HR dan HRV – Bagian 3

HR dan HRV
(Bagian 3)

Oleh: Mas Gunggung


Sejumlah studi pada HRV untuk menganalisa berbagai masalah pada kardiovaskular, pernapasan, pencernaan, kesehatan mental, dan kondisi patologis lainnya menunjukkan bahwa nilai HRV dapat secara signifikan menurun seiring dengan penurunan kesehatan. Kenyataannya, perubahan pada HRV terkorelasi terhadap 9 dan 10 penyebab kematian di beberapa negara misalnya Amerika Serikat.

Penyakit-penyakit yang menyebabkan kematian disana dengan menyertakan parameter HRV sebagai salah satu ukuran penting diantaranya sbb:

  1. Penyakit jantung
  2. Kanker
  3. Penyakit pernapasan kronis
  4. Stroke
  5. Alzheimer
  6. Diabetes
  7. Influenza dan Pneumonia
  8. Nephritis, Nephrotic sindrom, dan Nephrosis
  9. Penyakit mental untuk menyakiti diri sendiri (termasuk bunuh diri)

Ketidakseimbangan syaraf otonom terkait pada masalah penyakit. Ada banyak bukti mengenai ini dan bukti-bukti tersebut terus bertambah dari hari ke hari bahwa peranan Sistem Syaraf Otonom (SSO) secara luas sangat berpengaruh pada penyakit-penyakit tersebut diatas. Ketidakseimbangan SSO yang diukur melalui HRV dapat terkait pada kesehatan dan kematian.

Ketidakseimbangan SSO ini didefinisikan sebagai ketidakseimbangan antara cabang Syaraf Simpatik dan Syaraf Parasimpatik dimana umumnya Syaraf Simpatik menjadi dominan yang ditandai dengan rendahnya nilai HRV.

Lebih jauh lagi, HRV terbukti dapat secara akurat memprediksi kematian pada berbagai kasus penyakit jantung, cardiomyopathy, dan gagal ginjal. Pada sebuah studi yang menganalisa 808 pasien yang menderita serangan jantung, HRV menunjukkan sebagai parameter independent yang dapat memprediksi kematian pasien[1]. Pada studi tersebut, nilai HRV pada salah satu ukurannya dianalisa untuk memprediksi kemampuan bertahan pasien terhadap sebuah serangan jantung yang serius. Salah satu nilai yang diukur tersebut adalah SDNN (standar deviation N-N). Pasien dengan nilai SDNN diatas 100 menunjukkan kemampuan bertahan hidup yang lebih tinggi. Kemampuan bertahan hidup ini menurun seiring nilai SDNN pada HRV yang menurun.

HRV juga dapat dilihat sebagai refleksi pada kerusakan syaraf pada sistem syaraf otonom dimana kerusakan syaraf pada syaraf otonom ini sering terkait dengan Diabetes[2]. Bahkan pada stadium pre-diabetes dimana pasien hanya mengalami gangguan Glukosa, terlihat perubahan nilai HRV yang menurun dan sekaligus penurunan aktivitas syaraf Parasimpatik. Jadi, kondisi saat Glukosa seseorang normal, kemudian mengalami gangguan dan masuk pada fase pre-diabetes hingga kemudian menjadi Diabetes dapat dibaca berdasarkan nilai perubahan HRV[3].

Dengan kata lain, prediksi seseorang berada pada kondisi normal, pre-diabetes, dan diabetes juga dapat dilihat dengan parameter HRV ini. Menarik bukan? 🙂

Berikutnya, ketidakseimbangan dan disfungsi pada syaraf otonom juga dapat terkait dengan pasien kanker stadium lanjut[4]. Nilai HRV pada pasien kanker stadium akhir terlihat lebih rendah dibanding nilai yang umum. Pada sebuah studi yang menganalisa 68 pasien kanker, HRV menunjukkan penurunan yang terus menerus khususnya pasien dengan stadium lanjut. Nilai SDNN menjadi dasar untuk menentukan prediksi kemampuan bertahan pasien kanker[5].

Penurunan nilai HRV dan ketidakseimbangan syaraf otonom juga dapat terkorelasi dengan kondisi penyakit Epilepsi dan dapat digunakan untuk memprediksi episode kejadian epilepsi[6] dan melakukan monitoring perkembangannya.

Tidak hanya itu, HRV juga tidak hanya terhubung sebagai indikator berbagai penyakit berat namun juga dapat menjadi faktor resiko pada hipertensi, obesitas, stres, dan sebagainya yang terkait dengan penyakit. Menariknya, HRV juga dapat memprediksi kematian tiba-tiba akibat serangan jantung pada orang yang sehat. Maka dari itu, HRV ini menjadi salah satu alat bantu yang sangat powerful untuk melihat berbagai kondisi orang yang ‘merasa sehat’ saat ini dan prediksi kondisi dimasa depan (resiko rendah maupun tinggi).

Terkait dengan inflamasi (radang) dan sistem imunitas tubuh, HRV ternyata juga memainkan peranan penting untuk memprediksi berbagai disfungsi imunitas dan inflamasi tubuh seperti misalnya pada penyakit kardiovaskular, diabetes, osteoporosis, arthritis, Alzheimer’s, dan kanker[7]. Hal ini disebabkan karena inflamasi akan mengubah HRV dan menyebabkan ketidakseimbangan syaraf otonom sebab telah terbukti bahwa aktivitas Syaraf Simpatik bersifat pro-inflamasi.

Jika Anda rutin membaca tulisan saya disini, ada sebuah tulisan mengenai konsep Hormesis dimana tubuh disengaja untuk ‘dirusak’ agar kemudian melakukan fase ‘perbaikan’. Istilahnya, Hormesis itu melakukan ‘damage-repair’. Beberapa aktivitas yang bersifat Hormesis itu salah satunya adalah olahraga fisik dimana Anda menyengaja diri untuk mendominankan syaraf simpatik. Tentunya ketika syaraf simpatik dominan maka penanda inflamasi di tubuh Anda meningkat. Secara sel dapat dikatakan bahwa saat Anda berolahraga fisik maka tubuh Anda mengalami inflamasi. Namun jika olahraga dilakukan dengan baik, inflamasi ini akan segera dipulihkan oleh tubuh saat fase recovery. Ketika seseorang masuk pada fase recovery maka syaraf Parasimpatik akan mengambil alih dan menghasilkan kondisi ‘repair’ yang sebelumnya telah di-‘damage’ oleh syaraf Simpatik.

Paham sampai sini? 🙂

Inflamasi (radang) adalah reaksi lokal tubuh Anda terhadap stresor fisiologis yang ditemui melalui infeksi atau cedera dan merupakan cara tubuh untuk melindungi dirinya sendiri dan memberi tahu Anda tentang suatu masalah.

Namun apabila inflamasi terjadi di banyak tempat maka disebut dengan istilah inflamasi sistemik.

Inflamasi sistemik merupakan inti dari banyak masalah kesehatan modern. Dari pekerjaan yang terlalu membuat stres, lingkungan tempat Anda tinggal, pilihan nutrisi yang Anda makan, hingga ritme sirkadian yang terganggu. Faktor-faktor ini dapat berkontribusi terhadap inflamasi sistemik dengan jumlah yang cukup besar.

Peningkatan pada inflamasi sistemik yang berasal dari sumber apapun akan terkait dengan penurunan pada HRV. Dengan kata lain, HRV dapat secara efektif digunakan sebagai panduan ketika mencari inflamasi sistemik dan sekaligus memperbaiki kerusakan yang ditimbulkannya.

Mirip dengan inflamasi, aktivasi sistem imunitas pada tubuh diperlukan untuk bertahan hidup. Pada jangka pendek, aktivasi sistem imun dapat meningkatkan nilai HRV. Meski demikian tidak semua peningkatan HRV menunjukkan sesuatu yang baik. Pembacaan perubahan nilai HRV ini harus berdasarkan konteks. Ini mirip dengan kondisi Hipoglikemia pada mereka yang sedang menjalani diet Ketogenik (atau Ketofastosis) dimana Hipoglikemia tidak memiliki gejala patologis dan sudah beradaptasi menjadi kondisi fisiologis tanpa gejala. Bagaimanapun, apabila ada aktivitas sistem imun yang terus menerus terjadi itu tandanya dalam tubuh orang itu sedan mengalami inflamasi (lokal maupun sistemik) sehingga bisa saja menurunkan HRV.

Salah satu masalah dari sistem imun adalah kondis yang disebut dengan Autoimun.

Autoimun adalah saat tubuh Anda secara keliru menyerang dirinya sendiri ketika berusaha menghilangkan penyerang lainnya. Istilahnya seperti satpam dimana ia menyerang dan mengusir pencuri namun sekaligus juga menyerang tuan rumahnya. Itulah sederhananya pemahaman mengenai autoimun.

Maka, strategi olah napas untuk Mengakses Syaraf Otonom dengan metode Pergeseran Simpatik-Parasimpatik-Enterik itu dikhususkan untuk melakukan pendekatan olah napas yang bertujuan agar dapat menurunkan inflamasi sistemik pada tubuh dengan cara mengubah variabel HRV menjadi yang diinginkan.

Mirip dengan metode Pergeseran Asam-Basa dimana metode tersebut mengkhususkan untuk mengubah berbagai masalah sistemik melalui pendekatan olah napas yang menghasilkan perubahan kimiawi darah melalui pergeseran nilai pH dari Asam ke Basa atau kebalikannya dengan menggunakan konsep Respiratory Alkalosis dan Respiratory Acidosis secara fisiologis dan bukan patologis.

Dengan kata lain, apabila disederhanakan, pada kimiawi darah untuk memprediksi adanya inflamasi salah satunya bisa dilihat dari nilai Neutrofil, Limfosit, NLR ratio, Leukosit, dan hs-CRP sedangkan pada pendekatan syaraf otonom dapat dilihat dari nilai HRV. Pendekatan berbeda untuk melihat tujuan yang sama.

Menarik, bukan? 🙂

(bersambung)

Referensi:
[1]. Kleiger, Robert E., J. Philip Miller, J. Thomas Bigger, and Arthur J. Moss, and the Multicenter Post-Infarction Research Group. “Decreased Heart Rate Variability and Its Association with Increased Mortality after Acute Myocardial Infarction.” The American Journal of Cardiology 59.4 (1987): 256-62. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/3812275).

[2]. Vinik, A. I., R. E. Maser, and D. Ziegler. “Autonomic Imbalance: Prophet of Doom or Scope for Hope?” Diabetic Medicine 28.6 (2011): 643-51. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21569084).

[3]. Wu, Jin-Shang, Yi-Ching Yang, Thy-Sheng Lin, Ying-Hsiang Huang, Jia-Jin Chen, Feng-Hwa Lu, Chih-Hsing Wu, and Chih-Jen Chang. “Epidemiological Evidence of Altered Cardiac Autonomic Function in Subjects with Impaired Glucose Tolerance But Not Isolated Impaired Fasting Glucose.” The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 92.10 (2007): 3885-889. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17666483).

[4]. Walsh D, Nelson KA. Autonomic nervous system dysfunction in advanced cancer. Support Care Cancer 10 (2002): 523–528. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12324806).

[5]. Kim, D. H., Kim, J. A., Choi, Y. S., Kim, S. H., Lee, J. Y., & Kim, Y. E. “Heart Rate Variability and Length of Survival in Hospice Cancer Patients.” Journal of Korean Medical Science, 25(8) (2010): 1140–1145. (http://doi.org/10.3346/jkms.2010.25.8.1140).

[6]. Kolsal, Ebru, Ayşe Serdaroğlu, Erman Çilsal, Serdar Kula, Azime Şebnem Soysal, Ayşegül Neşe Çıtak Kurt, and Ebru Arhan. “Can Heart Rate Variability in Children with Epilepsy Be Used to Predict Seizures?” Seizure 23.5 (2014): 357-62. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24630807).

[7]. Thayer, Julian F., Shelby S. Yamamoto, and Jos F. Brosschot. “The Relationship of Autonomic Imbalance, Heart Rate Variability and Cardiovascular Disease Risk Factors.” International Journal of Cardiology 141.2 (2010): 122-31. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19910061).

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →