Mitokondria Biogenesis

MITOCHONDRIAL BIOGENESIS

Oleh: Mas Gunggung

Ketika sedang melakukan beberapa penelitian pribadi yang dicobakan pada diri sendiri dan juga bersama teman-teman yang sepaham dan tertarik untuk melakukan eksplorasi bersama melalui serangkaian teori dan latihan-latihannya saya menemukan banyak sekali hal-hal yang menurut saya sangat luar biasa. Misalnya ketika sedang membahas mengenai teori ATP yang sering dijadikan dasar MP di dalam menjelaskan kepada masyarakat umum mengenai teori “tenaga dalam” yang dihasilkan dari latihan Merpati Putih.

Dulu saya pernah menulis mengenai Ilmu Hakekat Hati Nuklir (bisa dibaca disini: http://kebugaranmp.net/index.php/artikel/14-ilmu-hakekat-hati-nuklir). Saya akan posting ulang melalui tulisan ini agar dapat dilihat korelasinya sebagai berikut:


ILMU HAKEKAT HATI NUKLIR

Nuklir, merupakan sejenis energi potensial dari suatu partikel seperti proton dan neutron yang ada di dalam suatu inti atom. Energi ini menahan proton dan neutron bersama-sama dalam membentuk inti. Partikel nuklir seperti misalnya proton dan neutron dilekatkan bersama dengan suatu energi nuklir yang sangat kuat.

Sejumlah besar energi nuklir akan dilepaskan dalam bentuk panas dan cahaya ketika dua atau lebih inti atom bergabung untuk membentuk inti yang lebih besar atau ketika sebuah inti terbagi/terpecah menjadi inti-inti yang lebih kecil. Proses penggabungan atau pemecahan inti atom ini disebut dengan proses Fusi dan Fisi.

Proses dimana dua atau lebih inti atom bergabung menjadi atom yang lebih besar disebut dengan proses Fusi Nuklir. Sedangkan proses dimana sebuah inti atom terpecah menjadi beberapa atom yang lebih kecil disebut dengan proses Fisi Nuklir.

Partikel nuklir seperti proton dan neutron tidak pernah hancur pada saat proses Fusi Nuklir maupun Fisi Nuklir melainkan sekumpulan dari mereka memiliki massa yang lebih lebih sedikit dibandingkan apabila mereka berdiri sendiri secara bebas. Perbedaan massa ini akan menghasilkan reaksi nuklir berupa pembebasan sejumlah panas dan radiasi.

Ada sangat banyak disiplin ilmu dan pengetahuan mengenai Nuklir ini akan tetap saya tidak akan membahas sangat detail. Hanya pokok-pokok utama yang saya tulis diatas yang ingin saya jelaskan dan bagaimana ia memiliki hakekat yang sangat mirip dengan apa yang terjadi pada “pikiran” manusia.

Saya akan coba jelaskan bagaimana korelasinya.

Pada tulisan terdahulu, saya paparkan banyak hal dan aspek pengetahuan mengenai “pikiran” yang ada didalam “otak” manusia. Paling tidak, diketahui ada 3 “otak” yang mesti difungsikan dan disenergikan secara baik pada diri kita yakni pada “otak kepala, otak jantung, dan otak perut”. “Otak” yang terkuat dan menjadi sumber dari segala penilaian tindakan manusia ada di dalam hatinya. Hati yang dimaksud disini bukanlah lever, melainkan qolbu (Islam) atau roso sak jroning roso (Jawa) atau naluri (Indonesia) atau heart brain (Barat). Jadi, ketika berbicara mengenai istilah “Hati” dalam konteks Merpati Putih mesti harus dipahami bersama yang dimaksud dengannya adalah qolbu/roso sak jroning roso/naluri/heart brain.

Pada khasanah tanah Jawa, khususnya yang berhubungan dengan ilmu tanah Jawa, ada beberapa periodisasi pengetahuan yang sebenarnya mesti dipelajari dan dipahami oleh praktisinya. Pemahaman akan periodisasi ini akan memudahkan untuk melakukan filtering atau penyaringan informasi dan pengetahuan akan suatu hal. Periodisasi yang terjadi pada tanah Jawa pada umumnya terjadi pada 3 masa yakni masa Pra Hindu, masa Hindu/Budha, dan masa Islam. Penggunaan istilah-istilah yang digunakan didalam suatu keilmuan tanah Jawa akan bisa membawa kita mengetahui bagaimana suasana kebatinan dan pengetahuan istilah tersebut dipakai pada masa yang mana. Pada tiap masa/periodisasi ada yang disebut dengan akulturasi. Akulturasi ini bisa berbentuk serapan makna, penyaringan, penggantian makna (substitusi), pengayaan makna, dan sebagainya. Maka ketika suatu istilah dipergunakan pada suatu masa namun memiliki pemahaman dan suasana kebatinan yang berbeda dengan masa itu perlu untuk dicermati apakah ia merupakan akulturasi atau serapan atau penyaringan makna atau sejenis dengan itu.

Dengan memahami hakekat ini maka cara kita memandang suatu keilmuan tanah Jawa menjadi semakin jelas dan terang benderang. Seperti misalnya konsep unsur yang dikenal pada tanah Jawa. Saya coba mengambil contoh beberapa pemahaman mengenainya.

Apabila seseorang mengatakan suatu pemahamannya akan unsur yakni Tanah, Air, Angin, Api, dan Eter maka sesungguhnya pemahaman aslinya berasal dari agama Siwa. Beberapa pemahaman pada ajaran Budha juga menggunakan Tanah, Air, Angin, Api, dan Eter, beberapa lagi Kosong. Apabila seseorang mengatakan suatu pemahamannya akan unsur yakni Tanah, Air, Angin, Api, dan Hampa (Akasha) maka rujukannya berasal dari agama Hindu. Apabila seseorang mengatakan suatu pemahamannya akan unsur yakni Tanah, Air, Kayu, Api, dan Besi maka rujukannya berasal dari Wu Xing (Tao, China). Apabila seseorang mengatakan suatu pemahamannya akan unsur yakni Padat (tanah), Cair (air), Gas (angin), dan Plasma (Api) maka rujukannya berasal dari sains. Apabila seseorang mengatakan suatu pemahamannya akan unsur Tanah, Air, Angin, Api, dan Nur/Cahaya maka rujukannya diambil dari konsep Tasawuf Islam.

Kalau kita melihat, ada kesamaan yakni adanya 4 unsur alam utama yakni Tanah, Air, Angin, dan Api. Namun penambahan satu unsur lainnya atau lebih bergantung pada tradisi apa yang akan kita gunakan. Ilmu mengenai empat unsur alam tersebut tersangat sangat tersebar luas dalam sejarah dan budaya manusia. Ia wujud pada hampir setiap peradaban dan digunakan secara meluas dalam bidang kerohanian, pengobatan, metafisik dan lain-lain. Maka memahami darimana istilah tersebut digunakan akan memberikan pengetahuan kepada kita secara lebih baik bagaimana sudut pandang dan suasana kebatinan hal itu dipergunakan. Ada sisi akulturasi yang membuat sebuah istilah masih menggunakan istilah periodisasi yang lalu sedangkan isinya sudah diganti dengan periodisasi yang baru. Ini bisa saja. Seperti misalnya memposisikan pemahaman mengenai Hampa/Akasha/Kosong/Suwung. Tradisi Budha, Hindu, China, mengenal istilah ini. Demikian juga dengan Islam. Namun ada perbedaan pada bagaimana tradisi ini menterjemahkan makna Hampa/Akasha/Kosong/Suwung. Kapan waktu saya ulas terpisah.

Kembali kepada keterkaitan antara Fusi Nuklir dan Fisi Nuklir dimana yang Fusi berasal dari “luar ke dalam” sedangkan Fisi berasal dari “dalam ke luar” hal ini mengingatkan saya pada pengetahuan di dalam pemahaman Islam mengenai Taufik dan Hidayah. Saya berusaha mencari padanan pengetahuan dalam khasanan non Islam namun belum menemukan referensi yang menjelaskan keterkaitan dengannya.

Ada hal-hal yang memang sudah ditanamkan atau dibenamkan oleh Allah kepada diri kita yang mesti kita gali dan kembangkan terus menerus agar menjadi terwujudnya amal-amal baik. Inilah Taufik. Bersifat dari “dalam ke luar”. Energi potensial. Tinggal digali semua potensi-potensi baik dan kebaikannya. Ada pula hal-hal yang bersifat memberikan petunjuk atau bimbingan dari Allah sehingga akan mampu membuat potensi Taufik terbangkitkan secara baik, inilah Hidayah. Bersifat dari “luar ke dalam”. Namun khusus bagi Hidayah, dalam konteks Islam adalah murni urusan Allah melalui petunjukNya atau bimbinganNya secara tertentu.

Sederhananya Hidayah merupakan hakekat dari “Fusi Nuklir” (luar ke dalam) sedangkan Taufik merupakan hakekat dari “Fisi Nuklir” (dalam ke luar) manakala dilihat dari konteks ini.

Manakala seseorang berhasil menggali potensi-potensi baik pada dirinya melalui suatu jalan (laku dalam terminologi Jawa) maka pada dasarnya ia berusaha sedang menggali potensi Taufik pada dirinya. Sementara kegiatan-kegiatan untuk mendengarkan wejangan, berdiskusi, membaca, mentadaburri alam semesta, atau sejenis dengan itu (pemikiran, perenungan) merupakan jalan untuk mendapatkan Hidayah. Dan Hidayah selalu akan menghasilkan bangkitnya potensi Taufik. Produknya adalah terwujudnya nilai-nilai kebaikan atau ketaatan dalam berbuat baik sesuai jalan ketuhanan (titising hening).

Reaksi orang-orang yang mendapatkan Taufik dan Hidayah mirip seperti reaksi atom dimana ego orang itu akan luluhlantak tergantikan menjadi suatu kebaikan menuju jalan Tuhan (titising hening) atau menjadi semakin tumbuh subur dan menguatnya keyakinan seseorang dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan baik. Kedua proses ini (Fusi maupun Fisi) menghasilkan sejumlah energi yang sangat besar. Semakin kuat dan berantai reaksi nuklirnya maka semakin besar juga energi yang dihasilkan.

Hati kita, hakekatnya adalah “hati nuklir”. Didalamnya terdapat dan terjadi reaksi Fusi dan atau Fisi secara terus menerus tanpa disadari. Baik itu reaksi secara fisik maupun hakekat. Sebagai sebuah “hati nuklir” maka perubahan seseorang manakala mendapatkan Taufik dan Hidayah akan sangat dahsyat dan menghasilkan energi yang begitu besar. Terbentuknya banyak “inti atom” kebaikan yang memecah sedemikian rupa dengan energi tinggi. Mudahnya melakukan kebaikan dan mewujudkan kebaikan. Pikiran kita, hakekatnya juga “pikiran nuklir” yang manakala sudah terbuka maka ia akan menjadi lompatan-lompatan energi baik dan berwujud menjadi pikiran baik.

Sama halnya dengan ‘Iqro (bacalah) atau bisa kita maknakan dalam bahasa Jawa dengan ‘mersudilah’, namun ‘Iqro tidak akan bisa dilakukan dengan baik manakala ‘bismi robbik’ tidak dijalankan. ‘Iqro (bacalah) baru bisa dimengerti dan dipahami ketika kita ‘membaca dengan nama Tuhanmu’. Arah dan tujuannya jelas. Sangkan paraning dumadi, tahu darimana dan kemana ia akan kembali. Mersudi, tidak akan bisa dilakukan dengan baik manakala tidak dengan ‘titising hening’. Maka dalam khasanah Islam selalu kita diajarkan untuk berdoa “tunjukilah kami jalan yang lurus” atau dengan kata lain kita selalu meminta agar mersudi kita ditunjukkan berdasarkan dan menuju titising hening.

Seseorang bisa melakukan proses ‘mersudi’ untuk menggali potensi Taufik pada dirinya. Namun tanpa adanya wujud amal-amal baik maka proses ‘mersudi’ ini akan sulit untuk berkembang menjadi Hidayah. Jadi, ketika seseorang mengatakan bahwa ia sedang mersudi maka pada hakekatnya ia sedang melakukan dua hal yakni berusaha menggali Taufik dan atau berusaha mendapatkan Hidayah.

Sekali lagi, penjelasan itu adalah dari sudut pandang pribadi. Kalau ada yang keliru, jangan diambil. Sekedar perjalanan pribadi dalam memahami. Tidak lebih.

Semoga bermanfaat.


Ternyata konsep reaksi nuklir berupa fisi dan fusi terjadi pada level yang lebih mini yakni pada level mitokondria.

Umumnya kita hanya mengetahui bahwa mitokondria adalah organel yang paling berperan di dalam menghasilkan ATP sebagai sumber energi sel. Namun sejauh mana mitokondria berperan tidaklah banyak diketahui. Bahwa ada hal-hal yang luar biasa terjadi disana. Mari kita lihat apa-apa saja yang istimewa pada mitokondria ini.

Mitokondria ditemukan pada di setiap tipe sel dan jaringan di dalam tubuh kita, dari otak, kelenjar, hingga tendon. Satu-satunya sel tubuh yang tidak berisi mitokondria adalah sel darah merah. Dibandingkan jenis-jenis sel lainnya, sel otot merupakan sel dimana konsentrasi mitokondria paling banyak didapati. Mitokondria memiliki DNA tersendiri yang berada diluar nukleus (inti sel).

Mitokondria memiliki siklus berupa reaksi nulir dalam bentuk Fusi dan Fisi. Reaksi ini pada mitokondria menyebabkan terjadinya proses yang disebut dengan biogenesis mitokondria atau replikasi mitokondria. Istilah “biogenesis mitokondria” mengacu pada proses replikasi mitokondria didalam sebuah sel dengan maksud untuk meningkatkan produksi ATP berdasarkan permintaan energi yang saat itu sedang berlangsung. Hasil dari biogenesis mitokondria ini adalah terjadinya ekspansi jaringan mitokondria di dalam sebuah sel dan terjadinya peningkatan jumlah maksimal dari ATP yang dapat dihasilkan ketika melakukan suatu latihan otot. Sederhananya, lebih banyak mitokondria berarti lebih banyak produksi ATP.

Siklus mitokondria ini selalu diawal dari siklus Fusion barulah kemudian Fision. Dan pada siklus yang pertama (fusion) dibagi menjadi dua periode yakni periode pre-fusion dan periode post-fusion. Periode pre-fusion disebut dengan istilah Solitary Period. Jika Anda mencari padanan arti kata “solitary” pada Google Translate maka Anda akan mendapati arti dari solitary adalah “tunggal”, “sunyi”, “terpecil”, “yang suka bertapa”, “tersendiri”. Periode post-fusion disebut dengan istilah Networked Period. Padanan kata Networked dapat berarti “jaringan”, atau “terhubung”. Periode Fusi ini akan membuat terjadinya komunikasi diantara individual mitokondria termasuk di dalamnya pertukaran DNA dan segala produk yang dihasilkannya. ada titik ini nantinya semua hal yang sudah dikomunikasikan akan tersimpan sebagai memori pada mitokondria untuk kemudian terjadi reaksi Fisi (pelepasan, penggandaan, biogenesis) yang dihasilkan setelahnya. Antar mitokondria yang sedang berproses tersebut akan terjadi ikatan energi sel yang saling terhubung satu sama lain meskipun saat beristirahat sekalipun. Pada satu individual sel yang tidak mengalami stres dengan populasi 300 mitokondria akan menghasilkan 500-1000 reaksi Fisi sedangkan bagi individual yang mengalami stres hanya akan mengalami 100 reaksi fisi saja. Terdapat tiga aspek yang penting di dalam proses Fusi ini yakni ketersediaan nutrisi, isyarat hormon, dan perubahan temperatur.

Jadi, secara sederhana dapat diartikan bahwa periode yang terjadi pada siklus mitokondria terdiri dari masa dimana Anda harus “sunyi/tunggal/tersendiri” terlebih dahulu. Dalam khasanah Jawa menunjukkan suatu kondisi dimana Anda harus “meneng”, “hening” yang dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan kalimat “menenangkan diri” sebelum memulai proses Fusi (penyatuan). Pada periode inilah mitokondria siap untuk mengalami fusion (penggabungan, penyatuan). Artinya, pada periode dimana Anda mesti “neng” dan “ning” inilah Anda baru bisa melakukan penggabungan (Nyawiji). Maka, proses sebelum “Nyawiji” yang diawali dengan “neng” dan “ning” ini sesungguhnya sangat ilmiah. Kemudian ketika proses Fusi itu terjadi maka periode berikutnya adalah periode dimana mitokondria melakukan proses keterhubungan antara satu dengan yang lainnya (networked period) yang saat itu sedang melakukan fusi bisa dalam jumlah tertentu. Kalau dalam satu individual sel saja dari populasi 300 mitokondria dapat menjadi 500-1000 reaksi Fisi maka bisa dibayangkan pada jutaan dan trilyunal sel tubuh? Maha Suci Allah yang telah menciptakan mitokondria! Jika diartikan dalam khasanah latihan Jawa, setelah Anda melakukan “neng” dan “ning” hingga menjadi “nyawiji” maka selanjutnya yang Anda lakukan adalah proses “rumongso”. Proses “rumongso” ini merupakan proses dimana keterhubungan itu terjadi. “Rumongso” merupakan suatu aktivitas yang melibatkan jiwa. Ini pas sekali dengan tiga aspek dalam proses Fusi dimana salah satunya adalah adanya Isyarat Hormon. Isyarat Hormon jika dalam bahasa ilmuwan Bruce Lipton disebut sebagai “Persepsi dalam Mensikapi Lingkungan”. Melalui persepsi inilah qolbu melakukan penyikapan hati. Dalam dunia medis, hormon disebut sebagai “gerbang jiwa”. Maka istilah “iso rumongso, ojo rumongso iso” bisa dijelaskan dengan sangat tepat dengan pemahaman akan mitokondria ini.

Namun proses yang terjadi pada individual sel yang secara maksimal baru dapat terjadi apabila sel tidak mengalami stres. Sehingga jika Anda ingin berlatih olah napas dalam sudut pandang ilmu Kebugaran maka kondisikanlah diri Anda saat berlatih untuk senang, gembira, sukacita. Setiap gerakan olah napas yang dilakukan jangan dijadikan sebagai beban, melainkan sebagai aktivitas yang menyenangkan diri Anda. Dengan demikian sel-sel tubuh Anda tidak stres karenanya.

Penyikapan hati yang salah dalam berlatih akan menyebabkan perubahan yang tidak diharapkan. Sehingga seringkali terjadi orang sakit yang berlatih MP kok tidak kunjung sembuh sehingga menjadi bosan dan akhirnya berhenti berlatih. Bisa jadi terjadi kendala pada pemahaman latihan selama ini yang keliru ketika memandang keterkaitan olah napas MP dengan kesehatan dan penyembuhan dibandingkan yang sudah terbentuk selama ini mengenai kanuragan dan kesaktian. Penyikapan terhadap persepsi diri saat melakukan latihan juga menentukan bagaimana tubuh Anda dibentuk.

Disebutkan juga pada penelitian terbaru mengenai mitokondria bahwa selain berfungsi sebagai penghasil ATP ternyata mitokondria juga terlibat besar dalam proses metabolisme lainnya, sebagai penyeimbang kalsium pada tulang, dan sebagai organel yang mengontrol siklus hidup sel, pertumbuhan sel dan diferensiasi sel. Pada teori mengenai sel, terdapat dua kondisi perkembangan sel yakni Growth (tumbuh) dan Protection (proteksi). Dan proses Growth pada sel ini terpengaruh sangat besar pada aspek emosional berupa munculnya rasa bahagia, rasa cinta kasih, dan rasa sayang. Sementara proses Protection pada sel terpengaruh pada rasa takut, kekhawatiran, keragu-raguan. Jadi, ketika Anda merasa bahagia maka sel Anda akan tumbuh berkembang. Sementara ketika Anda merasa takut, khawatir, ragu-ragu, maka sel Anda berusaha menutup diri (membentuk Protection). Jika suatu sel membentuk Protection itu artinya tidak terjadi pertumbuhan sel disana. Apabila terus menerus terjadi kondisi proteksi seperti itu maka lama kelamaan sel akan mati. Dalam bahasa mitokondria, kondisi stres pada level sel membuat mitokondria tidak mampu melakukan sesi fusi dan fisi dengan baik.

Apabila terjadi masalah pada mitokondria akan dapat melahirkan berbagai penyakit yang berhubungan dengan metabolisme diantaranya diabetes, parkinson, alzheimer, dan penuaan. Menurut ilmuwan, cara melakukan pembalikan efek dari berbagai penyakit tersebut adalah adalah dengan cara meningkatkan replikasi mitokondria pada sel. Dengan cara ini maka sel akan selalu terbarukan. Dalam bahasa sederhananya adalah … Berlatihlah! Latihan. Latihan. Latihan. Sesuai dengan ucapan almarhum guru besar Mas Boedisantoso, obat dari penyembuhan penyakit di MP adalah latihan. Maka jangan malas latihan sebab ini sangat bermanfaat bagi diri Anda sendiri.

Seseorang bisa melakukan proses ‘mersudi’ untuk menggali potensi Taufik (reaksi Fisi, dari dalam keluar) pada dirinya. Namun tanpa adanya wujud amal-amal baik maka proses ‘mersudi’ ini akan sulit untuk berkembang menjadi Hidayah (reaksi Fusi, dari luar ke dalam). Jadi, ketika seseorang mengatakan bahwa ia sedang mersudi maka pada hakekatnya ia sedang melakukan dua hal yakni berusaha menggali Taufik dan atau berusaha mendapatkan Hidayah.

Semoga bermanfaat.

Sumber Rujukan:

  1. Mitochondrial Biogenesis through Activation of Nuclear Signaling Proteins (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3685894/)
  2. Mitochondrial Fusion, Fission and Autophagy as a Quality Control Axis: The Bioenergetic View (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3809017/)
  3. (http://www.cell.com/cell/fulltext/S0092-8674(00)80611-X)
  4. Tanaka M, Kovalenko SA, Gong JS, Borgeld HJ, Katsumata K, Hayakawa M, Yoneda M, Ozawa T. Accumulation of deletions and point mutations in mitochondrial genome in degenerative diseases. Ann N Y Acad Sci. 1996;786:102–11 (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8687011)
  5. Human Protein Atlas (http://www.proteinatlas.org/humancell/mitochondria)
  6. Holloszy, J. O. Biochemical adaptations in muscle. Effects of exercise on mitochondrial oxygen uptake and respiratory enzyme activity in skeletal muscle. J. Biol. Chem. 242, 2278–2282 (1967)
  7. Hood, D. A. Mechanisms of exercise-induced mitochondrial biogenesis in skeletal muscle. Appl. Physiol. Nutr. Metab. Physiol. Appliquée Nutr. Métabolisme 34, 465–472 (2009).
  8. Sreekumar, R. & Nair, K. S. Skeletal muscle mitochondrial dysfunction & diabetes. Indian J. Med. Res. 125, 399–410 (2007).
  9. Lanza, I. R. et al. Endurance exercise as a countermeasure for aging. Diabetes 57, 2933–2942 (2008).

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →