Semesta yang Meluas

SEMESTA YANG MELUAS

Oleh: Mas Gunggung


Sejak dahulu manusia selalu berusaha untuk mencari tahu bagaimana asal usul alam semesta. Berbagai percobaan dan teori dibuat. Sebagian masuk akal pada sebagian yang lain. Sebagian lainnya tidak. Akal memang tidak sama, meskipun berada pada lokasi yang sama.

Teori yang saat ini masih diyakini kebenarannya adalah teori mengenai Dentuman Besar atau Big Bang. Teori ini lahir karena adanya bukti empiris bahwa alam semesta meluas. Dan oleh karena meluas maka mestilah ada titik awal pergerakan. Dan inilah yang kemudian menjadi dasar lahirnya teori Dentuman Besar atau Big Bang tersebut. Bahwa pada mulanya alam semesta itu satu dan kemudian meluas sedemikian rupa.

Darimana para ahli ini menemukan konsep seperti itu? Yakni ketika astronomi mulai berkembang seiring lahirnya perangkat teknologi yang semakin maju.

Astronom mengukur pergerakan benda relatif terhadap kita dengan menggunakan pergeseran Doppler. Ketika Anda mendengar sebuah kereta datang, peluitnya terdengar pada frekuensi yang berbeda dibandingkan saat sedang surut, bukan? Dengan cara yang sama, cahaya juga memiliki pergeseran Doppler, dimana frekuensinya bergeser bergantung pada gerak benda yang memancarkan.

Para astronom mengamati bahwa cahaya dari benda-benda yang jauh di alam semesta mengalami pergeseran frekuensi cahaya menuju warna merah (disebut dengan ‘redshifted’ atau pergeseran merah), yang memberitahu kita bahwa benda-benda itu semua menjauh dari kita. Ini benar dalam arah apapun yang Anda lihat yakni bahwa semua galaksi akan menjauh dari kita. Ini hanya bisa terjadi karena alam semesta berkembang.

Selanjutnya, dengan mengukur jarak ke galaksi, seseorang menemukan bahwa kecepatan resesi sebanding dengan jarak galaksi dari kita. Ini disebut hukum Hubble. Hukum ini menggunakan nama penemunya yakni Edwin Hubble yang pertama kali menemukannya.

Hubble menggunakan 2 kunci teori yang saling menguatkan.

Kunci pertama yakni mengenai skala luminositas periode yang ditemukan oleh Henrietta Leavitt, memungkinkan para astronom untuk menghitung jarak dari Bumi menuju bintang-bintang. Hubble telah menggunakan pengetahuan ini dalam penemuannya pada tahun 1924 yang memberitahu bahwa nebula Andromeda, memiliki jarak lebih dari 900.000 tahun cahaya dari Bumi. Sebuah kejutan bagi semua orang pada saat itu bahwa ada semesta lain diluar yang didiami oleh Bumi. Dengan skala ini dan alat lainnya, Hubble telah menemukan dan mengukur 23 galaksi lainnya hingga jarak sekitar 20 juta tahun cahaya.

Kunci kedua adalah karya Vesto Slipher, yang telah menyelidiki nebula berbentuk spiral, jauh sebelum penemuan Andromeda oleh Hubble. Nebula spiral ternyata memancarkan cahaya yang bisa dipecah menjadi warna komponennya pada spektrum. Garis-garis itu kemudian muncul dalam spektrum dalam pola tertentu tergantung pada unsur-unsur elemen pembentuk sumber cahaya. Namun jika sumber cahaya bergerak menjauh, garis-garis itu bergeser ke bagian spektrum merah. Menganalisis cahaya dari nebula, Slipher menemukan bahwa hampir semuanya tampak bergerak menjauh dari Bumi. Slipher tahu bahwa pergeseran ke arah merah menyebabkan pergerakan yang menjauhi pengamat. Tapi dia tidak bisa mengukur jarak dengan benda-benda kemerahan ini.

Pengamatan brilian Hubble adalah bahwa pergeseran menuju spektrum merah pada galaksi itu berbanding lurus dengan jarak galaksi dari bumi. Itu berarti bahwa benda-benda yang jauh dari Bumi bergerak lebih cepat. Dengan kata lain alam semesta ini berkembang. Meluas. Dia mengumumkan temuannya pada tahun 1929. Rasio jarak terhadap pergeseran jarak jauh adalah 170 kilometer/detik pada jarak tahun cahaya (sekarang disebut dengan konstanta Hubble). Angkanya memang belumlah tepat, dan penyempurnaan teknik pengukuran dan teknologi telah mengubah semua gambaran pandangan sebelum Hubble. Namun bukan prinsip dasarnya. Dia sendiri terus berusaha menyelesaikan masalah ini dan mengumpulkan data sepanjang karirnya.

Penemuan Hubble dilihat sebagai temuan terpenting dalam astronomi di abad ini. Temuan yang mampu membuat perubahan paling mendasar dalam pandangan kita tentang dunia sejak Copernicus 400 tahun yang lalu. Hasilnya menunjukkan dan membuktikan bahwa alam semesta berkembang. Hal ini kemudian diperkuat oleh teori yang diajukan oleh Georges LeMaitre pada tahun 1927. Sebuah alam semesta berkembang, seperti akibat ledakan. Alam semesta pastinya pernah “tidak meledak” dan pernah berada pada satu massa dalam satu ruang dan waktu. Itulah teori Big Bang.

Ada 3 hal yang menarik disini yakni:

  1. Warna Merah
  2. Pergeseran menjauhi warna Merah
  3. Semesta yang meluas

Dalam berbagai disiplin ilmu psikologis yang berbicara mengenai makna warna Merah dan pernah diteliti ilmuwan, umumnya warna ini selalu disandingkan dengan bahaya, kekuatan, emosi, seksual, makanan, dan nafsu. Selain itu, warna merah juga identik dengan kekerasan, kecemasan, bahkan agresivitas.

Jika dalam khasanah Jawa kita diberitahu bahwa ada “jagad alit” (mikro kosmos) dan ada “jagad gede” (makro kosmos) yang kesemua jagad itu merupakan simbolisasi dari HATI/QOLBU dan ternyata rumit sekali untuk belajar itu maka kenapa tidak kita kembalikan saja pada pemahaman bahwa Hati adalah Semesta. Dan semesta itu terus berkembang, berdasaran sifat pergeseran warna Merah, maka demikianlah semestinya Hati. Yang kemudian berkembang dengan menjauhi sifat dan karakter warna Merah diatas. Which means that you have to do Fasting (puasa).

Jangan sempitkan Hati karena itu bukanlah sunatullahnya. Hati yang sempit itu yang mudah sekali merasa ‘sesak’ ketika melihat ada sesuatu diluar dirinya yang dianggap lebih baik. Misalnya, ‘sesak’nya hati ketika melihat orang lain lebih kaya atau melihat orang lain lebih sukses atau melihat orang lain lebih dari yang dialaminya. Ini berarti orang itu menggunakan fungsi Hati tidak sesuai fitrahnya yakni sebagai semesta yang meluas berdasarkan prinsip pergeseran merah.

Jika Semesta saja berkembang, maka semestinya Hati juga demikian. Semoga kita memiliki Hati yang meluas dan menjauhi karakteristik warna Merah.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Daftar Referensi:
[1]. Color and psychological functioning: a review of theoretical. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4383146/)
[2]. The color red attracts attention in an emotional context. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4413730/)
[3]. Hubble finds proof that the universe is expanding. (http://www.pbs.org/wgbh/aso/databank/entries/dp29hu.html)
[4]. How is it proved that the Universe is expanding?. Cornel Astronomy. (http://curious.astro.cornell.edu/about-us/104-the-universe/cosmology-and-the-big-bang/expansion-of-the-universe/626-how-is-it-proved-that-the-universe-is-expanding-intermediate)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →