Si Vis Pacem Parabellum – Bagian 1

SI VIS PACEM PARA BELLUM
(Bagian 1)

Oleh: Mas Gunggung

Banyak yang bertanya, kapan kita menerapkan teknik olah napas dan apakah harus dilatih setiap hari?

Sebelum menjawabnya saya ingin mengajak Anda untuk kilas balik mengenai sekilas beladiri. Di dalam aspek beladiri terdapat beberapa unsur seperti serangan, elakan, belaan, dsb. Ada banyak hal teknis seperti misalnya pukulan, tendangan, tangkisan, hindaran, elakan, tangkapan, dan lain sebagainya.

Hal-hal teknis itu dilatih terus menerus baik itu di tempat latihan maupun di rumah. Entah mereka yang punya tujuan tertentu (misal atlet) atau yang biasa-biasa saja.

Meskipun judulnya adalah beladiri namun kadang Anda tidak pernah atau belum pernah berantem. Lalu buat apa belajar mukul, nendang, nangkis, dsb dsb padahal Anda ngga pernah berkelahi? Apakah hanya karena Anda tidak pernah berantem kemudian beladiri jadi tidak penting dan tidak perlu dipelajari?

Ada ungkapan “Si Vis Pacem, Para Bellum” yang artinya kurang lebih “jika Anda ingin damai, maka Anda harus siap perang”. Istilah ini ditemukan dalam “Book 3 of Latin” yang dibuat oleh Publius Flavius Vegetius. Meskipun konon ide ini berasal dari Plato.

Konsep beladiri sebenernya sudah mengadopsi prinsip ini baik secara literal maupun filosofi. Anda belajar beladiri yang tujuannya mendapatkan kedamaian justru dengan mempelajari seni perang tubuh dan mempersiapkan diri Anda untuk siap kapan saja “berperang”.

Bagi yang tidak mengerti seakan ini paradox. Lalu membuat jadi bingung dan menghasilkan pertanyaan yang sulit terjawab. Kok belajar seni perang dan bahkan seni membunuh namun untuk menciptakan kedamaian?

Dalam prinsip beladiri manapun umumnya memiliki ajaran bahwa mengeluarkan ilmu beladiri adalah tahap terakhir ketika semua negosiasi sudah tidak bisa dilakukan lagi sehingga tercapai kondisi yang dianggap mengancam.

Orang akan terhenyak dan terkejut ketika melihat bagaimana tubuh kecil mampu meliuk-liuk, memukul keras sekali, menendang cepat sekali, menangkap dan mengunci dengan kuat sekali. Trengginas.

Semakin lengkap dan bagus penguasaan ilmu beladirinya maka “seni perang” yang ia tunjukkan dan ia pakai untuk melawan segala ancaman perang kepada dirinya menjadi semakin powerful dan menjadi ‘shocked therapy’ bagi lawan yang berusaha menyerang dirinya. Lalu orang menjadi tidak berani macem-macem kepadanya. Ia menjadi seseorang yang kemudian perlu diwaspadai.

Lalu bagaimana ketika seseorang tidak mengalami fase perang? Apakah ia tetap harus belajar beladiri? Belajar jurus dan hal-hal teknis lainnya? Tentu saja. Hal ini dikarenakan ia harus memiliki kemampuan antisipatif kalau-kalau suatu saat nanti tubuhnya harus berada pada kondisi “perang”.

Nah, hal ini juga berlaku pada Kebugaran.

(Bersambung)

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →

17 Comments on “Si Vis Pacem Parabellum – Bagian 1”

  1. Pingback: buy cialis
  2. Pingback: cialis pills
  3. Pingback: viagra pills
  4. Pingback: cialis
  5. Pingback: viagra
  6. Pingback: viagra online
  7. Pingback: cialis online
  8. Pingback: cheap viagra

Comments are closed.