Liputan Jawa Pos – 21 Mei 2016

Liputan Koran Jawa Pos tertanggal 21 Mei 2016 dengan judul “Mas Gunggung kembangkan silat pengobatan, modifikasi teknik cekik menjadi pijat syaraf”.

Berikut adalah tulisan lengkap pada koran tersebut:


Mas Gunggung, Kembangkan Metode Latihan Pencak Silat Untuk Pengobatan
Ilmiahkan Pencak Silat Dengan Penelitian

Mengenalkan ilmu silat lewat tulisan ilmiah agaknya masih menjadi hal langka. Ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami, beragam referensi yang berkaitan dengan pencak silat pun terhitung terbatas. Tentunya, upaya itu masih membutuhkan tenaga ekstra. Mengkampanyekan silat secara ilmiah, pada akhirnya membutuhkan praktisi-praktisi yang bukan hanya handal soal beladiri namun juga paham seluk beluk teori kedokteran modern dan disiplin ilmu paralel lainnya.

Jurnalis: DEDE SUPRAYITNO

Padahal, Indonesia memiliki ratusan jenis aliran pencak silat yang tersebar diberbagai wilayah. Ratusan aliran itu berkembang dan saling berkelindan seiring lokal genius masing-masing. Sehingga membawa karakteristik aliran pencak silat yang beragam. Dalam perkembangannya, tak dipungkiri, jika beberapa aliran pencak silat justru tertempel label menggunakan kekuatan gaib dan klenik dalam praktiknya. Disebabkan beberapa keilmuan silat memang dipandang diluar nalar oleh mereka yang belum mengkaji secara mendalam.
Upaya itu berusaha ditepis oleh Agung Riyadi, salah satu pesilat dari Perguruan Pencak Silat Bela Diri Tangan Kosong (PPS Betako) Merpati Putih (selanjutnya ditulis MP). Pria yang lebih dikenal dalam jagad persilatan sebagai Mas Gunggung itu, mengurai sisi ilmiah dari setiap ajaran silat. “Misalnya saja, di dalam MP, pesilat yang sudah menjalani latihan-latihan tertentu memiliki kekuatan lebih,” terangnya.

Mas Gunggung bercerita seorang pesilat MP dapat mematahkan balok es setebal 30 sentimeter. Bukan hanya satu lapis, dalam aksi tertentu jumlahnya mencapai belasan lapis. Tingginya pun fantastis, pernah ada yang mencapai setinggi dua lantai. Untuk menjaga agar lapisan balok es berdiri stabil dibutuhkan banyak orang untuk memeganginya. Pesilat yang mengeksekusi es balok itu berada di lapisan tertinggi es dan siap menggunakan tangannya untuk mematahkan es balok.

Pematahan benda lain seperti beton cor, besi kikir, besi rel, per mobil juga menjadi media untuk mengukur kualitas seorang pesilat MP. Selain itu, melakukan aktivitas dengan mata tertutup menjadi salah satu aplikasi latihan. Misalnya, mengendarai kendaraan, membaca tulisan, dan bahkan mendeteksi radiasi nuklir. Tercatat, MP pernah mendeteksi radiasi nuklir lebih cepat dibandingkan dengan alat yang dimiliki BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional). “Tentu bagi yang belum memahami, akan mengaitkan aksi itu dengan hal mistis dan klenik. “Padahal itu semua bisa dijelaskan secara ilmiah,” ungkap bapak yang gemar membaca buku itu.

Untuk itu, Mas Gunggung rela meninggalkan pekerjaannya disebuah perusahaan Internasional. Saat ini dia mengalokasikan 70% waktu yang dimiliki untuk berlatih dan melakukan penelitian silat. Beragam sumber-sumber ilmiah pun menjadi pegangan. “Saya pakai referensi buku kedokteran yang tebal-tebal,” imbuh pria kelahiran Cirebon itu. Selain buku kedokteran, Mas Gunggung juga menggunakan puluhan jurnal internasional disiplin ilmu kedokteran. “Ada tiga puluh jurnal lebih yang saya pakai,” terangnya.

Mas Gunggung menerangkan beragam sumber ilmu kedokteran itu menggunakan bahasa Inggris. Tentu dalam memahaminya, perlu penguasaan terhadap bahasa tersebut. “Maka penguasaan bahasa asing sangat penting,” ungkap pesilat yang juga sering berdiskusi dalam forum keilmiahan internasional itu.

Pria yang aktif menulis ini menargetkan bisa mempublikasikan karya tulisnya satu minggu sekali. Terutama yang berkaitan dengan penelitian di bidang kedokteran. Dia pun menggunakan media sosial yang dianggap mudah digunakan dan banyak dipakai orang. “Kalau lewat media sosial juga lebih murah,” ujar pesilat yang sudah 20 tahun lebih berlatih silat.

Salah satu penelitiannya, yakni tentang aktivasi hormon manusia dan pengaruhnya pada DNA yang berdampak pada peningkatan kekuatan dan kesehatan manusia melalui olah rasa. Dia pun memberikan perumpaan seperti rasa marah yang dapat memicu perubahan fisik. Misalnya detak jantung dan peredaran darah yang meningkat, atau rasa takut yang dapat menyebabkan lutut lemas. “Stress bahkan lebih berbahaya, itu dapat menyebabkan percepatan kematian akibat penyempitan pembuluh darah,” ungkapnya. Dia menambahkan latihan olah rasa bertujuan memetakan tubuh dan memahami berbagai perubahan metabolisme dan fisiologis tubuh. “Kajian itu dinamakan psikofisiologi,” tambahnya.
Mas Gunggung menambahkan proses latihan yang berbasis olah nafas Merpati Putih dapat dimanfaatkan untuk perbaikan lapisan fisik, pengobatan, penyembuhan, baik pada diri sendiri maupun orang lain yang terdekat. Oleh sebab itu, lanjutnya, pencak silat MP yang berbasis gerak disertai olah nafas bukan hanya mengajarkan beladiri semata, namun juga olah rasa untuk pengobatan dan penyembuhan. “Gerakan mencengkram lawan, jika kita arahkan untuk memijat bisa menjadi bentuk penyembuhan, karena disana ada teknik penekanan otot dan syaraf. Itu kembali kepada niat awal sebab segala sesuatunya bergantung pada niat,” tambahnya.

Oleh karena itu, kelompok latihan (kolat) yang dibinanya merupakan jenis kolat untuk menunjang kesehatan yang dinamakan kolat Kebugaran MP. Perserta latihan pun didominasi oleh mereka yang sudah berumur atau yang memiliki masalah kesehatan tertentu meski tidak menutup kemungkinan siapapun boleh ikut untuk belajar. Umumnya untuk menjaga kesehatan maupun untuk melakukan penyembuhan terhadap penyakit-penyakit tertentu. Seperti diabetes, hipertensi, asam urat, kolesterol, percepatan penyembuhan patah tulang, dan beragam penyakit dalam lainnya menjadi daftar penyakit yang diupayakan bisa disembuhkan melalui latihan olah pernafasan. Mula-mula pada dirinya sendiri, kemudian pada orang-orang terdekatnya, lalu meluas dalam bentuk pengabdian masyarakat. “Tentunya melalui metode latihan yang tepat dan tidak sembarangan,” ungkapnya. Dia menambahkan, kolat kebugaran berbeda halnya dengan kolat prestasi yang umumnya membina para calon atlet.

Mas Gunggung menerangkan jika peserta latihannya dijamin akan berhasil apabila mereka punya keinginan untuk berubah dan mau menjalani sejumlah latihan dengan konsisten. Berubah dalam arti dari sakit ingin menjadi sehat, dari labil menjadi stabil, dan yang berkeinginan untuk memahami dirinya dan alam semesta lalu menjaga keseimbangan tersebut. “Pada dasarnya ingin berubah ke arah yang lebih baik. Hijrah, bergerak, dinamis, prinsip perubahan, yang dimulai dari kuatnya niat,” ungkapnya.

Untuk menunjang perkembangan latihan kebugaran tersebut, Mas Gunggung juga menciptakan suatu aplikasi pendukung berbasis teknologi informatika. Latar belakangnya sebagai lulusan teknik informatika pada salah satu sekolah tinggi ilmu komputer dan pengalamannya bekerja pada berbagai perusahaan software house sangat mendukung upaya tersebut. Aplikasi itu dibuat dalam dua platform yakni web dan mobile. “Saat ini adalah era teknologi, maka saya ingin menyatukan antara skill IT dengan skill pencak silat pada suatu aplikasi yang saya rancang dan buat sendiri,” imbuhnya.

Mas Gunggung menambahkan jika aplikasi tersebut saat ini memang sangat dikhususkan untuk melakukan analisa dan perkembangan kesehatan peserta latihan. Alat itu menyimpan data rekam medis peserta kebugaran pada rentang waktu tertentu. Peserta nantinya dapat mengakses melalui web ataupun smartphone berbasis Android dan Windows Phone,” paparnya.

Meskipun fokus pada latihan kebugaran, prestasinya dalam bidang keatletan juga tidak tertinggal. Tercatat, dia pernah meraih Juara I Kejuaraan Daerah (kejurda) Merpati Putih di Bandung STIE YPKP (1996) dengan aturan perkelahian bebas khas MP yang kemudian menjadi tiket untuk ikut Kejuaraan Nasional (kejurnas) Merpati Putih di Padepokan Pencak Silat TMII Jakarta (1997). Ia juga pernah membawa tim atlet di sekolahnya sebagai juara umum kejuaraan antar pelajar di Bogor (1996) dengan aturan IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia).

Kenalkan Silat Lewat Cerita

Kesibukannya selain berlatih dan melakukan penelitian ilmiah, tidak membuatnya melupakan jenis karya tulis fiksi. Menurutnya, melalui fiksi suatu hal yang rumit bisa dijelaskan dengan lebih mudah dan lebih bisa diterima tanpa harus menyinggung perasaan orang. Pembaca pun akhirnya bisa memahami maksud yang ingin disampaikan. “Rata-rata orang lebih mudah menerima pesan melalui cerita,” imbuh penulis ribuan artikel yang tersebar di berbagai forum media sosial itu.

Penulis novel silat Tembang Tanpa Syair ini mengaku telah menggoreskan cerita silat berbentuk novel dalam 4000 halaman lebih. Karyanya terdiri dari sepuluh jilid. Setiap jilid terdapat 40 bab. Pada setiap babnya rata-rata terdiri dari 10-20 halaman. Pada suatu ketika Mas Gunggung memasukkan novelnya pada salah satu penerbit di Jakarta. Namun, pihak penerbit menganggap jika karya novelnya terlalu banyak dan terlalu filosofis. Sehingga penerbit meminta Mas Gunggung untuk mengurangi halamannya. Dia pun menolak usulan tersebut dan tetap membiarkan novelnya utuh. “Karena hal itu, saya putuskan untuk mempublikasikannya lewat media sosial saja,” terang pria pengagum S.H. Mintardja dan Arswendo Atmowiloto itu.

Novel yang selesai ditulis selama tiga tahun itu berisikan cerita tentang perjalanan seorang anak manusia dalam mempelajari silat. Bagaimana silat itu mampu membentuk karakter pada diri seseorang. Nilai-nilai luhur dalam ajaran pencak silat disampaikan dalam bahasa yang ringan. Selain itu, novel tersebut juga berusaha menguraikan pencak silat secara logis dengan bahasa-bahasa yang mudah dimengerti.

Mas Gunggung bercerita bahwa penikmat novelnya bukan hanya orang yang suka dalam dunia persilatan. Namun orang awam pun juga dapat menikmatinya. Hal itu nampak dari pengakuan komentator di media sosial. “Banyak dari nilai-nilai luhur silat dalam cerita itu adalah nilai-nilai universal dalam bingkai tradisional sehingga lebih mudah diterima banyak kalangan,” ungkapnya. Dia menambahkan, nilai luhur itu diantaranya seperti kejujuran, keberanian, welas asih, percaya diri, keselarasan dan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari, dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pesilat yang fasih berbahasa Inggris itu menginginkan agar anggapan bahwa pencak silat itu kuno dan tertinggal mesti dihilangkan. Melalui silat, Indonesia bisa dikenal oleh negara lain. Bahkan bisa mengenalkan budaya Indonesia ke luar negeri. “Seorang praktisi silat harus berpikiran terbuka, jangan memandang segala sesuatu hanya dengan memakai kacamata kuda dan merasa paling benar. Membuka pikiran, tanpa harus kehilangan jati diri sebagai seorang pesilat,” imbuhnya.

Dia berharap agar silat dipelajari secara luas dan mendalam. Sebab salah satu sisi lain dalam ilmu silat adalah aspek nasionalisme. Menurutnya, nilai-nilai dan filosofinya sarat dengan aspek ketuhanan yang dapat menjadi alat dalam menyelesaikan problematika kehidupan. “Mengajarkan silat pada generasi penerus bangsa dapat membuat mereka menjadi salah satu garda tangguh NKRI, trengginas, dan berbudi pekerti luhur,” tutupnya dengan sorot mata tajam dan penuh keyakinan.

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →