Strategi Bongkar Muat Oksigen-Karbondioksida – Bagian 2

STRATEGI BONGKAR MUAT OKSIGEN-KARBONDIOKSIDA
(Bagian 2 – Tinjauan Teknis)

Oleh: Mas Gunggung


Bagi Anda yang belum sempat membaca tulisan saya sebelumnya, silahkan klik pada link dibawah ini untuk Bagian 1:

Bagian 1: https://www.facebook.com/groups/KebugaranMP/permalink/2534696299905323/

Tulisan dibawah ini saya sarikan dari buku saya mengenai Kebugaran metode Pergeseran Asam-Basa untuk memberikan gambaran teoritis bagaimana landasan logika dari Teknik Optimalisasi pH dibangun. Penjelasan yang lebih detail ada di buku “Trainer of Trainer” bagi para calon trainer yang ingin menekuni lebih dalam metode ini. Bahasan kali ini meski judulnya tinjauan teknis namun sedikit lebih santai.

SEKAPUR SIRIH

Kebugaran metode Pergeseran Asam-Basa dibangun pada 7 (tujuh) pilar pemahaman sebagai berikut:

  1. Sistem Sirkulasi
  2. Stres Manajemen
  3. pH
  4. Metabolisme Sumber Energi (Glukosa, Lactate, dan Ketone)
  5. Syaraf Otonom
  6. Hormonal
  7. Gelombang Elektromagnetik

Keseluruhan pilar kemudian dirumuskan dalam konsep leveling yang terdiri dari 7 (tujuh) level yakni Level Diam, Level Gerak, Level Beban, Level Alam, Level Kombinasi, Level Khusus, dan Level Inti. Pemahaman pada masing-masing levelnya didasarkan pada pemahaman biokimia yang dibangun melalui argumen-argumen logis yang berdasar. Silahkan membaca tulisan saya mengenai konsep leveling di metode ini pada group ini.

Pengetahuan mengenai pilar-pilar diatas akan menghasilkan pemahaman mengenai berbagai solusi kesehatan dari yang ringan hingga yang berat. Jadi, tujuan dari metode ini bukanlah untuk mengobati atau menyembuhkan penyakit melainkan memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mereka yang mempelajarinya. Melalui pemahaman inilah kemudian dapat dirumuskan berbagai solusi kesehatan untuk ‘mengobati’ dan ‘menyembuhkan’. Dengan kata lain, pengobatan dan penyembuhannya adalah hasil dari keberhasilan memahami metode ini pada teori dan prakteknya melalui bimbingan.

Sederhananya, metode ini adalah strategi edukasi biokimia olah napas kepada yang mempelajarinya dan bukan sekedar mempelajari tekniknya. Banyak orang yang merasa sudah ‘tahu’ tekniknya namun macet dalam mengimplementasikan dengan beragam masalah di lapangan. Hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai konsep-konsep dasar metode ini yang rumusannya didasarkan pada pemahaman biokimia. Oleh karena tidak mengerti penjelasannya maka seringkali didapati anomali dan fluktuasi pada hasil yang semestinya bisa diprediksi lebih baik.

Misal jika diambil analogi mereka yang hanya tahu tekniknya, tentunya praktisi tingkat Dasar atau yang lebih tinggi yang sudah tahu Napas Pembinaan akan dapat mengajarkannya kepada orang lain. Namun, bisakah praktisi tingkat Dasar menjelaskan kaidah olah napas yang dipelajarinya atau yang dia ajarkan tadi kepada orang lain secara detail? Mampu diseminarkan, didiskusikan, dirunut, dibuat sistematis hingga dapat dilakukan oleh banyak orang dengan hasil yang sama? Meski sama-sama tahu Napas Pembinaan misalnya, namun bisakah apabila diajarkan pada 10 orang dapat menghasilkan keberhasilan yang sama untuk semuanya? Jika Anda berhasil, bisakah keberhasilan itu “ditularkan” pada orang lain dengan hasil yang sama? Ini merupakan ‘tantangan’ yang umum terjadi dalam mempelajari suatu keilmuan.

Maka dari itu pentingnya mempelajari metode ini secara utuh agar seseorang dapat melihat gambaran besarnya dan gambaran detailnya agar tidak terjebak pada sekedar ‘tahu’ lalu berani melakukan ‘oprekan’ yang berimbas pada tingginya prosentase kegagalan akibat tidak mengertinya detail dari metode ini.

Saya membagi pengetahuan metode ini menjadi beberapa bagian dari mulai yang paling mendasar hingga yang ingin menjadi Trainer. Untuk menjadi Trainer, mutlak harus belajar biokimia sesuai pemahaman metode ini dan melatihnya dengan standar parameter-parameter tertentu yang ditentukan seperti misalnya melakukan crunches/sit up minimal sebanyak 600x atau push up minimal sebanyak 300x dalam satu sesi latihan yang lamanya kurang dari 45 menit. Apabila calon trainer tidak bisa mencapai target kemampuan ini maka calon trainer dianggap gagal dan harus belajar lebih giat lagi. Tentunya saya akan mencontohkan terlebih dahulu sebelum calon trainer mempraktekkan. Calon trainer juga akan ditest tanya jawab mengenai landasan logika yang dibangun pada metode ini. Mampu apa tidak ia menjawabnya dengan baik? Mengertikah kerangka logika yang dibangun oleh metode ini? Dan banyak lagi. Setelah itu, calon trainer wajib harus bisa menjelaskan kenapa bisa begini dan begitu dengan argumen logis yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan. Tidak ngawur dan asal-asalan.

Baiklah, saya akan lanjutkan ke tulisan yang lebih teknis namun santai mengenai strategi bongkar muat Oksigen-Karbondioksida. Mudah-mudahan dapat dimengerti. Kita belajar landasan teorinya dulu secara umum baru nanti masuk ke yang lebih khusus.

LANDASAN UMUM TEORI

Secara umum, terdapat 11 sistem pada tubuh manusia yang satu sama lain saling terkait. Salah satu sistem yang akan dibahas terlebih dahulu adalah Sistem Sirkulasi. Secara garis besar sistem ini terdiri dari Darah, Jantung, Paru-paru, Pembuluh Darah (Vena dan Arteri), Pembuluh Kapiler, dan Limfatik. Jika disederhanakan dalam bahasa saya, sistem sirkulasi terdiri dari Sirkulasi Merah dan Sirkulasi Putih. Sirkulasi merah sering disebut dengan sistem kardiovaskular sedangkan sirkulasi putih sering disebut dengan sistem limfatik. Silahkan membaca tulisan saya di group ini mengenai gambaran sirkulasi merah dan sirkulasi putih secara umum.

Terdapat hubungan yang sangat kuat antara pH dengan pola napas. Hal ini dikarenakan penentuan nilai pH didasarkan pada rumus Handerson-Hasselbalch yang memperhitungkan variabel Karbondioksida. Artinya, perlakuan tertentu terhadap Karbondioksida akan mempengaruhi nilai pH sebesar tertentu pula. Oleh karena Karbondioksida merupakan antagonis dari Oksigen dimana jika Oksigen tinggi artinya Karbondioksida rendah maka demikian juga sebaliknya. Kedua jenis gas ini tidak bisa dua-duanya tinggi dan tidak bisa dua-duanya rendah. Dengan demikian, kita dapat memprediksi naik turunnya nilai pH dengan melihat cara memperlakukan konsentrasi Karbondioksida. Keterkaitan antara nilai pH dengan konsentrasi nilai Karbondioksida adalah apabila Karbondioksida rendah maka pH menjadi tinggi (Basa) sedangkan apabila nilai Karbondioksida tinggi maka pH menjadi rendah (Asam). Apa dan bagaimana detail rumus Henderson-Hasselbalch beserta perhitungannya silahkan membaca tulisan saya di group ini mengenainya.

Terdapat juga hubungan antara pH dan sel bahwa ketika pH menjadi Basa maka fungsi sel akan menjadi sangat optimal. Kriteria sel yang sehat dikategorikan sebagai sel yang memiliki pH cenderung Basa dengan nilai 7.35 hingga 7.45. Perubahan nilai pH juga dapat dipengaruhi oleh eksitasi elektron pada sel namun hal itu cukup sulit diukur dengan alat yang sederhana. Pengukuran yang termudah untuk menunjukkan adanya perubahan pH adalah menggunakan kertas lakmus (non invasif) dan uji ABG (arterial blood gasses). Kertas Lakmus digunakan sebagai penanda terjadinya perubahan pH pada setiap aktivitas yang menyebabkan terjadinya penurunan atau penaikan kadar Karbondioksida via olah napas. Sedangkan pada pengkuran yang lebih kompleks melibatkan berbagai variabel yang masuk pada CHEM-7 via ABG. Apa dan bagaimana CHEM-7 dan ABG secara umum silahkan membaca tulisan saya di group ini mengenainya.

Manusia bernapas menggunakan pola tertentu. Pola ini dapat disengaja untuk dibentuk atau dapat terjadi karena suatu kondisi fisiologis atau patologis. Berdasarkan hubungannya dengan pH, ada yang disebut dengan pola napas pembentuk Basa atau Respiratory Alkalosis dan pola napas pembentuk asam atau Respiratory Acidosis.

Respiratory Alkalosis didefisinikan sebagai gangguan pada keseimbangan Asam-Basa yang disebabkan oleh terjadinya alveolar hiperventilasi. Alveolar hiperventilasi akan memicu penurunan tekanan Karbondioksida para arteri (PaCO2). Pada gilirannya, penurunan PaCO2 akan meningkatkan rasio konsentrasi ion Bikarbonat sehingga terjadi kenaikan pH. Penurunan PaCO2 (disebut dengan istilah hypocapnia) terjadi ketika sebuah stimulus pernapasan yang kuat akan menyebabkan sistem pernapasan membuang lebih banyak Karbondioksida dibandingkan yang mampu dihasilkan oleh hasil metabolisme jaringan. Jadi, berdasarkan definisi tersebut pola napas pada Respiratory Alkalosis disebut dengan Hiperventilasi.

Respiratory Acidosis didefinisikan sebagai gangguan pada keseimbangan Asam-Basa yang disebabkan oleh terjadinya alveolar hipoventilasi. Produksi Karbondioksida terjadi dengan cepat sehingga meningkatkan nilai PaCO2 (disebut dengan istilah hypercapnia). Peningkatan Karbondioksida para gilirannya akan menurunkan rasio ion Bikarbonat sehingga terjadi penurunan pH. Hal ini terjadi akibat dari adanya pembuangan Karbondioksida pada pernapasan lebih sedikit dibandingkan yang mampu diproduksi oleh jaringan. Jadi, berdasarkan definisi tersebut pola napas pada Respiratory Acidosis disebut dengan Hipoventilasi.

Tarik napas dulu…

Untuk melakukan adjusment/penyesuaian maka tubuh segera mengaktifkan mekanisme penyangga atau Buffer yang terdiri dari Chemical Buffer, Respiratory Buffer, dan Renal Buffer agar kestabilan Asam-Basa tubuh kembali terjaga. Sederhananya, Buffer merupakan kondisi tubuh untuk menyangga keseimbangan Asam-Basa. Urutan penyangga/buffer ini dimulai dari chemical, kemudian respiratory, dan terakhir renal (ginjal). Ketika Chemical Buffer tidak mampu menjalankan fungsinya maka tubuh akan meningkatkan kemampuan penyangga menjadi Respiratory Buffer yakni memaksa paru-paru melakukan penyesuaian dengan cara membentuk Hiperventilasi atau Hipoventilasi. Lama waktu Buffer ini ada yang dalam hitungan detik, menit, jam, hingga hari. Jadi, berdasarkan definisi tersebut mekanisme Buffer adalah kondisi yang dilakukan oleh tubuh untuk mengembalikan keseimbangan Asam-Basa dimana Hiperventilasi dan Hipoventilasi merupakan salah satunya.

Saat kita menghirup napas, maka Oksigen akan dihirup dan masuk ke dalam paru-paru. Kemudian Jantung akan mengalirkan darah menuju paru-paru untuk ‘menjemput’ Oksigen dan memasukkannya ke dalam Darah. Darah yang berisi Oksigen ini kemudian dialirkan lagi ke Jantung untuk disirkulasikan ke seluruh jaringan tubuh dan membentuk suatu proses kimiawi tertentu. Terjadi berbagai reaksi kimiawi Oksigen pada jaringan dengan produk hasil berupa Karbondioksida, Air, dan sejumlah energi dan panas. Karbondioksida yang dihasilkan oleh metabolisme jaringan tubuh ini kemudian dimuat lagi oleh darah dan dialirkan kembali ke paru-paru untuk dibuang melalui hembusan napas. Hal itu terus terjadi setiap saat. Jadi, darah merupakan media transport untuk membawa Oksigen dan atau Karbondioksida. Atau jika disederhanakan, darah merupakan ‘media penyimpanan sementara’ atau ‘temporary storage’ bagi Oksigen dan Karbondioksida.

Elemen dari darah yang bertugas menjadi media penyimpanan Oksigen tersebut adalah sel darah merah (eritrosit) pada bagian Hemoglobin. Hemoglobin merupakan protein Heme yang memiliki zat besi (iron/Fe). Terdapat fungsi lain dari darah sebagai regulasi dan proteksi yang nanti akan saya jelaskan bertahap. Jika diibaratkan, Hemoglobin adalah ‘taksi’ yang melakukan bongkar muat ‘penumpang’ yang bernama Oksigen dan Karbondioksida. Melalui proses ini dikenal adanya Oksigen terlarut atau Oxyhemoglobin dan Karbondioksida terlarut atau Carboxyhemoglobin. Lihat gambar 1.

Proses bongkar muat Oksigen-Karbondioksida ini dapat dijelaskan dengan menggunakan pemahaman mengenai efek Haldane dan efek Bohr. Sederhananya, efek Bohr terjadi di jaringan tubuh dan membantu dalam proses pelepasan Oksigen dari Hemoglobin sedangkan efek Haldane terjadi di paru-paru dan membantu dalam proses pemuatan Oksigen ke dalam Hemoglobin. Hal-hal yang mempengaruhi afinitas atau ketertarikan Oksigen-Karbondioksida dengan Hemoglobin diantaranya adalah temperatur, pH, dan tekanan darah. Lihat gambar 2.

Saya akan urai satu persatu.

Pola napas manusia dapat dihitung berdasarkan jumlah rata-rata tarik napas dan buang napas dalam satu menit. Apabila terjadi kenaikan dalam jumlah rerata tarik napas dan buang napas dalam satu menit dari biasanya maka disebut dengan Hiperventilasi. Sebaliknya, apabila dengan sengaja terjadi penurunan secara ekstrim rata-rata tarik napas dan buang napas misalnya hanya 1x dalam satu menit maka hal ini disebut dengan Hipoventilasi.

Hiperventilasi, yang merupakan bagian dari Respiratory Alkalosis, dapat dibagi lagi menjadi Hiperventilasi-Slow, Hiperventilasi-Power, dan Hiperventilasi-Fast. Oleh karena Respiratory Alkalosis disebut sebagai pola napas pembentuk Basa maka artinya pola olah napas yang menghasilkan kondisi pembentuk Basa adalah mencakup slow breath, power breath, dan fast breath.

Misalnya pada contoh seseorang yang melakukan aktivitas fisik cukup berat dan terjadi peningkatan keasaman pada darahnya maka secepat itu tubuhnya melakukan penyesuaian dengan cara membentuk Buffer yang dimulai dari chemical, respiratory, dan renal. Jika chemical buffer gagal mengembalikan keseimbangan Asam-Basa maka tubuh akan meningkatkan buffer menjadi Respiratory buffer. Lahirlah pola napas pembentuk Basa atau Hiperventilasi dalam bentuk ‘ngos-ngosan’. Dengan kata lain, ‘ngos-ngosan’ melakukan Hiperventilasi berjenis ‘fast breath’. Begitu tercapai keseimbangan Asam-Basa maka hiperventilasi sudah tidak diperlukan lagi dan Anda bernapas normal seperti biasa lagi. Ini artinya pH sudah kembali normal. Lihat gambar 2.

Masing-masing pola Hiperventilasi dan Hipoventilasi memiliki karakteristik tersendiri. Saya akan ambil contoh pada Hiperventilasi yang berjenis Slow, yang sering disebut dengan ‘deep breathing’ atau bernapas dalam atau bernapas perlahan dan panjang atau napas halus. Maka, semua jenis pola napas halus yang menghasilkan kondisi ‘deep breathing’ dapat dikategorikan sebagai Hiperventilasi-Slow. Beberapa teknisnya pada Merpati Putih dikenal dengan istilah Napas Penenangan, Napas Pembersih, Napas Segitiga, Napas Segiempat, you name it. Pola napas halus jenis ini sering dipakai pada teknik meditasi di banyak tradisi beladiri dengan nama-nama yang berbeda-beda. Maka, tidak heran misalnya orang yang menderita penyakit akibat lingkungan yang terlalu Asam (tumor, kista, miom, kanker) kemudian menjalani meditasi secara benar yang diiringi perubahan gaya hidup akan dapat membaik atau bahkan sembuh. Hal ini dikarenakan salah satu faktor penyebab sehat tercapai yakni terbentuknya lingkungan darah yang Basa akibat dari dilakukannya pola napas Hiperventilasi-Slow secara intens dan terus menerus. pH darahnya naik secara bertahap dan mencapai kondisi Basa pada satu waktu. Dan pada posisi tersebut, semua fungsionalistas enzim, protein, dan lain sebagainya membaik. Lihat gambar 3.

Namun sekali lagi, konsekwensi dari tubuh yang terlalu Basa oleh karena melakukan Hiperventilasi akan segera dinetralisir oleh Buffer agar segera dicapai keseimbangan. Apabila tubuh dipaksa untuk mengalami kenaikan pH hingga mencapai 9 maka berbagai penyesuaian akan dilakukan dari sisi metabolisme. Dikenal ada yang namanya Metabolik Acidosis dan Metabolik Alkalosis. Kapan waktu akan saya jelaskan mengenai Metabolik Acidosis dan Metabolik Alkalosis secara lebih detail.

Berdasarkan efek Bohr, Hiperventilasi akan menggeser kurva disasosiasi Oksigen ke arah kiri. Hal ini menyebabkan terjadinya afinitas atau ketertarikan Oksigen menguat pada Hemoglobin dan mengakibatkan Oksigen cukup sukar dilepas dari Hemoglobin. pH darah akan meningkat menjadi lebih Basa pada kondisi ini akibat dari berkurangnya Karbondioksida dalam Hemoglobin sedangkan pH jaringan menjadi Asam karena sedikit Oksigen.

Namun sebaliknya, pada Hipoventilasi akan menggeser kurva diasosiasi Oksigen ke arah kanan. Hal ini menyebabkan afinitas Oksigen melemah pada Hemoglobin dan Oksigen akan mudah dilepas dari Hemoglobin. Pelepasan Oksigen pada jaringan akan memicu metabolisme Glycolysis yang tinggi pada jaringan. Ini berarti akan dihasilkan lebih banyak Karbondioksida. Afinitas Karbondioksida dengan Hemoglobin lebih tinggi sekitar 100-100.000 kali dibandingkan Oksigen dengan Hemoglobin. Artinya, jika ada Karbondioksida dan Oksigen pada suatu saat maka Karbondioksida akan lebih cepat tertarik pada Hemoglobin. Hal ini dikarenakan adanya molekul Fe (zat besi) pada Hemoglobin yang memiliki ketertarikan lebih kuat pada CO dibanding Oksigen. Sehingga pada saat terjadi Hipoventilasi, Oksigen akan turun drastis dan darah akan memuat lebih banyak Karbondioksida. pH darah akan menurun menjadi lebih Asam pada kondisi ini sedangkan pH jaringan menjadi lebih Basa karena kaya Oksigen.

HIPOTESA

Pada kondisi Hiperventilasi menyebabkan Hemoglobin akan mengikat kuat Oksigen dan mengurangi pelepasan Oksigen pada jaringan. Efeknya, nilai SpO2 akan mulai naik dan mencapai maksimum bertahan pada 99-100% selama jangka waktu tertentu selama Hiperventilasi masih terus dilakukan. Artinya, pada saat melakukan Hiperventilasi akan terjadi maksimum Oksigen pada darah dan defisit Oksigen pada jaringan. Bahasa sederhananya, terjadi Intermittent Hypoxia pada jaringan tubuh saat Hiperventilasi terjadi. Sebaliknya, pada kondisi Hipoventilasi menyebabkan Hemoglobin akan ramai-ramai melepas Oksigen pada jaringan sehingga nilai SpO2 akan menurun secara drastis. Artinya, pada saat melakukan Hipoventilasi akan menyebabkan defisit Oksigen pada darah dan maksimum Oksigen pada jaringan. Bahasa sederhananya, terjadi Intermittent Hypoxia pada darah.

Nah, Teknik Optimalisasi pH didefinisikan sebagai strategi melakukan bongkar muat Oksigen-Karbondioksida dari darah ke jaringan dan dari jaringan ke darah dengan menjadikan Darah sebagai ‘penampungan’ sementara Oksigen atau Karbondioksida sampai penuh sebelum nanti dilepaskan dengan menggunakan pendekatan Respiratory Alkalosis dan Respiratory Acidosis secara tertentu. Dengan kata lain, ia merupakan teknik yang memaksimalkan penggunaan Hiperventilasi dan Hipoventilasi sedemikian rupa untuk menjadikan Darah sebagai ‘kolam penampungan Oksigen’ yang dipenuhi terlebih dahulu sebelum kemudian dilepaskan secara maksimal pada jaringan untuk kemudian kembali menjadikan Darah sebagai ‘kolam penampungan Karbondioksida’ hasil dari metabolisme jaringan.

Sederhananya, keseluruhan total darah yang memiliki volume antara 5-7 liter pada manusia difungsikan sebagai ‘kolam penampungan’ Oksigen terlebih dahulu sebelum dilepaskan ke jaringan secara besar-besaran. Proses ini tidak akan terjadi pada latihan olah raga biasa yang pertukaran oksigen dan karbondioksida pada darah terjadi langsung pada saat itu. Namun pada Teknik Optimalisasi pH ini Oksigen yang dihirup ditunda dulu pelepasannya dari Hemoglobin ke jaringan pada suatu waktu tertentu dan dengan maksud tujuan tertentu agar mendapatkan manfaat tertentu pula.

Jika disederhanakan, ini adalah yang terjadi saat seseorang melakukan Teknik Optimalisasi pH:

  1. Saat Hiperventilasi
    a. Darah ==> Maksimum Oksigen
    b. Jaringan ==> Intermittent Hypoxia
  2. Saat Hipoventilasi
    a. Darah ==> Intermittent Hypoxia
    b. Jaringan ==> Maksimum Oksigen

Jadi, tekniknya memang dilandasi dengan kelengkapan penjelasannya. Inilah yang kemudian akan dapat dijelaskan kepada masyarakat umum atau kepada mereka yang ada di berbagai lokasi strategis medis dan strategis akademis.

PEMBUKTIAN HIPOTESA

Silahkan lihat pada video yang ada pada tulisan ini untuk mencoba memahami teori diatas.

DAMPAK YANG MUNGKIN TERJADI

Berikutnya, dampak apa saja yang mungkin terjadi dengan kondisi tersebut diatas yakni pada saat maksimum oksigen dan intermittent hypoxia terjadi pada darah dan atau pada jaringan?

Nantikan tulisan saya bagian ke-3 selanjutnya.

(bersambung)

Referensi:
[1]. What does blood do? (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0072576/)
[2]. Metabolism and energy. (http://www.rsc.org/Educ…/Teachers/Resources/…/metabolism.htm)
[3]. Physiology, Alkalosis, Respiratory. Joshua E. Brinkman; Sandeep Sharma. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482117/)
[4]. The Bohr effect and the Haldane effect in human hemoglobin. Tyuma I. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/6433091)
[5]. Respiratory acidosis. Epstein SK, Singh N. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11262556)
[6]. Respiratory alkalosis. Foster GT, Vaziri ND, Sassoon CS. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11262557)
[7]. The Magic of Hyperventilation. G.M. Woerlee. (http://www.anesthesiaweb.org/hyperventilation.php)
[8]. Acid-Base Homeostasis. L. Lee Hamm, Nazih Nakhoul, and Kathleen S. Hering-Smith. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4670772/)
[9]. Whole Body Buffers in the Regulation of Acid-Base Equilibrium. J. Russell Elkinton. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2603866/)
[10]. On the pH-optimum of activity and stability of proteins. Kemper Talley and Emil Alexov. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2911520/)
[11]. List of systems of the human body. (https://en.wikipedia.org/…/List_of_systems_of_the_human_body)
[12]. Why is the partial oxygen pressure of human tissues a crucial parameter? Small molecules and hypoxia. Aude Carreau, Bouchra El Hafny-Rahbi, Agata Matejuk, Catherine Grillon, Claudine Kieda. (http://onlinelibrary.wiley.com/…/j.1582-4934.2011.01258…/pdf)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →