HR dan HRV – Bagian 2

HR dan HRV
(Bagian 2)

Oleh: Mas Gunggung


HRV jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah ‘Variabilitas Detak Jantung’. Ia merupakan sesuatu yang sensitif terhadap perubahan pada aktivitas Sistem Syaraf Otonom (SSO). Misalnya ketika terjadi perubahan dominasi Syaraf Simpatik dan Syaraf Parasimpatik akibat suatu kondisi stres yang diterima oleh seseorang. Stres yang diterima ini dapat merupakan stres fisik, stres emosi, dan stres kimiawi.

Ada banyak sekali definisi dari stress yang sudah dikeluarkan oleh ilmuwan sebagai sebuah teori. Misalnya, ilmuwan Hans Selye mendefinisikan stres sebagai “sebuah respon untuk berubah dengan maksud menjaga kondisi dan stabilitas keseimbangan tubuh melawan berbagai stimulus yang dapat melemahkan keseimbangan mental, fisik, dan tubuh”. Pengertian stress juga didefinisikan oleh ilmuwan Kenneth Hambly sebagai “kondisi tidak adaptif dimana sistem syaraf Simpatik menjadi overaktif sehingga menyebabkan gangguan kondisi yang bersifat akut atau kronis pada fisik, psikologis, dan perilaku.

Pencarian berbagai penanda stres ini terus menjadi tantangan pada ilmuwan dan medis. Hal ini disebabkan adanya beberapa hambatan. Salah satu dari hambatan tesebut adalah ketiadaan konsensus dari definisi stres itu sendiri. Lebih jauh lagi, ketiadaan kerangka kerja untuk menyelidiki bagaimana fungsi organisme ketika beradaptasi pada suatu lingkungan yang berubah. Saat ini, belum ada standar universal yang diakui mengenai evaluasi stres. Beberapa studi menggunakan berbagai metode pengukuran stres masing-masing seperti misalnya berdasarkan tanda-tanda psikologis, atau berdasarkan penanda biologis seperti hormon Cortisol, Amylase, dan lain sebagainya.

Nah, oleh karena belum ada kesepakatan pasti mengenai penanda stres ini maka bisa saja Anda membuat definisi versi Anda sendiri. Misalnya, kalaupun jika kekurangan duit membuat Anda stres ya boleh saja. Atau yang ‘jomblo’ lama dan tidak punya pacar kemudian Anda ingin katakan kalau itu adalah penanda stres bagi diri Anda maka itu sah saja. Atau yang belum punya istri juga ingin bilang bahwa itu adalah stres ya silahkan saja. ๐Ÿ˜€

HRV yang sensitif terhadap perubahan SSO jelas memainkan peran utama dalam keseimbangan tubuh tidak hanya pada pikiran dan perasaan termasuk juga pada metabolisme. Perubahan yang dilakukan pada SSO dapat mengubah kondisi pasien dengan gangguan jantung serta pada pasien dengan penyakit atau cedera kritis lainnya.

Hipotesa bahwa variabilitas detak jantung yang melemah dapat terjadi pada berbagai penyakit dan kejadian cedera telah diuji dalam berbagai uji klinis selama satu dekade terakhir. Maka, penilaian terhadap HRV (variabilitas detak jantung) dapat memiliki implikasi klinis potensial pada dunia medis. Penilaian HRV ini didasarkan pada analisis interval R-R berturut-turut. Melalui analisa ini dapat dilihat informasi kuantitatif mengenai modulasi syaraf vagus pada jantung dan syaraf simpatik disana.

Sederhananya, HRV ini mewakili kemampuan jantung untuk merespon terhadap berbagai stimulus fisiologis dan non fisiologis. Setiap kali ada penyebab stres yang Anda respon maka HRV ini akan berubah menjadi tinggi atau rendah. Misalnya, pada HRV yang rendah akan menghasilkan detak jantung yang monoton dan dikaitkan dengan gangguan fungsi pengaturan Sistem Syaraf Otonom. Lebih jauh lagi, HRV yang rendah terkait dengan gangguan pengaturan keseimbangan fungsi Sistem Syaraf Otonom yang dampaknya tentu mengurangi kemampuan tubuh untuk mengatasi stressor internal dan stressor eksternal.

Bagi Anda yang sering membaca tulisan saya disini, pernah saya tulis bahwa konsep Kebugaran yang saya kembangkan berada pada aspek menangani kondisi Intermittent Stress dalam bentuk Internal Stress dan External Stress (predictable stress dan unpredictable stress). Silahkan membaca ulang tulisan saya mengenai konsep stress ini. MP, dalam pemahaman metode ini, merupakan satu set latihan berjenis Interminttent Stress secara progresif dan berjenjang. Bagi yang sudah pernah ikut workshop saya, ada beberapa halaman slide khusus mengenai The Power of Stress. Ini adalah lanjutan dari The Power of Stress yang terukur dan menjadikan stress benar-benar sebagai Power.

HRV memiliki banyak sekali implikasi klinis. Beberapa implikasi klinis yang dapat menggunakan pendekatan penilaian HRV adalah sebagai berikut:

  1. Myocardial Infarction (serangan jantung)
  2. Angina Pectoris (kejang jantung, umumnya disebut ‘angin duduk’)
  3. Gagal jantung kongestif
  4. Aritmia ganas dan kematian jantung mendadak
  5. Hipertensi
  6. Cedera kepala parah dan kematian otak
  7. Stroke
  8. Sindrom Guillain-Barre
  9. Penilaian resiko pada gagal ginjal
  10. Shock
  11. Pemantauan fetal (janin) dan neonatal
  12. Parkinson
  13. Ngorok
  14. Sirosis liver
  15. Pregnant eclampsia
  16. Diabetes Tipe 2 neuropathy
  17. Diabetes Tipe 1
  18. Indikator stres
  19. Kelainan otak
  20. dan banyak lagiโ€ฆ

Bahkan pengukuran pendek HRV misalnya selama 2 hingga 5 menit dapat dijadikan prediksi pada masalah metabolik tubuh.

Dari sisi latihan olah napas, apabila bisa didapati sebuah pendekatan latihan yang terukur dan terbukti aman bagi jantung dengan menggunakan penilaian HRV maka ini adalah suatu terobosan yang baru pertama kali ada. Sebab biasanya HRV digunakan sebagai uji klinis dan hanya atlet profesional dengan instruktur profesional yang menggunakan ini. Belum pernah diterapkan pada suatu latihan olah napas tradisional.

Ini akan menjadi yang pertama kali HRV dan HR menjadi standar penilaian dari suatu latihan olah napas sebelum, saat, dan sesudah latihan. Tentunya tidak hanya mengukur saja melainkan mengerti bagaimana cara melakukan adjustment/penyesuaian agar kondisi HRV selalu membaik dan berada pada posisi optimal.

Bagi mereka yang sudah pernah ikut seminar dan workshop olah napas saya tentu tidak heran bagaimana dalam satu hari event bisa kita lihat bersama bagaimana perubahan nilai pada pH, Oksigen, BPM, Glukosa, Asam urat, Kolesterol, Hemoglobin, dan lain sebagainya.

Semua dibuktikan ditempat, tidak ada spekulasi.

Nah, event Level 2 berikutnya juga akan menggunakan pendekatan yang sama namun sudut pandangnya adalah Sistem Syaraf Otonom dan bukan lagi kimiawi darah. Maka, peserta di Level 2 ini idealnya adalah mereka yang sudah pernah ikut Level 1. Karena nanti akan dapat melihat perbedaannya. Mempelajari ini akan dapat meluaskan cakrawala pengetahuan mengenai jantung. Harapannya adalah mereka yang menjadi instruktur dapat lebih aman dan lebih sehat ketika memberikan suatu materi kepada murid-muridnya. Tidak hanya sekedar ‘gugur kewajiban’ atau ‘yang penting saya sudah memberikan materi olah napasnya’. Semestinya tidak boleh begitu. Berikanlah materi yang aman ketika dilakukan dan mengerti benar bagaimana caranya menyesuaikan dan melakukan penyesuaian pada berbagai penanda kesehatan tubuh (kimiawi maupun syaraf otonom).

Jika Level 1 berbicara mengenai kimiawi darah dan Level 2 berbicara mengenai Sistem Syaraf Otonom, lalu bagaimana dengan Level 3 dan Level 4? Tunggu saja tanggal mainnya. ๐Ÿ™‚ Pastinya akan semakin menarik dan membuka wawasan Anda semua bagaimana local genius tradisional olah napas pada masa itu sudah sangat modern dan membawa semangat ilmiah didalamnya.

Semoga bermanfaat dan menambah semangat.

Jagalah selalu kesehatan Anda dan orang-orang yang Anda sayangi.

(bersambung)


Referensi:
[1]. Heart Rate Variability Analysis in General Medicine. Yi Gang, MD, PhD and Marek Malik, PhD, MD, FACC, FESC. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1555630/)

[2]. Stress and Heart Rate Variability: A Meta-Analysis and Review of the Literature. Hye-Geum Kim, Eun-Jin Cheon, Dai-Seg Bai, Young Hwan Lee, and Bon-Hoon Koo. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5900369/)

[3]. Hans Selye (1907โ€“1982): Founder of the stress theory. Siang Yong Tan, MD and A Yip, MS. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5915631/)

[4]. Basic notions of heart rate variability and its clinical applicability. Vanderlei LC, Pastre CM, Hoshi RA, Carvalho TD, Godoy MF. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19768301/)

[5]. The use of short-term analysis of heart rate variability to assess autonomic function in obese children and its relationship with metabolic syndrome. Altuncu ME, Baspinar O, Keskin M. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23042314/)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →