Memahami Syaraf Otonom dalam Kaidah Olah Napas – Bagian 4

MEMAHAMI SYARAF OTONOM DALAM KAIDAH OLAH NAPAS
(Bagian 4)

Oleh: Mas Gunggung

Pada bagian keempat ini saya akan mengulas sedikit mengenai konsep yang dipakai pada Kebugaran dengan metode Pergeseran Asam Basa yang disebut dengan MANAJEMEN STRES. Ini masih ada keterkaitan dengan Syaraf Otonom dalam penjelasan sebelumnya. Konsep ini akan bisa menjelaskan banyak hal pada cara kita berlatih di MP termasuk juga pada kehidupan sehari-hari.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, jika ada kegiatan yang menyebabkan terjadinya hal-hal seperti berikut ini:

1. Adanya kondisi menahan napas dalam jangka waktu panjang
2. Adanya kondisi penggunaan otot secara maksimal
– Pada otot postural dan atau phasic, dan/atau
– Pada otot diafragma, dan/atau
– Pada otot perineum/anus, dan/atau
– Otot-otot lain
3. Adanya kondisi peningkatan stres akibat dari:
– Repetisi maupun durasi, dan/atau
– Bentuk gerakan yang ‘cukup’ sulit, dan/atau
– Penambahan beban fisik, dan/atau
– Terkena pengaruh alam (temperatur panas atau dingin, gelap, dan lain sebagainya) secara ekstrim

Maka kegiatan tersebut akan menggeser keseimbangan Syaraf Otonom menjadi dominan Syaraf Simpatik. Akan terjadi peningkatan laju dominasi Syaraf Simpatik pada kegiatan yang sedang dilakukan tersebut. Apapun jenis kegiatannya apakah itu senam, bersepeda, berlari, duduk, berjalan, ataukah olah napas sekalipun. Jika kondisi-kondisi diatas terjadi maka laju dominasi syaraf Simpatik akan meningkat.

Sampai disini semoga bisa dipahami. πŸ™‚

Nah, sekarang mari kita lihat bagaimana pola latihan Merpati Putih dilihat dari sudut pandang Stres Manajemen.

Bagi para praktisi MP kita mengenal berbagai variasi kegiatan latihan. Apabila disederhanakan maka akan mengerucut pada hal-hal berikut ini:

1. Doa Pembuka
2. Senam Peregangan dan atau Pemanasan
3. Latihan Utama (tata gerak dan atau olah napas)
4. Meditasi
5. Aplikasi
6. Doa Penutup

Saya akan jelaskan pada point 2, 3, dan 4. Pada point 2 sudah jelas akan meningkatkan penggunaan otot postural dan phasic sehingga laju dominasi syaraf Simpatik meningkat. Sedangkan pada point 4 akan mendominankan syaraf Parasimpatik. Hal ini dikarenakan meditasi merupakan jenis aktivitas yang mendominankan syaraf Parasimpatik.

Bagaimana dengan point 3 dari sisi latihan olah napas dalam bentuk Senam Napas Pengolahan dan Senam Napas Pembinaan? Mari kita lihat. Oh iya, khusus untuk tata gerak hal itu sudah jelas masuk pada kategori aktivitas fisik yang intens sehingga dipastikan menyebabkan terjadinya kenaikan syaraf Simpatik. Sedangkan pada olah napas, kita akan melihat adanya pola sebagai berikut pada tiap tingkatan (saya hanya akan mengambil contoh 7 tingkatan saja):

1. Tingkat Dasar 1, hanya menggunakan pengerasan dan pengejangan otot Postural maupun Phasic. Memang ada beberapa yang menggunakan beban berupa bola tenis yang diremas tapi memang tidak umum. Jumlah bentuk gerakan sesuai kurikulum ada 14.
2. Tingkat Dasar 2, menggunakan pengerasan dan pengejangan otot Postural maupun Phasic yang ditambahkan beban seukuran batu bata. 
3. Tingkat Balik 1: pakai beban beton cor berbentuk bulat dengan lima lubang selebar satu ruas jari untuk kelima jari. Jumlah bentuk gerakan semakin bertambah dibandingkan Dasar 2.
4. Tingkat Balik 2: beban Balik 1 digantung ditengah antara Bambu Raut yang diremas-remas sedemikian rupa. Jumlah bentuk gerakan semakin bertambah dibandingkan Balik 1.
5. Tingkat Kombinasi 1, menggunakan beban berupa halter pinggir dengan berat tertentu. Jumlah bentuk gerakan makin banyak.
6. Tingkat Kombinasi 2, menggunakan beban berupa halter tengah dengan berat tertentu. Jumlah gerakan juga bertambah banyak.
7. Tingkat Khusus 1, menggunakan beban berupa busur kembar (gandewa) dengan kekuatan rentang tertentu. Jumlah gerakan juga cukup banyak.

Perhatikan, semakin tinggi tingkatan maka beban semakin berat. Artinya, stres yang diberikan dari MP kepada praktisinya semakin lama semakin tinggi. Ini belum membicarakan mengenai keilmuan lain dengan latihan ekstrim seperti Pasir Besi yang mengkondisikan penambahan stres melalui unsur alam yang bersifat tidak bisa diprediksi. Atau misalnya materi “Pecah Pamor Kundalini” yang harus melatih suatu bentuk postur tertentu selama sekian hari dan sekian kali repetisi.

Maka, latihan MP ini sesungguhnya adalah sebuah konsep manajemen stres dalam kaidah tradisional yang disusun secara bertingkat. Praktisinya diberikan pengkondisian untuk mendapatkan stres dalam bentuk yang berbeda-beda yang makin lama makin meningkat hingga level yang tidak masuk akal.

Meski demikian MP tidak membiarkan praktisinya jatuh pada kondisi stres berkepanjangan. Maka dibuatlah solusi untuk mengatasi laju dominasi syaraf Simpatik. Bagaimana caranya? Yakni dengan mendesis. Sederhana, namun sangat efektif. πŸ™‚

Kebugaran metode Pergeseran Asam Basa dari sudut pandang Syaraf Otonom memandang pola latihan olah napas MP dalam 3 (tiga) komponen berikut ini:

1. Desis pembuka, mengaktivasi syaraf Parasimpatik dan merasakannya
2. Latihan utama, meningkatkan laju dominasi syaraf Simpatik
3. Desis penutup, menahan laju dominasi syaraf Simpatik melalui aktivasi syaraf Parasimpatik

Pengetahuan desis ini kemudian dibagi lagi menjadi beberapa bagian seperti desis keras, desis halus, desis kertas, dan lain sebagainya. Maka cara mengaktivasi syaraf Parasimpatik akhirnya menjadi lebih banyak pendekatan. Kapan waktu nanti saya bahas bedanya desis keras dan desis halus dari sisi akvitasi syaraf Parasimpatik dan sejauh mana ia mempengaruhi metabolisme. Luar biasa. Ada pilihan lain seperti “HEAAA!” atau “HAIK!” namun MP memilih mendesis dengan bunyi “CESSSSH!”. Ini adalah bentuk kejeniusan dan pembeda dengan yang lain.

Metode Pergeseran Asam Basa memandang bahwa desis adalah teknik yang dipakai untuk menghentikan laju dominasi syaraf Simpatik. Dari sinilah lahir tenaga eksplosif. Bukan dari pengejangan otot seperti pemahaman kebanyakan. Kondisi pengejangan otot, menahan napas dalam waktu lama, penambahan beban, dan alam merupakan kondisi yang dipandang sebagai komponen penambah stres. Kondisi yang ditambahkan untuk meningkatkan laju dominasi syaraf Simpatik menjadi berkali-kali lipat. Semakin besar laju dominasi syaraf Simpatik maka semakin besar pula tenaga eksplosif yang dihasilkan untuk menahan laju tersebut.

Kita bisa melihat, mula-mula diberikan hanya menahan napasnya saja. Kemudian ditambahkan gerakan dan pengejangan. Kemudian bentuk gerakan menjadi semakin sulit. Kemudian ditambahkan beban yang makin lama makin berat. Kemudian ditambahkan unsur alam yang tidak bisa diprediksi. Kemudian ditambahkan unsur abstrak yang sulit dipercayai. Dan seterusnya.

Sederhananya, melalui MP seseorang diajari untuk terus menerus berhadapan dengan stres namun tidak boleh terpengaruh dengannya. Justru dia harus mengendalikannya dan dapat menghentikannya dengan sekejap dan maksimal ketika latihan dengan teknik desis. Jika ini rutin dilakukan dengan pendekatan seperti ini maka akan lahir penguasaan diri yang sangat baik pada diri praktisinya. Hal ini disebabkan dirinya rutin belajar untuk berada dalam kondisi stres sekaligus belajar menghentikan dan mengendalikannya.

Ada pertanyaan, Bagaimana jika praktisinya gagal untuk menahan laju dominasi syaraf Simpatik dalam sekejap?

Nampaknya MP sangat paham bahwa akan terjadi kondisi seperti itu. Untuk itulah diberikan latihan tambahan berupa meditasi. Meditasi merupakan jenis latihan yang akan mendominankan syaraf Parasimpatik. Sehingga ketika praktisi ini dirasa belum mampu menahan laju syaraf Simpatik dalam sekejap maka ia akan dibantu dengan menjalani latihan meditasi. Tujuannya jelas yakni agar keseimbangan Syaraf Otonom kembali tercapai pada akhirnya.

Mari kita lihat salah satu contoh ketidakseimbangan antara Syaraf Simpatik dan Parasimpatik dari sisi organ reproduksi yakni akan memunculkan respon kontraksi otot pada alat vital pria maupun wanita (lihat gambar) dan kemampuan ereksi. Ini memang efek yang ditimbulkan dari aktifnya syaraf Simpatik. Istilahnya mudah terkondisikan untuk terjadi ‘snut-snut’ dan kuat dalam kemampuan ‘menembak’ πŸ˜› . Makanya tidak heran kalau akan muncul peningkatan fungsi seksual disana baik secara fisik maupun emosional. Jadi, semestinya praktisi MP itu kuat dari fungsi seksual jika merujuk pada apa yang sedang dilatihnya. Akan tetapi, jika peningkatan fungsi ini tidak mampu dikendalikan, maka akibatnya bisa berbahaya. Silahkan analisa sendiri sambil tengok kanan kiri dan kebawah… πŸ˜›

Sebaliknya, pada hampir semua latihan getaran akan menggunakan dominasi laju syaraf Parasimpatik khususnya pada bagian syaraf Vagus.

Jadi, kita bisa lihat kalau sesuatu yang sering kita istilahkan dengan Tenaga Power adalah kondisi yang membuat laju dominasi syaraf Simpatik meningkat secara eksponensial dengan menambahkan komponen-komponen jenis tertentu dan memanfaatkan hasil yang timbul daripadanya. Sedangkan sesuatu yang sering kita istilah dengan Tenaga Getaran adalah kondisi yang membuat laju dominasi syaraf Parasimpatik meningkat secara eksponensial dengan menambahkan komponen-komponen jenis tertentu dan memanfaatkan hasil yang timbul daripadanya. Komponen-komponen ini terbagi menjadi komponen fisik dan komponen abstrak. Kemudian keduanya disatukan menjadi sebentuk tenaga yang jenisnya baru. Mengenai komponen abstrak seperti niat, imajinasi, fokus, keyakinan, dan lain sebagainya kapan waktu nanti saya bahas terpisah.

Jadi, jangan sampai stress ya mas/mba. πŸ˜€

Semoga bermanfaat.

Salam,
MG

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →