Reversing Cancer Possibilities – Bagian 5

REVERSING CANCER POSSIBILITIES
(Bagian 5 – Reseptor Kulit dan Temperatur)

Oleh: Mas Gunggung

Bagian akhir dari tulisan yang semula ingin dibuat dalam 5 seri, ternyata harus dipecah lebih banyak mengingat topik yang dibicarakan tidak dapat ditulis hanya dalam satu artikel saja. Selamat menikmati kelanjutan tulisan-tulisan saya.

===========

Kulit manusia itu dibuat dengan sangat unik. Memilik banyak sekali receptor yang sangat bermanfaat sebagai mekanisme pertahanan diri. Dengan memahami fungsinya maka receptor yang ada pada kulit tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan peningkatan kemampuan pada tubuh sedemikain rupa.

Kulit terdiri dari lapisan Epidermis, Dermis, dan Hypodermis. Masing-masing lapisan ini memiliki karakteristik tersendiri.

  1. Epidermis, lapisan terluar, memiliki receptor yang berhubungan dengan rasa sakit, temperatur, dan sentuhan
  2. Dermis, lapisan tengah dalam, memiliki receptor yang berhubungan dengan sentuhan yang terdiri dari Mechanoreceptor yakni Merkel’s disc (cakram Merkel, diambil dari nama penemunya yakni Friedrich Sigmund Merkel), Meissner’s corpuscle (ujung Meissner, diambil dari nama penemunya yakni Georg Meissner dan Rudolph Wagner), Pacinian corpuscle (ujung Pacinian), dan Ruffini corpuscle (ujung Raffini).

Lapisan ini berhubungan dengan informasi mengenai tekanan mekanis, posisi, sentuhan statis yang mendalam (tekanan), dan juga bentuk serta sudut. Ia juga merupakan lapisan yang menyimpan hormon Serotonin yang akan merespon ketika ada tekanan sentuhan pada tubuh terhadap mood, hasrat makan, dan tidur termasuk juga beberapa fungsi kognitif seperti ingatan dan pembelajaran.

Cakram Merkel merupakan yang paling sensitif terhadap kepekaan getaran pada frekwensi rendah yakni 5 hingga 15 Hz. Jika ada tekanan yang terjadi pada kulit secara konstan, maka cakram Merkel ini yang paling aktif. Dari sudut pandang serat otot, pada serat otot tipe II memiliki cakram Merkel lebih besar dibanding serat otot tipe I. Silahkan membaca tulisan saya mengenai apa dan bagaimana Serat Otot bagi latihan Merpati Putih yang ternyata begitu dominan pada serat otot tipe II.

Jika terjadi kondisi luka bakar pada kulit, maka cakram Merkel ini adalah yang paling banyak rusak dan hilang. Termasuk mereka yang terkenal diabetes, inflamasi, dan yang sedang menjalani kemoterapi akan mengalami gangguan pada syaraf ini.

Meissner’s corpuscle merupakan bagian dari mechanoreceptor (sensor sentuhan yang merespon terhadap tekanan dan gangguan mekanis) yang berhubungan dengan sentuhan ringan, perubahan tekstur. Meissner’s corpuscle memilki sensitivitas tertinggi ketika mendeteksi getaran pada rentang 10-50 Hz. Mereka terkonsentrasi paling banyak pada kulit yang tebal dan bantalan jari. Ia sering dipakai untuk mendeteksi huruf Braille.

  1. Hypodermis, sering disebut sebagai jaringan subkutan yakni lokasi dibawah kulit dimana fibroblast (sel yang berperan dalam penyembuhan luka), adipose (sel lemak), dan makrofagus berada. Umumnya digunakan sebagai tempat penyimpanan lemak. Beberapa hormon seperti Insulin dan Growth Hormone (GH) yang diinjeksi ke dalam tubuh biasanya dimasukkan ke dalam jaringan ini. Ia juga berperan dalam penahan benturan dan isolasi temperatur.

Ketika kulit terkena dengan perubahan temperatur, misalnya hawa dingin maka akan terjadi stimulus pada kulit yang kemudian menyebabkan turunnya temperatur pada kulit dan darah didaerah yang terkena perubahan temperatur tersebut. Receptor yang ada pada kulit kemudian mendeteksi temperatur dan mengirimkan impuls listrik melalui syaraf ke otak.

Bagian otak yang bertugas untuk menstimulasi dalam menerima dan mengirimkan impuls syaraf dari perubahan temperatur adalah Hypothalamus. Bagian ini kemudian mengirimkan perintah kepada bagian-bagian tubuh terkait untuk melakukan penyesuaian. Dihasilkanlah response sebagai akibat dari perintah ini dalam bentuk misalnya penurunan aliran darah menuju kulit, penurunan keringat, bergetar (gemetar), dan lain sebagainya hingga kemudian stimulus ini hilang dan keseimbangan (homeostatis) tercapai.

Kemampuan tubuh membentuk keseimbangan (homestatis) ini sangat penting mengingat semua kondisi diluar tubuh selalu berubah dari waktu ke waktu. Sedangkan kondisi dalam tubuh relatif harus selalu terjaga konstan misalnya pH, suhu tubuh, fungsionalitas protein dan enzim, dan yang lainnya. Kenapa suhu tubuh harus selalu dijaga agar konstan? Hal ini untuk memastikan bahwa enzim tetap bekerja dengan baik mengingat ia hanya bekerja pada rentang suhu tertentu. Kenapa juga cairan tubuh harus selalu dijaga pada pH yang potensal cairan yang konstan? Hal ini karena perubahan pH berpengaruh pada reaksi enzim di dalam sel tubuh. Perubahan pada air akan juga berakibat pada sel tubuh yang akan membesar atau mengecil. Muatan listrik pada cairan yang berubah juga berpengaruh langsung pada perubahan asam basa.

Misalnya, pada suatu kondisi didapati deteksi adanya kelebihan cairan maka tubuh akan berusaha menyeimbangkan dengan memaksa kelebihan cairan itu untuk keluar dari tubuh. Demikian juga kalau terjadi kekurangan cairan, maka tubuh akan berusaha mengambil air dari tempat lain dalam tubuh. Hal ini terus dilakukan hingga tubuh mencapai keseimbangan yang dibutuhkan dirinya. Terlihat dari sana bahwa tubuh berusaha melakukan ‘kebalikan’ dari kondisi yang abnormal. Panas dilawan dengan dingin, kurang cairan dilawan akses cairan, kelebihan cairan dilawan dengan membuang cairan, asam dilawan dengan basa, dan sebagainya.

Untuk mencapai terjadinya kondisi homeostatis, maka paling tidak ada 4 (empat) hal yang mesti terjadi untuk mencapai kondisi normal kembali yakni sebagai berikut:

  1. Stimulus yang menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan
  2. Receptor yang dapat mendeteksi stimulus
  3. Mekanisme koreksi untuk melakukan penyesuaian/koreksi/adjustment secara otomatis
  4. Feedback berkebalikan dari stimulus

Saya akan coba ambil contoh mengenai apa yang terjadi ketika tubuh mengalami kenaikan dan penurunan asupan Glukosa berdasarkan keempat hal diatas. Pada kondisi terjadinya kenaikan Glukosa dalam darah:

  • Stimulus: Glukosa pada darah meningkat diatas level normal
  • Receptor: Pankreas terstimulasi pada bagian Islets of Langerhans
  • Mekanisme koreksi: Islets of Langerhans pada Pankreas mensekresi Insulin yang kemudian ditransportasikan oleh darah ke Liver dan Otot. Liver dan Otot akan mengkonversi kelebihan Glukosa menjadi Glycogen dan disimpan disana. Glukosa pada darah kemudian menurun dan ikut menurunkan produksi Insulin. Konsentrasi Glukosa pada darah kembali normal. Feedback berkebalikan terjadi pada saat Insulin mulai keluar dan bekerja.

Pada kondisi terjadinya penurunan Glukosa dalam darah:

  • Stimulus: Glukosa pada darah menurun dibawah level normal
  • Receptor: Pankreas terstimulasi pada bagian Islets of Langerhans
  • Mekanisme koreksi: Islets of Langerhans mensekresi lebih banyak hormon Glucagon yang kemudian ditransportasikan oleh darahh ke Liver dan Otot. Glucagon akan mengkonversi Glycogen tersimpan kembali menjadi Glukosa. Dari Liver, Glukosa yang terkonversi akan memasuki aliran darah.
  • Feedback berkebalikan: Glukosa pada darah meningkat dan produksi hormon Glucagon menurun. Glukosa pada darah kembali menjadi normal.

Terlihat pada contoh diatas dimana mekanisme tubuh bekerja dan berusaha mencapai keseimbangan kembali setelah terjadinya stimulus dan koreksi.

Demikian juga dengan perubahan temperatur misalnya hawa dingin. Tubuh akan melakukan adaptasi terhadap perubahan hawa dingin ini sebagai berikut:

  • Stimulus: kulit terpapar oleh hawa dingin
  • Receptor: sensor suhu pada kulit bereaksi pada perubahan suhu dan mengirimkan impuls listrik via syaraf pada otak. Hypothalamus terstimulasi dan mengirimkan impuls syaraf pada bagian tubuh yang relevan. Sinyal ini diantaranya adalah vasokonstriksi (penyempitan) pada arteri dibawah kulit sekaligus menurunkan aliran darah pada pembuluh darah dibawah kulit agar tidak terjadi kehilangan panas. Efeknya, terjadi pelebaran pembuluh darah pada bagian yang lebih dalam dibawah kulit. Kelenjar keringat menjadi kurang aktif yang berakibat menurunnya produksi keringat. Otot penopang rambut mulai berkontraksi.
  • Mekanisme Koreksi: penurunan pada kondisi kehilangan panas justru menyebabkan terjadinya produksi panas di tempat lain. Lahirlah gemetar agar terbentuk panas di tempat lain.
  • Feedback berkebalikan: Gemetar akan menyebabkan peningkatan metabolisme dan produksi panas. Temperatur tubuh meningkat dan kembali normal.

Jadi, kalau dilihat urutan pada saat kulit terpapar dengan hawa dingin dapat dilihat sebagai berikut:

  • mengaktifkan reseptor suhu pada kulit yang kemudian mengirimkan impuls syaraf ke otak (hypothalamus)
  • vasokontriksi (penyempitan) pembuluh darah dibawah kulit
  • kelenjar keringat menjadi kurang aktif yang menyebabkan produksi keringat menurun
  • peningkatan metabolisme dan produksi panas
  • terjadi kontraksi pada otot penopang rambut
  • gemetar (jika semua reaksi diatas tidak mencukupi untuk menormalkan)
  • temperatur tubuh meningkat

Beberapa pertanyaan dibawah ini akan diulas pada tulisan berikutnya seperti misalnya:

  1. Apa yang dilakukan oleh otak secara internal ketika kulit terpapar oleh sebuah temperatur seperti misalnya hawa dingin atau hawa panas?
  2. Apa manfaatnya dari sisi kesehatan ketika kulit terpapar oleh perubahan temperatur secara sengaja?
  3. Apa-apa saja yang dapat dimunculkan oleh tubuh ketika perubahan temperatur itu terjadi?
  4. Bagaimana Sistem Syaraf Otonom dapat berperan dalam proses ini?
  5. Bagaimana utilisasi Glukosa dan sekresi Insulin terjadi pada perubahan temperatur?
  6. Bagaimana perubahan termperatur dapat berpengaruh pada jaringan lemak untuk menghasilkan thermogenesis?
  7. Bagaimana pengaruhnya terhadap fungsi-fungsi Leukosit seperti misalnya anti-inflamasi IL-6, IL-10, dan IL-1ra (receptor antagonist)? Terhadap makrofagus inflamatory protein (IL-1ß)? Terhadap penyebab inflamasi yakni TNF-a? Terhadap C-reactive protein (CRP)? Dan banyak lagi.
  8. Bagaimana pengaruhnya terhadap Epinephrine (adrenalin) dan Cortisol?
  9. Bagaimana pengaruhnya terhadap imunitas?
  10. Bagaimana pengaruhnya terhadap gelombang otak?
  11. Bagaimana mengkondisikan hal itu semua untuk mempengaruhi sel yang anomali agar kembali normal? Dan banyak lagi

Nantikan tulisan saya berikutnya.

Salam,
MG

Referensi:

[1]. Unlock the Thermogenic Potential of Adipose Tissue: Pharmacological Modulation and Implications for Treatment of Diabetes and Obesity. Xiao-Rong Peng, Peter Gennemark, Gavin O’Mahony, Stefano Bartesaghi. (https://www.frontiersin.org/articles/…/fendo.2015.00174/full)
[2]. Friedrich Sigmund Merkel. (https://en.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Sigmund_Merkel)
[3]. Arnadóttir J., Chalfie M. Eukaryotic mechanosensitive channels. Annu. Rev. Biophys. 39, 111–137. (2010) DOI 10.1146/annurev.biophys.37.032807.125836
[4]. Chang W, Kanda H, Ikeda R, Ling J, DeBerry JJ, Gu JG. Merkel disc is a serotonergic synapse in the epidermis for transmitting tactile signals in mammals. Proc Natl Acad Sci U S A. 2016 Sep 13;113(37):E5491-500. doi: 10.1073/pnas.1610176113.
[5]. Severson KS1, Xu D1, Van de Loo M2, Bai L3, Ginty DD4, O’Connor DH5. Active Touch and Self-Motion Encoding by Merkel Cell-Associated Afferents.Neuron. 2017 May 3;94(3):666-676.e9. doi: 10.1016/j.neuron.2017.03.045
[6]. Meissner corpuscle. (https://www.britannica.com/science/Meissner-corpuscle)
[7]. Paré, Michel; Joseph E. Mazurkiewicz; Allan M. Smith; Frank L. Rice (15 September 2001). “The Meissner Corpuscle Revised: A Multiafferented Mechanoreceptor with Nociceptor Immunochemical Properties”. The Journal of Neuroscience. 21 (18): 7236–46. PMID 11549734. (http://www.jneurosci.org/content/21/18/7236.full)
[8]. Subcutaneous Tissue. (https://en.wikipedia.org/wiki/Subcutaneous_tissue)
[9]. Immune function in sport and exercise. Gleeson M. (https://www.physiology.org/…/10.1152/japplphysiol.00008.2007)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →