Strategi Bongkar Muat Oksigen-Karbondioksida – Bagian 3

STRATEGI BONGKAR MUAT OKSIGEN-KARBONDIOKSIDA
(Bagian 3 – Analisa Dampak)

Oleh: Mas Gunggung

_______________

Bagi Anda yang belum sempat membaca tulisan saya sebelumnya, silahkan klik pada link dibawah ini untuk Bagian 1 dan Bagian 2:

Bagian 1: https://www.facebook.com/groups/KebugaranMP/permalink/2534696299905323/
Bagian 2: https://www.facebook.com/groups/KebugaranMP/permalink/2540897569285196/

Saya akan lanjutkan ke bagian 3 mengenai analisa dampak dari strategi bongkar muat Oksigen-Karbondioksida tersebut. Setiap landasan teori yang melahirkan sebuah hipotesa mestilah harus dipikirkan benar segala dampak yang mungkin timbul dari hipotesa tersebut. Diperlukan analisa dampak dari berbagai sudut pandang.

Masalahnya adalah ketika analisa dampak ini dilakukan pada aspek teoritis tentu diperlukan pembuktian terlebih dahulu sebelum kemudian dibuat massal (diajarkan untuk umum). Maka mesti disiapkan sekelompok orang yang bersedia menjadi percobaan dari hipotesa ini. Dan karena metode ini berkaitan erat dengan aspek medis semua analisa dampak mesti diparalelkan dengan uji laboratorium berkala pada subyek yang dijadikan percobaan. Tidak bisa hanya sekedar teori diatas kertas atau di dalam pikiran. Semua harus diwujudkan dan dibuktikan via uji medis yang rutin. Paling tidak, perlu ada sample yang cukup untuk itu. Jika jumlah sample terlalu sedikit maka kita hanya bisa sebut itu sebagai ‘pencapaian’. Juga apabila tidak memiliki dukungan medis, kita sebut juga semua keberhasilan sebagai ‘pencapaian’. Tidak lebih. Kenapa? Karena Anda tidak bisa menjelaskan, tidak bisa mengurai dengan detail. Anda hanya bisa melakukan dengan tanpa tahu apakah itu akan selalu berhasil atau tidak. Adakah yang salah dengan itu? Tidak sama sekali. Prosesnya memang selalu begitu pada awalnya.

Izinkan saya cerita sedikit mengenai sejarah lahirnya Wisata Bugar.

Studi kasus Kebugaran metode Pergeseran Asam-Basa yang menggunakan para purnawirawan TNI AL sebagai ‘percobaan’ dari metode ini sejak 4 (empat) tahun yang lalu. Ketua kelompok latihan mengetahui dan menyepakati bahwa semua peserta saat itu adalah sebagai ‘percobaan’ dari sebuah metode yang dipresentasikan terlebih dahulu untuk dilihat dan ditimbang layak atau tidaknya dilatihkan kepada mereka. Setelah didengar, dilakukan tanya jawab pada semua aspek-aspeknya, barulah kemudian disepakati apa dan bagaimana teknis latihan serta pengukuran metode ini dilakukan. Tentunya saya tidak pernah berusaha ‘bermanis-manis’ menunjukkan semua kelebihan dan keuntungan dari belajar olah napas namun tetap harus realistis menunjukkan juga hal-hal yang kurang baik yang bisa saja terjadi pada latihan. Hal ini bertujuan agar peserta tahu persis semua yang didapatinya. Uji laboratorium dan pengawasan dokter tetaplah yang terbaik menjadi pilihan yang dipilih oleh peserta saat itu.

Setelah berlangsung sekian lama dengan sekian kali uji laboratorium disusunlah analisa SWOT (strength, weakness, opportunity, threat) untuk melakukan berbagai koreksi dan perbaikan pada landasan teori, metode, teknik, cara menjelaskan, sistematika latihan, dan sebagainya. Akhirnya, didapati hasil yang semakin membaik dari waktu ke waktu.

Kemudian, muncul pemikiran saat itu dari ketua kelompok latihan bahwa melihat hasil yang bagus dan membaik dari waktu ke waktu maka saya diberikan nasehat yang intinya kurang lebih sebagai berkut, “Semestinya yang Anda kembangkan ini dapat diajarkan kepada masyarakat umum lebih luas lagi. Cobalah Anda buat semacam pelatihan untuk umum dalam bentuk seminar atau workshop untuk mengajarkan pendekatan ini kepada masyarakat luas”. Darisanalah kemudian Wisata Bugar lahir. Jadi, memang embrionya lahir dari pemikiran para Laksamana purnawirawan TNI AL saat itu. Kemudian saya mendiskusikan dengan Ketua Lembaga Kebugaran saat itu dan usulan ini dipikirkan dan ditimbang oleh beliau. Setelah kemudian dilakukan tanya jawab dan diskusi selama beberapa kali akhirnya diputuskan bahwa ini adalah hal yang baik dan silahkan dilanjutkan.

Setelah pelaksanaan Wisata Bugar, saya kemudian melapor kembali kepada Ketua Lembaga Kebugaran saat itu disertai dengan analisa apa dan bagaimana pelaksanaan di lapangan. Kekurangan-kekurangannya apa saja, adakah bagian yang bisa ditingkatkan lagi? Semua didiskusikan dan diberikan nasehat, pandangan, saran-saran, agar kedepannya menjadi semakin baik lagi. Selalu seperti itu. Jika ada masalah, kemudian dicarikan jalan keluar apabila saya dirasa tidak mampu melakukan itu. Terkadang diskusinya berisi perdebatan yang cukup lumayan. Dan buat saya tidak masalah. Saya merasa sebagai ‘anak’ yang sedang dinasehati oleh ‘orang tua’. Saya bisa menerima itu karena saya tahu bahwa dibalik ‘kalimat pahit’ yang terlontar dari beliau saat itu berisi semangat untuk membuat lebih maju untuk masa yang akan datang.

Demikian sekilas sejarah lahirnya Wisata Bugar.

Baiklah, saya teruskan mengenai analisa dampak dari Strategi Bongkar Muat Oksigen-Karbondioksida.

Pada Bagian 2 sebelumnya sudah saya jelaskan bagaimana teknik ini menjadikan hampir seluruh total volume darah di badan manusia sebagai ‘kolam penampungan oksigen-karbondioksida’ sementara. Para olahraga aerobik biasa, pertukaran gas antara Oksigen dan Karbondioksida terjadi langsung saat itu sedangkan pada teknik ini semua Oksigen dikumpulkan dulu dalam Hemoglobin sebelum kemudian dilepas secara besar-besaran ke jaringan.

Kalau disederhanakan, agar memudahkan dalam memahami, teknik ini memandang tubuh sebagai 2 (dua) entitas saja yakni DARAH dan JARINGAN. Dan oleh karena sel selalu berada pada suatu kondisi pH tertentu, maka teknik ini memandang kombinasi dari keduanya dengan 4 (empat) perubahan sebagai berikut:

1. Darah => Basa, Jaringan => Basa
2. Darah => Basa, Jaringan => Asam
3. Darah => Asam, Jaringan => Basa
4. Darah => Asam, Jaringan => Asam

Disinilah nanti pengetahuan Kimia Umum (General Chemistry) berlaku yakni Respiratory Acidosis, Respiratory Alkalosis, Metabolik Acidosis, dan Metabolik Alkalosis. Kapan waktu nanti saya bahas terpisah.

Secara matematis mengilustrasikan bagaimana pH dipengaruhi oleh rasio HCO3- (bikarbonat) dan H2CO3 (sistem buffer bikarbonat) dengan rumus Henderson-Hasselbalch sebagai berikut:

pH = pK + log (HCO3- / H2CO3)

Nilai pK diturunkan dari konstanta diasosiasi dari Asam. Rasio pK adalah 6:1 dengan rasio HCO3- dan H2CO3 adalah 20:1 pada kondisi normal. Secara klinis, CO2 terlarut (pCO2 x 0.03) dapat digunakan sebagai denominator pada persamaan H-H. Hal ini dimungkinkan mengingat kesetimbangan CO2 terlarut dalam darah berbanding lurus dengan H2CO3. PaCO2 mudah diukur melalui analisa Arterial Blood Gasses (ABG) dan dapat dengan mudah dikonversi menjadi mmol/L (sama dengan mEq/L) sehingga rumus diatas akan menjadi sebagai berikut:

pH = 6.1 + log10 ( (HCO3- / (0.03 x pCO2)) )

Penerapan persamaan Henderson-Hasselbalch pada kondisi Normal ketika nilai HCO3- dan pCO2 menggunakan nilai standar yakni HCO3- sebesar 24 mEq/L dan pCO2 sebesar 40 mmHg yang akan menghasilkan rasio 20:1 dengan perincian persamaan sebagai berikut:

pH = pK + log (( (HCO3- / (0.03xpCO2)) )
= 6.1 + log ((24 / (0.03 x 40)) )
= 6.1 + log (24/1.2)
= 6.1 + log (20)
= 6.1 + 1.3
= 7.4

Inilah asal mula nilai normal pH yang juga dianggap sebagai nilai sel yang sehat ada pada angka 7.4.

Sedangkan penerapan persamaan Henderson-Hasselbalch pada kondisi Tidak Normal terjadi ketika konsentrasi HCO3- dan PCO2 berubah menaik atau menurun yang terbagi menjadi 2 (dua) yakni ketika nilai HCO3- = 29 mEq/L dan pCO2 = 80 mmHg, maka rasio menurun menjadi 12:1 dan nilai pH menjadi 7.18 (semakin Asam). Demikian juga kebalikannya, ketika nilai HCO3- = 20 mEq/L dan pCO2 = 20 mmHg maka rasio meningkat menjadi 33:1 dan nilai pH menjadi 7.62 (semakin Basa).

pH = pK + log (( (HCO3- / (0.03 x pCO2)) )
= 6.1 + log ((29 / (0.03 x 80)) )
= 6.1 + log (29/2.4)
= 6.1 + log (12)
= 6.1 + 1.08
= 7.18 (semakin Asam)

pH = pK + log (( (HCO3- / (0.03 x pCO2)) )
= 6.1 + log ((20 / (0.03 x 20)) )
= 6.1 + log (20/0.6)
= 6.1 + log (33)
= 6.1 + 1.52
= 7.62 (semakin Basa)

Jadi, dapat dilihat bahwa nilai HCO3- (bikarbonat) dan CO2 (karbondioksida) adalah yang berperan dalam pengubahan pH. Hal ini memiliki implikasi bahwa konsentrasi gas merupakan yang paling berpengaruh pada perubahan pH sekaligus yang paling cepat mempengaruhi perubahannya.

Saya akan ambil contoh yang terjadi pada Teknik Optimalisasi pH saat Hiperventilasi dan Hipoventilasi.

Hiperventilasi, berdasarkan sudut pandang Oksigen maka Darah menjadi maksimum Oksigen sedangkan Jaringan menjadi defisit Oksigen (intermittent hypoxia). Jika Darah menjadi maksimum Oksigen artinya Karbondioksida menjadi sangat rendah pada proses itu. Oleh karena Karbondioksida rendah maka berdasarkan rumus Henderson-Hasselbalch akan terjadi kenaikan pH. Sederhananya, saat Hiperventilasi menyebabkan Oksigen tinggi pada Darah maka pH Darah saat itu cenderung Basa. Sedangkan pada Jaringan saat itu mendapat sedikit Oksigen dan jaringan mengalami Intermittent Hypoxia. Jika Oksigen sedikit maka kemungkinan yang terjadi hanya ada 2 (dua) saja yakni Anaerobik Glycolysis yang berujung pada pembentukan Lactate dan sedikit Aerobik Glycolysis yang berujung pada pembentukan Karbondioksida dalam jumlah kecil. Keduanya (Lactate dan Karbondioksida) merupakan penyumbang terbesar keasaman. Jika disederhanakan, konsekwensi dari Hiperventilasi pada Darah dan Jaringan yang berkaitan dengan pH menjadi sebagai berikut:
– pH Darah menjadi Basa 
– pH Jaringan menjadi Asam

Maka, berkebalikan dengan pemahaman yang umum bahwa semakin cepat menghirup napas via hiperventilasi mengakibatkan jaringan semakin banyak mendapatkan Oksigen. Pemahaman ini kurang tepat. Yang lebih tepat adalah Darahnya yang lebih banyak mendapatkan Oksigen sedangkan Jaringan tubuh lainnya justru defisit Oksigen. Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan efek Bohr dimana Hiperventilasi akan menggeser kurva disasosiasi Oksigen ke arah kiri. Afinitas/ketertarikan Oksigen menguat pada Hemoglobin dan mengakibatkan Oksigen cukup sukar dilepas dari Hemoglobin. Jika Oksigen sukar lepas dari Hemoglobin maka sudah pasti Jaringan tubuh tidak cukup mendapatkan Oksigen.

Hipoventilasi, berdasarkan sudut pandang Oksigen maka Darah menjadi defisit Oksigen (intermittent Hypoxia) sedangkan Jaringan menjadi maksimum Oksigen. Jadi, pada kondisi ini yang mengalami defisit Oksigen justru Darah sedangkan Jaringan tubuh mengalami maksimum Oksigen. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Balik lagi ke kaidah efek Bohr dimana Hipoventilasi akan menggeser kurva diasosiasi Oksigen ke arah kanan sehingga afinitas/ketertarikan Oksigen melemah pada Hemoglobin. Lemahnya afinitas ini menyebabkan Oksigen mudah dilepas ke jaringan tubuh. Maka, jaringan tubuh mendapatkan suplai oksigen besar-besaran pada proses ini.

Implikasi apa yang dapat muncul pada kondisi tersebut?

Yang harus diingat adalah bahwa semua sudut pandang pada Teknik Optimalisasi pH ini selalu dilihat pada Darah dan Jaringan. Hanya dua itu saja. Maka akan terjadi implikasi dampak klinis pada Darah dan pada Jaringan.

HIPERVENTILASI

Pada saat Hiperventilasi dilakukan dimana Darah menjadi maksimum Oksigen akan didapati beberapa dampak sebagai berikut:
– pH Darah berubah menjadi Basa
– Semua fungsionalitas protein dan enzim pada Darah perlahan-lahan menjadi optimal
– Proses Anaerobik Glycolysis akan terjadi pada Darah secara wajar meskipun Oksigen tinggi karena Darah merupakan sel yang tidak memiliki nukleus dan Mitokondria sehingga tidak begitu terpengaruh oleh konsentrasi Oksigen
– Dan lain-lain (kapan waktu saya bahas lebih detail)

Sedangkan beberapa dampak yang terjadi pada Jaringan sebagai berikut:
– Jaringan mengalami Hypoxia dan mendapatkan manfaat atau kerugian dari Intermittent Hypoxia
– Terjadi peningkatan keasaman via Lactate karena Glycolysis tidak menghasilkan Pyruvate melainkan Lactate. Ingat, Glycolysis terjadi di dua tempat yakni Cytoplasm dan Mitokondria. Proses Glycolysis yang terjadi pada Cytoplasm biasa disebut dengan Anaerobik Glycolysis sedangkan yang terjadi pada Mitokondria biasa disebut dengan Aerobik Glycolysis.
– pH jaringan berubah menjadi Asam
– Sedikit terjadi reaksi Aerobik Glycolysis sehingga menghasilkan sedikit Karbondioksida
– Dan lain-lain (kapan waktu saya bahas lebih detail)

HIPOVENTILASI

Sebaliknya, pada saat Hipoventilasi dilakukan dimana Darah menjadi defisit Oksigen akan didapati dampak sebagai berikut:
– Konsentrasi Karbondioksida dalam darah meningkat
– pH Darah berubah menjadi Asam
– Semua fungsionalitas protein dan enzim pada Darah perlahan-lahan melambat
– Terjadi peningkatan Fibroblast (sel yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka)
– Dan lain-lain (kapan waktu saya bahas lebih detail)

Sedangkan beberapa dampak yang terjadi pada Jaringan sebagai berikut:
– Jaringan mengalami maksimum Oksigen
– Terjadi peningkatan sensitivitas Insulin
– Terjadi peningkatan Aerobik Glycolysis akibat dari tingginya Oksigen, efeknya akan terjadi peningkatan Karbondioksida sebab CO2 adalah salah satu hasil produk dari Glycolysis
– pH jaringan berubah menjadi Basa
– Dan lain-lain (kapan waktu saya bahas lebih detail)

Ada banyak sekali dampak yang mungkin timbul dari perubahan konsentrasi Asam-Basa pada Darah dan Jaringan. Saya menyebutnya “Pergeseran” yakni pergeseran Asam-Basa pada Darah dan Jaringan. Darisanalah istilah “Pergeseran Asam-Basa” lahir.

Salah satu yang akan saya soroti adalah mengenai Fibroblast atau sel yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka. Menurut SWIM dan PARKER (1958) menyatakan bahwa Karbondioksida adalah nutrisi bagi Fibroblast. Sederhananya, apabila ada Karbondioksida dalam jumlah cukup banyak pada Darah maka ia akan mampu meningkatkan jumlah Fibroblast. Namun masalahnya, tubuh kita tidak didesain untuk menampung cukup banyak Karbondioksida. Kita akan menjadi sangat tidak nyaman pada jumlah CO2 yang cukup banyak. Mesti harus ada strategi yang membuat tubuh mampu menampung lebih banyak CO2 dari biasanya. Dan ini tidak bisa dilakukan dengan pendekatan olahraga aerobik biasa. Tidak akan bisa.

Potensi Fibroblast ini dapat dipakai untuk melakukan PERCEPATAN proses penyembuhan dan penutupan pada luka sayat baik yang terjadi di dalam tubuh maupun diluar tubuh. Saya sertakan studi kasus pada lutut yang luka dan pada luka sepanjang nyaris satu meter. Mohon maaf jika gambarnya sedikit terlihat kurang nyaman meski sudah saya blur ubah kecerahan warnanya. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa potensi teknik ini dapat dipakai untuk melakukan perbaikan besar-besaran terhadap luka. Terlihat pada foto luka bahwa hanya dalam waktu 10 hari latihan teknik ini dengan arahan menyebabkan penutupan luka terbuka hingga kembali terbentuk jaringan parut pada kulit nyaris pada semua lukanya. Maka, tidaklah heran jika salah satu klinik bersalin di Jawa Tengah menggunakan pendekatan ini untuk membantu ibu-ibu yang telah melahirkan agar luka-luka sayat akibat melahirkan normal maupun cesar pulih dengan cepat.

Maka, memikirkan semua dampak dari hipotesa itu sangat penting. Silahkan ‘ngoprek’ yang dilandasi ilmu dengan penuh bertanggungjawab. Tidak asal-asalan pakai teori yang tidak dimengerti dan tidak pernah dipikirkan dampaknya. Contoh ketidakpahaman akan dampak adalah mencobai orang untuk melakukan ‘percobaan’ hiperventilasi hingga beratus kali atau berjam-jam hanya karena ‘tahu’ bahwa hiperventilasi adalah pola napas pembentuk Basa. Lalu menunggu reaksi orang yang dicobai ini seperti apa hasilnya. Ketidaktahuan akan detail akan menyebabkan fluktuasi pada keberhasilan dan bahkan dapat menimbulkan bahaya karena jaringan menjadi terlalu Hipoxia dan hal-hal yang buruk dapat terjadi.

Saya selalu katakan kepada siapapun yang belajar metode ini bahwa pakailah teknik yang saya ajarkan TANPA pengubahan. Sebab sedikit pengubahan memerlukan subyek percobaan dan analisa baru. Perlu pengukuran dan pencatatan baru, review ulang, pengukuran ulang, dan lain sebagainya yang tidak mudah tidak sebentar. Dan oleh karena subyek percobaan saya saat ini adalah para lansia purnawirawan maka semua yang saya berikan ke masyarakat adalah berdasarkan hasil dari sana yang sama persis. Dengan demikian hasilnya dapat diprediksi dan tidak keluar jalur terlalu jauh.

Adakah potensi lain? Tentu saja ada dan banyak. Kapan waktu nanti akan saya bahas terpisah.

(bersambung)

Referensi:
[1]. The energy-less red blood cell is lost: erythrocyte enzyme abnormalities of glycolysis. Richard van Wijk and Wouter W. van Solinge. (http://www.bloodjournal.org/content/106/13/4034)
[2]. The Role of Carbon Dioxide as an Essential Nutrient for Six Permanent Strains of Fibroblasts. H. E. Swim and R. F. Parker. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/…/artic…/PMC2224542/pdf/525.pdf)
[3]. Why is the partial oxygen pressure of human tissues a crucial parameter? Small molecules and hypoxia. Aude Carreau, Bouchra El Hafny-Rahbi, Agata Matejuk, Catherine Grillon, Claudine Kieda. (http://onlinelibrary.wiley.com/…/j.1582-4934.2011.01258…/pdf)
[4]. The Bohr effect and the Haldane effect in human hemoglobin. Tyuma I. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/6433091)
[5]. Physiology, Alkalosis, Respiratory. Joshua E. Brinkman; Sandeep Sharma. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482117/)
[6]. The Magic of Hyperventilation. G.M. Woerlee. (http://www.anesthesiaweb.org/hyperventilation.php)
[7]. Acid-Base Homeostasis. L. Lee Hamm, Nazih Nakhoul, and Kathleen S. Hering-Smith. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4670772/)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →