Tekanan Darah dan Viskositas

TEKANAN DARAH DAN VISKOSITAS DARAH

Oleh: Mas Gunggung


Salah seorang peserta Wisata Bugar menanyakan kepada saya bagaimana sudut pandang saya mengenai pengentalan darah? Baiklah, saya akan jelaskan sesuai dengan pemahaman yang saya mengerti dan yang selama ini bisa saya aplikasikan via olah napas. Pendekatan lain tentu banyak, namun sebagai seorang praktisi olah napas maka saya mengambil jalan berdasarkan kaidah olah napas.

Mereka yang lama di group ini dan mengikuti tulisan saya tentu tidak asing mendengar istilah Pergeseran Asam-Basa sebab saya sering menulis itu berulang kali. Mengkondisikan tubuh membuat jadi Asam maupun Basa juga bisa dengan berbagai cara. Makanan, minuman, suplemen, baking soda, jeruk lemon, magnet, dan sebagainya bisa menjadi alternatif untuk membuat tubuh menjadi Basa. Namun sekali lagi, sebagai seorang praktisi olah napas saya mengambil sudut pandang via olah napas yang ternyata malah jauh lebih cepat untuk membuat jadi Asam atau Basa dibanding makanan dan minuman apapun.

Kembali pada pertanyaan diatas mengenai pengentalan darah. Sebelum menjawabnya saya akan jelaskan singkat mengenai Tekanan Darah dan Viskositas Darah karena saya melihat bahwa ini ada hubungannya. Memahami hal ini akan memudahkan kita dalam menganalisa kondisi yang ada pada diri saat ini.

Tekanan Darah Systolic

Tekanan darah merupakan ukuran dari seberapa kuatnya jantung dalam memompa darah hingga beredar mencapai semua jaringan tubuh manusia. Dengan kata lain, tekanan darah menjadi salah satu indikator untuk menilai sistem kardiovaskuler dan seberapa optimalnya kinerja tubuh seseorang. Tekanan Darah dibagi menjadi 2 (dua) yakni Systolic dan Diastolic.

Di saat jantung berdetak, otot jantung akan berkontraksi untuk memompa darah melalui arteri ke seluruh tubuh. Kontraksi otot jantung tersebut kemudian akan menimbulkan tekanan pada arteri. Tekanan inilah yang disebut sebagai tekanan darah SYSTOLIC atau tekanan tertinggi yang dicapai saat otot jantung berkontraksi. Tekanan darah Sistolik normal pada orang dewasa yakni berkisar antara 90-120 mmHg. Jika berada pada kisaran angka 120-139 mmHg termasuk pra-hipertensi dan dianggap hipertensi apabila tekanan darah sistoliknya berada pada angka 140 atau lebih.

Tekanan Darah Diastolic

Ketika kontraksi otot jantung telah berakhir, maka otot jantung pun akan menjadi rileks sehingga suplai darah ke aorta (arteri terbesar dalam tubuh) akan berhenti kira-kira 1/10 detik. Pada saat inilah aorta akan kembali ke posisi semula dan tekanan darah pun menurun. Tekanan darah di dalam arteri ketika jantung sedang beristirahat/rileks (antar detak) inilah yang kemudian disebut dengan tekanan darah diastolik. Pada orang dewasa, tekanan darah diastolik normalnya berada pada kisaran angka 60-80 mmHg. Apabila berkisar pada angka 80-89 masih termasuk normal namun kurang ideal. Sedangkan jika berada pada angka 90 atau lebih maka dianggap hipertensi.

Nah, antara Systolic dan Diastolic keduanya harus bagus. Untuk memahaminya dengan relatif mudah, ada penyederhanaan secara umum yakni dengan mengingat saja rumus angka 40 yang merupakan selisih antara Systolic dan Diastolic. Maka, nilai tekanan darah berikut ini dapat disebut dengan tekanan darah ideal:

110/70 = 40
120/80 = 40
130/90 = 40
140/100 = 40
…dst

Jadi, selisih 40 itu menunjukkan kondisi yang Normal dan Sehat dengan deviasi batas bawah dan batas atas sebesar 10% (36-44).

Lalu bagaimana jika nilainya bukan 40 dan diluar batas deviasi?

  1. Jika selisih antara Systolic dan Diastolic LEBIH BESAR DARI 40, kecenderungannya adalah:
  • Kekakuan pada pembuluh darah (atherosclerosis)
  • Sedang terjadi deposit pada lemak
  • Kemungkinan kerusakan pada pembuluh darah
  • Kurang serat, penurunan imunitas
  • Sedang mengalami pengobatan dari dokter
  • Kekurangan zat besi
  • Sedang menjalani diet yang tidak bagus
  • Thyroid yang overaktif
  1. Jika selisih Systolic dan Diastolic KURANG DARI 40, kecenderungannya adalah:
  • Fungsi jantung yang kurang baik
  • Pengentalan darah
  • Sering terjadi pada peminum obat penurun hipertensi

Nah, perhatikan pada kalimat terakhir yakni kondisi dimana para peminum obat penurun hipertensi malah tekanan darahnya sering kurang dari 40.

Kenapa bisa demikian?

Viskositas darah adalah ukuran kekentalan darah yang dilihat dari ketebalan sel darah merah. Fleksibilitas pembuluh darah terjadi selama 120 hari. Jika semakian banyak cairan pada darah maka kekentalan darah akan menyebabkan dehidrasi. Jumlah sel darah merah yang tinggi akan meningkatkan potensi pengentalan darah. Lemak pada darah juga dapat meningkatkan potensi pengentalan darah. Temperatur yang rendah (dingin) menyebabkan darah menjadi semakin kental dan dapat menyebabkan kematian jaringan (istilahnya Frostbite).

Dilihat dari laju endap darah, apabila aliran darah melambat maka darah akan cenderung akan saling melekat satu sama lain dan membentuk gumpalan (rouleau) yang akan meningkatkan pengentalan darah. Apalagi jika ditambah kondisi darah yang Asam. Darah yang kental memiliki resiko potensial untuk menyumbat pembuluh vena. Darah yang kental juga akan memaksa jantung untuk bekerja lebih keras dalam memompa darah sehingga Anda akan mengalami hipertensi. Jadi, pada kasus ini hipertensi yang terjadi bukanlah penyakit melainkan penyesuaian akibat darah yang mengental.

Apa dan bagaimana Rouleau dan Erithrocyte Aggregation silahkan membaca tulisan saya di group ini mengenai konsep Asam-Basa dari sisi darah yang saya jelaskan secara detail hingga ke medan magnet darah.

Saya ulangi sekali lagi, pada kasus penderita pengentalan darah yang sekaligus mengalami hipertensi, maka hipertensi yang terjadi bukanlah penyakit melainkan penyesuaian akibat darah yang mengental. Jika kondisi darah yang mengental itu bisa diurai maka jantung akan menyesuaikan dan hipertensi bisa hilang dengan sendirinya.

Peserta Wisata Bugar saya di beberapa kota mengalami hipertensi dan sering minum obat kini sudah mulai bisa lepas dari obat. Hal ini dikarenakan teknik Optimalisasi pH dan Teknik Mengakses Syaraf Otonom akan membuat Rouleau menjadi terurai kembali. Darah kembali lancar, pengentalan darah jadi hilang secara bertahap. Efeknya, kerja jantung menjadi lebih ringan dan tekanan darah menurun. Obat penurun tekanan darah sudah tidak diperlukan lagi selama latihannya masih rutin dijalankan.

Untuk mengukur bagaimana kondisi darah yang mengalami pengentalan, dapat dilakukan uji laboratorium dengan melihat Laju Endap Darah (LED) atau bisa dengan melakukan Live Blood Analyis (LBA). Masing-masing pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan.

Pada LED, tidak terlihat secara visual. Nilainya harus dikonversikan dulu pada pemahaman yang disepakati dan nalar Anda harus bekerja disana untuk memberikan penilaian. Sedangkan pada Live Blood Analysis (LBA), Anda dapat melihat kondisi darah Anda secara langsung di layar monitor untuk melihat bagaimana bentuk dan pergerakannya. LBA hanya sebagai screening awal untuk melihat bagaimana kondisi darah yang diambil saat itu dan dilihat dibawah mikroskop dengan pembesaran tertentu.

Pada event Wisata Bugar di Rumah Barito yang lalu yang kebetulan memiliki alat uji Live Blood Analysis (LBA) saya menunjukkan keberhasilan metode Pergeseran Asam-Basa ini untuk mengurai darah yang mengental langsung pada peserta selesai latihan. Mula-mula peserta dilihat LBA sebelum latihan, dan kemudian dilihat ulang setelah latihan. Perubahannya langsung terlihat. Bisa diperhatikan pada video yang saya share disini bahwa kondisi darah yang semula banyak mengalami Rouleau dan Erithrocyte Aggregation menjadi terurai hampir sempurna hanya dengan melakukan teknik olah napas tertentu saja. Tanpa meminum obat pengencer darah dan dengan efek yang langsung terjadi setelah latihan.

Di dalam buku “Normalisasi Diabetes” yang dikeluarkan oleh Yayasan Saring Hadipoernomo pada halaman awal tertulis sambutan dari mendiang Guru Besar Mas Budisantoso Hadipoernomo yang mengatakan bahwa “sel yang sehat akan memancarkan gelombang elektromagnetik yang kuat”.

Pertanyaanya, apakah maksud dari “sel yang sehat”?

Bahwa sel secara umum terdiri dari 2 hal saja yakni Keseimbangan pH dan Metabolisme Glukosa. Itulah yang akan menentukan sehat atau tidaknya suatu sel. Maka memahami Keseimbangan pH dan memahami Metabolisme Glukosa adalah suatu keharusan jika ingin mengetahui bagaimana sel tubuh kita bekerja.

Penghubung diantara semua itu adalah OKSIGEN. Maka, memahami bagaimana gas bekerja dalam tubuh kita akan membuka cara pandang kita mengenai olah napas dari sisi kesehatan. Oleh karena produk dari semua reaksi Oksigen adalah Karbondioksida, maka kedua gas ini MUTLAK harus dipelajari dan dipahami oleh para praktisi olah napas dan bagaimana ia berpengaruh pada tubuh.

Semua hasil pemecahan nutrisi akan menjadi komponen dan proses yang spesifik sebagai berikut:

  1. Karbohidrat ==> Glukosa ==> Glycolysis
  2. Protein ==> Asam Amino ==> Transamination
  3. Lemak ==> Asam Lemak dan Glycerol ==> Beta Oksidasi

Dan dari kesemuanya, ada kesamaan yakni bahwa Karbohidrat, Protein, dan Lemak juga memiliki konversi menjadi Glukosa dalam prosentasenya masing-masing. Karbohidrat dikonversi menjadi 100% Glukosa, Protein menjadi 56% Glukosa, dan Lemak menjadi 10% Glukosa. Selebihnya sesuai dengan komponennya masing-masing. Maka sudah jelas, Metabolisme Glukosa adalah vital dan harus dipelajari oleh praktisi Kebugaran MP jika ingin tahu apa dan bagaimana olah napas MP berpengaruh dalam hal ini.

Toh ketika Anda sakit, tidak mungkin diukur berapa kadar energi getarannya? Berapa kekuatan pematahan benda kerasnya? Yang diukur semuanya kimiawi darah. Maka, pisahkanlah Kebugaran MP itu dengan Kanuragannya dan Anda akan mendapatkan wawasan serta cakrawala baru yang tidak kalah menarik dibanding kanuragan.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →