NRF2, Solusi Menyeluruh bagi Antioksidan – Bagian 1

NRF2 SOLUSI MENYELURUH BAGI ANTIOKSIDAN
(Bagian 1)

Oleh: Mas Gunggung

Pada event Wisata Bugar di Rumah Barito Jakarta Selatan yang lalu tiba-tiba pengelola menghadirkan 2 tambahan uji pengukuran yang tidak diberitahukan kepada saya. Istilahnya dadakan. Katanya, “khan Pesilat harus siap tempur dalam situasi apa saja. Baik situasi yang direncanakan maupun situasi dadakan…”. Memang benar, jika skill itu nyata maka dicoba dalam situasi apapun maka harus bisa mengatasinya. Lalu saya tanya, uji tambahan itu apa lagi? Rupanya pengelola Rumah Barito sudah menyiapkan uji tambahan (selain pH dan Live Blood Analysis) sebagai berikut:

1. Body fat composition, menunjukkan apakah terjadi penurunan massa lemak dalam tubuh
2. Anti Oxidant score level, menunjukkan apakah antioksidan dalam tubuh meningkat

Saya bilang, “Great! Artinya, nanti kita bisa sama-sama lihat bagaimana perubahannya”. Lalu seperti biasa, disiapkanlah sampling peserta untuk diuji bagaimana perubahan nilai Body Fat Composition (komposisi lemak tubuh) dan level anti oksidan dalam tubuhnya. Didatangkan orang-orang yang membawa alat ukur untuk melihat kadar antioksidan dalam tubuh dan alat ukur untuk melihat komposisi lemak tubuh.

Skor antioksidan dari keseluruhan peserta menunjukkan keberhasilan yang tinggi yakni diatas 70% dari total sampling yang diuji berdasarkan alat ukur uji “Bio Foton Scan Pharmanex”. Saya tampilkan beberapa hasilnya yang kenaikannya diatas 50% sebagai berikut:

1. Sampling 1: Sebelum latihan 19.000, setelah latihan 28.000, kenaikan 68%
2. Sampling 2: Sebelum latihan 10.000, setelah latihan 16.000, kenaikan 62.5%
3. Sampling 4: Sebelum latihan 12.000, setelah latihan 30.000, kenaikan 267% <== SUPER!

Saya tidak tahu cara kerja alat tersebut, namun informasi yang didapat adalah peningkatan skor antioksidan menunjukkan kadar antioksidan dalam tubuh makin tinggi. Dan ini artinya makin baik. Dan orang yang mengukur heran karena semestinya kenaikan yang cepat hanya dapat dilakukan via makanan atau suplemen dengan konsentrat tinggi. Namun kalau hanya via olah napas rasanya kok mustahil. Saya hanya senyum saja. 🙂

Kemudian dilakukan juga sampling pengujian Body Fat Composition dengan hasil sebagai berikut:

1. Sampling 1: Lemak Tubuh sebelum latihan 32.4, setelah latihan 31.9, penurunan 1%
2. Sampling 2: Lemak Tubuh sebelum latihan 17.6, setelah latihan 14.2, penurunan 1,2%
3. Sampling 3: Lemak Tubuh sebelum latihan 38.9, setelah latihan 32.6, penurunan 1,2%

Terlihat bahwa metode olah napas ini mampu menurunkan kadar lemak tubuh secara nyata dengan alat ukur yang mereka yakini. 🙂

Menarik, bukan?

Saya pernah menjelaskan mengenai bagaimana potensi pendekatan kebugaran metode Pergeseran Asam-Basa ini dari sisi Sel Lemak (Adipose) secara rinci. Silahkan membaca pada group ini dengan kata kunci “Adipose Tissue” untuk mengetahui bagaimana penjelasannya sel lemak bisa meluruh via metode kebugaran ini. Saat ini, hampir semua peserta Wisata Bugar yang berlatih rutin mengalami penurunan berat badan secara alamiah dengan tanpa mengubah pola makan sama sekali.

Namun pada kesempatan kali ini, saya ingin menjelaskan bagaimana potensi kebugaran metode Pergeseran Asam-Basa dapat meningkatkan jumlah antioksidan dalam tubuh. Bagaimana metode ini akan mengaktifkan potensi antioksidan dalam tubuh via olah napas. Dan lagi-lagi, masih pada konsep yang sama yakni STRESS MANAGEMENT di level yang paling kecil yakni level SEL. Saya akan jelaskan mengenai apa itu STRES LEVEL SEL.

Stres Level Sel, atau saya singkat dengan “SLS”, adalah sebuah kondisi dimana terjadi kerusakan level mikroskopis pada sel. Kita tidak dapat merasakan SLS kecuali sudah dalam tahap yang kronis dan biasanya sudah terlambat. SLS merupakan kondisi kerusakan mikroskopis pada sel yang disebabkan oleh radikal bebas. Radikal bebas ini akan mengganggu fungsi-fungsi normal sel sehingga berperilaku menjadi abnormal. SLS digolongkan sebagai kondisi yang mempunyai potensial efek yang negatif dalam tubuh.

SLS umumnya tidak dapat dihindari dan lahir dari molekul stabil yang disebut dengan Radikal Bebas. Radikal bebas adalah senyawa yang memiliki pasangan elektron yang tidak stabil, dan mereka selalu menjelajah tubuh untuk mencari senyawa dan molekul lain dimana mereka dapat menangkap elektron agar menjadi stabil. Nah, masalahnya adalah ketika senyawa radikal bebas ini mengambil elektron dari senyawa lain agar dirinya stabil maka senyawa yang diserang itu menjadi kekurangan elektron dan akhirnya menjadi Radikal Bebas juga. Dimulailah rantai berantai yang kemudian menyebabkan terjadinya kerusakan sistemik pada sel, protein, dan bahkan DNA.

Meski demikian, kadang-kadang tubuh juga mengkondisikan untuk membuat Radikal Bebas pada dirinya dengan maksud untuk menetralisir bakteri dan virus. Ini istilahnya radikal bebas yang terkontrol. Ini analoginya mirip dengan Glikasi dan Glikosilasi. Glikasi adalah karamelisasi gula yakni perlekatan antara glukosa dengan protein tanpa bantuan enzim, sedangkan Glikosilasi adalah perlekatan antara glukosa dan potein dengan bantuan enzim. Glikasi itu tidak terkontrol, sedangkan Glikosilasi itu terkontrol. Silahkan membaca tulisan saya mengenai apa itu Glikasi (Glycation) pada group ini untuk lebih jelasnya.

Radikal Bebas lebih sering terbentuk dari sumber diluar tubuh seperti Oksigen, asap rokok (termasuk pasif maupun aktif), polusi, dan radiasi. Aktivitas fisik, makan, dan bahkan bernapas juga dapat menyebabkan timbulnya Radikal Bebas yang pada akhirnya membuat terjadinya Stres Level Sel.

Masalahnya, tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk secara sempurna menghentikan kondisi SLS ini. Namun sungguh tubuh manusia didesain oleh Allah SWT dengan sebaik-baik sistem yang rupanya memiliki mekanisme yang disebut dengan ANTI OKSIDAN agar dapat menghilangkan stress pada level sel. Meskipun demikian, seiring dengan penambahan usia maka kemampuan tubuh memproduksi antioksidan menjadi semakin sedikit sedangkan jumlah radikal bebas menjadi semakin banyak. Hal ini jelas akan menimbulkan ketidakseimbangan.

Kapan ketidakseimbangan itu terjadi? Yakni ketika radikal bebas berada pada jumlah yang lebih besar dibandingkan produksi antioksidan dalam tubuh. Pada tahap itu maka Stres Level Sel mulai terjadi.

Lalu, apa yang sel lakukan ketika ia mengalami stres?

Terlalu banyak radikal bebas pada tubuh atau terlalu sedikitnya antioksidan dalam tubuh akan dapat membuat struktur sel menjadi rusak dari sisi membran, mitokondria, dan DNA. Jika ini terjadi maka sudah dipastikan kerusakan sistemik juga akan ikut terjadi. Bahkan lahirnya penyakit-penyakit berat juga dapat terjadi pada kondisi ini seperti misalnya kanker, diabetes, arthritis, dan penyakit jantung. Selama lebih dari 50 tahun para ilmuwan mengetahui bahwa proses penuaan terkait pada molekul oksigen reaktif yang diproduksi pada metabolisme normal. Molekul oksigen reaktif ini sering sering disebut dengan istilah “Reactive Oxygen Species” atau biasa disingkat ROS.

Stres pada level selular dapat menyebabkan kita menjadi menua dengan lebih cepat dibandingkan yang semestinya. Ini dapat terlihat pada kulit yang mudah sekali iritasi, inflamasi (peradangan), dan memerah. Lebih jauh lagi bahkan dapat menyebabkan kanker kulit. Sedangkan pada bagian dalam tubuh, stres pada level sel terkait pada masalah kardiovaskular, alzheimer, kanker, dan hal-hal berbahaya lainnya yang dapat mengancam kehidupan.

Lalu bagaimana strategi untuk meningkatkan potensial Anti Oksidan di dalam tubuh kita?

Pada salah satu jalur pusat biokomia level sel terdapat protein yang disebut dengan “NRF2” yang bertugas sebagai ‘master regulator’ terhadap semua respon antioksidan dalam tubuh. Analoginya seperti “thermostat” di dalam sel yang mengatur tingkat stress level sel dan para penyebab stres hingga kemudian bereaksi untuk membentuk mekanisme protektif melalui antioksidan.

Dulu, saya pernah menulis mengenai adanya sebuah protein di dalam tubuh yang menjadi master regulator terhadap perubahan kadar oksigen dalam tubuh yakni HIF (Hypoxia-Inducible-Factor). Semua jenis perubahan kadar oksigen dalam tubuh akan disensor oleh protein HIF ini yang kemudian ia akan bereaksi sesuai dengan kadar oksigen yang dikenalinya. Jika kadar oksigen masih normal, maka HIF akan menjalankan fungsinya secara normal, melakukan degradasi normal dan semua proses biokimia berjalan sebagaimana mestinya. Namun ketika HIF mendeteksi adanya kondisi oksigen yang abnormal, dalam hal ini terjadinya kondisi Hypoxia, maka protein HIF (subunit HIF-1A) akan masuk ke dalam inti sel (nukleus) untuk kemudian bergabung dengan HIF-1B dan mengubah transkripsi genetik menyesuaikan dengan kadar oksigen yang disensornya.

Nah, cara memahami NRF2 ini agak mirip dengan HIF. Perbedaannya adalah pada HIF yang disensor adalah kadar oksigen sedangkan pada NRF2 yang disensor adalah stressor (penyebab stres) pada level sel yang kemudian memunculkan semua potensi antioksidan dalam tubuh. Dengan memanfaatkan jalur biokimia NRF2 maka kita dapat mengaktifkan potensi-potensi pembentukan antioksidan dalam tubuh sebagai berikut:

1. SOD (superoxide dismutase)
2. Enzim Catalase
3. Glutathione

Tidak hanya itu, jalur biokimia NRF2 juga dapat melakukan detoksifikasi pada gen yang terkena respon stres. Istilahnya, jalur ini adalah jalur protektif yang terlibat dalam area-area untuk meningkatkan fungsi imunitas pada jaringan akibat meningkatnya antioksidan. Jalur ini juga dapat meningkatkan fungsi kognitif pada sel agar setiap sel dapat diajari untuk melindungi dirinya sendiri dari stres internal dan eksternal. Efeknya, aktivasi jalur NRF2 menyebabkan sel tubuh kita membuat “obat bagi dirinya sendiri” untuk bertahan dalam situasi stres pada level sel dengan cara mengaktifkan semua jalur antioksidan dalam tubuh yang dibutuhkan untuk melawan stres pada level sel secara efektif.

Kita tahu bahwa beberapa herbal tertentu juga dapat menjadi antioksidan (istilahnya ‘phytochemical’) seperti misalnya teh hijau, kunyit, dan kunir. Namun mereka hanya memunculkan sedikit jenis antioksidan saja secara spesifik. Via olah napas, kita dapat mengaktifkan NRF2 yang akan memicu semua kemunculan dari antioksidan yang powerfull dalam tubuh kita. Ini seperti efek berantai dimana satu terpicu maka akan memicu yang lainnya untuk naik ke permukaan. Dan antioksidan-antioksidan diatas (SOD, catalase, dan glutathione) yang dimunculkan secara berantai akan jauh lebih baik dibanding diet, vitamin, atau sumber-sumber phytochemical diatas secara individual.

Ketika jalur NRF2 dapat diaktifkan dan dipicu via olah napas maka jalur biokimia NRF2 juga akan ikut memicu munculnya SOD, Catalase, dan Glutathione. Dan NRF2 adalah masa depan dari proteksi level sel yang dapat menghindarkan sel dari Stres Level Sel.

Bisa dilihat bahwa dari konsep STRESS MANAGEMENT yang ada dalam metode ini akan dapat menghasilkan banyak sekali manfaat asalkan dipelajari secara baik dan benar. Kemudian latihan olah napasnya dijalankan secara teratur, terukur, konsisten dan persisten. Landasan teorinya kokoh, punya potensi pengembangan tinggi di masa depan dan bisa dibuktikan dengan alat apapun yang diyakini.

Berikutnya, saya akan menulis mengenai NRF2 dan bagaimana potensi aktivasi via olah napas mengenai hal-hal seperti :
– aging (penuaan)
– autoimun
– inflamasi
– fungsi Mitokondria
– detoksifikasi tubuh
– pengaruhnya pada kesehatan paru-paru
– anomali sel (tumor, kista, kanker) dan chemoprotection
– gagal ginjal
– masalah kardiovaskular
– neurodegeneratif
– pain
– skin disorder
– vision
– keracunan, 
– DLL

Perjalanan masih panjang, karena risetnya masih berjalan terus dengan alat-alat dan dukungan medis yang makin terukur. Next, semua peserta Wisata Bugar akan mendapatkan update mengenai ini, teknik yang disebut dengan “Teknik Optimalisasi NRF2”.

Jagalah selalu kesehatan Anda dan orang-orang yang Anda sayangi.

Wisata Bugar: Proven method, predictable result.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Referensi:

[1]. Nrf2, the Master Regulator of Anti-Oxidative Responses. Sandra Vomund, Anne Schäfer, Michael J. Parnham, Bernhard Brüne, and Andreas von Knethen. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5751370/)

[2]. Nrf2, a multi-organ protector? Lee JM1, Li J, Johnson DA, Stein TD, Kraft AD, Calkins MJ, Jakel RJ, Johnson JA. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15985529)

[3]. Oxidative stress in health and disease: the therapeutic potential of Nrf2 activation. Hybertson BM1, Gao B, Bose SK, McCord JM. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22020111)

[4]. The role of the antioxidant and longevity-promoting Nrf2 pathway in metabolic regulation. Gerasimos P. Sykiotis, Ioannis G. Habeos, Andrew V. Samuelson, and Dirk Bohmann. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3092636/)

[5]. The Nrf2-Antioxidant Response Element Signaling Pathway and Its Activation by Oxidative Stress*. Truyen Nguyen, Paul Nioi, and Cecil B. Pickett. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2679427/)

[6]. Bjelakovic G, Nikolova D, Gluud LL, Simonetti RG, Gluud C. Antioxidant supplements for prevention of mortality in healthy participants and patients with various diseases. Cochrane Database Syst Rev. 2008 Apr 16;(2):CD007176. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22419320)

[7]. Park SY, Murphy SP, Martin CL, Kolonel LN. Nutrient intake from multivitamin/mineral supplements is similar among users from five ethnic groups: the Multiethnic Cohort Study. J Am Diet Assoc. 2008 Mar;108(3):529-33. (https://jandonline.org/artic…/S0002-8223(07)02212-2/fulltext)

[8]. Sesso HD, Buring JE, Christen WG, Kurth T, Belanger C, MacFadyen J, Bubes V, Manson JE, Glynn RJ, Gaziano JM. Vitamins E and C in the prevention of cardiovascular disease in men: the Physicians’ Health Study II randomized controlled trial. JAMA. 2008 Nov 12;300(18):2123-33. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18997197)

[9]. Bjelakovic G, Nikolova D, Gluud LL, Simonetti RG, Gluud C. Antioxidant supplements for prevention of mortality in healthy participants and patients with various diseases. Cochrane Database Syst Rev. 2012 Mar 14;3:CD007176. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22419320)

[10]. Paulsen G, Cumming KT, Holden G, Hallén J, Rønnestad BR, Sveen O, Skaug A, Paur I, Bastani NE, Østgaard HN, Buer C, Midttun M, Freuchen F, Wiig H, Ulseth ET, Garthe I, Blomhoff R, Benestad HB, Raastad T. Vitamin C and E supplementation hampers cellular adaptation to endurance training in humans: a double-blind, randomised, controlled trial. J Physiol. 2014 Apr 15;592(Pt 8):1887-901. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24492839)

[11]. Regulation of Nrf2 – An update. Suryakant K. Niture, Raju Khatri, and Anil K. Jaiswal. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3773280/)

[12]. Nrf2 mediates redox adaptations to exercise. Aaron J. Done and Tinna Traustadóttir. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5078682/)

[13]. Exercise, Nrf2 and Antioxidant Signaling in Cardiac Aging. Madhusudhanan Narasimhan and Namakkal S. Rajasekaran. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4911351/)

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →