NRF2, Solusi Menyeluruh bagi Antioksidan – Bagian 2

NRF2 SOLUSI MENYELURUH BAGI ANTIOKSIDAN
(Bagian 2)

Oleh: Mas Gunggung

Pada bagian kesatu saya jelaskan secara umum potensi NRF2 bagi tubuh sebagai jalur aktivator antioksidan dan anti inflamasi yang akan mengkondisikan tubuh untuk membentuk enzim SOD (superoxide dismutase), enzim Catalase, dan Glutathione maka pada bagian dua kali ini saya akan jelaskan secara umum bagaimana pengaruh NRF2 pada syaraf dan bahayanya radikal bebas jika tidak segera ditangani.

Penuaan merupakan karakteristik yang lahir dari penurunan progresif dalam efektivitas fungsi sel. Pada inti dari proses penuaan yakni terjadinya ketidakseimbangan antara penyebab stres dan kemampuan tubuh untuk menjaga keseimbangan biokimia untuk mencegah kerusakan yang ditimbulkan dari penyebab stres.

Kata kuncinya yang harus dipahami adalah adanya penyebab stres dan adanya respon terhadap penyebab stres itu. Sederhananya, STRESSOR/STIMULUS dan RESPONSE. Bagaimana kita memahami penyebab stres dan bagaimana cara kita merespon terhadap penyebab stres itu. Teori penuaan sel yang paling banyak adalah yang berhubungan dengan teori Radikal Bebas dimana ketika itu terjadi maka ia akan menyebabkan kerusakan sel di hampir semua jaringan sehingga menghasilkan akumulasi kerusakan dari waktu ke waktu dengan puncaknya adalah disfungsi sel dan kematian.

Setiap sel dalam tubuh kita didesain Allah SWT untuk memiliki pelindung yang bertugas untuk menjaga dari kerusakan yang ditimbulkan oleh STRESSOR dalam bentuk Radikal Bebas. Jalur perlindungan itu disebut dengan jalur biokimia NRF2. Semakin tinggi radikal bebas dalam tubuh maka proses penuaan sel akan semakin cepat terjadi. Hal ini karena kerusakan sel pada aspek disfungsi syaraf terjadi secara dramatis dimana-mana. Ingat, radikal bebas itu adalah molekul yang kehilangan satu elektron dan dia berusaha mencari darimana saja elektron untuk mengisi kekurangannya. Efeknya menjadi efek berantai dimana molekul yang sudah diambil elektronnya maka ia juga akan menjadi radikal bebas berikutnya. Demikian seterusnya. Jadi, bisa dibayangkan bahwa kerusakannya menjadi sistemik (menyeluruh).

Misalnya, kerusakan oksidatif pada DNA dan membran sel terjadi 10x lebih tinggi pada otak penderita Alzheimer dan 17x lebih tinggi pada penderita Parkinson dibandingkan pada otak orang yang normal. Syaraf pada otak terdiri dari Lemak yang dapat menjadi sasaran utama dari radikal bebas. Kerusakan pada Lemak dan Protein pada otak akan menyebabkan banyak sekali penurunan pada fungsi kognitif. Kerusakan tersebut menyebabkan terhentinya respon imunitas dan respon anti inflamasi yang jika terjadi dalam jangka waktu lama maka akan dapat merusak keseluruhan sistem syaraf di otak.

Beberapa tanaman yang menghasilkan efek antioksidan dan anti inflamasi dapat melakukan perbaikan pada jaringan otak. Misalnya, tanaman seperti teh hijau, kunyit, bawang putih, akan mengaktifkan jalur NRF2 yang dapat mengurangi akumulasi plak pada penderita Alzheimer dan meningkatkan regenerasi sel yang menghasilkan hormon Dopamine pada penderita Parkinson. Jika dikonsumsi secara rutin maka nutrisi yang dihasilkan dari tamanan-tanaman tersebut dapat menjadi pelindung alamiah untuk syaraf otak. Namun tentunya tidak banyak orang tahu mengenai pengetahuan tanaman yang menghasilkan efek antioksidan dan anti inflamasi.

Banyak bukti-bukti ilmiah yang menyatakan bahwa penyebab radikal bebas merupakan mekanisme patogenik pada banyak kondisi syaraf. Kerusakan oksidatif yang terjadi secara progresif akan dapat dicegah dengan cara melakukan peningkatan pada jalur antioksidan dan anti inflamasi. Hasil akhirnya adalah berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan syaraf seperti Parkinson, Alzheimer, Multiple Sclerosis, dan ALS (amyotrophic lateral sclerosis), termasuk di dalamnya Stroke dan Traumatic Brain Injury (TBI) akan dapat dicegah dan diperbaiki.

Beberapa mediator penyebab inflamasi yang dapat dihambat oleh NRF2 adalah Cytokine, Cell Adhesion Molecule (CAM), Matrix metalloproteinases (MMPs), Cyclooxygenase-2 (COX2) dan Inducible Nitric Oxide Synthase (iNOS). Saya akan jelaskan singkat Cytokine dulu, selebihnya nanti saya tulis di artikel yang berbeda. Awas ngebul! Hahahahhaa 😛

Cytokine merupakan protein dan polipeptida yang disekresikan oleh beragam jenis sel yang fungsinya untuk mengatur pertumbuhan sel, diferensiasi sel, fungsi imunitas, dan terlibat langsung dalam inflamasi dan pemulihan luka. Cytokine terdiri dari Interleukin (IL), Tumor Necrosis Factor (TNF), Interferons, colony-stimulating factor, Chemokine, dan Growth factor. Beberapa Cytokine dikategorikan sebagai mediator yang pro-inflamasi sementara sebagian lainnya dikategorikan sebagai anti-inflamasi. Tekanan yang besar dan terus menerus dari radikal bebas akan menyebabkan over produksi dari Cytokine pada target sel misalnya Leukosit, Monosit, dan Neutrophil. Jadi, ketika pada suatu hasil laboratorium terlihat peningkatan jumlah Leukosit misalnya, maka dapat diidentifikasikan awal sebagai terjadinya kenaikan inflamasi dalam tubuh.

Bagaimana caranya melakukan perbaikan yang ditimbulkan dari radikal bebas? Yakni dengan melakukan aktivasi jalur NRF2.

Jalur biokimia NRF2 akan mengaktifkan jalur proteksi untuk menghasilkan berbagai enzim antioksidan yakni SOD (superoxide dismutase), Catalase, dan Glutathione. Ketika enzim ini dilepaskan maka ia akan melakukan perbaikan terhadap masalah degeneratif syaraf. Sebagai contoh, syaraf dengan aktivitas NRF2 yan lemah akan lebih mudah terpapar oleh radikal bebas. Pada penderita Parkinson dan Alzheimer malah terdeteksi kekurangan dan kerusakan jalur aktivasi NRF2 pada lokasi syaraf yang bermasalah. Pada salah satu studi pada sel tikus dan sel manusia, peningkatan jalur NRF2 yang memperbesar produksi Glutathione akan dapat memperbaiki kerusakan hingga 2-4 kali lipat dari kondisi normal.

Tubuh juga punya antioksidan alami yang disebut dengan URIC ACID! Apa itu Uric Acid? Asam Urat! Kapan waktu nanti saya bahas khusus mengenai Asam urat ini.

Balik ke jalur NRF2.

Pada studi yang lain, aktivasi alamiah jalur NRF2 via phytonutrisi atau phytochemical akan dapat meningkatan enzim SOD (superoxide dismutase) sebanyak 30% dan enzim Catalase sebanyak 54%. Hasilnya, kerusakan sel berkurang sebanyak 40% selama 30 hari saja.

Nah, bagaimana jika saya katakan bahwa melalui olah napas kita juga dapat mengaktivasi jalur NRF2 sama baiknya dengan phytonutrisi atau phytochemical (teh hijau, kunyit, bawang putih, dll)? Artinya, potensi olah napas dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan enzim Catalase, enzim SOD (superoxide dismutase), dan Glutathione tanpa harus mengkonsumsi tanaman herbal atau nutrisi antioksidan? Menarik bukan? 🙂

Pada peserta Wisata Bugar di Rumah Barito, namanya ibu Intan, yang pada awal sebelum latihan skor antioksidan diukur dengan alat menunjukkan angka 29.000 dan kemudian setelah menjalani 2 minggu latihan rutin lalu diukur ulang dengan alat yang sama terjadi kenaikan menjadi 48.000. Artinya secara alamiah tubuhnya menghasilkan jalur NRF2 yang mengaktivasi enzim antioksidan! Dan ibu itu hanya ibu rumah tangga biasa yang berkomitmen pada diri sendiri untuk rajin berlatih setiap hari pada materi yang saya berikan saat workshop Wisata Bugar.

Apa dan bagaimana olah napas dapat mempengaruhi jalur biokimia NRF2? Nantikan bagian berikutnya tulisan ini.

Salam hangat,
MG

REFERENSI:
[1]. The induction of human superoxide dismutase and catalase in vivo: a fundamentally new approach to antioxidant therapy. Nelson SK, Bose SK, Grunwald GK, Myhill P, McCord JM. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16413416)

[2]. Oxidative stress in health and disease: The therapeutic potential of Nrf2 activation. Brooks M. Hybertson, Bifeng Gao, Swapan K. Bose, Joe M. McCord. (https://www.sciencedirect.com/…/artic…/pii/S0098299711000501)

[3]. Expression of Nrf2 in Neurodegenerative Diseases. Chenere P. Ramsey, BS, Charles A. Glass, BS, Marshall B. Montgomery, BS, Kathryn A. Lindl, AB, Gillian P. Ritson, BA, Luis A. Chia, Ronald L. Hamilton, MD, Charleen T. Chu, MD, PhD, and Kelly L. Jordan-Sciutto, PhD. (http://europepmc.org/articles/PMC2253896)

[4]. Synergistic induction of heme oxygenase-1 by the components of the antioxidant supplement Protandim. Velmurugan K, Alam J, McCord JM, Pugazhenthi S. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19056485/)

[5]. Dysfunctional Nrf2–Keap1 redox signaling in skeletal muscle of the sedentary old. Adeel Safdar, Justin deBeer, Mark A. Tarnopolsky. (https://www.sciencedirect.com/…/artic…/pii/S0891584910004788)

[6]. Nrf2 signaling pathway: Pivotal roles in inflammation. Syed Minhaj Uddin Ahmed, Lin Luo, Akhileshwar Namani, Xiu Jun Wang, Xiuwen Tang. (https://www.sciencedirect.com/…/artic…/pii/S0925443916302861)

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →