Si Vis Pacem Parabellum – Bagian 2

SI VIS PACEM PARA BELLUM
(Bagian 2)

Oleh: Mas Gunggung

Pada bagian 1 sebelumnya saya sudah menjelaskan secara singkat bagaimana konsep beladiri sebenarnya sudah memuat istilah “Si Vis Pacem Para Bellum” ini dalam semua aspeknya. Silahkan membaca bagian satu disini.

Bagi mereka yang ikut seminar dan workshop saya tentu pernah melihat dan mendengar slide saya mengenai konsep beladiri. Pada slide itu saya membagi konsep beladiri menjadi 2 (dua) bagian untuk memudahkan seseorang memahami secara umum pengertian ‘beladiri’.

Pada bagian pertama, beladiri dipelajari untuk menghadapi penjahat yang nampak dan seseorang harus dapat selamat dari pukulan, tendangan, tangkapan, kuncian, dan lain sebagainya dari penjahat yang ingin melukai diri kita. Istilahnya, lawan yang kasat mata dapat dihadapi dengan teknik-teknik beladiri yang dipelajarinya dan seseorang menjadi selamat dengan menggunakan teknik beladiri yang dikuasainya. Ini saya tidak berbicara hal goib ya. Itu lain bahasan. πŸ™‚

Sedangkan pada bagian kedua, ada jenis ‘beladiri yang lain’ dimana seseorang belajar teknik pernapasan untuk menghadapi “penjahat” yang tidak terlihat oleh mata seperti misalnya virus, bakteri, mikroba, stres, radiasi, aging, degeneratif, dan lain sebagainya. Istilahnya, lawan yang tidak kasat mata dapat dihadapi dengan teknik-teknik pernapasan tertentu yang dipelajarinya dan seseorang menjadi selamat dengan menggunakan teknik-teknik pernapasan yang dikuasainya.

Memang seringkali masih ada tumpang tindih antara dua bagian diatas. Sebab ketika seseorang belajar ilmu beladiri untuk melawan penjahat manusia misalnya dia juga di dalamnya belajar ilmu pernapasan. Namun ketika orang itu bertemu dengan ‘penjahat’ berjenis virus, mikroba, bakteri, stres, radiasi, anomali sel, aging, degeneratif, dan lain sebagainya maka mendadak ilmu beladirinya jadi ‘lumpuh’ dan tidak tahu harus bagaimana ‘mengalahkan’ semua ‘penjahat kecil’ itu.

Maka, agar lebih mudah dipahami, saya pisahkan saja antara beladiri yang benar-benar sebagai ilmu beladiri yang umum dipahami masyarakat dan beladiri yang hanya mengambil aspek pernapasannya saja untuk jenis penjahat yang berbeda semata-mata dengan alasan pragmatis.

Kenyatannya banyak kondisi itu terjadi di sekitar kita.

Terkait hubungan “Si Vis Pacem Para Bellum” dengan kebugaran dan kesehatan pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan beladiri umumnya. Anda berlatih pernapasan sebagai sarana untuk mendapatkan 2 (dua) hal ini yakni:

  • Kemampuan tubuh hingga level terkecil untuk ‘berperang’ dengan virus, mikroba, bakteri, stres, radiasi, anomali sel, aging, degeneratif, dll yang bersifat negatif, apabila Anda mendapat serangan dan menderita sakit darinya. Istilah saya, “fleksibilitas metabolik”.
  • Kemampuan antisipatif tubuh hingga level terkecil dari pengaruh virus, mikroba, bakteri, stres, radiasi, anomali sel, aging, degeneratif, dll yang bersifat negatif, agar Anda selalu lebih kuat dari mereka dan kehadiran mereka tidak memiliki dampak berarti dikarenakan persiapan ‘perang’ dan ‘alat perang’ pada diri Anda cukup kuat. Istilah saya, “ketahanan metabolik”

Oleh karena yang dilawan adalah semua ‘penjahat kecil’ maka seseorang harus mempelajari aspek terkecil dari tubuh pada dua hal yakni BIOKIMIA dan ENERGI. Biokimia merupakan aspek fisik yang paling kecil yang masih masuk pada ranah fisika klasik sedangkan Energi masuk pada ranah fisika kuantum. Sederhananya, fisika klasik berbicara mengenai kepastian sedangkan fisika kuantum berbicara mengenai ketidakpastian. Silahkan membaca tulisan saya disini dengan judul “ketidakpastian Heisenberg”.

Pertanyaan berikutnya adalah “jika ingin berperang maka apa-apa saja yang harus disiapkan?”

Dalam sudut pandang metode ini, terkait hubungannya dengan fisika klasik dan biokimia, maka hal-hal yang mesti disiapkan adalah:

  • pH yang optimal
  • Kemampuan mengakses syaraf otonom
  • Kemampuan melakukan alterasi pada metabolisme Glukosa, Lactate, dan Lemak
  • Kemampuan untuk masuk pada level Genetik
  • Kemampuan membangkitkan semua potensi imunitas tubuh
  • Kemampuan untuk masuk pada potensi regenerasi sel

Setidaknya itu yang sudah dipelajari, dilakukan riset, ujicoba, uji klinis, dan randomize control trial melalui Wisata Bugar kepada masyarakat dengan hasil yang sangat baik. Saat ini sedang dikembangkan kebugaran dengan penjelasan fisika kuantum.

Jika itu semua bisa dilatih setiap hari maka semua yang ada pada diri kita akan siap ‘berperang’ dengan virus, mikroba, bakteri, stres, radiasi, anomali sel, aging, degeneratif, dan lain sebagainya yang bersifat negatif.

Teknik-teknik olah napas dapat diposisikan sebagai ‘jurus’ untuk melawan berbagai virus, mikroba, bakteri, patogen, stres, radiasi, anomali sel, dan degeneratif. Jika sedang tidak berperang, maka latihlah terus setiap hari sebagai strategi antisipatif sebelum nanti Anda akan dihadapkan dengan perang melawan penyakit.

Apabila hal-hal yang negatif itu bisa ‘ditaklukan’ dengan semua perangkat perang yang optimal, maka Anda akan mulai mendapatkan kedamaian pada diri. Proses dimana sakit jadi sembuh, tegang jadi rileks, dan sebagainya akan menciptakan kedamaian pada diri Anda baik level batin maupun fisik. Tidak mungkin Anda bisa mendapatkan kedamaian jika anomali sel berupa tumor, kanker, miom, masih ada pada tubuh. Juga tidak mungkin Anda bisa mendapatkan kedamaian jika virus masih menyerang dan Anda terdampak karenanya. Jika Anda masih kena diabetes, masih kena stroke, masih kena jantung koroner, bagaimana kedamaian itu bisa didapatkan?

Maka persiapkan diri Anda untuk berperang untuk mendapatkan kedamaian diri dari stressor negatif.

Inilah makna “Si Vis Pacem Para Bellum” pada kebugaran.

Bahkan lebih jauh lagi, dari pandangan dan pendengaran saja dapat mengubah metabolisme. Khususnya di zaman dimana jari dapat lebih cepat dari ucapan. Saya akan berikan salah satu contoh. Misalnya Anda membaca sebuah tulisan dari seseorang. Kemudian Anda mendadak jadi sebal sekali dengan penulisnya, Anda benci banget sama penulisnya. Padahal isi tulisannya tidak ada yang menyinggung diri Anda, tidak pula menyinggung keluarga Anda, atau orang-orang terdekat Anda, namun Anda merasa ‘gerah’ dan mendadak jari ‘gatal’ untuk menulis ulang dengan kalimat yang merendahkan, meremehkan, dan sejenis itu.

Pernahkah kita mengalami itu? Saya yakin pernah. πŸ™‚

Kalimat-kalimat yang muncul dalam hati atau terlontar lewat kata-kata yang memposisikan kita selalu ‘tinggi’ seperti misalnya:

“Ah dia itu siapa? Cuma bisa ngomong doang!”

“Ah tingkatan baru segitu aja udah ngomong kayak dewa!”

“Lagi cari panggung tuh orang! Kaga ada apa-apanya dia!”

“Halah, gitu doang mah gua juga bisa!”

“Dia siapa sampe beraninya menulis begitu?”

“Kenapa sih kok harus kerjasama dengan dia? Apa ga ada orang lain lagi?”

Dan kalimat-kalimat lain sejenis itu. I hope you got the point.

Lihatlah, hanya dari pandangan saja sudah dapat meningkatkan emosi. Dan setiap perubahan emosi akan menyebabkan perubahan metabolisme. Silahkan membaca tulisan saya di group ini dengan judul “Stress Resilient” untuk mengetahui bahwa hormon stres itu membawa dampak luar biasa pada tubuh.

Jika itu terjadi terus menerus, dan kecenderungan akan begitu karena zaman sekarang orang hidup tidak bisa tanpa social media, maka dipastikan terjadinya penumpukan stres pada diri orang itu. Sedangkan di dalam dirinya tidak memiliki seperangkat ‘alat perang’ untuk mengantisipasi jenis stres yang seperti itu. Ataupun jika memiliki ‘perangkat perang’ seperti pH, Glukosa, Lactate, Lemak, Syaraf Otonom, Gen, dll, namun tidak dalam kondisi yang semestinya. Ibarat kata, alat tempurnya sudah karatan, aus, tidak bisa difungsikan lagi. Akhirnya ia lambat laun menjadi terimbas oleh stresnya dan jadi bermasalahlah pada berbagai organ seperti jantungnya, ginjalnya, otaknya, dan sebagainya. Bisakah mendapatkan kedamaian dengan itu? Tentu tidak.

Maka, “Si Vis Pacem Para Bellum” merupakan konsep dasar dari beladiri dan dalam pemahaman saya menjadi sangat logis. Bahwa “jika ingin damai, maka harus siap untuk perang”. Jika ingin siap untuk perang maka persiapkan semua perangkat perang agar berfungsi secara optimal dan baik. Dari sanalah Anda baru akan mendapatkan kedamaian.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →