Hormesis – Bagian 1

HORMESIS
(Bagian 1)

Oleh: Mas Gunggung


Alkisah, pada tahun 120 SM ada seseorang bernama Mithridates VI yang menjadi pangeran di Pontus, sebuah wilayah di bagian kecil Asia yang saat ini masuk wilayah Turki. Pada saat pemerintahan berlangsung, ibunya meracuni ayahnya untuk mendapatkan tahta. Oleh karena takut, maka Mithridates melarikan diri dan bersembunyi. Ketakutannya terhadap racun membuatnya paranoid dan mulai mencoba hal gila yakni mencobai meminum racun dengan dosis kecil agar supaya tubuhnya kebal terhadap racun. Kemudian ia kembali untuk merebut tahta dari ibunya dan menjadi raja yang sangat kuat. Ia berusaha menyerang kerajaan Roman namun gagal. Daripada ditangkap, maka ia mencoba bunuh diri dengan cara meminum racun. Namun ia tidak mati oleh racun tersebut. Hingga kini, penyebab kematiannya masih misterius. Seperti kata peribahasa, “Apa yang tidak membunuhmu, akan membuatmu kuat”.

Hormesis, merupakan fenomena dimana dosis rendah dari penyebab stres (stressor) yang semula beracun justru membuat membuat semakin kuat sebuah organisme dan menjadi dapat lebih bertahan lagi pada dosis stressor yang lebih tinggi. Hormesis ini bukanlah teori penyebab penuaan namun memiliki implikasi yang sangat besar pada banyak teori lainnya. Prinsip dasar pada racun adalah, “dosis yang menjadikannya racun”. Artinya, ‘racun’ dalam dosis rendah dapat membuat kita sehat dan kuat. Kok bisa? Hal ini dikarenakan tubuh perlahan-lahan beradaptasi untuk membentuk keseimbangan baru agar dapat menerima dosis ‘racun’ yang lebih besar. Konsep ini dipakai dalam Toxicology (ilmu racun) yakni ‘dosislah yang membuat jadi racun’. Dosis rendah ‘racun’ justru membuat kita jadi sehat.

Saya ambil contoh misalnya pada latihan fisik dan puasa. Keduanya merupakan contoh yang relatif paling mudah dipahami dari Hormesis.

Pada latihan fisik, seseorang meletakkan kondisi stres pada otot yang menyebabkan tubuhnya bereaksi dengan cara meningkatkan kontraksinya. Latihan fisik dengan beban juga bermaksud meletakkan stress lebih besar pada bagian tubuh seperti tulang yang menyebabkan tulang akan berusaha untuk meningkatkan kekuatannya. Tanpa adanya stressor ini maka fisik seseorang akan melemah dan lama kelamaan ‘mati’. Maka pada suatu kondisi tertentu, misalnya gravitasi nol di ruang angkasa, para astronot terbukti mengalami penurunan pada massa otot dan massa tulang. Untuk itulah mereka harus berolahraga fisik agar tetap terjaga kekuatan otot dan tulangnya.

Pada puasa, yang umumnya disebut restriksi/pembatasan kalori, juga dapat dipertimbangkan sebagai sebuah stressor dan penyebab dari meningkatnya hormon Cortisol. Hormon Cortisol merupakan jenis hormon stres yang dihasilkan tubuh untuk merespon terhadap suatu kondisi yang menghasilkan stres. Kemunculan Cortisol dapat menyebabkan menurunnya inflamasi dan meningkatkan produksi dari Heat Shock Protein (HSP). Tingkat stres yang rendah meningkatkan resistensi terhadap stresor berikutnya. Jadi, puasa memenuhi kondisi persyaratan untuk disebut sebagai Hormesis.

Jadi, keduanya (latihan fisik dan puasa) merupakan bentuk-bentuk dari pengkondisian stres.

Sekedar informasi mengenai Heat Shock Protein (HSP). HSP merupakan keluarga protein yang diproduksi dari sel untuk merespon suatu kondisi stres. Pada awalnya diteliti dan ditemukan ketika seseorang terkena kondisi stres dalam bentuk panas, maka dari itu disebut dengan Heat/panas. Namun kemudian ternyata ditemukan bahwa HSP juga muncul ketika terpapar oleh stressor lain selain panas seperti misalnya dingin, cahaya ultraviolet, dan pada saat penyembuhan luka dan remodelling luka. Tidak hanya itu, produksi protein HSP ini juga dapat dipicu oleh kondisi stres pada lingkungan seperti misalnya infeksi, inflamasi, latihan fisik, racun, kelaparan, hypoxia, atau kekurangan air.

Latihan fisik sudah dikenal memiliki manfaat dari sisi kesehatan, namun latihan fisik yang ekstrim dapat berakibat buruk pada kesehatan seperti misalnya patah tulang, otot robek, ligamen putus, dan sebagainya. Bahkan dosis rendah dari radiasi dapat meningkatkan kesehatan kita seperti misalnya ultraviolet di pagi hari, namun dosis tinggi justru dapat membunuh kita. Beberapa makanan tertentu juga memiliki efek Hormesis seperti misalnya Polyphenols pada buah dan sayuran yang juga ternyata terdapat pada kopi, coklat, dan arak merah. Polyphenols itu sederhananya mikronutrisi dengan kemampuan antioksidan alami. Lihatlah, meskipun antioksidan itu baik namun dalam jumlah besar justru dapat berbahaya.

Fenomena Hormesis bagai dua sisi mata uang dalam kaitannya bagi sel, yakni membentuk kondisi ‘damaga-repair’ atau ‘merusak-memperbaiki’. Saya ambil contoh pada latihan beban seperti angkat berat yang menyebabkan robekan mikroskopis pada otot kita. Terjadinya robekan otot (meskipun dalam ukuran mikroskopis) terdengar buruk bukan? Robekan mikroskopis itu dapat kita kategorikan sebagai kondisi Hormesis yang ‘merusak’. Kemudian, sel akan berusaha memperbaiki dirinya sendiri dan menghasilkan otot yang menjadi lebih kuat dan lebih lentur. Ini adalah ‘jawaban’ dari sel terhadap kondisi Hormesis ‘merusak’ tersebut. Sehingga terjadilah Hormesis yang diharapkan yakni ‘merusak’ dan ‘memperbaiki’.

Contoh lain, Gravitasi sesungguhnya menghasilkan stres pada tulang kita. Latihan fisik dengan menggunakan berat badan sendiri seperti misalnya berlari sesungguhnya menyebabkan terjadinya ‘patahan mikro’ pada tulang-tulang kita. Namun dalam proses kerusakan itu terjadi juga proses perbaikan. Hal itu tidak terjadi apabila seseorang berada di luar angkasa dengan gravitasi nol. Tanpa adanya stres gravitasi diatas, tulang-tulang akan melemah dan mengalami osteoporosis. Jadi, Hormesis mesti dipahami dengan benar pada sisi bagaimana kerusakan itu terjadi dan pada sisi perbaikannya. Tidak boleh hanya merusak saja.

Hormesis yang ideal menyebabkan terjadinya proses ‘renewal’ atau perbaikan menjadi yang baru. Jika terjadi pada otot maka membuat terbentuknya otot yang baru yang lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya. Jika terjadi pada tulang maka akan membuat terjadinya tulang baru dan tulang menjadi tumbuh lebih kuat. Tanpa adanya proses ‘merusak dan memperbaiki’ maka kita tidak akan pernah bisa kuat.

Jika bisa merusak, maka harus bisa memperbaiki. Inilah prinsip dasar Hormesis.

Salam hangat,
MG

(bersambung)

Referensi:
[1]. Heat Shock Protein. Wikipedia. (https://en.wikipedia.org/wiki/Heat_shock_protein)
[2]. Heat-shock proteins. Li Z, Srivastava P. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18432918)
[3]. Hormesis Defined. Mark P. Mattson. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2248601/)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →