maupun Soft. Penerapannya kepada berbagai masalah kesehatan tertentu berdasarkan kondisi di lapangan. Inilah yang kemudian diajarkan pada Wisata Bugar sebagai pengetahuan logis dan rasional olah napas. Bersifat ajeg, dapat diulang dengan hasil yang sama, bersifat universal, sains, dan memiliki potensi kuratif dan paliatif yang diharapkan cukup tinggi.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Jagalah selalu kesehatan Anda dan orang-orang yang Anda sayangi.

Event terdekat Wisata Bugar adalah Wisata Bugar Clinical Update khusus sesi Anomali Sel (kanker, kista, miom, tumor) bulan Desember mendatang. Setelah itu dilanjut dengan event Wisata Bugar Festival 2020 akan diadakan di banyak kota. Pastikan Anda masuk ke dalam komunitas untuk menjadi bagian dari perubahan kesehatan diri, keluarga, dan lingkungan melalui pendekatan olah napas yang logis dan rasional.

Salam hangat,
MG

Referensi:
[1]. The relaxation effect of prolonged expiratory breathing. Komori T. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/30046408/)

[2]. Extreme prolongation of expiration breathing: Effects on electroencephalogram and autonomic nervous function. Teruhisa Komori. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6342022)

[3]. Effects of prolonged expiration breathing on cardiopulmonary responses during incremental exercise. Matsumoto T, Masuda T, Hotta K, Shimizu R, Ishii A, Kutsuna T, Yamamoto K, Hara M, Takahira N, Matsunaga A. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21763472/)

[4]. Use of Ninja Hand Signs to Eliminate Anxiety and Strengthen the Ability to Cope with Stress. Teruhisa Komori. (https://www.onjourn.org/open-access-article/use-of-ninja-hand-signs-to-eliminate-anxiety-and-strengthen-the-ability-to-cope-with-stress-100015.html)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →