Memahami Konsep Level dalam Metode Pergeseran Asam-Basa

MENGENAL KONSEP LEVEL DALAM KEBUGARAN METODE PERGESERAN ASAM-BASA

Oleh: Mas Gunggung

Banyak yang bertanya mengenai konsep leveling yang pernah saya tulis pada beberapa tulisan saya disini. Baiklah, saya akan jelaskan beberapa. Kebugaran metode Pergeseran Asam-Basa disusun atas 7 (tujuh) level dengan 4 level dilepas ke masyarakat secara bertahap sebagai berikut:
1. Level Diam
2. Level Gerak
3. Level Beban
4. Level Alam

Semua level didasarkan pada konsep MANAJEMEN STRES yang dilakukan secara bertingkat. Pemahamannya didasarkan pada biokimia tubuh yang mengakibatkan perubahan pada fungsi biologis, kimiawi, fisiologis dan psikologis.

Saya ambil contoh pada Level Diam dan Level Gerak dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Level Diam, dilakukan dengan tanpa gerakan sama sekali. Boleh sambil duduk, berdiri, bersandar, atau berbaring.

TUJUAN UTAMA, memberikan pemahaman kepada peserta mengenai konsep: a) Aerobik dan Anaerobik, b) Oksigen-Karbondioksida, c) Asam-Basa, d) Glucose, e) Stres, f) Hormon, g) Syaraf Otonom, h) Otak, i) Adipose Tissue (Lemak), j) Layer abstraksi.

– Peserta diajarkan untuk memahami konsep Aerobik dan Anaerobik dalam olah napas. Bagaimana jalur Glycolysis terbentuk. Apa itu Hypoxia-Inducible-Factor (HIF) dan apa pengaruhnya dalam pembelokan metabolisme akibat dari perubahan konsentrasi Oksigen. Apa itu Siklus Krebs dan Siklus Cori. Apa itu Gluconeogenesis. Apa itu Lactid Acid dan Lactate Shuttle secara umum. Bagaimana cara kerja Glucose dalam tubuh dan bagaimana ia mempengaruhi fisiologis tubuh manusia. Apa saja molekul yang dapat melewati Blood Brain Barrier (BBB) dan bagaimana cara kerjanya.

– Peserta diajarkan untuk memahami konsep dasar Asam-Basa dari sisi olah napas. Apa fungsi dari Oksigen dan Karbondioksida. Apa itu Respirasi Alkalosis dan Respirasi Acidosis. Apa itu rumus pH yang didasarkan pada persamaan Handerson-Hasselbalch. Variabel-variabel mendasar apa yang membuat keseimbangan Asam-Basa bergeser lalu bagaimana pendekatan olah napas melakukan penyeimbangan pada keduanya. Bagaimana cara mengukur kondisi Asam-Basa menggunakan kertas Lakmus dan Arterial Blood Gasses (ABG). Apa itu CHEM7 pada konsep Metabolic Panel dan bagaimana ia bekerja pada tubuh.

– Peserta mulai dikenalkan dengan konsep manajemen stres yang termudah yakni melalui penahanan napas. Apa jalur metabolik yang terjadi saat menahan napas, bagaimana biokimia dari jalur stres yakni jalur HPA (Hypothalamus-Pituitary-Adrenal). Bagaimana stres berpengaruh pada keseimbangan Asam-Basa dan bagaimana cara menetralkan stres yang terjadi sehingga stres menjadi manfaat bagi tubuh.

– Peserta diajarkan untuk memahami hormon beserta fungsi dasarnya dan bagaimana jalur biokimia hormon dapat mempengaruhi banyak reaksi kimia tubuh. Apa itu Autocrine, Paracrine, dan Endocrine dan bagaimana cara memunculkannya via olah napas. Hormon yang dikenalkan secara bertahap adalah hormon stress (Cortisol, Epinephrine, Norepinephrine, dan Oxytocin), Insulin dan Glucagon, Endorphine, Serotonin, Dopamine, Melatonin, Thyroid, Growth Hormone, Gastrin, Testosteron dan Progesteron, dan Estrogen.

– Peserta belajar mengenai SpO2 (saturasi oksigen dalam darah) dan perubahannya saat melakukan olah napas. Apa itu kondisi Normoxia, Hiperoksia, dan Hipoksia saat terjadi perubahan oksigen saat melakukan olah napas dan bagaimana ia menimbulkan perubahan metabolisme ketika masuk pada tiap kondisinya. Apa dan bagaimana regenerasi sel terjadi pada tubuh dilihat dari sudut pandang Oksigen dan Karbondioksida. Bagaimana cara mengukur SpO2 dan cara membacanya.

– Peserta diajarkan mengenai pengetahuan Syaraf Otonom yang terdiri dari 3 (tiga) cabang yakni Syaraf Simpatik, Syaraf Parasimpatik, dan Syaraf Enterik. Bagaimana caranya membuat keseimbangan syaraf otonom bergeser pada salah satu cabang syarafnya, bagaimana cara meningkatkan laju dominasi salah satu cabang syaraf, dan bagaimana cara menghentikan laju dominasi salah satu cabang syaraf. Diajarkan juga mengenai pengetahuan 12 Syaraf Cranial dan bagaimana cara mengaksesnya melalui syaraf otonom. Bagaimana cara mengukur keseimbangan syaraf otonom.

– Peserta belajar mengenai detak jantung permenit (BPM) dan perubahannya saat melakukan olah napas. Bagaimana syaraf Simpatik dan Parasimpatik berpengaruh terhadap jantung. Hormon apa saja yang dapat dikeluarkan oleh jantung yang dapat menunjang daya napas. Bagaimana cara mengukur BPM.

– Peserta belajar untuk memahami Default Mode Network (DMN) dan Task Positive Network (TPN) pada otak. Bagaimana cara mengkondisikan otak untuk membuat semua area bekerja bersama-sama (CEO) pada suatu keadaan. Bagaimana mengkondisikan otak untuk berada pada mode Default yang diinginkan. Bagaimana strategi memberikan pengetahuan pada otak secara bertahap agar otak belajar hal baru dan ‘membenarkan’ hal baru tersebut.

– Peserta belajar memahami apa dan bagaimana Lemak pada tubuh. Strategi melakukan peluruhan lemak via olah napas secara alamiah.

– Peserta diajarkan mengenai konsep layer abstraksi (niat, fokus, imajinasi, konsentrasi, keyakinan) dan bagaimana pengaruhnya secara metabolisme pada tubuh. Apa itu konsep 3 (tiga) otak yang terdiri dari otak kepala, otak jantung, dan otak perut dan bagaimana cara melakukan sinkronisasi pada ketiganya. Bagaimana cara membentuk koherensi gelombang pada ketiganya. Bagaimana cara memisahkan gelombang diantara ketiganya sehingga bisa didapati gelombang yang murni. Bagaimana cara mengukur koherensi gelombang yang terjadi diantara dua atau tiga otak tersebut ketika terjadi penyatuan. Bagaimana cara mengukur gelombang yang murni dari masing-masing otak.

2. Level Gerak, dilakukan dengan mempertahankan postur tubuh yang khas secara Isometric, Plyometric, dan atau Dynamic.

TUJUAN UTAMA, memberikan pemahaman kepada peserta mengenai konsep: a) Otot Postural dan Phasic, b) Isometric, Plyometric, dan Dynamic, c) Serat Otot, d) Siklus Krebs dan Siklus Cori, e) Lactid Acid, f) Lactate Shuttle, g) Creatine, h) Adipose Tissue (lemak), i) Receptor Kulit

– Peserta memahami 90% aspek-aspek yang dipelajari pada Level Diam. Plus peserta melaporkan temuan-temuan yang didapat pada saat melatih Level Diam untuk dikoreksi, diberikan update pengetahuan tambahan, dan atau dihilangkan jika dirasa terlalu jauh melenceng dari tujuan.

– Peserta akan berkenalan dengan pengaturan stres yang lebih tinggi yakni dalam bentuk mempertahankan postur (isometrik, plyometrik, dan dinamik) yang diiringi pengejangan otot. Peserta diajarkan untuk memahami bagaimana cara kerja otot, biokimia apa yang dihasilkan darinya, perubahan metabolisme jenis apa yang dapat dihasilkan dari kontraksi otot.

– Peserta diajarkan untuk memahami Otot Postural dan Otot Phasic. Biokimia yang terjadi saat kontraksi otot yang meliputi pemecahan ATP dalam Aerobik dan Anaerobik. Diajarkan juga apa itu Serat Otot (Muscle Twitch) yang terdiri dari Fast Twitch Fiber (serat otot kedut cepat) dan Slow Twitch Fiber (serat otot kedut lambat) serta Intermediate Fast Twitch (serat otot pertengahan yang dapat berubah menjadi Fast atau Slow). Aktivitas apa yang menunjang penggunaan serat otot ini dan perbedaan daya yang dihasilkan dari kedua serat otot. Apa dan bagaimana peran Oksigen dan Karbondioksida dalam penggunaan kedua serat otot. Bagaimana cara mengukur kekuatan dan daya tahan pada kontraksi otot dan relaksasi otot.

– Peserta diajarkan untuk memahami Siklus Krebs secara lebih komprehensif pada jalur Aerobik dan Siklus Cori yang terjadi pada otot pada jalur Anaerobik.

– Peserta belajar biokimia Lactic Acid dan Lactate Shuttle. Bagaimana cara kerja Lactate pada tubuh ketika berada pada kondisi Aerob dan Anaerob. Apa manfaat Lactate bagi tubuh dan otak. Apa itu Lactate Tresshold dan bagaimana strategi meningkatkan Lactate Tresshold. Bagaimana cara mengukur Lactate.

– Peserta belajar biokimia Cholesterol dan pengaruhnya terhadap hormon stres yakni Cortisol, Epinephrine, Norepinephrine, dan Oxytocin. Memahami strategi menurunkan Cholesterol dan Trigliserida secara lebih cepat.

– Peserta belajar cara meningkatkan kompetensi penyerapan Glucose pada tubuh melalui otot dan strategi peluruhan lemak yang lebih cepat.

– Peserta belajar mengenai bagaimana meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot, memahami peluruhan massa otot dan strategi penurunan massa otot. Memahami apa dan bagaimana jalur biokimia Creatine bekerja pada tubuh.

– Peserta belajar memahami cara kerja receptor pada kulit dalam bentuk tekanan, sentuhan, temperatur, dan vibrasi (getaran)

Nah loh… Mumet mumet dah… πŸ˜€ πŸ˜›

Sebenarnya sih ngga rumit-rumit banget asalkan mau belajar dan open minded. Malah lebih enak karena kita jadi paham bagaimana cara kerja olah napas dalam badan dan bagaimana caranya melakukan perubahan-perubahan yang diinginkan melalui strategi pengaturan stres pada diri.

Kebugaran Metode Pergeseran Asam-Basa mengajarkan cara kita memahami tubuh kita hingga level sel. Bagaimana biokimia yang terjadi di dalamnya. Bagaimana cara melakukan perubahan metabolisme via olah napas untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi tubuh. Masing-masing levelnya membagi pengetahuan biokimia secara lebih spesifik.

Namun seringnya kita terjebak pada “bentuk gerakan”. Maka selalu pertanyaan kepada saya adalah “bentuk gerakannya gimana mas buat nurunin Asma?”. Itu artinya sudut pandangnya masih terjebak pada gerakan. Tidak masuk pada wilayah esensial dari olah napas. Juga ada yang bertanya kepada saya begini, “saya harus tembakkan energi jenis apa mas ke penyakit orang itu?”. Dan ya ini juga wilayah yang sudah jauh walaupun bisa saja dijabarkan dan diberikan landasan logikanya. Juga misalnya dengan kalimat begini, “saya dapat menumbuhkan organ baru dengan ilmu XYZ”, ya itu sama saja akan memancing sebuah perdebatan tiada henti misalnya dengan pertanyaan balik seperti ini “coba sekarang putuskan satu jarimu lalu tumbuhkan lagi seperti yang kau bilang… saya mau lihat!”… Amsyong dah kalau sudah ditantang seperti itu… πŸ™‚

Menjadi berpikir logis itu bukan merendahkan keilmuan MP atau merendahkan yang lain, namun secara alamiah mendidik kita agar skeptis dulu sambil mencari bukti-bukti berikutnya yang lebih meyakinkan. Sains sudah sedemikian maju, maka demikian pulalah semestinya pemikiran kita. Memang ada wilayah-wilayah non rasional yang masih ada. Itu sudah pasti. Yang disebut “ajaib” itu hanya karena kita belum tahu sainsnya saja. Ketika sudah tahu sainsnya maka “ajaib” itu sudah berubah menjadi sebuah “teknologi”. Pada akhirnya keyakinanlah yang menentukan kita ingin belajar yang mana dan kepada siapa. Maka, berhati-hatilah dengan siapa keyakinan kita itu dibentuk.

We are what we believe!

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →