Memahami Syaraf Otonom dalam Kaidah Olah Napas – Bagian 3

MEMAHAMI SYARAF OTONOM DALAM KAIDAH OLAH NAPAS
(Bagian 3)

Oleh: Mas Gunggung

Tulisan ini sedikit melanjutkan mengenai rangkaian dua tulisan saya sebelumnya. Topik Syaraf Otonom kali ini melihat bagaimana Metode Pergeseran Asam Basa ini memandang teknik penyembuhan berbasis Getaran. Ini sebenarnya berada pada wilayah kanuragan yang cukup sensitif. Maka dari itu, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saya memisahkan pengetahuan yang seperti ini pada buku tersendiri. Dan memberikan pengetahuan ini hanya pada orang-orang terdekat yang menurut saya memang dapat dijadikan sahabat untuk memberikan feedback positif. Ada beberapa WB Warrior yang minimal sudah ikut 3x event, sudah melatihnya di rumah dengan rutin, dan melaporkan hasil perkembangannya yang positif yang ditunjuk untuk belajar teknik ini. Pertimbangannya dibandingkan dengan yang bukan WB Warrior adalah adanya persamaan pemikiran dan pengetahuan pada metode yang sedang dijalani akan memudahkan dalam memahami teknik lanjutan ini.

Kanuragan dengan metode Pergeseran Asam Basa dirancang dengan pengetahuan yang selaras dengan Kebugarannya. Harapannya adalah terjadinya saling melengkapi satu sama lain. Seringkali kita mengucapkan “sehat itu utama, sakti itu bonusnya”. Tetapi benarkah seperti itu? Apakah bisa seseorang mengejar “kesaktian” dan ia tetap sehat? Bagaimana bisa seseorang menjalani latihan berat berhari-hari dengan frekwensi dan durasi yang panjang namun seluruh parameter kimiawi darahnya tetap bagus? Bagaimana bisa seseorang menjalani latihan ekstrim di alam namun sistem syaraf otonomnya tetap sehat dan seimbang? Tidak terjadi lonjakan-lonjakan emosi yang dalam bahasa Jawa sering disebut dengan istilah “mutungan”, atau “bludrekan” atau “emosian”? Bisakah seseorang tetap berlatih untuk mendapatkan “kesaktian” namun fisiknya tetap prima yang dibuktikan dengan uji laboratorium pada kimiawi darahnya dengan hasil yang optimal dan uji psikologis pada keseimbangan emosionalnya dengan hasil yang normal?

Untuk bisa masuk pada materi-materi lanjutan yang menuntut terjadinya dominasi laju syaraf Simpatik pada tahap yang ekstrim harus diberikan prasyarat diantaranya:
1. Lampiran uji laboratorium selama sekian kali selama sekian bulan terakhir. Memastikan bahwa raganya masih ‘baik’ untuk masuk pada tahap-tahap lanjutan. 
2. Memiliki standar kemampuan menahan napas dalam detik tertentu pada dua jenis Hipoventilasi. Memastikan fungsi Buffer pada Chemical Buffer System cukup kuat untuk menopang lonjakan kondisi yang terlalu Asam. 
3. Memiliki standar kemampuan BPM (beats per minute) pada jantung saat istirahat dengan nilai tertentu. Memastikan kualitas jantung prima sebab semua lonjakan dominasi syaraf Simpatik akan meningkatkan kerja jantung berkali-kali lipat. Tanpa kualitas jantung yang prima, latihan ekstrim dan berat hanya akan melukai jantung.
4. Memiliki kemampuan menaikkan pH dalam waktu cepat. Ini ada tekniknya. Hal ini bertujuan agar praktisi dapat segera melakukan normalisasi segera setelah latihan ekstrim dilakukan.
5. Memiliki penguasaan Desis hingga hanya 1x dari 3x toleransi yang diizinkan. Memastikan fungsi Buffer pada Brain Stem Respiratory Buffer System cukup kuat uuntuk menopang lonjakan kondisi yang terlalu Asam apabila Chemical Buffer System terlewati dan mencegah untuk memasuki Renal Buffer System atau buffer Ginjal. Artinya, memastikan bahwa Ginjal praktisi tidak akan kena saat latihan itu dilakukan.
6. Dan syarat-syarat lain yang tujuannya baik

Saya lanjutkan.

Sering kita mendengar bahwa salah satu keunikan Merpati Putih ialah ilmu Getaran. Namun masalahnya adalah bagaimana cara menjelaskan prinsip-prinsip Getaran kepada masyarakat umum? Untuk membuat seseorang memahami dengan baik maka landasan teori perlu disusun dan dibuat dengan sedekat mungkin menuju pada maksud dan sedekat mungkin pada literatur. Kemudian mentransformasikan ‘kanuragan’ dengan batasan-batasan tertentu sehingga dicapai tujuan sehat seperti yang dimaksud diatas.

Pertanyaannya adalah seberapa dekatkah ‘dekat’ yang dimaksud itu? Apakah Getaran yang harus mengikuti sains ataukah sains yang harus mengikuti Getaran? Sebab terkadang ilmu pengetahuan seperti huruf U. Bisa berbelok. Bisa saja sains yang ada saat ini menjelaskan Getaran namun bisa saja Getaran merupakan ‘sains’ dalam bentuk tradisional yang belum terpetakan oleh sains modern. Jika sains bisa menjelaskan Getaran maka Getaran itulah sains. Namun jika Getaran merupakan sesuatu yang belum terpetakan maka bisa saja segala teori mengenainya akan berubah di masa yang akan datang.

Disini kita jadi dapat memahami maksud dari kalimat Nikola Tesla, “jika Anda ingin memahami bagaimana alam semesta ini bekerja maka pahami dalam terminologi Getaran”. Secara tidak langsung, Tesla sudah menemukan petunjuk penting bahwa memahami alam ini bukan dengan bahasa kita sehari-hari melainkan dengan ‘bahasa’ alam itu sendiri yakni Getaran.

Dibutuhkan landasan teori yang solid yang mula-mula masuk pada pseudo-science, dan kemudian dilakukan uji coba, pencatatan, sehingga didapat penguatan landasan teori atau modifikasi landasan teorinya. Dilakukan berulang-ulang hingga didapati hasil yang paling mendekati.

Dalam kaidah Fisika disebutkan bahwa Getaran adalah suatu gerak bolak-balik di sekitar kesetimbangan. Pertanyaannya adalah apakah sama yang dimaksud sains dan yang dimaksud oleh para pendahulu kita mengenai konsep Getaran itu? Jika memang Getaran adalah gerak bolak-balik di sekitar kesetimbangan maka yang bolak-balik itu apa? Lalu yang setimbang itu apa? Bagaimana caranya memahami apa yang dimaksud oleh para pendahulu kita mengenai konsep “Getaran” tersebut yang bahkan pada masa itu istilah yang dipergunakan bahkan bukan itu?

Disinilah peran riset untuk menelusuri apa dan bagaimana Getaran dilihat dari sejak awal mulanya kaidah itu dipergunakan. Tentunya kita tidak akan bisa memutar waktu kembali ke masa lalu untuk mengetahui dengan detail atau memanggil arwah orang-orang zaman dulu untuk bercerita. Yang bisa kita lakukan adalah menelurusi literatur-literatur kuno untuk melihat bagaimana gaya bahasa, makna, kaidah, dan penggunaan kata tersebut digunakan pada masa itu. Semakin kuno literatur yang ada maka semakin akan bisa terlihat maksud dari istilah yang dimaksud. Kemudian melakukan analisa bagaimana literatur itu menjelaskan. Tradisi atau peradaban mana saja yang mewarisi pengetahuan yang ada di dalam literatur tersebut?

Pada setiap tradisi ada kondisi yang disebut dengan pewarisan. Tradisi A diwariskan turun temurun dari satu generasi ke generasi. Sebagian terjaga dengan baik, sebagian tidak. Sebagian tercatat dalam bentuk buku teks kuno, sebagian lagi berupa lisan dan pelajaran hidup. Perlu dilakukan regresi waktu lalu melihat literatur apa yang berkembang pada masa itu dan bagaimana isinya. Apakah proses pewarisannya masih asli ataukah sudah terjadi asimilasi, akulturasi, sinkretisme, dan atau transformasi didalamnya? Apakah ada kesamaan pada penggunaan kata, istilah, maksud, atau pada tujuan yang dimaksud oleh maksud dari warisannya dibandingkan maksud asli dari literaturnya? Dan banyak lagi. Intinya, perlu disusun sejumlah pertanyaan-pertanyaan dari mulai yang biasa-biasa saja hingga yang paling kritis.

Bayangkan, kita melakukan kritik pribadi terhadap keilmuan yang sedang dipelajari. Itu sama saja dengan mengkritisi diri sendiri. Dan tidak banyak orang yang mau melakukan kritik pada dirinya sendiri. Lalu ketika pengetahuan itu diperoleh dan semakin terang benderang, kita jadi bisa melihat apakah ada kekeliruan pemahaman yang selama ini dimiliki atau malah semakin menguatkan yang kita miliki. Dampaknya, bisa saja melihat orang lain menjadi semakin dirasa aneh. Padahal tidak ada yang berubah pada orang lain itu. Yang berubahan adalah meningkatnya pengetahuan dan wawasan kita yang sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Bisa saja membuat kita jadi lebih bijaksana, atau membuat kita menjadi lebih sombong dan menganggap remeh. Pilihannya ada di dalam diri kita sendiri.

Saya lanjutkan.

Untuk dapat melakukan hal-hal seperti diatas tentunya harus dengan sikap hati dan pikiran yang netral mengingat kecenderungan manusia ketika bertemu dengan informasi yang berbeda dengan yang dimilikinya maka akan bersifat defensif, membandingkan dengan dirinya, dan seringkali terjebak pada ekslusivisme. Eksklusivisme sederhananya adalah paham yang merasa dirinya yang paling benar. Padahal berbeda itu belum tentu salah. Bisa saja karena kita belum cukup lengkap mengetahui sebuah pengetahuan secara utuh. Bisa karena minimnya literatur yang dipunyai. Juga bisa karena ketidakmauan untuk melakukan eksplorasi lebih jauh karena khawatir berbenturan dengan keyakinannya selama ini yang sudah ‘membuat nyaman’ dirinya. Atau karena sebab-sebab lain yang tidak diketahui. Dan perbedaan adalah keniscayaan. Darinya justru lahir kekayaan khasanah keilmuan.

Saya ingin mengajak kita semua untuk mencoba memahami ajaran Ki Ageng Suryomentaram dimana intisari ajarannya adalah mengupas mengenai alam kejiwaan (psikologi) manusia. Dalam bahasa Jawa disebut dengan “kawruh pangawikan pribadi” atau “kawruh jiwa”. Lebih dari 18 macam ilmu pengetahuan mengenai kejiwaan telah ditulis beliau. Salah satunya adalah ilmu yang disebut dengan MULAT SARIRA.

Menurut Ki Ageng Suryomentaram, untuk mencapai tahap “dapat mengenal dirinya yang sejati” terlebih dahulu orang harus belajar melalui “laku” (jalan) pembelajaran diri setahap demi setahap. Pembelajaran diri ini merupakan tangga pendakian tingkatan kualitas diri seseorang.

1. Nanding Salira, yaitu pembelajaran pertama dimana seseorang berusaha membanding-bandingkan dirinya dengan diri orang lain dan merasa dirinya lebih baik, lebih benar, lebih menang dibandingkan orang lain. Dia tahu ilmu sedikit, lalu merasa lebih baik dari yang lain bahkan dari yang memberinya ilmu. Padahal sebelumnya ia belum mengenal apa-apa. Ini adalah adalah tahap dari “rumongso iso” atau merasa bisa.

2. Ngukur Salira, yaitu pembelajaran kedua dimana seseorang berusaha mengukur diri orang lain dengan dirinya sendiri yang dijadikan acuan tolok ukur. Ia mulai mengerti bahwa diatas langit masih ada langit. Ia bisa saja menjadi langit yang lebih tinggi dari orang lain, namun bisa saja ia adalah langit yang paling rendah dibanding yang lain. Disini sudah mulai muncul sedikit kesadaran untuk memahami “iso rumongso”.

3. Tepa Salira, yaitu pembelajaran ketiga dimana seseorang mau dan mampu merasakan perasaan orang lain. Belajar tenggang rasa, mengerti mengenai “unggah-ungguh”. Bisa ikut merasakan susah dan senang hati orang lain. Belajar mengalah untuk menyenangkan orang lain, sekaligus mengalah untuk tidak menyakiti hati orang lain. Ini adalah tahap dimana ia mulai “iso rumongso” atau bisa merasa.

4. Mawas Diri, yaitu pembelajaran keempat dimana seseorang mencoba bisa memahami dan mengerti akan dirinya sendiri tanpa dipengaruhi oleh keadaan dan situasi dengan sikap jujur dan rendah hati. Belajar mengamati dirinya sendiri, melihat potensi-potensi yang ada di dalam dirinya, kelebihan dan kekuatannya, kelemahan dan kekurangannya, kesalahannya, keburukannya, dan yang lainnya. Ia belajar memperbaiki dirinya sendiri agar menjadi lebih baik dan berlaku benar dalam hidup di tengah masyarakat. Disini adalah tahap dimana seseorang memahami makna dari “iso rumongso ojo rumongso iso” atau bisa merasa dan jangan merasa bisa. Ia mengerti kaidah hukum alam dan yang melandasinya.

5. Mulat Sarira, yaitu pembelajaran kelima yang merupakan laku utama orang Jawa yang tertinggi dimana seseorang berusaha mencoba masuk ke dalam dirinya lebih jauh lagi, menjelajah dan mengarungi lautan hati serta menyelam ke dasar samudera jiwa yang suci untuk menemukan identitas diri yang tertinggi. Pengetahuannya sudah jernih seperti kristal yang memancarkan cahaya ke segenap penjuru. Ingin dilihat dari sudut mana saja maka pengetahuannya akan bercahaya dan indah. Seseorang dapat mereguk kenikmatan pengetahuan darinya tanpa dirinya merasa kekurangan sama sekali.

Saya lanjutkan.

Dalam dunia modern saat ini hampir semua sudut pandang didasarkan pada sains. Sains itu secara umum Baik, namun kadang sains itu bisa juga Salah. Misalnya, ada 2 kondisi dimana sains itu salah ketika membicarakan mengenai diri saya, Anda, dan semesta. Kondisi itu ketika dipahami dengan benar akan membuat kita jadi lebih mengerti kebenaran yang sesungguhnya pada semesta. Dua kondisi yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Alam semesta berisi ruang kosong
2. Layer abstraksi (Pikiran, Perasaan, Emosi, Keyakinan) tidak memiliki pengaruh pada dunia fisik

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, untuk mengetahui bagaimana keterkaitan antara masa kini dan masa lalu perlu merujuk pada literatur-literatur lama yang menceritakan bagaimana keterkaitan itu terjadi. Sederhananya, dengan memahami “bahasa” yang ada di masa lalu akan memudahkan untuk memahami maksud yang dituliskan pada masa saat ini.

Pada masa lalu, terdapat “Bahasa” yang tanpa kata-kata. “Bahasa” mengenai perasaan manusia. “Bahasa” jenis ini mulai hilang dari peradaban manusia. Namun “Bahasa” ini masih dipergunakan oleh tradisi-tradisi tua dan kuno di banyak tempat.

Pada temuan terbaru di abad ini dikatakan bahwa ada medan cerdas dari energi yang menyatukan alam semesta. Tubuh dan dunia kita menjadi materi dari medan cerdas ini. Dari tidak nyata menjadi nyata. Dari tidak nampak menjadi nampak. Dari probabilitas kuantum menjadi realitas dalam dunia nyata.

Sesuatu yang kita lakukan dalam hidup ini akan memicu proses dalam diri kita yang kemudian berinteraksi dengan kekuatan penciptaan untuk kemudian mempengaruhi dunia materi. Jika kita belum mengerti apa dan bagaimana semua itu terjadi maka kita menyebutnya sebagai KEAJAIBAN. Sedangkan jika kita sudah berhasil mengetahui pengetahuan dibalik semua yang terjadi maka kita menyebutnya sebagai TEKNOLOGI. Bedanya kadang sangat tipis. Namun menjadi tahu belum tentu membuat kita mengerti. Menjadi mengerti belum tentu membuat kita memahami. Menjadi paham juga belum tentu membuat kita bisa melakukan. Bisa melakukan juga belum tentu bisa mengulangi dengan hasil yang sama. Bisa mengulangi dengan hasil yang sama juga belum tentu menjadi manfaat. Dan seterusnya. Ada perjalanan fase pada tiap urutannya yang harus dilalui sebagaimana ajaran Ki Ageng Suryomentaram diatas.

Dalam khasanah Jawa diibaratkan dengan Ilmu Kelapa Degan. Bahwa kelapa degan memiliki banyak lapisan. Tiap lapisan dapat menunjukkan keadaan seseorang. Keadaan ini dapat merujuk pada posisi, ilmu, pengetahuan, kebijaksanaan, masyarakat/umat, dan sebagainya. Jika diibaratkan setiap lapisannya sebagai umat maka ada umat sabut kelapa, ada umat batok kelapa, ada umat isi kelapa, ada umat air, dan seterusnya. Juga jika ingin diibaratkan dengan pengetahuan, maka ada pengetahuan pada lapisan kulit, lapisan isi, lapisan air, ada yang kemudian bertransformasi ketika diolah dengan teknik tertentu menjadi santan, menjadi minyak kelapa murni, dan seterusnya.

Tidak jauh berbeda seperti perjalanan keilmuan. Bahwa semua orang di dunia adalah orang yang merugi, kecuali mereka yang berilmu. Dan semua orang yang berilmu adalah orang yang merugi, kecuali mereka yang mengamalkan ilmunya. Dan semua orang berilmu yang mengamalkan ilmunya adalah orang yang merugi, kecuali mereka yang ikhlas.

Albert Einsten mengatakan bahwa kita ini sungguh beruntung apabila dapat mengetahui sedikit saja pengetahuan alam semesta ini. Profesor John Wheeler, kolega yang hidup sezaman dengan Albert Einstein dan Bohr, mengatakan bahwa “Kita tidak dapat membayangkan semesta yang tidak berisi pengamat/observer karena keragaman yang terjadi di dalamnya merupakan aksi dari apa yang kita amati pada semesta”. Dengan kata lain, manusia adalah bagian dari perjalanan semesta dan sekaligus sebagai pembentuk semesta itu sendiri. Manusia adalah semesta kecil yang berpartisipasi pada semesta besar, bukan pembuat semesta itu sendiri. Perhatikan, kata kuncinya adalah “berpartisipasi” atau “participator”.

Max Planck (1944) yang dikenal sebagai Bapak Teori Kuantum menjelaskan bahwa seseorang seseorang yang mendedikasikan seluruh hidupnya pada sains melalui penelitian materi mengatakan “Saya dapat memberitahu kepada Anda mengenai riset Atom pada kesimpulan bahwa ‘There is no matter!’. Dalam bentuk apapun juga! Semua materi berasal dan ada hanya berdasarkan adanya daya dan kekuatan (force). Ada kekuatan diluar sana yang mengikat semua materi itu. Dan ada sesuatu dibalik kekuatan itu mengatur semuanya”

Misalnya pada suatu percobaan ilmiah mengenai Cyclotron (akselerator partikel) dimana sebuah partikel ditembakkan dengan mendekati kecepatan cahaya kemudian ditabrakkan satu sama lain sehingga menghasilkan partikel lain. Peneliti selalu saja menemukan hal baru pada setiap penelitian. Kenapa? Hal itu terjadi karena mereka selalu ingin menemukan apakah ada hal baru disana. Dan ya, mereka menemukannya! Mereka para ilmuwan meyakini akan menemukan sesuatu yang baru disana, dan mereka akhirnya menemukan. Keyakinan yang kuat untuk menemukan merupakan kekuatan untuk mengubah hasil.

Menurut Neville, pengarang buku “The Book of Awareness” tahun 1952 mengatakan bahwa kekuatan Keyakinan merupakan kekuatan tanpa batas yang tidak ada satupun yang mampu menyamainya dimuka bumi ini. Sebuah Keyakinan dapat lahir darimana saja. Ia dapat lahir dari keluarga, sahabat, teman, saudara, film, televisi, tulisan, sains, dan lain sebagainya.

Namun bagaimana jika ternyata keyakinan yang sudah kita percayai itu ternyata keliru atau bahkan salah?

Nantikan tulisan saya berikutnya.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →