HR dan HRV – Bagian 1

HR dan HRV
(Bagian 1)

Oleh: Mas Gunggung


Produk teknik olah napas berikutnya yang akan dilepas ke masyarakat adalah strategi mengakses melalui pendekatan metode Pergeseran Simpatik-Parasimpatik-Enterik (disingkat ‘SPE’) dengan menggunakan alat ukur yang (mudah-mudahan) bisa didapatkan dengan harga relatif murah namun sesuai standar.

Yang mesti diperhatikan benar adalah ada atau tidak adanya alat ukur yang dapat dipergunakan oleh peserta saat berlatih untuk melihat langsung kondisi dirinya (kimiawi darah, syaraf otonom, dll). Dengan cara seperti ini peserta dapat mengetahui latihannya memberikan efek yang bagaimana pada tubuhnya. Pada metode Pergeseran Asam-Basa yang memang difokuskan pada perubahan kimiawi darah maka relatif banyak alat ukur kimiawi darah spesifik seperti untuk Glukosa, Asam Urat, Kolesterol, Hemoglobin, Lactate, HbA1C, dan lain sebagainya yang bersifat portable dan dapat dibeli bebas.

Namun tidak demikian dengan metode Pergeseran SPE ini. Pada metode Pergeseran SPE ini saya harus menentukan parameter-parameter apa yang dirasa memiliki kecenderungan perubahan yang fundamental. Saya ambil contoh pada Pergeseran Asam-Basa, parameter yang saya tentukan adalah SpO2, BPM, pH, Hb, dan Glukosa. Itu menjadi dasar yang harus dipahami oleh siapapun yang ingin serius ikut bersama mengembangkan ini ke masyarakat.

Nah, pada metode Pergeseran SPE tentunya saya harus menentukan parameter apa yang cukup ‘radikal’ dan dapat dijadikan dasar mengetahui bagaimana sesuatu berubah pada tubuh dan ketika dilakukan perubahan maka hasilnya akan sangat besar mempengaruhi sistem tubuh lainnya. Dari 11 sistem pada tubuh manusia ada sebuah sistem yang disebut dengan master sistem. Master sistem ini adalah Sistem Syaraf. Sebuah sistem yang secara garis besar terdiri dari Sistem Syaraf Otonom (SSO), Sistem Syaraf Intrinsik (SSI), dan Sistem Syaraf Enterik (SSE).

Tentunya, semua memerlukan pengukuran yang spesifik. Namun pada SSO dan SSI menggunakan prinsip yang sama yakni frekwensi. Maka dari itu ada alat yang bernama ECG (untuk jantung) dan EEG (untuk otak). Oleh karena dalam keyakinan saya bahwa jantung ini adalah pengatur segalanya maka yang perlu mendapat perhatian khusus pertama kali adalah organ ini.

Masalah kemudian muncul yakni mengenai alat yang dipergunakan untuk mengukur HRV ini apakah bisa diterima oleh dunia medis? Sebab kalau tidak bisa dipakai maka percuma saja. Maka perlu dipikirkan alat-alat yang dapat diterima medis atau yang memang memiliki rentang perbedaan tidak terlalu jauh. Adakah alat jenis ini? Ada, namun mahal. πŸ™‚ Maka mesti dicari alternatif alat lain yang lebih murah namun masih dapat diterima secara umum.

Alhamdulillah dari saran beberapa sahabat dokter di Kemenkes didapati beberapa alternatif yang cukup ‘murah’ namun lumayan bisa diterima. Nanti akan saya ulas khusus mengenai ini.

Pengukuran jantung dari sisi kesehatan yang bersifat non invasif umumnya dilihat dari Heart Rate (detak jantung) dan Heart Rate Variability (HRV). Maka, agar dapat memahami bagaimana cara kerjanya diperlukanlah pemahaman dasar mengenai HRV dan HR. Saya akan jelaskan secara umum dulu sebelum nanti spesifik.

HR singkatan dari Heart Rate atau biasa kita kenal dengan istilah Detak Jantung. Hitungannya sering disebut dengan BPM (beat per minute) atau detak jantung dalam satu menit. Jadi apabila ada data HR = 60 BPM itu artinya jantung Anda berdetak sebanyak 60x per menit. Jika ada HR = 100 BPM itu artinya jantung Anda berdetak 100x per menit. Dan seterusnya.

HRV singkatan dari Heart Rate Variability, sederhananya merupakan ukuran jarak antara satu detak jantung ke detak jantung lainnya. Ia merupakan teknik pengukuran ‘non-invasive’ dan dapat digunakan untuk mengukur Sistem Syaraf Otonom (SSO) yang akan merespon pada segala aktivitas harian Anda seperti misalnya latihan fisik, istirahat, makan, tidur, atau saat terkena stres.

Namun tidak tidak seperti HR yang menghitung detak jantung per menit, HRV memiliki keistimewaan dimana ia mengukur jarak antara satu interval detak jantung ke interval detak jantung lainnya. Untuk itulah HRV sering disebut juga dengan istilah ‘Inter-beat Interval’, R-R interval, NN interval, dsb).

Dengan melihat trend pembacaan HRV harian atau saat latihan kita dapat melihat bagaimana pola Sistem Syaraf Otonom tubuh kita bekerja. Hal ini bermanfaat untuk melihat apakah terjadi stres pada syaraf otonom kita? Apakah proses recovery dari suatu latihan berat apakah berjalan dengan baik? Sehingga kalau semuanya terbaca akan dapat diberikan penyesuaian terhadap latihan.

Saya coba berikan contoh, misalnya pada latihan olah napas MP dimana setelah melakukan napas keras kemudian dilanjutkan dengan salah satu meditasi misalnya napas pembersih. Apakah meditasinya benar merupakan kondisi untuk melakukan recovery jantung? Atau jangan-jangan malah meditasi yang dilakukan justru menaikkan kerja jantung? Atau misalnya materi latihan sisipan yang bagaimanakah yang ‘dianggap’ dapat aman bagi jantung? Bagaimana trend jantung peserta latihan dari awal mula lalu peregangan, pemanasan, latihan inti, meditasi, dan pendinginan, apakah aman bagi jantung? Apakah latihan olah napas dapat menyebabkan kelainan pada irama jantung atau tidak? Dan banyak lagi.

Tentu saja, pendekatannya bukan untuk mengetahui sejauh mana power Anda melainkan semata-mata sudut pandang dari sisi kesehatan.

Beberapa aplikasi dari manfaat pengukuran HRV sangat banyak. Kapan waktu akan saya bahas satu per satu. Namun yang paling utama bagi saya adalah melihat bagaimana Sistem Syaraf Otonom Anda bekerja dan bereaksi terhadap sebuah aktivitas olah napas. Kapan kita harus masuk pada Syaraf Simpatik dan hingga setinggi apa jantung kita dipaksa masuk kesana. Dan kapan kita masuk pada Syaraf Parasimpatik dan hingga serendah apa jantung dapat kita istirahatkan.

Semua bisa dilihat dan diukur ditempat.

Persis seperti saat Anda ikut workshop Level 1 yakni Normalisasi Diabetes menggunakan pendekatan Teknik Optimalisasi pH. Anda ukur ditempat semua perubahan pH, SpO2, BPM, Glukosa, Asam Urat, Kolesterol, HbA1C, dan beberapa kimiawi darah lainnya. Kemudian menjalani sebuah latihan yang terukur. Efeknya, aspek kesehatan Anda menjadi meningkat pesat. Banyak dari penyakit berat bisa dipulihkan dengan hanya satu teknik saja.

(bersambung)

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →