Memahami Syaraf Otonom dalam Kaidah Olah Napas – Bagian 1

MEMAHAMI SYARAF OTONOM DALAM KAIDAH OLAH NAPAS
(Bagian 1)

Oleh: Mas Gunggung

Sistem syaraf otonom adalah bagian dari sistem syaraf yang memasok informasi kepada sekitar 15 organ internal. Ia mengontrol gerakan tak sadar pada beberapa bagian tubuh dan mengatur fungsi tubuh seperti tekanan darah, denyut jantung dan pernapasan, suhu tubuh, pencernaan, metabolisme (sehingga mempengaruhi berat badan), keseimbangan air dan elektrolit (seperti sodium dan kalsium), produksi cairan tubuh (air liur, keringat, dan air mata), buang air kecil dan besar, respon pupil, dan gairah seksual. Jika disederhanakan, Sistem Syaraf Otonom akan melakukan regulasi pada OTOT dan KELENJAR secara dua arah (aferen dan eferen). Aferen itu jalur syaraf yang menuju otak sedangkan eferen itu jalur syaraf yang keluar dari Otak. Ia bekerja tanpa pengaruh sistem syaraf pusat.

Di dalam otak, Sistem Syaraf Otonom diatur oleh Hypothalamus. Fungsi-fungsi otomatis seperti pernapasan, regulasi jantung, aktivitas pergerakan otot dan beberapa reflek khusus seperti misalnya batuk, bersin, atau muntah juga masuk pada Sistem Syaraf Otonom. Hypothalamus berfungi sebagai integrator semua fungsi-fungsi yang saya sebutkan diatas.

Sistem Syaraf Otonom terdiri dari 3 (tiga) cabang yakni Sistem Syaraf Simpatik, Sistem Syaraf Parasimpatik, dan Sistem Syaraf Enterik.

Selama ini kita hanya tahu bahwa Syaraf Otonom hanya terbagi menjadi 2 yakni Simpatik dan Parasimpatik. Tidak ada yang salah dengan itu. Jika menggunakan pemahaman seperti juga bisa digunakan untuk memahami Syaraf Otonom. Namun memahami hingga pada Sistem Syaraf Enterik akan meluaskan cakrawala pengetahuan kita dan membuat kita jadi lebih mengerti korelasi yang ada pada ketiganya. Informasi mengenai Sistem Syaraf Enterik akan saya tulis kapan-kapan dengan lebih detail dan bagaimana korelasinya serta biokimianya.

Fungsi Syaraf Simpatik diantaranya sebagai berikut:

– Mempercepat denyut jantung
– Memperlebar pembuluh darah
– Menghambat pengeluaran air mata
– Memperluas/memperlebar pupil
– Menghambat sekresi air ludah
– Memperbesar bronkus
– Mengurangi aktivitas kerja usus, dan
– Menghambat pembentukan urine.

Sedangkan fungsi dari Syaraf Parasimpatik adalah berkebalikan dari fungsi syaraf Simpatik diatas. Bagian dari Syaraf Parasimpatik yang paling terkenal adalah Syaraf Vagus. Kapan waktu nanti saya bahas terpisah.

Syaraf Simpatik berhubungan dengan segala sesuatu yang bersifat meningkatkan kekuatan. Sedangkan Syaraf Parasimpatik berhubungan dengan segala sesuatu yang bersifat pertahanan dan perbaikan tubuh.

Memahami Syaraf Simpatik dan Parasimpatik lebih mudah dengan menganalogikan keduanya sebagai “GAS” dan “REM”, sedangkan Syaraf Enterik sebagai “AKSELERATOR”. Syaraf Simpatik berfungi sebagai “GAS” yang akan meningkatkan ‘laju’ fungsi tertentu dan syaraf Parasimpatik berfungsi sebagai “REM” yang akan menurunkan ‘laju’ yang dihasilkan oleh syaraf Simpatik. Sementara Syaraf Enterik merupakan “AKSELERATOR” pada peningkatan ataukah penurunan ‘laju’ tersebut.

Secara keseluruhan, dua sistem saraf otonom ini bekerja sama untuk memastikan bahwa tubuh merespon dengan tepat untuk situasi yang berbeda. Jadi, jika pada suatu ketika tubuh Anda mengalami dominasi syaraf Simpatik maka tubuh akan segera melakukan respon untuk menyeimbangkannya dengan melakukan aktivasi Syaraf Parasimpatik. Ini akan terus menerus terjadi hingga kehidupan berakhir.

Namun oleh penyebab lain maka dominasi salah satu syaraf ini dapat terjadi terus menerus sehingga menyebabkan kondisi ketidakseimbangan sistem syaraf otonom. Misalnya, aktivitas intens yang dilakukan terus menerus tanpa henti, atau kemunculan stres yang diakibatkan oleh faktor-faktor pemicunya.

Hal-hal yang memicu terjadinya dominasi Syaraf Simpatik diantaranya:

– Adanya aktivitas fisik yang intens (pada durasi maupun repetisi)
– Stres
– Perubahan temperatur yang ekstrim (panas maupun dingin)
– Makanan
– Obat-obatan

Ciri dari aktifnya syaraf Simpatik adalah lahirnya kondisi aktif dan dinamis sedangkan ciri dari aktifnya syaraf Parasimpatik adalah lahirnya kondisi tenang dan makin meningkat kesadaran.

Secara biokimia, neurotransmitter yang menyebabkan aktivasi syaraf simpatik disebabkan oleh jalur Acetylcholine dan jalur Adrenaline/Noradrenaline. Secara kasat mata dapat dilihat dari terjadinya peningkatan kenaikan detak jantung (heart rate) yang bisa diukur oleh alat Oximeter. Pada jalur Adrenaline/Noradrenaline akan terlihat dari peningkatan stres via aktivasi jalur Cortisol.

Sekarang mari kita lihat bagaimana olah raga fisik dipandang dari sudut pandang Sistem Syaraf Otonom.

Apabila ada suatu olahraga yang menyebabkan terrjadinya aktivitas fisik yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Adanya kondisi menahan napas dalam jangka waktu yang cukup lama

2. Adanya kondisi penggunaan otot secara maksimal
– Pada otot postural dan atau phasic, dan/atau
– Pada otot diafragma, dan/atau
– Pada otot perineum/anus.

3. Adanya kondisi peningkatan stres
– Akibat dari repetisi maupun durasi, dan/atau
– Akibat dari bentuk gerakan yang ‘cukup’ sulit, dan/atau
– Akibat dari penambahan beban, dan/atau
– Akibat dari terkena pengaruh alam (temperatur panas atau dingin, gelap, dan lain sebagainya).

Maka olahraga fisik tersebut akan menggeser keseimbangan Syaraf Otonom menjadi dominan Syaraf Simpatik. Akan terjadi peningkatan laju dominasi Syaraf Simpatik pada kegiatan yang sedang dilakukannya tersebut. Semua efek dari syaraf Simpatik akan cenderung muncul.

Ketika kondisi dominasi laju syaraf Simpatik terjadi maka akan menyebabkan otot berkontraksi (postural maupun phasic). Otot Postural adalah otot-otot yang tersebar di seluruh tubuh dan merupakan otot-otot yang biasa dipergunakan untuk mempertahankan suatu postur secara keseluruhan. Sedangkan otot Phasic adalah jenis otot yang dipergunakan untuk melakukan suatu gerakan khusus saja. Ketika kita akan mengambil sesuatu dengan tangan kita biasanya kita hanya akan menggerakkan otot lengan saja dan tidak otot tubuh yang lainnya misalnya otot kaki, inilah yang disebut Otot Phasic.

Tampak familiarkah karakteristik diatas dengan olah napas Merpati Putih misalnya napas Pembinaan atau napas Pengolahan yang ada menahan napas,kontraksi otot intens, dan beban pemicu stres? 🙂

Makin banyak otot yang dipergunakan untuk berkontraksi (postural maupun phasic) dengan intensitas tinggi pada durasi maupun frekwensi maka akan menyebabkan masuknya tubuh pada kondisi Asam lebih cepat. Hal ini dikarenakan sintesa ATP pada otot memerlukan proton (H+) untuk diubah menjadi energi. Jika otot yang dikontraksikan terus menerus kemudian menyebabkan tubuh menjadi terlalu Asam maka tubuh akan berusaha menciptakan homeostatis (keseimbangan). Bagaimana caranya? Yakni dengan mengaktifkan Buffer (penyangga).

Buffer merupakan suatu kondisi yang memungkinkan tubuh melakukan netralisasi perubahan pH secara bertahap hingga tercapai homeostatis. Buffer pertama adalah Chemical Buffer System yang terdiri dari Hemoglobin, Bikarbonat, Phosphate, dan Protein. Buffer ini langsung bekerja segera untuk melakukan netralisasi kelebihan Asam atau Basa dalam tubuh jika didapati lonjakan atau penurunan Proton (H+). Jika kemudian Buffer pertama ini gagal, maka akan langsung disambung dengan Buffer kedua yakni Brain Stem Respiratory Center Buffer. Buffer jenis ini bekerja dalam bentuk pengaturan respirasi berjenis Hiperventilasi atau Hipoventilasi melalui Brain Stem. Jika kemudian buffer kedua ini gagal, maka akan dilanjutkan pada buffer ketiga yakni Renal Mechanism Buffer. Buffer jenis ini akan memaksa Renal/Ginjal bekerja lebih keras untuk melakukan normalisasi kelebihan Asam atau Basa dalam tubuh. Jadi, pertahanan terakhir untuk melakukan netralisasi asam basa dalam tubuh pada semua kondisi adalah Ginjal.

Pada kasus seseorang melakukan aktivitas fisik intens yang menyebabkan terjadinya perubahan menuju Asam maka tubuh akan berusaha melakukan netralisasi yang diperlukan. Buffer pertama diaktifkan, yakni Chemical Buffer dalam bentuk Hb, Bikarbonat, Phosphate, dan Protein. Pada Hemoglobin akan berlaku efek Bohr dan efek Haldane sedangkan pada yang lain akan berlaku kondisi untuk mengambil atau melepas sumber penghasil Bikarbonat, Phosphate, atau Protein dalam bentuk mineral, Magnesium, dan sebagainya. Jika ini sudah mencapai maksimum juga maka Buffer kedua diaktifkan yakni Brain Stem akan memaksa paru-paru melakukan Hiperventilasi atau Hipoventilasi.

Hiperventilasi sederhananya adalah pengkondisian untuk memasukkan Oksigen dalam jumlah lebih banyak sehingga menurunkan kadar Karbondioksida. Sesuai rumus pH berdasarkan persamaan Henderson-Hasselbalch dimana parameter yang menyebabkan terjadinya penurunan atau kenaikan pH didasarkan pada konsentrasi Karbondioksida, maka setiap terjadi penurunan kadar Karbondioksida akan menyebabkan kenaikan pH menjadi lebih Basa. Maka, orang itu akan otomatis melakukan ‘ngos-ngosan’.

Hiperventilasi adalah bahasa medisnya sedangkan ‘ngos-ngosan’ adalah bahasa sehari-harinya. Jadi, proses ‘ngos-ngosan’ itu memang didesain untuk menyeimbangkan tubuh yang terlalu Asam dengan cara meningkatkan asupan Oksigen sehingga menguras Karbondioksida. Kenapa harus dikuras? Karena kontraksi otot yang sangat tinggi pada durasi maupun repetisi akan memaksa terjadinya sintesa ATP seperti yang saya jelaskan diatas. Dan setiap sintesa ATP yang berubah menjadi energi melalui reaksi Oksidasi (menggunakan Oksigen) akan menghasilkan Karbondioksida dan uap air. Artinya, terjadi penumpukan Karbondioksida dalam darah. Dan sesuai efek Bohr, apabila terjadi kondisi pemuatan Karbondioksida pada Hemoglobin lebih banyak maka akan menggeser kurva disasosiasi menjadi ke kanan (Asam) sedangkan jika terjadi kondisi pelepasan Karbondioksida lebih banyak akan menyebabkan kurva bergeser ke kiri (Basa).

Saat ‘ngos-ngosan’ dirasa cukup dan sudah tercapai keseimbangan Asam Basa maka ‘ngos-ngosan’ ini akan berhenti dengan sendirinya. Artinya, tubuh Anda kembali normal. Namun jika Hiperventilasi yang terjadi dianggap gagal oleh tubuh, maka Buffer ketiga akan diaktifkan yakni Renal/Ginjal untuk bekerja lebih keras dari biasanya agar kelebihan Asam tersebut diatasi.

Seperti itulah mekanisme yang terjadi pada kondisi olahraga yang melibatkan kontraksi otot.

Pada pemahaman diatas, antara aktivitas fitnes atau aerobik dan Olah Napas Merpati Putih memiliki titik persamaan yakni keduanya akan meningkatkan laju dominasi syaraf Simpatik. Muncul pertanyaan, dimana perbedaan olah napas MP dengan fitness atau aerobik atau aktivitas lain yang juga dapat mendominankan syaraf Simpatik?

Jawabannya adalah Olah Napas Merpati Putih menggunakan DESIS sebagai awalan dan penutup/akhir dari latihan fisiknya sedangkan fitness atau aerobik tidak. Ini adalah pembeda yang sangat nyata dan sangat berbeda efek yang ditimbulkannya. Hal ini terkait pada kaidah bernapas antara Tarik Napas dan Buang Napas dilihat dari Sistem Syaraf Otonom.

Pada fitnes dan aerobik biasa, tubuh didesain menggunakan mode “AUTOMATIC” dalam bentuk Hiperventilasi segera setelah darah menjadi lebih Asam akibat aktivitas fisik yang intens untuk menghentikan laju dominasi syaraf Simpatik. Sementara pada Olah Napas Merpati Putih menggunakan DESIS untuk menghentikan laju dominasi syaraf Simpatik sebagai pengganti dari Hiperventilasi. Dengan kata lain, pendekatan Merpati Putih menggunakan cara “MANUAL” untuk menghentikan laju dominasi syaraf simpatik.

Pada hampir kebanyakan olah napas Merpati Putih memiliki pola urutan sebagai berikut:
1. Desis pembuka
2. Olah Napas yang dilatih
3. Desis penutup

Terlihat kalau olah napas Merpati Putih “membungkus” laju dominasi syaraf Simpatik dengan Desis. Desis adalah aktivitas untuk mengaktivasi syaraf Parasimpatik.

Sederhananya, Desis dilakukan untuk menghentikan laju dominasi syaraf simpatik. Inilah yang kemudian menciptakan tenaga eksplosif yang sesungguhnya. Jika Anda pernah melihat film Avenger pada episode ketika ada sebuah mobil melaju sangat kencang lalu dihentikan dengan kedua tangan yang dijulurkan dan mobil langsung terhenti, atau episode Twilight (2008) pada gambaran episode yang sama maka seperti itulah sebenarnya kondisi yang terjadi untuk menghentikan laju dominasi syaraf simpatik. Desis yang diletakkan di ujung menjadi penghenti ‘laju mobil’ dalam bentuk dominasi syaraf simpatik agar semua fungsinya menjadi Normal kembali dan homeostatis.

Dan tidak akan bisa dilakukan kecuali ada tenaga yang sangat besar untuk menghentikan laju tersebut. Inilah POWER dalam sudut pandang Pergeseran Asam Basa.

Pemahaman ini dapat menjelaskan kenapa praktisi yang berlatih olah napas MP saat desis terakhir harus makin dikejangkan ototnya namun harus tetap bisa menjaga ketenangannya lahir batin. Sebab Desis adalah aktivasi syaraf Parasimpatik. 🙂

Jadi, membangun sebuah kerangka berpikir dalam memahami apa dan bagaimana jelas memerlukan pengetahuan teoritis pada metabolisme tubuh, sistem syaraf dan sistem yang lainnya.

Dari pemahaman itu kita jadi mengerti kenapa pola latihan MP didesain seperti itu dari tingkat Dasar hingga tingkat selanjutnya dan bisa “dibaca” karakternya. Apa yang sedang berusaha dicapai dan bagaimana tingkatan itu mempengaruhi pola latihan dan efek yang ditimbulkannya. Dari sini, latihan MP akan bertransformasi menjadi sebuah pengetahuan yang canggih mengenai bagaimana tubuh diperlakukan oleh metodenya.

Apa dan bagaimana DESIS pada Merpati Putih ditinjau dari sistem syaraf Otonom, nantikan pada tulisan saya selanjutnya. Mudah-mudahan ditulis 😀

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Referensi:

[1]. Autonomic Nervous System. (https://faculty.washington.edu/chudler/auto.html)

[2]. Autonomic Nervous System (Involuntary Nervous System). (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMHT0025455/)

[3]. Stress-induced activation of the sympathetic nervous system. Goldstein DS. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/3327494)

[4]. Exercise training-induced modification in autonomic nervous system: An update for cardiac patients. Florent Besnier, Marc Labrunée, Atul Pathak, Anne Pavy-Le Traon, Céline Galès, Jean-Michel Sénard, Thibaut Guiraud. (https://www.sciencedirect.com/…/artic…/pii/S1877065716300811)

[5]. Acid-Base Homeostasis. L. Lee Hamm, Nazih Nakhoul, and Kathleen S. Hering-Smith. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4670772/)

[6]. Whole Body Buffers in the Regulation of Acid-Base Equilibrium. J. Russell Elkinton. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2603866/)

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →