Sumardiyanto – Jantung Koroner tidak jadi Pasang Ring – 6 November 2018

Pertengahan September beliau menghubungi saya mengatakan kalau badannya berasa tidak enak dan mengalami gejala tidak nyaman. Kemudian periksa ke dokter. Setelah dilakukan analisa oleh dokter didapati kondisi resiko yang ada adalah diabetes melitus tipe 2, glukosa puasa tinggi, nilai Glukosa 2 jam sangat tinggi, HbA1C juga tinggi, plus ditambah resiko kolesterol tinggi khususnya pada LDL. Akhirnya divonis dokter harus pasang ring jantung pada bulan Nopember mendatang.

Kebetulan beliau adalah peserta Wisata Bugar. Saya pandu dan ajarkan strategi pemulihan via olah napas untuk percepatan normalisasi gula darah plus sekaligus perbaikan masalah pembuluh darah di jantung. Syaratnya, beliau harus kirimkan data test gula darah, kolesterol, tensi harian, BPM, SpO2, dan parameter lain yang saya tentukan seminggu minimal 2x. Dan dipatuhi.

Hasil laboratorium pada tanggal 26 September 2018 sebagai berikut:

Glukosa Puasa : H 120 mg/dL (70-100 mg/dL)
Glukosa 2 jam PP: H 229 mg/dL (<140 mg/dL)
Kolesterol Total: H 277 mg/dL (<200 mg/dL)
Kolesterol HDL : 56 mg/dL (>60 mg/dL)
Kolesterol LDL : H 205 mg/dL (<100 mg/dL)
Trigliserida : 134 (<150 mg/dL)
HbA1C : 8.1%

Setelah menjalani latihan 5 hari dengan Teknik Olah Napas untuk Pemulihan Jantung, terlihat hasil uji:
Glukosa Sewaktu : 130 mg/dL
Kolesterol LDL : H 109 (<100 mg/dL)

Terjadi penurunan yang signifikan pada potensi jantung koroner yakni Kolesterol LDL. Resiko mengecil dilihat dari sisi kolesterol. Berikutnya harus memperkecil resiko dari sisi diabetes melitus. Teknik Olah Napas untuk Pemulihan Jantung terdiri dari normalisasi gula darah, normalisasi kolesterol, perbaikan rasio Trigliserida/HDL, plus perbaikan hs-CRP. Jika itu semua membaik, maka insya Allah jantung ikut membaik.

Dan setelah menjalani 1 bulan latihan, perubahan nilai Glukosa sudah tidak melebihi 110 mg/dL untuk Gula Darah Sewaktu dan nilai Kolesterol Total yang sudah tidak pernah melebihi 200 mg/dL. Uji HbA1C ulang terjadi penurunan yang signifikan menjadi 6.8% dari semula 8.1%. Resiko diabetes melitus makin mengecil dan berusaha mencapai normal yakni dibawah 6.5%.

Yang semula harus pasang ring, menurut dokternya sudah tidak perlu dan cukup dilakukan observasi saja via kateter. Namun jika dalam waktu 10 hari kedepan membaik maka cukup via uji kimiawi darah saja. Tidak perlu diambil tindakan.

Alhamdulillah.

Bagaimana pendekatan ini dapat membuat pembuluh darah jantung membaik, melentur, fleksibel, dan melakukan angiogenesis (pembuatan pembuluh darah baru sebagai solusi natural bypass) via olah napas silahkan membaca tulisan saya disini. Search dengan kata kunci “angiogenesis”.

Jika olah napas dikondisikan dengan benar, maka hasilnya akan optimal. Kemudian dilakukan dengan sabar, teratur, sesuai arahan, tidak perlu modifikasi, maka hasilnya akan optimal dan sesuai dengan yang diharapkan.

Tapi seringkali peserta tidak sabar. Maka, seperti yang sering saya katakan, salah satu kunci keberhasilan adalah istiqomah. Melakukan latihan dengan rutin, terus menerus, dengan sabar dan sesuai arahan. Maka manfaat maksimal akan didapatkan.

Menyerah, putus asa, itu bukan ajaran metode kebugaran pergeseran Asam-Basa. Selama masih ada setarikan napas, maka berjuanglah!

Salam hangat,
MG

Profile lemak tinggi, rasio TG/HDL 2.3
Kondisi nilai HbA1C setelah latihan olah napas

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →