“The Map is Not the Territory” dan Prinsip Ketidakpastian Heisenberg

“THE MAP IS NOT THE TERRITORY” DAN PRINSIP KETIDAKPASTIAN

Oleh: Mas Gunggung


Banyak yang sering bertanya kepada saya kenapa kok sering mengulas lagi-lagi mengenai Tekanan Darah, Detak Jantung, Glukosa, dan Lactate?

Dalam pemahaman saya berdasarkan sudut pandang MP, untuk dapat memulai memahami lebih jauh seperti misalnya mengenai Getaran (dalam tataran fisik maupun metafisik) tentunya harus dimulai dari hal-hal yang realistis dulu. Perlahan kemudian akan masuk pada tataran yang non fisik. Ini adalah pilihan yang saya anggap paling masuk akal. Ibarat bawang, mulai dari lapisan terluar baru kemudian masuk sedikit demi sedikit ke dalam hingga bertemu dengan INTI. Toh tingkatan di MP juga dimulai dari tingkat Dasar menuju Inti. Maka, berbasis dari pemahaman itulah saya kemudian melakukan eksplorasi.

Sains juga demikian.

Dimulai dari pengamatan, dampak, efek, pengaruh, dan sebagainya pada materi hingga kemudian muncul teori Mekanika Newton. Kemudian masuk lebih jauh ke dalam materi dan ditemukan adanya atom yang konon tidak dapat dibelah dan merupakan satu unit satuan terkecil dari materi. Akan tetapi rupanya atom juga dapat dipecah lagi menjadi sesuatu yang lebih kecil dari itu. Muncullah Proton dan Elektron. Ternyata itu juga bukanlah pembentuk terkecil materi, lahirlah Quark. Dan ternyata dipecah lagi menjadi Energi Murni. Lahirlah teori Mekanika Kuantum. Disinilah lahir prinsip ketidakpastian Heisenberg[3].

Menurut Heisenberg[3], elektron yang bergerak menimbulkan perubahan dalam posisi dan momentum setiap saat sehingga posisi dan kecepatan elektron yang bergerak secara bersama-sama tidak dapat dilakukan secara tepat. Dengan kata lain, keberadaan elektron dalam lintasan tidak dapat ditentukan dengan pasti. Yang dapat ditemui hanyalah kebolehjadian ditemukannya elektron.

Maka, secara filosofis, dalam sudut pandang Kuantum kita ini sebenarnya hidup dalam ketidakpastian sehingga kadang rencana meleset, perkiraan meleset, tujuan sering tidak tercapai, dan sejenis itu. πŸ™‚

Agar supaya saya mendapatkan sedikit saja kepastian maka saya harus melakukan sesuatu. Langkah pertama yang saya lakukan adalah meluaskan literasi. Tidak bisa tidak. Otak ini harus diisi, dibenamkan pengetahuan-pengetahuan tambahan dan akan mengisi secara paralel denga pengetahuan sebelumnya agar menjadi pengetahuan khas yang dapat saya pahami minimal untuk diri sendiri. Sehingga meskipun saya berada di wilayah ketidakpastian, paling tidak ada hal-hal yang mampu saya rangkai sedemikian rupa untuk menampakkan sedikit saja wujud ‘kepastian’.

Duluuuuu (iya, huruf ‘U’ nya banyak hahahaha) kira-kira tujuh tahunan lalu saya menemukan artikel di Journal of Exercise Physiologyonline yang dipublikasikan bulan Oktober 2012 dan ditulis oleh Asano et-all[1]. Jurnal ini bertujuan untuk menginvestigasi efek fisiologis pada hyperthropy otot, kekuatan otot, dan daya tahan.

Disana disebutkan dengan jelas bahwa Strength Training[1] dapat mempengaruhi:

  1. Blood Pressure (BP), yakni tekanan darah (sistolik dan diastolik)
  2. Heart Rate (HR), yakni detak jantung (ukuran BPM atau beats per minute)
  3. Glycemia (GLU), yakni kadar Glukosa dalam darah
  4. Lactate (LAC), yakni kadar Asam Laktat dalam darah
  5. Rate of Perceived Exertion (RPE), yakni skala yang dipakai untuk mengukur intensitas latihan

Dari beberapa parameter yang diuji pada jurnal tersebut kemudian saya meluaskan literasi lagi untuk mencari tahu definisi dan pengertian dari masing-masingnya hingga sedetail-detailnya yang mampu saya pahami. Dan tentu saja pengembaraan ini tidaklah mudah. Sebab saya harus berkelana dari satu jurnal ke jurnal lain dengan banyak sekali istilah-istilah yang tidak saya pahami. Bahasa Inggris pula. Maka saya harus memahami dulu masing-masing istilah tersebut. Tujuannya tidak lain adalah untuk mengetahui sebenarnya ‘makhluk’ apa sih yang sedang saya baca ini. Tanpa memahami satu per satu istilah yang dipakai disana niscaya kita akan kesulitan dalam menentukan korelasi antara satu dengan yang lain. Bagaimana hubungan sebab akibat antara satu dengan yang lain dan sebagainya.

Namun terjadi masalah, yakni bahwa jurnal-jurnal yang ada di dunia ini berjumlah ratusan ribu atau bahkan jutaan. Ini laksana mencari jarum diantara tumpukan jerami. Waktu yang akan Anda habiskan untuk mendapatkan pemahaman seluas itu bisa dianggap ‘mustahil’. Diantara ‘tumpukan jurnal yang sangat acak’ tidaklah mungkin bisa dibuka satu persatu. Disini saya seakan kembali masuk pada dunia ketidakpastian seperti yang digambarkan Heisenberg.

Beruntunglah saya sebagai praktisi Merpati Putih karena dibekali dengan latihan yang dapat menjadi ‘tools’ atau alat bantu untuk mencari ‘jarum diantara tumpukan jerami’. Tools itu bernama filosofi “Mersudi Patitising Tindak Pusakaning Titising Hening”. Prinsip inilah yang dipakai agar menggunakan NALURI untuk MENCARI sampai dapat SESUATU YANG (dianggap) BENAR berdasarkan PETUNJUK ILAHI (sebagian menterjemahkan dengan ‘ketenangan’). Dengan menggunakan tools itulah saya mulai mencari ‘jarum’ diantara ‘tumpukan jerami’. Saya mulai mencari ‘penggalan pengetahuan’ diantara ‘tumpukan jurnal-jurnal dan informasi’ diluar sana.

Sederhananya, tools MP dipakai untuk mencari kepastian diantara ketidakapastian.

Jika praktisi getaran MP mampu menemukan warna, benda yang disembunyikan, tonggak, KTP, bahkan benda yang memiliki radiasi nuklir, maka kenapa praktisi MP yang akademisi tidak dapat menemukan jurnal-jurnal yang dapat mendukung pengembangan MP dari sisi yang lain? Toh yang dipakai cara yang sama yakni penggunaan Naluri untuk mencari ‘sesuatu’ sampai dapat dan benar.

Penggalan-penggalan pengetahuan yang didapat itu kemudian disusun, dirakit, dibentuk, dibangun, dengan susah payah agar ‘masuk akal saya’ sebelum masuk akal orang lain. Kalau saya rasa tidak masuk akal saya pada titik terendahnya, maka artinya tidak akan masuk akal orang lain juga. Meskipun tentu saja akal saya berbeda dengan akal orang lain. Sama halnya dengan akal seorang guru berbeda dengan akal murid dalam memahami.

Perlahan, penggalan-penggalan itu mulai ‘masuk akal saya’ dan mulailah sedikit demi sedikit saya tulis sedemikian rupa untuk mengetahui apakah orang lain juga menganggapnya sebagai ‘masuk akal’. Dimulai dari komunitas kecil, lalu meluas di group ini, lalu meluas di seminar dan workshop. Dan puncaknya adalah apakah semua bangunan pengetahuan ini juga masuk akal bagi para akademisi sekelas dokter, doktor dan profesor? Karena memang yang menentukan ini ilmiah atau tidak pada sebuah pemahaman yang ‘dianggap’ sains tentu harus mereka dan bukan guru-guru silat kita. Kecuali memang guru silat kita juga berprofesi sebagai seorang akademisi dan peneliti.

Terkait dengan ‘mencari jarum diantara tumpukan jerami’ ini mirip dengan kaidah ketidakpastan Heisenberg yang saya tulis diatas. Namun tools MP ini memiliki kelebihan dan selangkah lebih maju dari prinsip ketidakpastian Heisenberg. Tools Merpati Putih ini mampu menentukan dan menemukan lokasi persis dari sesuatu yang ingin dicari hingga didapati prinsip ketepatan (jawa: ‘titis’). Kok bisa? Kata kuncinya adalah ‘titising hening’ yang terjemahannya bukanlah sekedar ‘ketenangan’ semata melainkan ‘petunjuk Ilahi’. Sebab hanya melalui petunjuk Ilahiah seseorang akan mendapatkan petunjuk yang benar. Semua dalam alam ini berada dan tunduk pada hukum alam yang sudah digariskan. Maka, meminta kepada sang pemilik hukum alam adalah satu-satunya cara yang paling logis agar posisi tepat suatu pengetahuan berhasil didapat.

Saya ambil contoh kecil misalnya Anda ingin bepergian ke suatu daerah yang Anda tidak pernah datangi sebelumnya. Tentu saja kita bisa menggunakan peta untuk mendapatkan lokasi tepat posisi yang Anda inginkan. Akan tetapi akan menjadi lebih mudah ketika Anda mendapatkan petunjuk dari penduduk lokal setempat. Sebab penduduk lokal setempat itu yang paling menguasai daerah. Itulah sebabnya kenapa para penjelajah umumnya didampingi oleh penduduk lokal. Meminjam istilah yang digaungkan oleh Alfred Korzybski yakni “The map is not the territory”[2]. Anda mungkin punya peta. Entah itu peta perjalanan, peta rumah, peta harta karun, tapi peta itu bukanlah WILAYAH KEKUASAAN MUTLAK milik Anda.

Inilah yang berlaku pada alam semesta. Meski dilakukan pemetaan sedemikian rupa dari planet hingga manusia dan materi hingga energi tetap saja prinsi “your map is not your territory” berlaku disana. Sehingga tools Merpati Putih yang menempatkan ‘titising hening’ atau ‘petunjuk Ilahi’ sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam sebuah proses pencarian adalah sangat tepat. Jika tools ini yang dipakai semestinya maka niscaya MP akan sangat kaya dengan inovasi dan produk-produk pengetahuan. Hal ini disebabkan spektrum ‘titising hening’ pada tiap praktisi MP bisa berbeda. Dan setiap wilayah spektrum ‘titising hening’ ini akan mampu melahirkan pengetahuan-pengetahuan baru.

Kemudian, ketika Anda sudah sampai pada wilayah teritori dari hukum alam tersebut berdasarkan ‘titising hening’ disanalah nantinya peran Anda untuk melakukan perubahan. Meminjam istilah dari John Archibald Wheeler, manusia masuk pada hukum yang disebut “Participatory Universe”. Artinya, manusia itu adalah berpartisipasi dalam membentuk semesta itu sendiri. Wilayah teritori yang berhasil Anda masuki silahkan mau dibuat jadi apa berdasarkan jenis partisipasi Anda. Kalau partisipasinya positif, maka semesta yang dibentuk akan positif. Demikian juga sebaliknya. Disinilah peran manusia sebagai agen perubahan.

Namun tentunya hukum alam tidaklah semudah itu diubah. Sebagai manusia yang sudah meminta untuk ditunjukkan wilayah teritori maka terdapat jualah ‘adab’ untuk melakukan perubahan di dalamnya. Anda harus ‘meminta izin’ kepadaNya agar dapat mengubah hukum alam. Jika diizinkan, disanalah peran Anda berlaku. Jika tidak, maka jangan memaksakan diri. Paham betul makna ‘kulo nuwun’ istilah Jawanya.

Seperti itulah perjalanannya. Namun jangan ditanya ancaman, halangan dan rintangan untuk mencapai semua itu. πŸ™‚ Namun hidup tanpa adanya halangan dan rintangan tentu tidak menarik. Biarlah itu semua menjadi sesuatu yang menguatkan diri terus menerus. Sebagaimana latihan MP yang makin lama makin ‘menantang’ yang dimulai dari lapisan terluar yakni fisik (materi) hingga terus menerus dilakukan untuk menuju lapisan terdalam (inti/energi). Demikianlah kita semua menjalani hidup.

Maka, selama masih ada setarikan napas berjuanglah, belajarlah, berlatihlah, bertahanlah.

Salam hangat,
MG

Referensi:
[1]. https://www.researchgate.net/publication/232031949_Journal_of_Exercise_Physiologyonline
[2]. https://wiki.lesswrong.com/wiki/The_map_is_not_the_territory
[3]. http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/uncer.html
[4]. https://en.wikipedia.org/wiki/John_Archibald_Wheeler

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →