Strategi Perbaikan Mata Minus, Plus, dan Silindris

STRATEGI PERBAIKAN MATA MINUS, PLUS, SILINDRIS

Bagian 1 – Mata Minus

Oleh: Mas Gunggung

_________

Tulisan saya kali ini akan menjelaskan bagaimana pendekatan olah napas dapat dipakai untuk melakukan perbaikan pada gangguan kesehatan mata yang berhubungan dengan penglihatan diantaranya adalah mata Minus (Miopia), Plus, dan Silindris (astigmatisme). Bagian pertama akan mencoba mengurai mengenai Mata Minus. Adapun mata Plus dan Silindris (astigmatisme) akan ditulis berikutnya secara bertahap.

Gambaran umum mata normal adalah, lensa mata dan kornea membiaskan cahaya yang masuk sehingga bayangan objek difokuskan tepat di retina. Sinar yang direfleksikan dari sebuah objek masuk ke mata melalui kornea, kemudian difokuskan oleh lensa mata ke retina.

Sedangkan pada mata minus (Miopia), cahaya yang masuk tidak fokus di retina, namun jauh di depannya. Hal ini dapat disebabkan oleh karena kornea terlalu cembung atau panjang bola mata yang terlalu besar. Pada mata minus, pupil cenderung relatif lebih besar. Apabila bukan keturunan, mata minus bisa diakibatkan karena aktivitas dekat terlalu lama pada membaca atau terlalu lama bekerja dengan komputer/smartphone/gadget.

Selain itu, terdapat beberapa keadaan yang ditengarai bisa menjadi penyebab timbulnya rabun jauh, seperti alergi, gangguan endokrin, kekurangan makanan, dan kekurangan zat kimia (kalsium, vitamin). Terdapat juga teori lain yang menyatakan bahwa seiring bertambahnya tinggi badan seseorang, maka ukuran rongga bola mata juga ikut memanjang, lalu bola mata akan menyesuaikan diri untuk memanjang, sehingga fokus cahaya terjadi di depan retina, bukan dipermukaan retina.

Gejala seseorang menderita miopia yakni sulit membaca huruf yang jauh. Misalnya, kesulitan membaca nama jalan jika dilihat dari dalam mobil, atau kesulitan melihat objek yang jauh dengan jelas. Selain itu, kebiasaan ‘menyipitkan’ mata untuk melihat objek jauh agar tampak lebih jelas juga bisa menjadi tanda adanya rabun jauh.

Bila seseorang mengalami mata minus, maka penyakit ini akan cenderung terus bertambah terutama jika ia masih berada pada masa pertumbuhan. Seiring dengan bertambahnya tinggi badan, maka minus juga akan bertambah dikarenakan sumbu bola mata yang ikut bertambah panjang.

Berdasarkan pemahaman umum, mata minus tidak bisa dicegah baik dengan terapi ataupun obat obatan kecuali jika kita melakukan operasi lasik. Yang dapat dilakukan hanyalah menjaga kesehatan mata agar minus tidak bertambah cepat dengan memberikan kacamata atau lensa kontak sesuai ukuran serta mengurangi aktivitas membaca terlalu dekat dan terlalu lama bekerja di depan komputer. Pada umumnya mata minus akan berhenti bertambah saat mendekati usia 30-an dan akan cenderung turun di usia 40-an.

Beberapa metode yang dikenal cukup bisa digunakan untuk mengatasi rabun jauh diantaranya seperti bedah refraktif, laser, lasik, orthokeratology, dan lensa implan. Masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya.

Alternatif teknik yang dapat dipakai untuk melakukan perbaikan mata diantaranya menghangatkan mata dengan telapak tangan yang telah digosokkan satu sama lain, mengerakkan bola mata ke beberapa arah, melihat benda dengan fokus pendek sepanjang lengan (dapat menjadikan ujung jari sebagai pusat fokus), dan melihat jauh dengan santai dan rileks. Juga termasuk pemijatan pada ujung-ujung jari kaki menggunakan titik akupuntur.

Meski demikian, ada pendekatan lain melalui olah napas untuk melakukan perbaikan mata. Caranya adalah dengan mengatur syaraf otonom untuk dapat masuk pada mode Parasimpatik dan melakukan sesuatu disana.

Penderita mata minus disarankan menggunakan kacamata. Cara kerja kacamata bagi penderita kelainan mata yaitu untuk menambah atau mengurangi kekuatan fokus pada lensa mata. Mata minus dapat ditolong dengan menggunakan kacamata berlensa cekung (-) yang bersifat mengumpulkan cahaya. Dengan demikian, bayangan yang jatuh di depan retina dapat diteruskan oleh lensa cekung sehingga dapat jatuh tepat di retina.

Sekarang mari masuk pada gambaran teknis.

Proses melihat sangatlah kompleks namun dapat diurai. Dimulai dari memahami bagaimana cara mengontrol banyaknya cahaya yang masuk ke mata. Iris dan Pupil adalah yang mengontrol banyaknya cahaya yang masuk ke mata. Pupil, dapat dipahami dengan analogi smartphone yakni bagian kamera yang bertugas untuk mengatur cahaya. Bila perlu banyak cahaya, pupil akan bertambah besar. Bila cahaya bertambah terang, pupil akan mengecil. Sederhananya, pupil adalah bukaan mata dan iris adalah diafragma yang mengontrol ukuran bukaan.

Secara fungsi mata, Iris (selaput pelangi) merupakan ‘struktur kontraktil’ yang artinya ia akan berkontraksi untuk mempengaruhi keseluruhan struktur Pupil. Hal ini terjadi karena Iris terdiri dari otot yang melingkupi seluruh Pupil. Cahaya akan masuk ke mata melalui Pupil, dan Iris akan mengatur cahaya yang masuk dengan mengkondisikan ukuran dari Pupil. Ia akan berkontraksi terus menerus untuk mengatur ‘bukaan’ cahaya yang masuk secara dinamis. Kondisi ini disebut dengan istilah ‘Puppilary Light Reflex’ dan merupakan salah satu test penting pada fungsi Brainstem.

Iris terdiri dari dua kelompok otot yakni Sphincter Pupillae dan Dilator Pupillae.

Sphincter Pupillae, merupakan kelompok otot berbentuk bundar. Dipersarafi oleh Syaraf Parasimpatik pada receptor ‘Muscarinic Acetylcholine (M3)’ yang berasal dari ‘Edinger-Westphal Nucleus’. Ia akan melewati Syaraf Cranial III (Oculomotor). Ketika ia kontraksi, maka Iris akan mengecilkan ukuran Pupil.

Dilator Pupillae, yakni kelompok otot berbentuk radial (melingkar). Dipersarafi oleh Syaraf Simpatik. Saat ia mengalami kontraksi maka Pupil akan melebar.

Pada mata juga terdapat otot yang disebut dengan Ciliaris yang berfungsi mengontrol bentuk dari lensa. Sama seperti Sphincter Pupillae, Ciliaris juga dipersyarafi oleh Syaraf Parasimpatik yang menggunakan jalur Syaraf Cranial III (Oculomotor) dan berujung pada ‘Edinger-Wesphal Nucleus’. Pengontrolan bentuk dari lensa disebut dengan daya akomodasi. Daya ini terjadi ketika otot Ciliary berkontraksi kuat maka Lensa akan menjadi bentuk Convex dan menyebabkan mata dapat melihat fokus benda jarak dekat dengan lebih baik. Sedangkan ketika otot ini berkontraksi lemah maka Lensa akan menjadi lebih datar (Flat) dan menyebabkan mata dapat melihat fokus benda jarak jauh dengan lebih baik.

Sekarang, perhatikan bagaimana bukaan mata sangat terpengaruh pada Iris dan otot Ciliary dimana keduanya dipengaruhi oleh aktivitas syaraf Otonom khususnya jalur Parasimpatik melalui Syaraf Cranial III (Oculomotor). Artinya, pengaturan kondisi syaraf Parasimpatik secara tepat akan dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada Pupil, dan bentuk Lensa.

Dampaknya jelas, fokus cahaya yang diterima retina dapat diatur menjadi lebih baik. Sebagaimana fungsi dari kacamata diatas adalah untuk menambah atau mengurangi kekuatan fokus pada Lensa. Ini berarti bahwa bentuk Lensa menjadi cenderung berubah (menjadi lebih Convex atau Flat) ketika pendekatan solusi berbasis kacamata dipakai akibat dari pengaturan cahaya yang masuk.

Oleh karena perubahan Lensa menjadi lebih Convex (cembung) atau lebih Flat (datar) dipengaruhi oleh otot Ciliary, dimana otot ini dipengaruhi oleh Syaraf Parasimpatik, maka latihan olah napas yang menghasilkan dominasi Syaraf Parasimpatik dapat menjadi salah satu alternatif melakukan perbaikan dari dalam.

(bersambung)

Referensi:

[1]. Rabun Jauh – Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan. (https://doktersehat.com/miopia-rabun-jauh-atau-mata-minus/)

[2]. Pupil. Wikipedia. (https://en.wikipedia.org/wiki/Pupil)

[3]. Iris sphincter muscle. Wikipedia. (https://en.wikipedia.org/wiki/Iris_sphincter_muscle)

[4]. Ciliary body. Wikipedia. (https://en.wikipedia.org/wiki/Ciliary_body)

[5]. 4 Yoga Exercises for Eye Strain. Claudia Cummins. (https://yogainternational.com/…/4-yoga-exercises-for-eye-st…)

[6]. CARA KERJA KACAMATA TERHADAP KELAINAN MATA. (https://www.academia.edu/…/CARA_KERJA_KACAMATA_TERHADAP_KEL…)

[7]. The Science Behind Myopia. Brittany J. Carr and William K. Stell. (https://webvision.med.utah.edu/…/the-science-behind-myopia…/)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →