Strategi Mengakses Syaraf Otonom – Bagian 3

STRATEGI MENGAKSES SYARAF OTONOM
METODE PERGESERAN SIMPATIK-PARASIMPATIKE-ENTERIK
(Bagian 3)

Oleh: Mas Gunggung


ADRENERGIC RECEPTOR

Pada Bagian 2 yang lalu saya menulis mengenai gambaran umum syaraf Simpatik dan Parasimpatik dimana Pre-ganglionic dan Post-ganglionic berinteraksi dengan melepaskan kimiawi yang khas yang disebut dengan Acetylcholine (disingkat: Ach) dan Epinephrine (EPI). Apabila kimiawi yang dilepaskan berjenis Ach maka jalurnya disebut dengan Cholinergic. Sedangkan apabila kimiawi yang dilepaskan berjenis Epinephrine maka jalurnya disebut dengan Adrenergic.

Bagian 2 dapat dilihat disini:
https://www.facebook.com/groups/KebugaranMP/permalink/2785174191524198/

Kali ini, saya akan bahas mengenai jalur Adrenergic.

Adrenergic Receptor, merupakan receptor yang sangat sensitif terhadap Adrenaline dan Noradrenaline. Adapun Adrenaline memiliki nama lain yakni Epinephrine (EPI) dan Noradrenaline memiliki nama lain yakni Norepinephrine (NE). Dan oleh karena EPI dan NE merupakan bagian dari hormon stres maka Adrenergic Receptor dapatlah dipahami sebagai receptor yang terpengaruh oleh hormon jenis ini.

Adrenergic Receptor terdiri dari 2 (dua) tipe yakni Alpha dan Beta. Masing-masingnya memiliki sub tipe sebagai berikut:
A. Alpha
Subtipe: Alpha-1 dan Alpha-2
B. Beta
Subtipe: Beta-1, Beta-2, dan Beta-3

Kenapa kita harus memperhatikan tipe dan sub tipe tersebut diatas?

Saya akan jelaskan alasannya.

Alasannya adalah meskipun masing-masing dari sub tipe ini sangat sensitif terhadap kimiawi spesifik bernama Epinephrine dan Norepinephrine namun pada level sinyal intraselular mereka unik dan berbeda satu sama lain.

Sebelum saya lanjutkan, saya sarankan Anda membaca tulisan saya di group ini mengenai “Second Messenger System” yang merupakan sinyal intraselular berjenis “Guanine-nucleotide-binding protein” atau biasa disingkat dengan “G-protein”. Tanpa mengetahui konsep G-protein, maka Adrenergic Receptor akan menyulitkan bagi Anda untuk dipahami. Namun jika Anda memahami konsep G-protein maka pemahaman Adrenergic dan Cholinergic menjadi relatif mudah untuk dimengerti. Silahkan membaca ulang mengenai pemahaman G-protein disini:

1) RECEPTOR PATHWAY (Bagian 1: Peptide dan Lipid)
https://www.facebook.com/groups/KebugaranMP/permalink/2478098568898430/

2) RECEPTOR PATHWAY (Bagian 2: Epinephrine dan Gs-protein)
https://www.facebook.com/groups/KebugaranMP/permalink/2600355303339422/

3) RECEPTOR PATHWAY (Bagian 3: Oxytocin dan Gq-protein)
https://www.facebook.com/groups/KebugaranMP/permalink/2602107823164170/

Nah, berdasarkan konsep ‘second messenger system’ tersebut diatas maka sub tipe Alpha dan Beta akan memiliki receptor dengan jenis sebagai berikut:

  1. Subtipe: Alpha-1
    Second Messenger System: Gq-protein
  2. Subtipe: Alpha-2
    Second Messenger System: Gi-protein
  3. Subtipe: Beta-1, Beta-2, dan Beta-3
    Second Messenger System: Gs-protein

Dengan memahami konsep “Second Messenger System” yakni GCPR atau “G-coupled-protein-receptor” inilah kemudian latihan olah napas menjadi relatif lebih mudah dipetakan dengan basis biologi molekuler. Hal ini dikarenakan perjalanan sinyal kimiawi dari syaraf Simpatik dan Parasimpatik menuju target organ dapat terlihat efeknya. Dengan memahami kimiawi apa yang keluar darisana maka kita bisa ‘mengolah’ kimiawi tersebut sedemikian rupa menggunakan pendekatan tradisional (olah gerak, olah pikir, dan olah rasa).

Saya ambil contoh, misalnya jika berbicara pada target organ pembuluh darah.

Pada target organ pembuluh darah, Adrenergic Receptor banyak sekali berada pada lokasi yang disebut dengan Tunika Media. Dimana itu letaknya Tunika Media? Begini, bayangkan sebuah ‘selang’ seakan-akan sebuah ‘pembuluh darah’. Lapisan yang Anda pegang terluar pada ‘selang’ disebut dengan Tunika Adventitia. Kemudian jika dilihat dari depan selang maka ketebalan selang yang tidak Anda pegang disebut dengan Tunika Media. Dan lapisan terdalam dari selang yang bersentuhan langsung dengan air disebut dengan Tunika Intima. Silahkan lihat gambar untuk lebih jelasnya.

Nah, pada area Tunika Media ini memiliki banyak sekali Adrenergic Receptor. Oleh karena itu, pembuluh darah menjadi sangat sensitif terhadap perubahan kimiawi Epineprhine dan Norepinephrine sehingga diameter pembuluh darah dapat langsung terkontrol akibat perubahan ini.

Oleh karena Epinephrine dan Norepinephrine ini merupakan jenis hormon stres maka jelaslah bahwa setiap adanya perubahan stres yang terjadi pada tubuh kita akan bereaksi langsung pada ukuran diameter pembuluh darah. Pada mereka yang mengalami stres tinggi, pembuluh darah akan dapat langsung menyempit. Bayangkan saja apabila penyempitan ini terjadi dan juga sekaligus Anda memiliki penggumpalan atau penyumbatan sehingga resikonya menjadi sangat berbahaya.

Berikutnya nanti akan saya jelaskan satu persatu mengenai target organ yang masuk pada sistem kulit, sistem otot, sistem perncernaan, sistem kardiovaskular, sistem reproduksi, dan sistem lain yang membentuk 11 sistem dalam tubuh manusia.

Pendekatan metode Pergeseran Simpatik-Parasimpatik-Enterik nantinya akan mampu mengkondisikan tubuh untuk melepaskan kimiawi yang dibutuhkan dan sekaligus mampu mengubah kimiawi pada target organ menjadi yang diinginkan dengan cara yang logis.

(bersambung)

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →