Resonance Frequency Breathing

RESONANCE FREQUENCY BREATHING

Oleh: Mas Gunggung


Terdapat banyak sekali jenis teknik pernapasan di dunia ini. Masing-masing dengan nama-nama yang khas. Meski demikian, sebagian besar dapat dipetakan menjadi beberapa kategori. Salah satu yang ingin saya bahas kali ini adalah mengenai Resonance Frequency Breathing. Kita singkat saja dengan RF Breathing.

Namun sebelum memahami lebih lanjut, saya jelaskan dulu apa yang disebut dengan Respiratory Sinus Arrhythmia (RSA). RSA merupakan suatu kondisi dimana detak jantung menjadi sinkron dengan pernapasan yang ditunjukkan dengan memendeknya jarak R-R interval saat tarik napas dan memanjangnya jarak R-R interval saat buang napas (Yasuma & Hayano, 2004). Ia merupakan fenomena fisiologis yang kalau pemahamannya disederhanakan sebagai kondisi dimana detak jantung menjadi lebih cepat ketika tarik napas dan menjadi lebih lambat ketika buang napas.

Dari pemahaman RSA ini kemudian dapat kita golongkan menjadi apa yang disebut dengan pola napas Simetris dan Asimestris.

Pola napas Simetris biasa disebut dengan Frequency Breathing yakni kondisi dimana antara Tarik Napas dan Buang Napas berada pada detik yang sama dengan tanpa jeda antara keduanya. Misalnya, 3:3, 5:5, 10:10, 15:15, dan seterusnya. Pola napas jenis ini akan membentuk Respiration Rate atau Laju Pernapasan tertentu. Normalnya, seseorang bernapas antara 12-25 kali per menit. Inilah Laju Pernapasan standar. Apabila seseorang menggunakan Frequency Breathing dengan pola:

  • 3:3, artinya Laju Pernapasan 60:(3+3) = 10x per menit
  • 5:5, artinya Laju Pernapasan 60:(5+5) = 6x per menit
  • 10:10, artinya Laju Pernapasan 60:(10+10) = 3x per menit
  • 15:15, artinya Laju Pernapasan 60:(15+15) = 2x per menit
  • 30:30, artinya Laju Pernapasan 60:(30+30) = 1x per menit

Frequency Breathing ini juga dapat menyertakan kondisi Tahan Napas dengan detik yang sama dengan Tarik dan Buangnya. Apabila hanya menggunakan 1x Tahan Napas yang diletakkan entah setelah Tarik atau setelah Buang maka sering disebut dengan Napas Segitiga. Misalnya, 5:5:5, 10:10:10, 15:15:15, dan seterusnya. Sedangkan apabila terdapat 2x Tahan Napas yang diletakkan setelah Tarik Napas dan setelah Buang Napas maka sering disebut dengan Napas Segiempat. Misalnya, 5:5:5:5, 10:10:10:10, dan seterusnya.

Saya ambil contoh, pada pola napas Segitiga akan menghasilkan laju pernapasan sebagai berikut:

  • 5:5:5, artinya Laju Pernapasan 60:(5+5+5) = 4x per menit
  • 10:10:10, artinya Laju Pernapasan 60:(10+10+10) = 2x per menit
  • 15:15:15, artinya Laju Pernapasan 60:(15+15+15) = 1.3x per menit
  • 30:30:30, artinya Laju Pernapasan 60:(30+30+30) = 0.6x per menit

Dalam konversi antara siklus per menit dengan ukuran satuan frekwensi (Hertz) didapati 60 beats per minute (BPM) adalah 1 Hz. Maka, hasil latihan napas pada berbagai pola diatas akan menjadi sebagai berikut:

  • 3:3 ~ 10x per menit => 0.17 Hz
  • 5:5 ~ 6x per menit => 0.1 Hz
  • 10:10 ~ 3x per menit => 0.05 Hz
  • 15:15 ~ 2x per menit => 0.03 Hz
  • 30:30 ~ 1x per menit => 0.02 Hz
  • 5:5:5 ~ 4x per menit => 0.07 Hz
  • 10:10:10 ~ 2x per menit => 0.03 Hz
  • 15:15:15 ~ 1.3x per menit => 0.022 Hz
  • 30:30:30 ~ 0.6x per menit => 0.01 Hz
  • 15:15:15:15 ~ 1x per menit => 0.02 Hz

Jadi terlihat disana bahwa makin rendah Laju Pernapasan akan menghasilkan frekwensi yang makin kecil.

Kenapa olah napas dapat mempengaruhi jantung? Mari kita lihat frekwensi yang dimunculkan pada jantung berdasarkan analisa Frequency-Domain-Analysis sebagai berikut:

  • Very Low Frequency, <0.0033 Hz
  • Ultra Low Frequency, 0.0033 – 0.04 Hz
  • Low Frequency, 0.04 – 0.15 Hz
  • High Frequency, 0.15 – 0.4/0.5 Hz

Bagian dari masing-masing spektrum daya (LF, HF, dan VLF) kemudian dinilai untuk memperkirakan tingkat stres dan proses pemulihan dalam tubuh. Power, didefinisikan sebagai sinyal energi yang ditemukan di dalam sebuah pita frekwensi. Jumlah semua power pada spektrum (disebut sebagai Total Power) memperkirakan seberapa banyak power yang mampu dihasilkan oleh tubuh. Analisa power pada parameter HF, LF, dan VLF ini secara simultan dapat memberikan gambaran kepada dokter atau pelatih mengenai banyak sekali kondisi tubuh seperti misalnya seberapa seseorang mampu menerima tekanan stres yang berpengaruh pada tubuhnya.

Jika diserderhanakan, LF menunjukkan aktivitas Syaraf Simpatik dan Parasimpatik dengan kecenderungan pada Syaraf Simpatik sedangkan HF menunjukkan aktivitas Syaraf Parasimpatik. Jadi jika Anda melihat ada nilai LF yang tinggi maka kecenderungannya Syaraf Simpatik di tubuh orang itu dominan dibanding Parasimpatiknya. Demikian juga sebaliknya, jika ada nilai HF yang lebih tinggi dibanding LF itu artinya Syaraf Parasimpatik di badan orang itu lebih dominan dibanding Syaraf Simpatiknya.

Frekwensi-frekwensi ini dapat mengalami perubahan seiring dengan dilakukan perubahan pada sistem pernapasan.

Jika diperhatikan, dengan melihat angka-angka diatas mestinya kita mulai paham bagaimana sebuah pola olah napas dapat mempengaruhi syaraf otonom.

Bagaimana caranya?

Yakni dengan mengatur pernapasan sehingga membentuk ritme dengan frekwensi tertentu.

Sama seperti Anda menyalakan radio. Frekwensi yang Anda pilih menentukan apakah siarannya berada pada gelombang AM atau FM. Dan ini tidak bisa tertukar toh? Kalau Anda memilih siaran radio yang berasal dari gelombang FM ya pasti Anda akan dapatnya itu. Demikian juga sebaliknya. Kecuali radio Anda rusak. Selama masih normal, maka antar gelombang ini tidak saling berinterferensi.

Yang perlu Anda lakukan adalah mencapai suatu kondisi dimana Anda memasuki frekwensi gelombang tertentu. Apabila ini bisa diulang-ulang dengan hasil yang sama artinya Anda sudah mampu memiliki teknik yang ajeg dan tetap tanpa spekulasi.

Tujuan orang berlatih Frequency Breathing atau pola napas dengan detik yang sama ini adalah untuk melakukan sinkronisasi pola napas dengan frekwensi jantung sehingga seluruh bagian tubuh lainnya mengikuti. Istilahnya, latihan untuk membentuk terjadinya resonansi.

Resonansi yang diharapkan adalah masuknya pada wilayah frekwensi High-Frequency (HF) yang merupakan wilayah Syaraf Parasimpatik. Ingat, syaraf jenis ini adalah yang dominan bertanggung jawab dalam proses recovery atau penyembuhan.

Untuk dapat mengetahui benar atau tidak pola latihan olah napas seseorang berhasil memasuki wilayah Syaraf Simpatik atau Parasimpatik diperlukan alat ukur dan analisa.

Saya memilih beberapa alat dan software ukur serta software analisa yang memang disebut beberapa dalam jurnal. Beberapa owner aplikasi ini malah memiliki patent dalam membentuk algoritma pengukuran HRV. Sehingga ketika informasi ini disajikan kepada medis minimal memiliki nilai data. Beberapa alat monitor, software ukur, dan software analisa itu sebagai berikut:

A. Alat Ukur

  1. Kyto
  2. Wahoo TickerX
  3. Garmin
  4. Polar
  5. Suntoo

B. Software Ukur

  1. EliteHRV
  2. Welltory
  3. ithlete

C. Software Analisa

  1. Kubios HRV

Jadi, dengan menggunakan alat-alat tersebut yang mampu mengumpulkan nilai HRV dan nilai ini kemudian dapat dimasukkan ke dalam software analisa seperti Kubios HRV, berikutnya dapat dicetak dalam bentuk pola EEG untuk dibaca oleh dokter spesialis jantung.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

REFERENSI:
[1]. Respiratory sinus arrhythmia: why does the heartbeat synchronize with respiratory rhythm? Yasuma F, Hayano J. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14769752)

[2]. Heartbeat synchronizes with respiratory rhythm only under specific circumstances.
Vaschillo E, Vaschillo B, Lehrer P. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15486413)

[3]. The effects of specific respiratory rates on heart rate and heart rate variability.
Song HS1, Lehrer PM. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12737093)

[4]. Slow Breathing and Hypoxic Challenge: Cardiorespiratory Consequences and Their Central Neural Substrates. Hugo D. Critchley, Alessia Nicotra, Patrizia A. Chiesa, Yoko Nagai, Marcus A. Gray, Ludovico Minati, and Luciano Bernardi. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4431729/)

[5]. Breathing at a rate of 5.5 breaths per minute with equal inhalation-to-exhalation ratio increases heart rate variability. Lin IM, Tai LY, Fan SY. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24380741)

[6]. Transfer function analysis of the circulation: unique insights into cardiovascular regulation. Saul JP, Berger RD, Albrecht P, Stein SP, Chen MH, Cohen RJ. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1928405)

[7]. Heart rate variability biofeedback increases baroreflex gain and peak expiratory flow. Lehrer PM, Vaschillo E, Vaschillo B, Lu SE, Eckberg DL, Edelberg R, Shih WJ, Lin Y, Kuusela TA, Tahvanainen KU, Hamer RM. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14508023)

[8]. Kubios HRV–heart rate variability analysis software. Tarvainen MP, Niskanen JP, Lipponen JA, Ranta-Aho PO, Karjalainen PA. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24054542)

[9]. Heart rate variability: A new way to track well-being. Marcelo Campos, MD. (https://www.health.harvard.edu/blog/heart-rate-variability-new-way-track-well-2017112212789)

[10]. EliteHRV. (https://elitehrv.com/)

[11]. Welltory. (https://welltory.com/)

[12]. ithelete. (https://www.myithlete.com/hrv-scoring-system/)

[13]. ithelete patent. (http://patents.com/us-8666482.html)

[14]. Kubios. (https://www.kubios.com/)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →