Resonansi HF-DELTA

RESONANSI HF-DELTA

Oleh: Mas Gunggung


Siang ini selesai mendemonstrasikan bagaimana suatu aktivitas latihan berpengaruh terhadap sistem syaraf otonom menggunakan teori HRV (Heart Rate Variability) dan Brainwave (Gelombang Otak) kepada beberapa teman dokter jantung dan spesialis jantung.

Disepakati, bahwa menurut sains dan medis terdapat beberapa kategori gelombang otak yang terdiri dari Alpha, Beta, Delta, Theta, dan Gamma. Gelombang otak yang berperan dalam proses penyembuhan adalah Delta. Beberapa ilmuwan mengkategorikan dengan sedikit perbedaan diantaranya sebagai berikut:

  • Delta, frekwensi 0.5-1.5 Hz (Ktonas, Fagioli & Salzarulo, 1995)
  • Delta, frekwensi 0.75-4.50 Hz (Ferri, Cosentino, et al. 2001)
  • Delta, frekwensi 0.4-3.6 Hz (Bonanni, Di Coscio, et al. 2012)
  • Delta, frekwensi 0.1-4 Hz (Ken, Acharya, et al. 2017)
  • Delta, frekwensi 0-4 Hz (Roohi-Azizi, Azimi, et al. 2017)

Disepakati bersama bahwa ketika kondisi gelombang otak masuk pada ‘Deep Sleep’ itu artinya sel-sel tubuh sedang melakukan proses perbaikan, penyembuhan, bahkan regenerasi. Dan fase ‘Deep Sleep’ ini adalah fase gelombang Delta.

Pada banyak tulisan saya sebelum ini membahas mengenai kimiawi darah khususnya metabolisme Glukosa. Hal ini dikarenakan sumber energi utama tubuh adalah Glukosa. Namun tidak boleh berlebihan. Beberapa strategi untuk menurunkan Glukosa diantaranya Puasa, Olahraga, atau Diet tertentu seperti Ketogenik.

Prinsip dasar yang dipakai pada perbaikan via nutrisi dalam mengubah kimiawi darah selalu sama yakni pengurangan Glukosa, menjaga tetap rendah namun tanpa gejala klinis. Hipoglikemi tanpa gejala klinis. Ini seperti yang dilakukan oleh puasa, atau Ketogenik.

Pada riset yang dilakukan ilmuwan saat meneliti gelombang otak apa yang keluar saat seseorang menjalani Ketogenik ditemukan bahwa gelombang otak Delta adalah yang paling dominan (Afaghi, O’Connor & Chow, 2008).

Jadi, dapat disimpulkan sementara ini bahwa kondisi penurunan Glukosa dari penelitian para ahli erat kaitannya dengan perubahan gelombang otak menuju dominan Delta. Dan ini adalah gelombang yang disepakati pada proses ‘Deep Sleep’ untuk menghasilkan perbaikan, penyembuhan, dan regenerasi sel.

Jadi, cukup jelas dan bisa diterima bahwa mereka yang sedang sakit mengalami penurunan kekuatan frekwensi gelombang pada selnya. Selain itu, pengobatan dan penyembuhan berbasis frekwensi gelombang juga sudah cukup banyak memiliki bukti klinis (Ivey et al, 2015).

Clear ya sampai sini.

Kemudian, tubuh memiliki Syaraf Otonom yang terdiri dari cabang Syaraf Simpatik dan Parasimpatik. Keduanya juga memiliki frekwensi tersendiri yang apabila dilihat menggunakan kaidah Heart Rate Variability (HRV) pada jantung akan memiliki frekwensi sebagai berikut:

  • Very Low Frequency (VLF), frekwensi <0.0033 Hz
  • Ultra Low Frequency (ULF), frekwensi 0.0033 – 0.04 Hz
  • Low Frequency (LF), frekwensi 0.04-0.15 Hz
  • High Frequency (HF), frekwensi 0.15-0.4/0.5 Hz

Hubungan antara frekwensi diatas terhadap syaraf otonom dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Low Frequency (LF), memiliki kecenderungan terhadap aktivasi Syaraf Simpatik
  • High Frequency (HF), aktivasi Syaraf Parasimpatik

Syaraf Parasimpatik disepakati merupakan syaraf yang berperan penting dalam proses perbaikan, penyembuhan, dan regenerasi sel. Aktivasi syaraf ini terjadi ketika otak masuk pada gelombang ‘Deep Sleep’.

Maka, kurang tidur itu sangat berpengaruh kepada aktivitas syaraf otonom. Mereka yang kecenderungan kurang tidur akan memiliki aktivitas syaraf parasimpatik yang lebih rendah (Cecilia, Ana, et al. 2016).

Jika dilihat dengan seksama yang berdasarkan kelompok data frekwensi antara Otak dan Syaraf Otonom dapat dilihat kalau ada satu irisan (diagram Vena) yang memungkinkan frekwensi ini dapat saling resonansi. Dimanakah itu? Yakni antara High Frequency (HF) dan Delta.

  • High Frequency (HF), frekwensi 0.15-0.4/0.5 Hz
  • Delta, frekwensi 0.1-4 Hz

Maka, apabila bisa didapati frekwensi gelombang >0.1 Hz dan dibawah 4 Hz itu artinya Anda sistem syaraf Anda sedang berada pada gelombang penyembuhan. Terjadilah resonansi disini. Resonansi antara Jantung dan Otak. Oleh karena kedua organ ini memiliki peran sangat penting pada tubuh manusia dan mampu mempengaruhi yang lainnya maka resonansi yang terjadi sini memungkin Anda melakukan APA SAJA pada tubuh. Dari mulai menghilangkan virus, hingga menghilangkan kanker.

Pada demonstrasi yang saya lakukan siang ini kepada orang yang sama sekali belum pernah belajar olah napas dapat dilihat dari gambar-gambar yang saya sertakan. Saya akan jelaskan sebagai berikut:

  1. Gambar 1, merupakan latihan dasar dimana HF bersinggungan pada Delta di 0.5 Hz sebentar saja lalu berhenti.
  2. Gambar 2, ketika latihan dikoreksi terlihat HF bersinggungan pada Delta di 0.5 Hz lebih lama.
  3. Gambar 3, jendela frekwensi pada software analisa (Kubios HRV) diubah untuk melihat sejauh mana latihannya masuk pada Delta. Terlihat ketika diubah menjadi 0.6 Hz masih ada ruang di kanan. Artinya, latihan ini menghasilkan gelombang >0.5 Hz dengan cukup kuat. Asumsinya, terjadi resonansi pada Delta disini.
  4. Gambar 4, ketika jendela frekwensi diubah pada 0.7 Hz terlihat masih terdapat data. Artinya latihannya mampu mencapai 0.7 Hz.
  5. Gambar 5, ketika jendela frekwensi diubah pada 0.8 Hz terlihat masih mampu mencapai kesana namun terhenti. Artinya, latihannya hanya mampu mencapai 0.8 Hz.
  6. Gambar 6, peserta saya berikan latihan khusus untuk meningkatkan gelombang HF lebih tinggi lagi. Terlihat ketika jendela frekwensi diubah pada 1 Hz grafik terhenti. Artinya, latihan khusus ini mampu melahirkan gelombang pada range HF antara 0.15 Hz hingga 1 Hz.

Apa maksud gambar-gambar tersebut diatas?

Diingat saja kalau Syaraf Parasimpatik memiliki frekwensi yang beririsan dengan gelombang otak Delta. Keduanya merupakan jenis yang menyebabkan perbaikan, penyembuhan, dan regenerasi. Semakin lama Anda berada pada keduanya, semakin sering, atau semakin kuat, itu mengindikasikan tubuh Anda sedang berada pada mode perbaikan, penyembuhan, dan regenerasi. Seperti itu kesimpulannya.

Pada Gambar 1, frekwensi bersinggungan di Delta hanya pada 0.5 Hz kemudian terhenti. Resonansinya sempat terjadi lalu berhenti. Sedangkan pada gambar 2-5 terjadi resonansi dengan Delta lebih kuat hingga 0.8 Hz kemudian terhenti. Akhirnya, gambar 6, setelah latihan dikoreksi terjadi penguatan frekwensi yang dibuktikan dari kemampuan mencapai 1 Hz. Ini artinya pada Gambar 6 terjadi resonansi lebih lama dan lebih kuat pada gelombang Delta.

Jika resonansi terjadi lebih lama dan lebih kuat itu artinya terjadi proses perbaikan, penyembuhan, dan regenerasi sel lebih besar dan lebih lama pada tubuh.

Akhirnya, setelah saya jelaskan seperti itu kami bersepakat untuk memulai melakukan terapi olah napas bagi pasien-pasien jantung para dokter ini.

Mudah-mudahan dapat dipahami dan bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Referensi:

[1]. Changes of the brain’s bioelectrical activity in cognition, consciousness, and some mental disorders. Mahtab Roohi-Azizi, Leila Azimi, Soomaayeh Heysieattalab, and Meysam Aamidfar. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5804435/)

[2]. A revised glossary of terms most commonly used by clinical electroencephalographers and updated proposal for the report format of the EEG findings. Revision 2017. Nick Kane, Jayant Acharya, Sandor Beniczky, Luis Caboclo, Simon Finnigan, Peter W. Kaplan, Hiroshi Shibasaki, Ronit Pressler, and Michel J.A.M. van Putten. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6123891/)

[3]. Delta (0.5-1.5 Hz) and sigma (11.5-15.5 Hz) EEG power dynamics throughout quiet sleep in infants. Ktonas PY, Fagioli I, Salzarulo P. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7649010)

[4]. Relationship between Delta, Sigma, Beta, and Gamma EEG bands at REM sleep onset and REM sleep end. Ferri R, Cosentino FI, Elia M, Musumeci SA, Marinig R, Bergonzi P. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11682342)

[5]. Differences in EEG delta frequency characteristics and patterns in slow-wave sleep between dementia patients and controls: a pilot study. Bonanni E, Di Coscio E, Maestri M, Carnicelli L, Tsekou H, Economou NT, Paparrigopoulos T, Bonakis A, Papageorgiou SG, Vassilopoulos D, Soldatos CR, Murri L, Ktonas PY. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22353985)

[6]. Acute effects of the very low carbohydrate diet on sleep indices. Afaghi A, O’Connor H, Chow CM. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18681982)

[7]. Sleep Duration and Quality in Relation to Autonomic Nervous System Measures: The Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis (MESA). Cecilia Castro-Diehl, MD, DrPH, Ana V. Diez Roux, MD, PhD, Susan Redline, MD, MPH, Teresa Seeman, PhD, Paula McKinley, PhD, Richard Sloan, PhD, and Steven Shea, MD, MS. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5070747/)

[8]. Improving cancer therapies by targeting the physical and chemical hallmarks of the tumor microenvironment. Jill W. Ivey, Mohammad Bonakdar, Akanksha Kanitkar, Rafael V. Davalos, and Scott S. Verbridge. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4919249/)

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →