Memahami Syaraf Otonom dalam Kaidah Olah Napas – Bagian 2

MEMAHAMI SYARAF OTONOM DALAM KAIDAH OLAH NAPAS
(Bagian 2)

Oleh: Mas Gunggung

Pada bagian pertama saya jelaskan seperti apa olahraga dilihat dari sudut pandang Syaraf Otonom. Kemudian saya tunjukkan perbedaan antara latihan aerobik/fitness biasa dengan latihan Merpati Putih dalam tinjauan yang sama. Terlihat ada persamaan namun juga perbedaan. Tujuan dari mengetahui ini adalah untuk memberikan pemahaman mengenai karakteristik keduanya sehingga kita bisa menilai dengan jernih apa maksud dibuatnya latihan jenis ini dan itu.

Sekedar informasi, bahwa apa-apa yang saya sampaikan adalah berdasarkan pengalaman pribadi yang tentu bisa berbeda dengan orang lain. Penjelasan yang sering saya tulis sejauh ini sangat memudahkan saya untuk melakukan penetrasi pemahaman kepada banyak tenaga medis individual atau kolektif, klinik, termasuk rumah sakit. Jika cara menjelaskannya runut, terstruktur, punya landasan teori yang jelas, ada data, dan bisa dipertanggungjawabkan maka kecenderungan untuk diterima menjadi lebih besar.

Kita memang bisa mengambil penjelasan dari sudut pandang apa saja yang kita inginkan. Tidak masalah. Namun memahami landasan teori yang kuat akan memudahkan dalam mengurai dan menganalisa dibandingkan mereka yang tidak memiliki landasan teori yang kuat. Dan namanya teori, siapapun boleh berteori selama teorinya dapat dipertanggungjawabkan.

Di dalam kaidah olah napas, pada jenis apapun, tidak akan terlepas dari pola Buang Napas, Tahan Napas, dan Tarik Napas. Lokal jenius yang lain mengatur sedemikian rupa tekniknya sehingga menjadi sangat khas antara satu dengan yang lain. Pada beberapa titik ada kemiripan, namun bisa menjadi sedemikian berbeda pada detail. Maka segala proses ‘meniru’, ‘mencuri’, ‘memodifikasi’ baik sengaja maupun tidak disengaja akan mengubah karakteristik keilmuannya yang semula bertujuan A menjadi berbelok dan bertujuan B. Meskipun mungkin pembelokannya jaraknya ‘dirasa’ tipis.

Dalam kaidah tradisional, seorang murid biasanya tidak diperbolehkan untuk melakukan modifikasi apapun, mencampuradukkan dengan ajaran apapun, atau membuang sebagian atau seluruhnya pada rangkaian teknik yang didapati dari gurunya. Hal ini sebenarnya bertujuan baik untuk sang murid sendiri yakni agar tidak terjadi anomali dan fluktuasi yang akan bisa berbahaya bagi diri sang murid dan siapapun yang diajari oleh murid tersebut. Pada suatu tahap nanti, ketika pengajaran dari gurunya sudah dirasa cukup dan layak maka barulah sang murid dapat melakukan eksplorasi dan mersudi untuk mendapatkan pengetahuan yang akan menjadi ‘kearifan lokal’ milik diri sang murid. Khas milik sang murid yang diwarnai oleh semua pengetahuannya, hasil latihannya, dan kearifan yang terbentuk di dalamnya. Namun kalau itu belum tercapai, maka opsi untuk berguru dan belajar hingga memahami semua level dan aspeknya adalah pilihan yang bijaksana dibandingkan ‘menerka-nerka’, ‘merangkai bebas’, atau melakukan yang sejenis itu yang tidak punya dasarnya.

Kembali kepada Olah Napas dilihat dari sudut pandang Syaraf Otonom.

Saya akan mengulang sedikit informasi sebelumnya, bahwa dalam kebanyakan latihan Merpati Putih memiliki pola sebagai berikut:
1. Adanya Desis pembuka
2. Adanya kegiatan olah napas
3. Adanya Desis penutup

Dilihat dari kaidah buang napas dan tarik napas, maka semua kondisi yang berbentuk Tarik Napas adalah kondisi yang menstimulasi syaraf Simpatik. Sedangkan kondisi yang berbentuk Buang Napas adalah kondisi yang menstimulasi syaraf Parasimpatik. Cara tarik napas dan buang napas ada di berbagai tradisi beladiri atau olahraga. Misalnya pada beladiri Karate, dikenal adanya teknik buang napas ala Sanchin yang mengkondisikan untuk berteriak “HEAAA!” atau “HAIIIK!” atau sejenis itu. Tidak terkecuali di Merpati Putih yang punya cara buang napas yang khas melalui desis berbunyi “CESSSSSHHH!” dalam segala variannya. Varian ini dalam khasanah Jawa sering dikenal dengan istilah napas, nipis, dan nupus. Atau dalam khasanah MP sering dikenal dengan istilah Napas Keras, Napas Halus, Napas Kertas. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar perbedaannya. Point penting yang harus dipahami disini adalah bahwa Buang Napas akan menstimulasi syaraf Parasimpatik.

Tarik napas dulu. 🙂

Di dalam tubuh kita terdapat Syaraf Kranial yang berisi 12 cabang. Penggunaan cabang yang dipakai oleh metode Pergeseran Asam Basa adalah semua yang berjenis Syaraf Parasimpatik yakni cabang nomor III (Oculomotor), nomor VII (Facial), nomor IX (Glossopharyngeal), dan nomor X (Vagus). Desis yang dipakai oleh MP akan mengaktivasi syaraf Cranial nomor IX yakni Glossopharyngeal.

Syaraf nomor III (Oculomotor) berhubungan dengan mata dan MP punya program Lepas Kacamata. Syaraf nomor VII (Facial) berhubungan dengan wajah dan MP punya program Beauty Care. Nomor IX (Glossopharyngeal) berhubungan dengan pharynx yang penting dalam produksi suara dan MP punya teknik Desis. Nomor X (Vagus) berhubungan dengan seluruh tubuh dan MP punya teknik Getaran. ‘Kebetulan’ banget ya 🙂 Kapan waktu nanti saya jelaskan cabang-cabang dalam Syaraf Cranial yang berhubungan dengan syaraf Parasimpatik. Metode Pergeseran Asam Basa dirumuskan untuk mencoba ‘merapihkan’ apa-apa yang dulu sudah dilakukan oleh para pendahulu sebelumnya. Semoga berkah dan rahmat Allah tercurah kepada beliau semuanya.

Saya lanjutkan.

Dalam reaksi Oksidasi Phosphorilasi (OXPHOS), semua reaksi Glycolysis akan memerlukan Oksigen untuk diproses menjadi ATP. Hasil akhir Glycolysis adalah Pyruvate. Pyruvate ini nanti akan punya 2 (dua) takdir, yakni masuk ke dalam Siklus Krebs atau menjadi Lactate. Jika Oksigen cukup, maka takdirnya akan masuk ke Siklus Krebs lalu tercipta banyak ATP. Jika Oksigen tidak cukup, maka takdirnya akan menjadi Lactate dan tercipta sedikit ATP. Akumulasi Lactate inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya kenaikan keasaman dalam darah.

Supaya tubuh kembali netral dari lonjakan Asam dalam darah, maka tubuh mengaktifkan 3 (tiga) Buffer (penyangga) secara bertahap. Silahkan membaca artikel saya pada bagian pertama mengenai Buffer.

Pada semua jenis aktivitas fisik yang meningkatkan laju dominasi syaraf Simpatik akan dinetralkan melalui Buffer dari sisi “Brain Stem Respiratory System” melalui mekanisme yang disebut dengan Hiperventilasi. Kita mengenalnya sebagai ‘ngos-ngosan’. Dan kondisi ‘ngos-ngosan’ ini adalah respon tubuh terhadap stimulus dari syaraf Simpatik. Antara respon dan stimulus adalah saling antagonis, maka artinya Hiperventilasi (‘ngos-ngosan’) merupakan respon yang berisi stimulus untuk mengaktifkan syaraf Parasimpatik. Dan ketika tubuh mulai tercapai keseimbangan Asam Basa, maka aktivitas ‘ngos-ngosan’ berakhir. Homeostatis tercapai, tubuh kembali seimbang. Jika gagal? Buffer terakhir akan diaktifkan, yakni Renal/Ginjal. Maka, Ginjal adalah pertahanan terakhir pada semua aktivitas yang mendominankan laju syaraf Simpatik. Apapun jenisnya.

Sudah selesai? Belum. 🙂

Lactate yang terakumulasi harus diurai supaya otot dapat kembali punya cukup energi untuk berkontraksi. Maka tubuh akan melakukan adaptasi terhadap penguraian Lactate. Makin cepat, makin baik. Sehingga dikenal ada istilah Lactate Tresshold atau kemampuan tubuh untuk bertoleransi terhadap ambang batas Lactate sebelum ia terurai kembali. Jika cepat terurai maka rasa ‘kemeng’ atau ‘pegel-pegel’ atau ‘kaku’ pada otot akan cepat pulih. Otot siap berkontraksi kembali. Jika tidak, maka sejumlah waktu diperlukan agar otot kembali pulih. Bisa dalam hitungan menit, jam, atau hari.

Seringkali, sebelum tubuh membentuk homeostatis Asam Basa, Anda melakukan aktivitas lain yang menyebabkan terjadinya kenaikan Asam. Misalnya, memakan makanan pembentuk Asam, merokok, dan sebagainya segera setelah latihan selesai. Maka lengkaplah ‘penderitaan’ tubuh Anda. Sudah menjalani latihan keras yang menyebabkan keasaman tinggi, lalu merokok dan memakan pula makanan pembentuk Asam. Akhirnya akumulasi asam mengalami lonjakan sangat tinggi. Pertahanan terakhirpun dipakai… Ginjal! Kena. Jebol.

Bro, what are you doing? Are you crazy? Perlakukanlah tubuh Anda dengan bijaksana. Sayangilah tubuh Anda.

Jika penjelasan saya diatas dapat dipahami maka kita akan bisa melihat pola latihan Merpati Putih secara umum akan menjadi seperti ini:

1. Desis pembuka ==> menstimulasi syaraf Parasimpatik
2. Olah Napas yang dilakukan (tahan napas, pengejangan maksimal, beban, alam) ==> menstimulasi syaraf Simpatik lalu mendominankan
3. Desis penutup ==> menstimulasi syaraf Parasimpatik

Khusus pada point ke-2 akan terlihat bahwa metode MP menghasilkan stimulasi syaraf Simpatik yang sangat tinggi. Saya mengistilahkan dengan “meningkatkan laju dominasi syaraf Simpatik”. Semua parameter yang menyebabkan kenaikan dominasi syaraf Simpatik terjadi pada latihan MP. Dari mulai menahan napas, melakukan pengejangan, mengkontraksikan otot secara maksimal pada otot Postural maupun Phasic dari mulai bentuk yang sederhana hingga yang berat, kemudian penambahan beban latihan, hingga penambahan stimulus alam seperti panas (misalnya pada latihan pasir besi). Maka, dipastikan 100% terjadi dominasi laju syaraf Simpatik disini.

Nah, yang paling utama dari dominasi laju syaraf Simpatik adalah kenaikan detak jantung. Maka, organ Jantung adalah yang pertama kali terkena imbas dari pergeseran syaraf otonom ini. Dalam khasanah olahraga itu masih wajar, tidak masalah. Karena memang prosesnya demikian adanya. Pada latihan berjenis aerobik/fitnes juga terjadi dominasi laju syaraf Simpatik akibat terjadinya intensitas tinggi pada kontraksi otot. Anda berenang, bersepeda, berjalan kaki dalam waktu lama, berlari, atau treadmill juga menghasilkan dominasi laju syaraf Simpatik.

Namun itu semua harus dinetralkan kembali. Tidak bisa didiamkan atau sengaja Anda abaikan.

Menariknya, pada Merpati Putih semua laju peningkatan dominasi syaraf Simpatik harus dinormalkan dengan DESIS. Sedangkan pada fitnes/aerobik membiarkan tubuhnya alamiah merespon. Merpati Putih, menurut pemahaman metode Pergeseran Asam Basa, dalam latihannya tidak membolehkan praktisinya mengikuti bagaimana tubuhnya merespon. Ingat, respon alamiah dari stimulus syaraf Simpatik yang meningkatkan keasaman dalam darah adalah Hiperventilasi (“ngos-ngosan”). Tapi oleh MP ini Hiperventilasinya ditiadakan dan diganti dengan Desis. Artinya, Desis ini adalah mekanisme yang harus dapat menghentikan laju dominasi syaraf Simpatik. Makin besar laju dominasi syaraf Simpatik maka makin tinggi energi yang Anda butuhkan untuk menghentikannya.

Inilah Tenaga Eksplosif dalam pemahaman metode Pergeseran Asam Basa.

Bayangkan, ada sebuah kondisi yang membuat seluruh syaraf Simpatik dalam tubuh Anda menjadi sangat aktif dengan tingkat laju yang sangat tinggi namun Anda tidak boleh membiarkan tubuh Anda merespon secara alamiah. Anda harus merespon dengan cara yang sudah ditetapkan oleh metode MP ini yakni melalui DESIS. Dan Anda harus belajar mengkondisikan ini terus menerus. Mula-mula memang sulit. Selesai melakukan satu jenis latihan olah napas maka tubuh Anda cenderung akan bereaksi ‘ngos-ngosan’. Tapi seiring waktu dalam menjalankan pemahaman ini, kondisi alamiah ‘ngos-ngosan’ mulai bisa dikendalikan. Artinya, Anda sudah berhasil menahan laju dominasi syaraf Simpatik. Dan percayalah, hal ini tidaklah mungkin bisa dilakukan tanpa adanya tenaga eksplosif yang luar biasa besar dari diri Anda. Disinilah peran Syaraf Enterik sebagai “AKSELERATOR” yang ketika diaktifkan dengan benar, maka ia akan dapat menahan laju dominasi syaraf Simpatik.

Anda harus bisa mengatur dan mengendalikan SEMUA efek yang diterima dari laju dominasi syaraf Simpatik dan membaliknya. Menormalkannya dengan sekejap. Darisanalah sebenarnya ledakan ATP besar-besaran dihasilkan. Maka dari itu pada tulisan sebelumnya saya berikan analogi seperti episode film Avenger atau Twilight (2008) ketika ada sebuah mobil melaju sangat kencang dan kemudian Anda menghentikan laju mobil tersebut dengan kedua tangan Anda dengan sekejap. Dan mobilnya HARUS TERHENTI. Tanpa kekuatan besar yang eksplosif, hal ini mustahil bisa dilakukan.

Demikian juga dengan kondisi tubuh yang sedemikian tinggi dominasi syaraf Simpatik. Tidak akan bisa tiba-tiba Anda hentikan sekejap. Mestilah respon tubuh secara alamiah membentuk keseimbangan ‘alam’ (mikrokosmos, jagad alit) dalam diri Anda via mekanisme normal. Anda adalah pelaku, praktisi, yang melatih diri terus menerus untuk mempengaruhi ‘alam’ dalam diri Anda. Jika ‘alam’ di dalam diri Anda sudah bisa dikendalikan, maka berikutnya Anda belajar untuk mengendalikan ‘alam’ diluar diri Anda yakni makrokosmos. Mulailah bertemu dengan unpredictable condition yakni latihan alam. Anda belajar untuk menghentikan ‘laju alam’ sesuai yang keilmuan inginkan. Misalnya, laju ombak, laju hujan, laju suara, dan lain sebagainya.

Jadi, desain Syaraf Otonom yang memiliki 3 (tiga) jenis syaraf yakni Syaraf Simpatik, Syaraf Parasimpatik, dan Syaraf Enterik itu sesungguhnya bukan tanpa alasan. Dan kaidah tradisional sudah menggunakan ketiganya dengan sangat luar biasa. Inilah yang oleh metode MP dilatih sehingga mampu menghasilkan berbagai kemampuan luar biasa.

Nah, menarik bukan? 🙂

Jika penjelasan saya diatas dipahami dengan baik maka semestinya Anda mulai bisa melihat gambaran latihan MP secara umum. Disini belum bicara mengenai Napas Pengendapan, Napas Pembersih, Segitiga, atau latihan Getaran, atau latihan sisipan lainnya yang cenderung bersifat ‘abstrak’ dan menggunakan berbagai lapisan abstraksi untuk mempengaruhi lapisan fisik. Kapan waktu nanti saya bahas. Kapan-kapan… 😀

Menjelaskan seperti diatas kepada kalangan medis lebih mudah dicerna dan diterima dibandingkan dari sudut pandang energi. Bisa ditiru, dilakukan, diukur, dan dipahami. Metode ini mengajarkan untuk mengurai pengetahuan tradisional dengan cara yang logis. Mudah-mudahan dapat membawa wawasan pengetahuan yang bermanfaat mengenai apa dan bagaimana tubuh ini bekerja.

Semoga bermanfaat.

Salam,
MG

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →