Strategi Mengakses Syaraf Otonom – Bagian 2

STRATEGI MENGAKSES SYARAF OTONOM
METODE PERGESERAN SIMPATIK-PARASIMPATIK-ENTERIK
(Bagian 2)

Oleh: Mas Gunggung

____________

GAMBARAN UMUM SIMPATIK-PARASIMPATIK

Sebelum masuk lebih dalam kepada sistem syaraf otonom (SSO) dengan segala cabangnya, saya akan jelaskan secara singkat terlebih dahulu mengenai Sistem Syaraf yang merupakan master system. Didalam sistem syaraf ada Central Nervous System (otak dan tulang belakang) dan Peripheral Nervous System (sensory dan motor).

Pada PNS (Peripheral Nervous System) di bagian Motor terdiri dari 2 (dua) bagian yakni Somatic dan Autonomic. Bagian Somatic dapat dipengaruhi secara bebas oleh diri kita, misalnya apabila kita ingin mengerakkan/mengkontraksikan otot bisep dan trisep secara sadar dan sengaja. Bagian Somatic ini sering diistilahkan dengan Voluntary. Sedangkan fungsi-fungsi lain seperti detak jantung, pencernaan, pemecahan lemak, umumnya tidak dapat kita atur secara sadar dan sengaja. Maka, semua kondisi tubuh yang terjadi secara otomatis tanpa melibatkan kesadaran dan ‘kesengajaan’ kita akan masuk pada bagian Autonomic atau sering disebut juga dengan Involuntary.

Bagian syaraf yang Autonomic ini disebut dengan Sistem Syaraf Otonom dan terdiri dari 3 (tiga) cabang sebagai berikut:
1. Syaraf Simpatik
2. Syaraf Parasimpatik
3. Syaraf Enterik

Khusus pada bagian Syaraf Enterik hanya akan saya jelaskan secara detail melalui seminar dan workshop karena ini spesifik dan terhubung dengan fisiologi Gastrointestinal yang sangat erat dengan konsep di banyak tradisi olah napas.

Baiklah, saya mulai dengan menjelaskan terlebih dahulu perbedaan karakteristik dari Sistem Syaraf Otonom dan Sistem Syaraf Somatic. Berikutnya nanti saya akan masuk lebih dalam pada khusus Sistem Syaraf Otonom.

Pada Sistem Syaraf Somatic terdiri satu syaraf motorik yang disebut dengan Alpha-Motor-Neuron yang berasal dari tulang belakang hingga ke sel tujuan atau ‘efector organ’. Salah satu contohnya adalah otot tulang rangka. Bagian tulang belakang yang secara spesifik memiliki ini adalah Anterior Grey Horn atau sering disebut Ventral Horn. Dari sanalah Alpha-Motor-Neuron banyak berasal. Dari syaraf motorik jenis ini, diujung dimana ia menuju dan melekat pada sel tujuan atau ‘efector orgran’ akan mengeluarkan kimiawi spesifik yang disebut dengan Acetylcholine (disingkat: Ach). Kimiawi ini ketika keluar maka ia akan melekat pada receptor pada sel tujuan atau ‘efector organ’. Receptor ini disebut dengan Receptor Nicotinic. Jika pada contoh ia melekat pada otot rangka, maka receptor target bernama Nicotinic-M-Receptor. Huruf ‘M’ singkatan dari ‘Muscular’.

Apa dan bagaimana konsep Receptor, silahkan Anda membaca tulisan saya disini dengan judul “RECEPTOR PATHWAY” agar lebih jelasnya.

Saya lanjutkan ya.

Jika pada Sistem Syaraf Somatic hanya terdiri dari satu syaraf motorik untuk dapat mempengaruhi sel tujuan atau ‘efector organ’ maka pada Sistem Syaraf Otonom terdiri dari 2 (dua) syaraf motorik agar dapat mempengaruhi sel tujuan atau ‘efector organ’. Kedua syaraf motorik pada Sistem Syaraf Otonom ini disebut dengan Pre-ganglionic dan Post-ganglionic. Apabila disederhanakan, Pre-ganglionic ini berasal keluar dari tulang belakang atau yang datang dari Brain-stem (batang otak). Dan Post-ganglionic ini umumnya menuju sel tujuan atau ‘efector organ’.

Segala sesuatu didesain tentu memiliki tujuan. Saya akan bahas singkat tujuan dari cabang Sistem Syaraf Otonom yang bernama Syaraf Simpatik. Sederhananya syaraf Simpatik bekerja berdasarkan kondisi yang disebut dengan mode ‘Fight or Flight or Fright’ (lawan, lari, takut). Cabang sistem ini didesain untuk menggunakan energi dan dominan bekerja pada situasi stres atau situasi takut.

Dimana kita bisa temukan Syaraf Simpatik ini pada tulang belakang?

Sebelum saya jelaskan lebih jauh, ada baiknya kita kenal dulu dengan tulang belakang. Pada tulang belakang umumnya dibagi menjadi 2 (dua) golongan besar yakni berdasarkan jumlah ruas tulang dan berdasarkan syaraf.

Apabila tulang belakang dilihat berdasarkan jumlah ruas tulang maka terdiri dari 5 (lima) jenis yakni: 
1. Cervical, terdiri dari 7 ruas dan dinamai dengan C1-C7
2. Thoraxical, terdiri dar 12 ruas dan dinamai dengan T1-T12
3. Lumbar, terdiri dar 5 ruas dan dinamai dengan L1-L5
4. Sacral, terdiri dari 5 ruas dan dinamai dengan S1-S5
5. Coccyx, terdiri dari 4 ruas yang tergabung menjadi satu

Maka, jumlah total ruas tulang belakang adalah 33 ruas.

Sedangkan apabila tulang belakang dilihat berdasarkan syaraf maka terdiri dari :
1. Cervical, terdiri dari 8 syaraf dan dinamai dengan C1-C8
2. Thoraxical, terdiri dar 12 syaraf dan dinamai dengan T1-T12
3. Lumbar, terdiri dar 5 syaraf dan dinamai dengan L1-L5
4. Sacral, terdiri dari 5 syaraf dan dinamai dengan S1-S5
5. Coccyx, terdiri dari 1 syaraf dan dinamai dengan Co

Maka, jumlah total syaraf pada tulang belakang adalah 31 syaraf. Inilah yang nanti kita pakai sebagai pedoman.

Baiklah, kita kembali kepada Sistem Syaraf Otonom.

Bagian-bagian spesifik pada tulang belakang kita yang berisi Syaraf Simpatik berlokasi mulai dari T1 sampai dengan L2. Hal ini disebut dengan istilah ‘Thoraco-Lumbar Outflow’. T1-L2 ini merupakan jenis Pre-ganglionic yang kemudian tersambung dengan Post-ganglionic menuju sel tujuan atau ‘efector organ’.

Berikutnya, bagian-bagian spesifik pada tulang belakang kita yang berisi Syaraf Parasimpatik memiliki area yang berbeda dengan Syaraf Simpatik. Lokasi Syaraf Parasimpatik ini ada di 2 (dua) lokasi yakni Brainstem (batang otak) dan Sacral. Pada Sacral terdiri dari S2, S3, dan S4 sedangkan pada Brainstem terdiri dari:
1. Cranial Nerves nomor III, disebut dengan syaraf Oculomotor (mata)
2. Cranial Nerves nomor VII, disebut dengan syaraf Facial (wajah)
3. Cranial Nerves nomor IX, disebut dengan syaraf Glossopharingeal
4. Cranial Nerves nomor X, disebut dengan syaraf Vagus

Oleh karena terpengaruh pada syaraf Cranial dan Sacral maka jalur Parasimpatik sering disebut dengan Cranio-Sacral-Outflow yang terdiri dari CN-III, CN-VII, CN-IX, CN-X, S2, S3, dan S4.

Tarik napas dulu. πŸ˜€

Sekarang, mari kita masuk pada penjelasan sedikit lebih detail mengenai Pre-ganglionic dan Post-ganglionic. Pre-ganglionic dapat dipahami secara sederhana adalah syaraf yang keluar dari tulang belakang atau Brainstem atau Sacral, sedangkan Post-ganglionic syaraf yang mengenai sel tujuan atau ‘efector organ’.

Nah, karakteristik Syaraf Simpatik itu terdiri dari Pre-ganglionic yang ‘pendek’ diikuti dengan Post-ganglionic yang ‘panjang’. Sedangkan karakteristik Syaraf Parasimpatik itu terdiri dari Pre-ganglionic yang ‘panjang’ diikuti dengan Post-ganglionic yang ‘pendek’.

Dengan kata lain, karakteristik Syaraf Parasimpatik itu ‘kebalikan’ dari Syaraf Simpatik. Ada alasan kenapa desain Syaraf Parasimpatik dirancang seperti itu. Yakni karena jenis syaraf ini akan ‘berkelana’ cukup jauh hingga ia dapat mencapai sangat-sangat dekat pada organ target bahkan beberapa benar-benar melekat pada target organnya.

Jika dilihat berdasarkan interaksi kimiawi yang dihasilkan antara Pre-ganglionic dan Post-ganglionic dengan receptor pada target organ, pada Syaraf Simpatik antara Pre-ganglionic dan Post-ganglionic akan melepaskan Acetylcholine (disingkat: Ach). Pre-ganglionic yang melepaskan Ach ini kemudian menstimulasi Post-ganglionic. Oleh karena itu, jalur pre-ganglionic pada Syaraf Simpatik disebut dengan jalur Cholinergic yang berarti jalur dimana Acetylcholine dihasilkan. Sedangkan Post-ganglionic yang berdekatan dengan target organ akan menghasilkan kimiawi yang berbeda yang disebut dengan Norepinephrine (NE). Oleh karena itu, jalur post-ganglionic pada Syaraf Simpatik disebut dengan jalur Adrenergic yang berarti jalur dimana Norepinephrine dihasilkan.

Jika Anda bingung mengenai Norepinephrine maka silahkan membaca tulisan saya disini mengenai Hormon Stress. Hormon stress yang saya bahas terdiri dari Epinephrine (nama lain: Adrenaline), Norepinephrine (nama lain: Noradrenaline), Cortisol, dan Oxytocin.

Saya lanjutkan ya. πŸ™‚

Pada Syaraf Parasimpatik, jika dilihat berdasarkan interaksi kimiawi yang dihasilkan antara Pre-ganglionic dan Post-ganglionic dengan receptor pada target organ, maka pada Syaraf Parasimpatik antara Pre-ganglionic dan Post-ganglionic akan menghasilkan Acetylcholine (disingkat: Ach). Pre-ganglionic yang melepaskan Ach ini kemudian menstimulasi Post-ganglionic. Oleh karena itu, jalur pre-ganglionic pada Syaraf Parasimpatik disebut dengan jalur Cholinergic yang berarti jalur dimana Acetylcholine dihasilkan. Ini masih sama dengan Pre-ganglionic pada Syaraf Simpatik. Akan tetapi, terdapat perbedaan dari Post-ganglionic yang berdekatan dengan target organ pada Syaraf Parasimpatik yakni pada ini akan melepaskan kimiawi yang sama dengan Pre-ganglionic. Apa itu? Yakni Acetylcholine (Ach).

Mari saya bantu review singkat. πŸ™‚

A) Lokasi Syaraf Simpatik pada tulang belakang ada di T1-L2 yang dikenal dengan istilah ‘Thoraco-Lumbar-Outflow’.

B) Lokasi Syaraf Parasimpatik ada di dua lokasi yakni Brainstem (batang otak) pada syaraf Cranial nomor III, VII, IX, X, dan pada Sacral nomor S2, S3, dan S4.

C) Pre-ganglionic pada Syaraf Simpatik itu jaraknya ‘pendek’, sedangkan Post-ganglionic nya jaraknya ‘panjang’.

D) Pre-ganglionic pada Syaraf Parasimpatik itu jaraknya ‘panjang’, sedangkan Post-ganglionic nya jaraknya ‘pendek’.

E) Pada Syaraf Simpatik, jalur Pre-ganglionic disebut dengan Cholinergic dan jalur Post-ganglionic disebut dengan Adrenergic.

F) Pada Syaraf Parasimpatik, jalur Pre-ganglionic disebut dengan Cholinergic dan jalur Post-ganglionic disebut dengan Cholinergic juga.

Mudah khan? πŸ˜›

Bagian kedua nanti saya akan bahas mengenai apa itu Cholinergic dan apa itu Adrenergic dengan sedikit lebih detail.

Silahkan tarik napas panjang dulu… πŸ˜€

(bersambung)

CATATAN:
Bagian 1 dapat dilihat disini.

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →