Receptor Pathway – Bagian 1

RECEPTOR PATHWAY
(Bagian 1: Peptide dan Lipid)

Oleh: Mas Gunggung

________________

Alam diciptakan berpasang-pasangan. Ada panas, ada dingin. Ada langit, ada bumi. Ada hitam, ada putih. Ada wanita, ada pria. Ada kamu, ada aku. Eaaaa… πŸ˜…

Dan ada abstrak, ada nyata.

Ada produk-produk yang berhubungan dengan sesuatu yang abstrak seperti misalnya rasa, nalar, logika, imajinasi, keyakinan, dan sebagainya. Ada produk-produk yang berhubungan dengan fisik seperti misalnya otak, jantung, darah, tukang, kulit, dan lain sebagainya.

Pada otak, misalnya, ada fisik berupa otak yang bisa dipegang dan ada juga nalar, logika, pikiran, imajinasi. Di tempat yang sama keduanya ada namun bukan sesuatu yang melekat. Istilahnya ‘co-exist’.

Pengetahuan-pengetahuan tradisional berusaha memperpendek jarak antara abstrak dan nyata sehingga apa-apa yang ada pada dunia abstrak dapat menjadi nyata.

Di tempat lain, berbicara RASA tentu berbicara sesuatu dengan dimensi yang abstrak. Umumnya berada pada dimensi frekwensi. Segala sesuatu dengan dimensi frekwensi tentu saja memiliki banyak sekali rentang di dalamnya. Berbeda satu rentang saja maka bisa tidak ketemu. Apalagi bicara keyakinan. Tentu lebih jauh lagi.

Apa-apa yang seseorang yakini dan rasakan bisa saja berbeda dengan orang lain. Hal ini wajar saja mengingat dimensi frekwensi memiliki spektrum yang luas.

Misalnya, ketika memandang getaran MP. Mereka yang mengerti dengan baik tentu saja memiliki pemahaman yang tidak bisa “dilihat” oleh orang lain yang belum mengerti. Proses pencarian rasa untuk menemukan “penglihatan” ini dalam perjalanannya tentu akan mendapatkan banyak sekali pengetahuan-pengetahuan baru yang kemudian mengerucut.

Sama halnya dengan mereka yang juga melakukan perjalanan rasa melalui olah nalar akan menemukan “penglihatan” yang bisa jadi belum dimengerti oleh orang lain. Dari sekian banyak informasi yang bertebaran di internet, ratusan ribu jurnal yang ada, memilih salah satunya sudah pasti melibatkan naluri.

Naluri adalah tuntunan ilahi. Sebuah panduan dari langit yang diberikan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Menemukan jarum diantara tumpukan jerami. Menuntun perjalanan menuju tempat yang dikehendakiNya. Mengarahkan pada suatu pengetahuan yang diizinkanNya.

Dalam scope yang lebih kecil, kompleksitas pencarian dan hasilnya dalam tubuh kita dapat dilihat berdasarkan konsep hormonal dari sisi receptor pathway.

Hormon, sederhananya disebut dengan istilah ‘signalling molecule’ atau molekul penyampai pesan. Secara garis besar terdiri dari 2 (golongan) yakni Peptide dan Steroid.

Hormon yang masuk dalam kategori Peptide bersifat Water-Soluble atau dapat terlarut dalam air. Oleh karena berhubungan dengan air maka ia dapat memiliki muatan listrik dan umumnya berukuran lebih besar. Beberapa contoh diantaranya seperti Oxytocin, Insulin, Glucagon, Growth Hormone, Adrenaline.

Sedangkan hormon yang masuk dalam kategori Steroid bersifat Lipid-Soluble atau dapat terlarut dalam lemak. Beberapa contoh diantaranya seperti Cortisol, Progesteron, Testosteron, Estrogen.

Sel tubuh manusia memiliki lapisan yang disebut dengan Phospholipid yang berarti terbentuk dari lapisan membran yang terbuat dari lipid (lemak). Lapisan ini memiliki banyak ‘antena-antena’ yang disebut dengan Receptor. Ada receptor yang berada di permukaan sel dan ada juga yang berada di dalam sel.

Masing-masing receptor ini umumnya bersifat unik dengan molekul apa yang dapat ditangkapnya. Misalnya Glucose Transporter (GLUT) hanya bisa menangkap molekul Glucose dibandingkan dengan Insulin Receptor yang juga hanya bisa menangkap molekul Insulin.

Oleh karena lapisan sel terbuat dari lipid maka hormon dengan kategori Steroid dapat dengan mudah masuk ke dalam sel bila dibandingkan dengan hormon yang berjenis Peptide.

Lalu bagaimana hormon dengan kategori Peptide dapat masuk ke dalam sel? Ia perlu sesuatu yang disebut dengan ‘2nd messenger system’ agar dapat memicu suatu proses kimiawi tertentu di dalam sel. Hormon jenis Peptide ini harus melekat dulu pada receptor di permukaan sel dan memicu ‘second messenger system’ agar sebuah reaksi kimia dapat terjadi. ‘Second messenger system’ terdiri dari protein “Gq”, “Gs”, dan “Gi”.

Pada bagian kedua nanti akan saya jelaskan dengan disertai contoh.

Semoga bermanfaat.

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →