Pertarungan dua ‘serigala’

Seringkali, dalam pengembaraan saya dalam dunia kesehatan via olah napas, saya menemukan banyak sekali kondisi psikologis orang. Misalnya, ada yang berkata “saya ingin jadi baik, saya sudah melakukan hal-hal baik, saya juga tidak mengganggu orang! Tapi kenapa kok saya dijahati orang? Kenapa kok saya mendapat ujian yang sangat berat ini? Apa salah saya?”

Hidup, kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Terkadang kita ‘merasa baik’ namun kemudian ujiannya tidak kira-kira. Kadang kita melihat orang lain ‘buruk’ ternyata mendapat nikmat yang tiada terkira. Nampaknya sangat berbeda. Namun kita tidak tahu masa depan. Bahkan satu menit dari sekarangpun kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Allah berkehendak menentukan apa yang akan terjadi pada hambaNya.

Membaca tulisan motivasi itu gampang. Menonton video motivasi juga gampang. Namun ketika ujiannya datang, menerapkannya pada diri sendiri itu seringnya susah setengah mati.
Hidup itu tidaklah mudah. Tidak lantas menjadi orang baik atau merasa orang baik kemudian berharap semua orang akan baik pada kita dan kita akan mendapatkan banyak kebaikan karenanya.

Belum tentu.

Dunia ini berisi beragam manusia. Dan setiap manusia akan diuji dengan beragam jenis ujian yang akan datang kepadanya dengan tiba-tiba.

Kitalah yang menentukan ingin bagaimana dan ingin jadi apa.

Dalam hidup, berdasarkan yang saya yakini, terdapat waktu-waktu mustajab dalam berdoa. Dengan kata lain, ada waktu-waktu mustajab dimana doa menjadi memiliki prosentase terbesar untuk dikabulkan. Untuk itu, carilah momen pada waktu-waktu mustajab dimana doa kita berpeluang besar untuk dikabulkan.

Misalnya, jika seseorang merasa dijahati, maka segeralah mohon kepada Allah SWT agar diberikan banyak-banyak kebaikan, kecerdasan, ketenangan hati, rezeki, keluasan pikiran, dan sebagainya yang baik-baik. Alih-alih berdoa untuk mengumpat orang lain atau penyebab masalahnya. Sebab dizholiminya seseorang sesungguhnya sedang membuka pintu mustajab doanya.

Misalnya juga, ketika seseorang diuji dengan sakit, maka segeralah mohon kepada yang diatas agar diberikan banyak kebaikan untuk dirinya. Alih-alih berdoa untuk menyesali diri, menyalahkan orang lain atau peristiwa atau kejadian apapun yang menyebabnya dirinya jadi sakit. Sebab sakitnya seseorang, bisa saja itu merupakan kondisi dimana sedang dibukakan pintu mustajab bagi doanya.

Sakitnya, bisa jadi sebab lahirnya taubat. Sakitnya, bisa jadi sebab lahirnya ikhlas. Sakitnya, bisa jadi sebab lahirnya diam, merenung, dan kemudian berdzikir. Sakitnya, bisa jadi sebab lahirnya banyak kebaikan lain yang nyaris tidak bisa dilakukan saat sehat.

Bagi yang sehat, 2 jam bisa berlalu tiada arti. Sedangkan bagi yang sakit, yang hanya bisa berbaring di tempat tidur, 2 jam bisa dipakai untuk melakukan banyak kebaikan. Maka 2 jam waktu sakitnya jauh lebih baik dibandingkan 2 jam waktu sehatnya orang lain.

Harus disadari benar, belum tentu kita bisa berada pada waktu-waktu mustajab berdoa (1/3 malam, saat hujan, saat sujud, dll dll). Dan belum tentu juga doanya dikabulkan. Di waktu-waktu mustajab saja belum tentu dikabulkan, apalagi bukan pada waktu-waktu mustajab.

Maka, ketika seseorang dijahati itu artinya orang itu sudah masuk pada waktu-waktu mustajab dimana doanya berpeluang besar dikabulkan. Juga ketika seseorang sakit maka artinya ia sudah masuk pada waktu-waktu mustajab untuk doanya berpeluang besar dikabulkan.

Ambil. Raih. Jangan mau kehilangan momen seperti itu.

Jika seseorang marah dan emosi, apapun penyebabnya, meskipun orang itu berhak meluapkan segala emosinya, maka dia sudah kehilangan momen mustajab dimana doanya berpeluang besar untuk dikabulkan.

Ini adalah pilihan.

Pilihan berdasarkan pengetahuan dan tingkat kesadaran seseorang.

Ketika sesuatu terjadi pada diri kita, maka yakinlah bahwa pelajaran hidup sedang berlangsung. Tangkaplah maknanya, redam emosinya, dan manfaatkan waktu mustajabnya.

Seperti halnya kisah pada gambar dibawah ini dimana seorang kakek berkata kepada cucunya, “nak, ada pertarungan antara dua serigala didalam diri kita semua.”

“Satu serigala jahat yakni kemarahan, cemburu, serakah, kebencian, rendah diri, kebohongan, dan ego. Sedangkan satunya adalah serigala baik yakni kebahagiaan, kedamaian, cinta, harapan, kerendahan hati, kebaikan, empati, dan kebenaran.”

Cucunya bertanya, “kakek, serigala mana yang akan menang?”

Sang kakek menjawab, “yang kamu beri makan, nak…”

Mudah-mudahan bermanfaat.

Jagalah selalu kesehatan Anda dan orang-orang yang Anda sayangi.

Salam hangat,
MG

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →