Rasio Trigliserida/HDL periode 2017-2018 Kelompok Latihan Kebugaran Purnawirawan TNI AL

RASIO TRIGLISERIDA/HDL PERIODE 2017-2018

Banyak yang menanyakan bagaimana cara membuat para lansia purnawirawan TNI AL itu membaik terus dari waktu ke waktu ketika berlatih kebugaran metode Pergeseran Asam-Basa?

Jawabannya adalah karena pemahaman mengenai biokimia yang terjadi ketika olah napas itu dilakukan terus menerus dipelajari dan dipahami. Lalu melakukan uji coba pada diri sendiri terus menerus dengan alat uji yang beragam.

Selama ini, kebanyakan dari kita ketika melakukan olah napas selalu menggunakan pengukuran subyektif dan bukan pengukuran objektif. Pengukuran subyektif itu biasanya bersifat “Placebo Effect”, jika Anda sudah berkeringat dan merasa enak maka tubuh Anda juga demikian adanya. Padahal belum tentu selalu seperti itu. Perlu dilihat apakah secara obyektif rasa enak pada tubuh Anda itu sesuai dengan kimiawi darah yang ada dalam diri Anda atau tidak. Keduanya harus sesuai.

Masalahnya, pengukuran pada pendekatan olah napas MP yang luar biasa banyak dan beragam ini memerlukan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Misalnya, untuk menguji parameter gula darah pada riset yang dilakukan oleh dr. Florentina yang dituangkan dalam buku “Senam Normalisasi Diabetes” terbitan Yayasan Saring Hadipoernomo harus dilakukan selama 12 minggu. Demikian juga riset yang dilakukan oleh dr. Christoph Tiyunisa Amea Zega mengenai Asma dan Olah Napas MP juga dilakukan selama 12 minggu.

Konsekwensinya, diperlukan subyek, alat, tester, waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Dimulai dari menyusun landasan teori, kemudian hipotesis, lalu melakukan uji coba, pengukuran, dan pencatatan. Hasilnya kemudian akan menjadi sebuah kesimpulan sementara. Kesimpulan ini kemudian dianalisis dan dilakukan uji coba ulang pada controlled trial dan kemudian randomized trial. Nah, berapa banyak waktu dan tenaga yang diperlukan untuk itu? πŸ™‚

Maka, pendekatan yang umumnya terjadi dan paling mungkin adalah pendekatan subyektivitas. Pokoknya, asal sudah latihan dengan berkeringat, jass-jess-joss, lalu menganggap bahwa kita sudah sehat. Disuruh mengukur gula darah, tidak mau. Disuruh mengukur profile Lemak, juga tidak mau. Disuruh uji laboratorium, katanya mahal. Belajar teori, disepelekan. Ah… Teori aja!

Plus ditambah pola aktivitas setelah latihan yang bertemu dengan gorengan, martabak manis, kopi manis, teh manis, plus rokok. Dilanjut dengan “ngerumpi” ngomongin orang. Lengkap sudah. Dan ini berlangsung hampir setiap kali selesai latihan. Bahkan pada latihan yang Anda sebut dengan “kebugaran” yang notabene tujuannya adalah sehat.

Ketika saya menunjukkan bagaimana saya menangani kelompok kecil latihan orang-orang lansia yang sudah sepuh, saya hanya ingin memberitahu bahwa bahkan orang lansia juga bisa dipulihkan dengan kaidah olah napas MP. Apabila dilatihkan secara benar dan dengan pengukuran yang tepat.

Beberapa waktu lalu saya mengeluarkan data uji HbA1C yang merupakan indikator diabetes dengan hasil hanya 1 peserta yang masuk kategori diabetes, yang lainnya tidak. Dan memang, dalam sebuah kolat mesti ada salah satu peserta yang “bandel”. Disanalah tugas pelatih mengarahkan agar nantinya kembali menjadi normal.

Dan saat ini, saya akan mengeluarkan data Rasio Trigliserida-HDL peserta kebugaran saya.

Masih banyak yang mengira bahwa kadar Kolesterol Total dan Kolesterol LDL berhubungan dengan kejadian serangan jantung. Namun ternyata, berdasarkan statistik, ditemukan bahwa lebih dari 50% peserta serangan jantung koroner memiliki kadar Kolesterol Total yang normal.

Artinya, jangan senang dulu ketika nilai Total Kolesterol Anda pada alat ukur harian berada dibawah 200 mg/dL. Sama halnya, jangan senang dulu jika gula darah sewaktu nilainya menjadi normal setelah latihan. Diperlukan uji parameter tambahan sebagai indikator diabetes yakni HbA1C.

Khusus pada Kolesterol, Anda harus lakukan uji Profile Lemak lengkap termasuk Trigliserida, HDL dan LDL. Kemudian Anda harus menghitung bagaimana rasio Trigliserida-HDL Anda. Sebab radio inilah yang menjadi indikator mengenai RESIKO SERANGAN JANTUNG.

Rasio Trigliserida-HDL yang diharapkan adalah <= 3.0.

Sekarang, perhatikan data rasio Trigliserida/HDL peserta kebugaran saya berikut ini:

1. Tanto Koeswanto (77th). Sebelum: 1.6 – Sesudah: 1.7
2. Sunartoyo (79th). Sebelum: 2.6 – Sesudah: 2.7
3. FX. Priyadi (79th). Sebelum: 2.9 – Sesudah: 1.3
4. Djoko Sarwoko (79th). Sebelum: 3.0 – Sesudah: 2.0
5. Subandi (79th). Sebelum: 3.1 – Sesudah: 2.6
6. Prapto Sayogo (79th). Sebelum: 3.6 – Sesudah: 1.4
7. Giri Santoso (73th). Sebelum: 4.4 – Sesudah: 2.8
8. Suherman (79th). Sebelum: 4.7 – Sesudah: 3.0
9. Wulang Widada (78th). Sebelum: 4.8 – Sesudah: 4.0

Anda bisa lihat, hasilnya nyaris semua normal. Hanya ada satu orang saja yang masih anomali. Namun trend yang anomali itu terlihat menurun. Artinya, kebugaran metode Pergeseran Asam-Basa ini menjauhkan peserta dari resiko serangan jantung koroner!

Kapan waktu nanti saya keluarkan nilai hsCRP. Parameter hsCRP ini menunjukkan seberapa protektif Anda terhadap resiko serangan jantung. Semakin kecil nilai hsCRP artinya tubuh Anda semakin terlindungi dari resiko serangan jantung.

Jadi, pengukuran demi pengukuran ini dilakukan untuk melihat bagaimana kondisi diri Anda berdasarkan kimiawi darah dan bukan berdasarkan maunya pelatih atau subyektivitas rasa enak semata.

Jagalah kesehatan Anda dan orang-orang yang Anda sayangi.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Referensi:

[1]. High Ratio of Triglycerides to HDL-Cholesterol Predicts Extensive Coronary Disease. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2664115/)

DISCLAIMER:
Semua hasil uji laboratorium yang dipublikasikan adalah peserta kelas kebugaran lansia purnawirawan TNI AL Pondok Labu dibawah Paguyuban AAL-10 yang dilatih oleh Coach Mas Gunggung.

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →